Asean Mau Bangun Jalan Tol dari Cina ke Indonesia

ASEAN sepakat untuk membangun jalan raya lintas ASEAN (ASEAN Highway) atau trans ASEAN sebagai salah satu upaya implementasi dari rencana pembentukan ASEAN Community.

Jalan raya itu akan membentang dari kawasan perbatasan Cina hingga Indonesia dan Filipina. Diharapkan dengan terealisasinya proyek prestisius bernilai miliaran dolar AS itu akan mempercepat arus transportasi orang dan barang antar sesama negara ASEAN. Sehingga dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi ASEAN.

Pembangunan jalan itu dapat menggunakan jalur yang sudah ada dengan peningatan kualitas jalan atau membangun jalur baru. ‘’Khusus di  Indonesia yang kepulauan kita akan memanfaatkan jasa kapal Rol on roll Off ,’’ kata Ngurah Swajaya, Wakil tetap Indonesia di ASEAN di sela kegiatan ASEAN Ministerial Meeting (AMM) Retreat, Ahad (16/1).

Masalah pendanaan program itu dapat dilakukan dengan Investasi, publick private partnership atau Overseas Development Assistance.(ODA). Sejauhn ini program itu sudah diminati calon investor asal Cina dan Jepang

FoSSEI Sulsel Berkomitmen Kembangkan Ekonomi Islam

Bertempat di Aula Kampus Al Azhar Jl Tamangappa Raya III, Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) Regional Sulawesi Selatan menggelar rapat kerja (raker) pada Sabtu (15/1).

Raker dihadiri oleh puluhan pengurus regional dan perwakilan dari 4 Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) yang tergabung di dalam FoSSEI Regional Sulsel, yaitu dari kampus UMI, Unhas, Al Azhar dan UNM.

Rapat kerja  periode kepengurusan 2010-2012  bertema ”Membumikan Ekonomi Islam”,  ini menyusun sejumlah agenda strategis terkait ekonomi Islam.

Salah satu rencana kegiatan yang cukup menarik digagas oleh Departemen Penelitian dan Pengembangan yaitu dalam jangka panjang, FoSSEI regional Sulsel akan bekerjasama dengan lembaga perbankan syariah dan lembaga riset untuk mengembangkan produk perbankan syariah.

Selain itu, FoSSEI Sulsel dalam periode kepengurusan ini juga berkomitmen mengembangkan dan menyiapkan sumber daya manusia baik sebagai akademisi maupun praktisi melalui sejumlah pelatihan seperti “Shariah Economics Training, Kajian Mu’amalah, Dialog Ekonomi Kontemporer dan Seminar Nasional”.

Sebagai lembaga kemahasiswaan yang berbasis ekonomi Islam, FoSSEI juga berencana mendirikan sejumlah unit usaha. Di antaranya penjualan pulsa di setiap kampus yang memiliki KSEI dan usaha rumahan seperti penjualan kue-kue khas dan kuliner Makassar.

Raker FoSSEI Regional Sulsel ini merupakan agenda lanjutan dari Musyawarah regional yang sebelumnya dilangsungkan pada 25-26 Desember 2010 di LT.8 Universitas Hasanudin dan menetapkan Ruslan, Mahasiswa STIA Al Azhar Makassar sebagai Koordinator Regional.

“Pada periode kepengurusan ini, FoSSEI Regional Sulsel berfokus pada pengembangan organisasi, jaringan, kewirausahaan dan keilmuan,” ujar Jusman Dalle, Humas FoSSEI Sulsel.

Pada 11-4 Maret mendatang, FoSSEI Regional Sulsel juga akan mengutus kader terbaik untuk mengikuti lomba karya tulis ekonomi Islam yang diadakan di forum Temu Ilmiah Nasional FoSSEI di Banjarmasin.

