Mitigasi Bencana Masuk RPJMD

Program mitigasi kebencanaan termasuk dalam satu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sumatera Barat (Sumbar) 2011-2015.

“Sebagai salah satu daerah rawan bencana, kita sudah merencanakan program mitigasi kebencanaan dalam RPJMD untuk lima tahun ke depan,” jelas Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, usai menyerahkan Dokumen RPJMD Sumbar kepada DPRD Sumbar, Jum’at
(04/02).

Dikatakan Irwan, untuk menjalankan program mitigasi kebencanaan, dalam RPJMD terdapat Ranperda untuk mengatur pembangunan gedung. Perda tersebut akan mengatur tentang aturan pembangunan gedung agar ramah gempa. Sebab, Sumbar merupakan salah satu kawasan yang rawan terjadinya gempa.

“RPJMD telah pada DPRD Sumbar. Ini akan menjadi panduan pembangunan Sumbar 5 tahun ke depan. Nantinya akan dibahas oleh DPRD Sumbar selama 6 bulan,” ujar Irwan.

Kepala Dinas Prasarana Jalan, Tata Ruang dan Pemukiman, Dodi Ruswandi, mengatakan bahwa pengaturan tata bangunan memang harus dilakukan. Selama ini, peraturan tentang tata pembangunan gedung belum fokus pada bangunan ramah gempa. Namun, sejak gempa kerap melanda di Sumbar hal tersebut mau tak mau harus diatur. Apalagi mengingat Sumbar berada di daerah rawan bencana.

“Dulu kita tak terlalu fokus untuk mengatur hal itu. Perda yang mengatur hal tersebut harus ada agar kabupaten/kota bisa melaksanakan aturan tersebut di daerahnya,” terang Dodi.

Revolusi Mesir Berdampak Terhadap Pasokan BBM untuk Gaza

Bahan bakar bagi rakyat Gaza telah berkurang secara signifikan karena situasi di Mesir, dan hal itu menyebabkan masalah serius bagi rakyat Palestina yang tinggal di wilayah itu.

Tel Aviv telah sering menutup perbatasan Gaza, dan pengadilan Israel juga telah mengurangi kuota BBM memasuki Jalur Gaza tanpa memberikan alasan.

Selain itu, bahan bakar dan pasokan barang lainnya sangat dibutuhkan, yang dibawa melalui terowongan bawah tanah antara Gaza dan Mesir telah terhenti.

Pasokan bahan bakar turun tajam pada awal revolusi Mesir, tapi sekarang tidak ada bahan bakar yang datang melalui terowongan bawah tanah, seorang koresponden Press TV melaporkan dari Gaza pada hari Jumat kemarin (4/2).

Pada hari pertama pemberontakan Mesir, warga Gaza berbaris di SPBU untuk mencoba untuk mengumpulkan bahan bakar sebanyak mungkin, meskipun tidak ada cara untuk mengetahui berapa lama toko memiliki stok bahan bakar.

Asosiasi Importir bahan bakar Gaza mengatakan bahwa cadangan minyak diesel dan bensin di SPBU di Jalur Gaza sudah habis sama sekali.

BBM tidak hanya dibutuhkan untuk menjaga kendaraan tetap berjalan di wilayah yang diblokade tersebut, tetapi juga merupakan kebutuhan dasar yang digunakan untuk menjalankan generator domestik dan industri selama seringnya terjadinya pemadaman listrik, juga digunakan untuk menjalankan peralatan rumah sakit agar tetap berjalan.

Para ekonom mengatakan bahwa kurangnya bahan bakar akan memiliki konsekuensi serius bagi semua aspek kehidupan di Gaza.

Sejak tahun 2006, ketika Israel memberlakukan blokade melumpuhkan di Jalur Gaza, terowongan di sepanjang perbatasan dengan Mesir telah menjadi alternatif bagi rakyat Gaza mendapatkan kebutuhan sehari-hari mereka. Mereka menggunakan terowongan untuk mengimpor bahan pangan dan bahan kebutuhan pokok lainnya.

Sekarang dengan bahan bakar yang tidak akan masuk lagi melalui lorong-lorong bawah tanah, warga Palestina di Gaza ketakutan dalam menghadapi beberapa hari sulit  yang terbentang di depan, meskipun jumlah terbatas bahan bakar diperbolehkan melalui penyeberangan Israel.

