Usulan Penambahan Jam Pelajaran Agama Akan Dipelajari

Usulan Kementerian Agama untuk menambah jam mata pelajaran agama akan segera dibicarakan, juga dikaji serta dievaluasi.

‘’Hampir semua mata pelajaran sebenarnya minta ditambah mata pelajarannya, akan tetapi soal ini akan segera dibicarakan dalam rapat BSNP,’’ ungkap Djemari Mardapi Koordinator Ujian Nasional, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ketika dihubungi Republika, Jumat (14/1).

Akan tetapi pembicaraan penambahan jam pelajaran agama ini dengan catatan sudah ada surat resmi dari Kementerian Agama.’’Kita belum dapat surat resmi, kalau ada usulan seperti ini tentu akan kita bicarakan,’’ paparnya.

Djemari menjelaskan, negara tetangga Brunei dan Malaysia jam pelajaran mereka jauh lebih sedikit. Namun, justru prestasi yang dicapai jauh lebih banyak. ’’Berdasar survei kami bukan soal jam pelajaran, tetapi efektivitas pelajaran itu,’’ ucapnya.

Astaghfirullah, Tajikistan Tutup Masjid & Larang Pemuda Ngaji

Aksi anti-Islam tengah berlangsung di Tajikistan. Selama seminggu terakhir ini, Pemerintah Tajikistan menutup puluhan masjid di ibukota Dushanbe, yang hampir dari bangunan tersebut pada pertengahan abad lalu, seperti juga dilarang dalam pelajaran agama.

The Sunni News melaporkan bahwa dalam beberapa hari terakhir ini telah terjadi penutupan beberapa masjid di berbagai daerah di ibukota Tajik, termasuk masjid komplek ‘Hayat Nu’ dan ‘Klinen’ dan ‘Akzal’ dan ‘Asbejk’ dan ‘Uhl’. Sementara bagi para imam masjid dan khatib yang tidak mematuhi seruan tersebut akan diancam dengan hukum berat dan akan dituntut ke pengadilan pemerintah.

Pejabat pemerintah Tajik mengklaim bahwa alasan penutupan masjid-masjid tersebut karena tidak terdaftar di lembaga pemerintah yang berwenang. Sementara para jama’ah berpendapat lain. Mereka mengaku telah melakukan berbagai upaya besar untuk mendaftarkan masjid di pemerintah. Namun kantor-kantor pemerintah tidak peduli dengan upaya mereka, bakan mereka selalu membuat-buat alasan yang tujuannya untuk menutup masjid.

Mullah Daulat Marzaiov, imam dan khatib masjid di Asbejk mengatakan, “Sejak empat puluh tahun yang lalu saya mengimami di masjid ini dan setiap harinya dihadiri sekitar 200 jamaah untuk melakukan salat berjamaah dan masjid ini dibangun melalui sumbangan masyarakat dan Kami telah melakukan upaya besar untuk mendaftarkan masjid di lembaga pemerintah beberapa kali, namun kami tidak berhasil,” ungkapnya.

Warga lain juga mengungkapkan hal yang sama. “Pihak berwenang sengaja tidak bersedia mendaftarkan masjid tanpa alasan apapun! Dan tidak pernah masjid ini satu haripun menjadi pusat kegiatan politik sebagimana masjid tidak pernah digunakan kecuali hanya untuk sholat maupun sholat jenazah,” tuturnya.

ternyata tidak hanya penutupan masjid-masjid, pemerintah setempat juga melarang para pemuda setempat mengaji. Hal itu terlihat dari pasukan keamanan di beberapa daerah yang melarang hal-hal pendidikan agama bagi kaum muda, dan tidak mengizinkan mereka untuk mendatangi para ulama dan syeikh untuk menimba ilmu syar’i.

Mereka juga memerintahkan para ulama, termasuk ‘Eshaan Khalil’ dan ‘Mullah Mohammadi’ termasuk ulama yang terkemuka di daerah Hishar di wilayah Khatlan untuk menghentikan pengajaran ilmu syar’i dan mereka tidak diizinkan kecuali setelah mendapat persetujuan resmi dari pemerintah.