Pemimpin Partai Islam Tunisia di Pengasingan Berencana Pulang

Pemimpin partai Islam terpenting Tunisia, Al-Nadha, Rasyid al-Ghannushi, hari Sabtu (15/1) mengatakan berencana pulang ke tanah air pasca hengkangnya presiden Zine al-Abindine Ben Ali.

Intifada Tunisia berhasil menggulingkan rezim diktatur”, kata pemimpin politik yang hidup di pengasingan di London ini.
“Kini tiba saatnya bagi partai-partai politik mengganti rezim diktatorial dengan demokrasi. Saya bersiap-siap kembali ke tanah air,” kata laki-laki berusia 69 tahun itu.

Rasyid al-Ghannushi menyatakan akan balik ‘kampung’ pasca Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali melarikan diri hari Jumat dari negaranya akibat konflik yang berakhir dengan kerusuhan di Negerinya.  Beberapa media asing melaporkan, hari Sabtu, Ben Ali  yang telah 23 tahun menjabat sebagai presiden Tunisia terlihat mendarat di Saudi.

Pengasingan

Al-Ghannushi lahir tahun 1941 di luar al-Hama, di provinsi Qabis Tunisia selatan.  Lulus dari Universitas Zaytuna ia masuk sekolah pertanian di Universitas Kairo tahun 1964. Setelah pengusiran Tunisia dari Mesir karena perselisihan antara Jamal Abdul Nasser dan Habib Bourguiba, ia berangkat ke Suriah dan belajar filsafat di Universitas Damaskus. Sebelumnya, Rasyid Al-Ghannushi awalnya bergabung dengan Partai Sosialis Eropa, namun kemudian berubah memilih pandangan lebih religius. Dia menghabiskan satu tahun di Sorbonne Prancis sebelum kembali ke Tunisia. Bersama teman-temannya, di Tunis,  ia membentuk organisasi yang ditujukan untuk reformasi masyarakat Tunisia berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

April tahun 1981 ia mendirikan gerakan  “al-ittijah al-islami”, sebuah gerakan Islam anti kekerasan menyerukan untuk sebuah “rekonstruksi kehidupan ekonomi secara lebih adil, mengakhiri partai politik tunggal dan menerima demokrasi”.

Sayang, pengkritik keras presiden Ben Ali ini pada bulan Juli ditangkap bersama pengikutnya. Ia dihukum sebelas tahun penjara di Bizerte dan menerima banyak siksaan.  Ia dibebaskan pada tahun 1984, namun kembali ke penjara pada tahun 1987 dengan hukuman seumur hidup.Tahun 1988 ia dipindahkan ke Eropa sebagai pengasingan politik, dan tinggal di sana sampai awal 1990-an.

Selama kepergian Ben Ali, Perdana Menteri Mohammad Ghannushi mengatakan telah mengambil-alih sebagai presiden sementara.

Namun dari pengasingan, Rasyid al-Ghannushi mengatakan, Perdana Menteri Mohammad Al-Ghannushi adalah orangnya Ben Ali dan tidak akan membawa perubahan apapun atau reformasi.

Karenanya, ia tetap meminta masyarakat untuk terus menyerang mereka sampai Ben Ali dan orang-orangnya mengundurkan diri.

Dari pengasingan, ia menekankan pentingnya memiliki pemerintah persatuan nasional yang mencakup semua kekuatan politik dan akademisi serta memiliki pendekatan baru untuk membangun negara yang kuat dan membawa reformasi politik dan sosial.

Kiat Memilih Produk Kemasan Halal

Konsumen kini disuguhi banyak pilihan produk. Salah satunya adalah produk pangan dalam kemasan. Sejumlah langkah bisa ditempuh konsumen saat mempertimbangkan untuk mengonsumsi sebuah produk dalam kemasan. Langkah itu, misalnya, dengan memperhatikan label produk kemasan.