Para ahli mengatakan bahwa kekurangan bahan bakar akan memperburuk masalah ekonomi stagnan di Gaza dan akan meningkatkan pengangguran dan angka kemiskinan di wilayah terkepung itu.

10 Persen Jemaah Haji Alami Gangguan Mental

Sekitar 10 persen dari total jemaah haji yang harus dirawat inap ketika melaksanakan ibadah haji menderita psikosis atau gangguan mental yang tidak terdeteksi dari awal.

“Tren kenaikan jumlah penderita psikosis ini tidak terlalu banyak tiap tahunnya tapi selalu ada ditemukan tiap tahun,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Taufik Tjahjadi dalam jumpa media rutin Kemenkes di Jakarta, Jumat.

Psikosis menjadi jenis penyakit rawat inap terbanyak keempat pada jemaah haji di Arab Saudi tahun 2010 lalu pada periode pra-Armina. Penyakit terbanyak pertama adalah hipertensi disusul dengan diabetes mellitus dan penyakit pernafasan/pneumonia.

Perbedaan psikosis dengan ketiga penyakit terbanyak lainnya disebut Taufik adalah jika ketiga penyakit itu bisa dideteksi sejak awal, psikosis kebanyakan baru terdeteksi setelah sampai di Arab Saudi.

“Banyak jemaah haji menolak menyebutkan mereka menderita psikosis sejak pemeriksaan awal di tanah air meskipun mereka tahu karena mereka takut mereka tidak jadi diberangkatkan. Padahal seharusnya mereka menyebutkan dari awal agar dapat dilakukan penanganan yang tepat,” ujar Taufik.

Ia mengingatkan bahwa berdasarkan UU No.13/2008 tentang Penyelenggaraan Haji, Kementerian Kesehatan tidak boleh menolak seseorang untuk berangkat haji namun berkewajiban untuk menyediakan layanan kesehatan baik sebelum pemberangkatan maupun selama pelaksanaan ibadah haji.

“Namun jika di embarkasi ada calon jemaah sakit, maka akan dirujuk ke rumah sakit dan kepergiannya dipindahkan ke kloter selanjutnya,” ujarnya.

Kepala Biro Hukum Kementerian Kesehatan Budi Sampurno mengungkapkan bahwa dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang pelaksanaan haji memang tidak dicantumkan mengenai persyaratan kesehatan bagi mereka yang akan menjalankan ibadah haji.

“Ini sulit karena dari kementerian lain kami juga diminta agar tidak memberikan persyaratan kesehatan melainkan hanya ditinjau dari segi agama,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia juga menganjurkan agar para jemaah haji dapat berterus terang mengenai penyakit yang dideritanya untuk memudahkan penanganan oleh petugas kesehatan.

Sementara itu, untuk dapat mendeteksi gejala psikosis lebih awal, Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Kolegium Psikiatri sedang menyiapkan prosedur pemeriksaan cepat bagi para calon jemaah haji.

“Mudah-mudahan dapat dilakukan secepatnya dan agar bukan hanya dokter yang bisa melakukan perawatan tapi juga perawat misalnya atau petugas kesehatan lainnya,” kata Taufik.

Psikosis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengalami putus hubungan dengan realitas, terkadang menyangkut delusi dan halunisasi.

Beberapa sebab yang dapat memicu terjadinya psikosis antara lain tumor otak, demensia, epilepsi, gangguan bipolar, depresi psikotik, schizofrenia dan stroke.

Gejala yang muncul berupa emosi yang tak wajar, kebingungan, depresi dan kadang muncul dorongan bunuh diri, berbicara tak beraturan, mengalami delusi dan ilusi serta halusinasi.

Terkait para jemaah haji, Taufik mengatakan ketegangan selama proses persiapan dan pelaksanaan ibadah kerap menjadi penyebab jemaah haji mengalami gejala psikosis sehingga harus dirawat inap sewaktu di Arab Saudi.

“Ada juga yang menganut paham-paham tertentu yang kemudian memicu psikosis ini. Banyak yang disebabkan kecemasan karena persiapan-persiapan sebelum berangkat yang menimbulkan ketegangan,” ujarnya.*