Muslim Perancis: Kami Kekurangan Tempat untuk Melaksanakan Shalat

Sebuah seruan adzan berkumandang dari pengeras suara bertengger di kap mobil, dan setelah itu ratusan jamaah Muslim menyentuhkan dahi mereka ke tanah dalam rangkaian ibadah shalat, membentuk lautan punggung di jalanan kota.

Adegan ini terjadi tidak di pusat kota Kairo, tapi di jalanan pasar yang sibuk di Paris utara, beberapa langkah dari Sacre Coeur basilika. Untuk penduduk setempat, hal itu berita lama: bahkan sebagain dari umat Islam melaksanakan shalat di jalan pada waktu hujan atau bersinarnya matahari, selama beberapa dekade.

Namun bagi Marine Le Pen – yang mengambil alih dari ayahnya akhir pekan ini sebagai pemimpin partai sayap kanan Front Nasional – hal itu adalah bukti bahwa umat Muslim mengambil alih Perancis dan menjadi kekuatan pendudukan, menurut pernyataannya yang ia buat pada bulan lalu.

Komentarnya menyebabkan kehebohan saat dia menyebut umat Islam yang shalat dijalanan telah mengancam nilai-nilai negara sekuler di mana adanya kecemasan kaum muslim mengambil alih peran dalam masyarakat Perancis.

Kembali di jalanan pasar, sholat Jumat berakhir secepat mereka mulai, dengan ratusan jamaah mengemasi tikar mereka dan kembali ke bekerja.

Banyak dari mereka mengatakan kepada Reuters bahwa tidak banyak pilihan diberikan, mereka hanya akan menghindari luar ruangan pada musim dingin dan hujan ketika shalat. Masalahnya adalah bahwa gudang-yang difungsi alihkan menjadi sebuah masjid tidak resmi yang disebut al-Fath, terlalu kecil untuk menampung mereka semua.

“Ini dingin dan kotor. Apakah Anda pikir kami akan di sini shalat jika kami punya pilihan? Semua tetangga datang dan shalat di jalan karena tidak ada ruang yang cukup di dalam, itu saja,” kata Mohammed Delmi, 62 tahun.

Adegan tersebut direplikasi di sebuah ruangan dimana lusinan umat Islam di Perancis melaksanakan shalat di luar karena ruang shalat terlalu penuh.

“Tidak ada ruangan yang cukup untuk mereka,” kata Hakim El Karoui, kepala Institut Kebudayaan Islam, yang memberikan konsultasi kepada Kota Paris pada masalah iman. “Tidak heran ada suatu overflow.”

Kampanye dalam mendukung pembangunan masjid baru mengatakan mereka menghadapi dua kesulitan utama, dimulai dengan pembiayaan: masjid di Perancis harus didanai secara pribadi karena pembatasan terhadap menggunakan uang rakyat untuk tujuan agama.

Isu kedua penentangan publik, yang telah tumbuh semakin tidak toleran terhadap simbol-simbol Islam. Penelitian oleh jajak suara IFOP menunjukkan bahwa dukungan untuk membangun mesjid turun menjadi 20 persen pada 2009 dari 31 persen pada tahun 2000.

“Kami berjalan di atas kulit telur di sini,” kata Moussa Niambele, pimpinan kelompok yang mencari ruang shalat baru dekat masjid Al Fath. “Ada masalah menara di Swiss dan mereka tidak ingin mengimpor masalah seperti itu ke Perancis.”

Di Paris, di mana populasi Muslim lebih padat daripada tempat lain di Perancis, hanya ada satu masjid resmi, La Grande Mosquee de Paris, terletak di taman jauh dari lingkungan imigran.

El Karoui mengatakan bahwa masalah ini telah tumbuh lebih akut sejak penutupan sebuah masjid besar di Paris utara dua tahun lalu yang akhirnya memaksa umat Muslim untuk shalat di garasi yang diubah menjadi ruangan shalat.

Sebuah proyek untuk membangun dua ruang shalat baru yang akan disebut pusat “budaya” dan “iman” senilai € 5.900.000 masih kekurangan dana dan bangunan tidak akan dimulai sebelum 2012.

Para jamaah skeptis tentang jadwal pembangunan masjid baru.

“Anda tahu, kami telah berdoa di jalan ini selama bertahun-tahun, jauh sebelum Marine Le Pen membuat pernyataan rasisnya,” kata seorang pria.