Ini untuk memastikan kelayakan produk dan status kehalalannya. Kehalalan dalam produk kemasan diketahui melalui label halal pada kemasannya. Pencantuman itu dapat dilakukan setelah produk mendapatkan sertifikat halal yang dikeluarkan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia.

Menurut Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim, harus diakui kepatuhan pengusaha soal pelabelan ini masih harus terus didorong. Data dari pemerintah, jelas dia, sebanyak 54 persen label halal tak memenuhi ketentuan. “Produk itu tak memiliki sertifikat halal dari LPPOM MUI,” katanya di Jakarta, Senin (10/1) lalu.

Apa saja yang harus dicermati saat pembeli produk dalam kemasan selain labelnya? Berikut sarannya:

Lihat kemasannya
Biasanya, produk industri menengah dan besar dari dalam negeri pada kemasannya tercantum kode MD. Ini merupakan nomor pendaftaran produk bersangkutan di Badan Pengawas Obat dan Makanan. Pencantuman MD pada kemasan dilakukan setelah produk lolos pemeriksaan keamanan, mutu, dan persyaratan lainnya, seperti hal-hal yang boleh dicantumkan pada kemasan. Untuk produk impor, nomor pendaftaran dicantumkan dengan ML, sedangkan produk industri kecil nomor pendaftarannya adalah SP.

Nomor SP diberikan setelah produsen kecil mengikuti penyuluhan Kementerian Kesehatan dan produsen memperoleh sertifikat penyuluhan. Anton Apriyantono dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor (IPB), mengatakan, jika telah tercantum nomor MD, sebaiknya lihat pula apakah ada label halalnya. Bila sudah tertera dalam kemasan, produk itu telah terjamin kehalalannya.

Untuk produk impor: label halal dan nomor pendaftaran

Biasanya dengan kode ML yang diikuti serangkaian nomor, jelas dia, cermati pula soal label halal. “Jika tidak ada, lebih baik kita hindari,” katanya menegaskan.

Jangan asal logo halal
Perlu kehati-hatian terhadap produk yang berlabel halal, tetapi diproduksi di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Tanyakan keabsahan label halalnya kepada LPPOM MUI.

Waspadai produk dari industri kecil

Produk dari industri kecil dengan nomor pendaftaran SP biasanya masih harus lebih diteliti lebih lanjut. Sebab, tak jarang tercantum label halal dalam kemasan produk walaupun produsen belum mendapatkan sertifikat halal dari LPPOM MUI.

Warga Sumber Lereng Merapi Utara Kesulitan Air Ditengah Ancaman Pemurtadan

Jumat 14 januari 2010, Relawan Masjid Indonesia (RMI) mengadakan pengajian di dusun Sumber, kecamatan Selo, kabupaten Boyolali. Dusun tersebut saat ini terisolir dengan daerah bawah dikarenakan jembatan putus total diterjang banjir lahar dingin pada Ahad 9 januari 2010, bersamaan dengan 4 relawan RMI terjebak di daerah itu juga. Sehingga akses ekonomi warga cukup terganggu. Selan pengajian, RMI juga membagi paket sembako, buku doa-juzama, buku tulis Islami dan lauk.

Saat ini daerah tersebut mengalami kesulitan air, selama ini air mereka alirkan dari mata air dipuncak dengan pipa, namun karena terjangan banjir lahar dingin, pipa rusak dan tidak bisa mengaliri air lagi ke dusun. InsyaAllah RMI akan memperbaiki pipa-pipa yang rusak, dan alhamdulillah telah disanggupi donatur dari Penerbit Pro-U Media. Namun untuk renovasi masjid yang rusak karena erupsi merapi di dusun sumber masih membutuhkan dana.

Perlu diketahui di dusun tersebut telah ada posko Child Fund yakni dulunya bernama Christian Children’s Fund yang mengadakan beberapa proyek kegiatan. Semoga Allah kuatkan aqidah warga disana dan semoga kita bisa menjadi umat Islam yag peduli kepada saudranya se-iman.