Lebih dari dua pertiga rakyat Perancis dan Jerman kini mempertimbangkan integrasi Muslim ke dalam masyarakat mereka merupakan kegagalan, jajak pendapat IFOP mengatakan dalam sebuah survei yang diterbitkan pada 5 Januari lalu. Di Perancis, di mana Islam adalah agama terbesar kedua setelah Katolik, 42 persen warganya melihat Islam sebagai ancaman bagi identitas nasional.

“Ini telah menjadi isu politik penting,” kata Frederic Dabi, kepala IFOP tentang penelitian mereka. “Street prayers and the perceived growing influence of Islam are seen as impinging on French values of secularism, communal living.” “Shalat di jalanan dan pengaruh persepsi terhadao Islam dipandang sebagai sesuatu yang akan mengikis nilai-nilai sekularisme Perancis, kehidupan komunal warga.”

Kontroversi shalat di jalanan telah diterjemahkan ke dalam tumbuhnya kepercayaan dalam tubuh Front Nasional, sekitar 15 bulan sebelum pemilihan presiden yang cenderung melihat pertempuran perebutan suara antara partai kanan dan partai tengah kanan Sarkozy.

Pendiri Front Nasional Jean-Marie Le Pen mengatakan ia mengharapkan partainya memenangkan pemilihan umum pada tahun 2002, ketika dia tersingkir dari calon Sosialis mainstream di babak pertama pemungutan suara, tapi kemudian kalah dari Jacques Chirac.

“Ketakutan terhadap Islam ini berkembang ke berbagai simbol: menara di Swiss, niqab (kerudung muka penuh) di Perancis, bahkan jaringan resto Quick yang menyajikan menu halal,” kata Dabi, mengacu pada jaringan resto makanan cepat saji yang baru saja membuka berbagai restoran halal di Perancis dan Belgia. “Kelompok kanan jauh adalah yang bermain dalam ketakutan ini.”

Sebuah jajak pendapat yang diterbitkan oleh TNS Sofres minggu ini, menunjukkan bahwa dukungan untuk ide-ide Front Nasional tumbuh sebesar 12 persen sepanjang tahun lalu.(

Taliban akan Cabut Larangan Bersekolah Bagi Perempuan

Kabar baik bagi anak-anak perempuan di Afghanistan. Rezim Taliban yang masih memegang kuasa di sejumlah provinsi negara itu menyatakan mereka akan menghapuskan larangan bersekolah bagi kaum perempuan.

Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Afghanistan, Farooq Wardak. Menurut Wardak, saat ini tengah terjadi perubahan paradigma di antara pemimpin Taliban.

“Ada perubahan sikap, ada perubahan perilaku di Taliban. Ini perubahan budaya,” kata Wardak yang juga orang penting di lingkaran pemerintahan Presiden Afghanistan Hamid Karzai.

“Saya dengar dari para pemimpin kunci Taliban bahwa mereka tidak lagi menentang pendidikan dan pendidikan untuk kaum perempuan,” sambung Wardak.

Sejauh ini belum ada keterangan resmi dari Taliban terkait rencana mereka mencabut larangan sekolah bagi perempuan. Taliban belum pernah menyatakan hal ini sebelumnya.

Pakar pendidikan dari Komite Swedia untuk Afghanistan, Amir Mansory, mengatakan sebenarnya tidak seluruh perempuan dilarang bersekolah di Afghanistan oleh Taliban. Terbukti, sejak tahun 1990 ketika Taliban berkuasa, ada sebanyak 33 ribu perempuan yang bersekolah, meski dilarang.

“Itu semacam kebijakan rahasia. Memang tidak ada yang menyatakan perempuan boleh bersekolah saat Taliban berkuasa. Tapi di beberapa provinsi justru pejabat Talibannya yang mendekati LSM kami dan meminta bantuan agar kaum perempuan bisa sekolah,” kata Mansory yang mendirikan sekolah di Provinsi Paktika dan Wardak.

Menurut dia, sebenarnya Taliban tidak menentang pendidikan. Hanya saja, mereka menentang paradigma pendidikan barat. “Mereka menentang cara-cara pendidikan yang diajarkan barat. Pemerintahan Taliban tahu soal ini. Kalau ada masyarakat yang ingin anak perempuannya bersekolah, mereka paham tidak bisa menghalangi niat itu,” katanya.