Mari Memikirkan Aib Sendiri

Seringkali kita tidak sadar dengan kesalahan sendiri. Tapi justru kita paham betul dengan kesalahan orang lain. Seperti kata peribahasa, gajah dipelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.

Mengapa diri ini selalu menyibukkan diri dengan membicarakan aib orang lain, sedangkan ‘aib besar yang ada di depan mata tidak diperhatikan? Akhirnya diri ini pun sibuk menggunjing, membicarakan  aib saudaranya padahal ia tidak suka dibicarakan.

Jika dibanding-bandingkan diri kita dan orang yang digunjing, boleh jadi dia lebih mulia di sisi Allah. Demikianlah hati ini seringkali tersibukkan dengan hal yang sia-sia. Seharusnya,  aib kita sendiri yang lebih diperhatikan

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR Muslim)

Adapun ghibah dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala di dalam Alquran surat Al Hujarat ayat 12, adalah seperti orang yang memakan bagkai saudaranya sendiri. Apakah kita mau seperti itu? T

Jika kita sudah tahu demikian tercelanya membicarakan  aib saudara kita –tanpa ada maslahat – maka sudah semestinya kita menjauhkan diri dari perbuatan tersebut.  Aib kita sebenarnya lebih banyak, dibanding  aib orang lain. Kita tentu lebih paham diri kita ketimbang orang lain bukan? Mari berinstropeksi, sebelum berkomentar yang tak kita tahu tentang orang lain.

Presiden Mestinya Bisa Minta IPB Umumkan Merek Susu Berbakteri

Sulitnya membuka informasi hasil penelitian Institut Pertanian Bogor tentang lima merek susu formula berbakteri entrobacter sakazakii, membuat pertanyaan di mata masyarakat. Anggota komisi IX dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Rizki Sadiq pun meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan.

“Sebagai alumni IPB, (presiden) kan bisa memberi masukan kepada rektor. Buka sajalah (merek dagang) susu formula,” ungkap Rizki dalam diskusi di Warung Daun, Jl. Cikini, Jakarta, Sabtu (19/2).

Rizki menyangkan berlarut-larutnya pemerintah dan IPB untuk membuka nama merk tersebut. Padahal, ungkapnya, penelitian Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pada 2008 sudah menjelaskan bahwa semua merk susu formula bebas bakteri Entrobacter Sakazaki. Sehingga, jelas Rizki, penelitian IPB pada 2003-2006 itu sudah tidak mempunyai dampak apa pun kepada produsen. ” Tapi Kalau diintip-intip. Tidak transparan, ini kan yang bikin curiga,”ujarnya.

Pada rapat kerja komisi IX dengan Dekan IPB dan Menteri Kesehatan, ujarnya, anggota dewan sebenarnya sudah menyampaikan dapat memahami bahwa tidak ada masalah dengan susu tersebut. Namun, ungkapnya, penjelasan yang disampaikan oleh pemerintah dan IPB cuma sebatas masalah akademis. Hanya sebatas menyampaikan susu formula bebas bakteri tanpa ada penjelasan lebih detil.

Saat didesak untuk memberikan nama merek itu, tutur Rizki, dekan IPB malah beralasan belum mendapatkan salinan putusan Mahkamah Agung. “Tapi waktu kita beri waktu dekan didampingi petugas untuk mengambil salinan putusan ke PN dia mengelak itu tanggungjawab rektor,”ujarnya.

Palestina Marah, AS Veto Resolusi PBB tentang Permukiman Israel

Amerika Serikat pada Jumat memveto resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan langkah yang diambilnya itu menyebabkan pihak Palestina yang marah bertekad mengevaluasi kembali keseluruhan proses perdamaian Timur Tengah. Pemerintahan Obama memberikan hak veto pertamanya atas rancangan resolusi yang disponsori Arab dalam sidang Dewan Keamanan PBB setelah diplomasi intensif gagal meyakinkan pihak Palestina untuk menerima pernyataan kompromi tak mengikat yang mengutuk aktivitas permukiman Yahudi.

Empat belas dari 15 anggota DK PBB menyatakan dukungan bagi resolusi tersebut tetapi veto AS secara efektif menggagalkan langkah tersebut. Pertikaian itu merupakan tamparan atas usaha yang sudah Washington lakukan untuk membentuk negara Palestina tahun ini dan menimbulkan risiko terhadap hubungan AS dengan para pemimpin Arab yang sudah terganggu karena responsnya pada pergolakan yang melanda Timur Tengah.

Duta Besar AS untuk PBB Susan Rice mengatakan Washington “dengan sangat menyesal” memblok rancangan resolusi itu dan memperingatkan Israel hendaknya tidak menafsirkan langkah itu sebagai bentuk dukungan bagi pembangunan permukiman di Jerusalem Timur dan Tepi Barat Sungai Jordan.

Tapi ia mengatakan AS — satu di antara lima anggota tetap Dewan Keamanan yang memiliki hak veto — percaya bahwa PBB bukan forum terbaik untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel yang telah berlangsung puluhan tahun. “Draft resolusi ini berisiko memperkuat sikap kedua pihak,” kata Rice. “Ini bisa mendorong kedua pihak menjauhkan diri dari negosiasi.”

Akan tetapi Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestsina (PLO) Yasser Abed Rabbo mengatakan veto AS “sangat disayangkan dan mempengaruhi kredibilitas pemerintahan Amerika.” Akibatnya pihak Palestina akan “mengevalauasi kembali seluruh proses negosiasi” menuju perdamaian di Timur Tengah, katanya.

Resolusi itu, yang disponsori oleh 130 negara, menegaskan kembali bahwa permukiman Israel yang dibangun di wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967, termasuk Jerusalem Timur, ilegal dan merupakan kendala utama bagi pencapain perdamaian yang langgeng, adil dan komprehensif.” Rancangan itu juga mengulangi tuntutannya pada Israel, kekuatan yang menduduki wilayah itu, menghentikan segera semua kegiatan permukiman di wilayah Palestina yang mereka duduki.

Permainan Tradisional Lebih Membangkitkan Kreatifitas Anak

Berbagai permainan tradisional anak-anak dirasakan perlu kembali diterapkan ke tengah generasi penerus, sebagai upaya meningkatkan kreatifitas anak-anak itu sendiri.

Kabid Diklusepora Dinas Pendidikan Sawahlunto, Syafruddin Syarif mengatakan, permainan tradisional yang memanfaatkan alam sebagai sumber bahan baku dan dibuat sendiri dinilai mampu menimbulkan kreatifitas anak.

“Permainan tradisional seperti patok lele dari kayu, ucak dari batu hingga semba lakon, enggrang dan berbagai permainan tradisional yang memanfaatkan alam sebagai sumber bahan baku dan dibuat sendiri oleh anak, dinilai mampu menimbulkan daya inovasi dan kreasi dalam diri anak, disamping mengasah motorik dan fisiknya” katanya kepada padangmedia.com

Berbeda dengan permainan anak-anak saat ini, sebutnya, yang bisa dikatakan sebagai permainan modern, dimana semua permainannya telah disediakan dan bisa didapatkan langsung di pasaran.

“Anak-anak saat ini memang lebih dimanjakan dengan berbagai permainan modern, yang telah tersedia di pasaran, perkembangan teknologi memang ikut berperan dalam mematikan daya kreatifitas anak-anak dalam mendapatkan permainan,” kata mantan Kabag Humas Setdako ini.

Permainan tradisional yang kini telah terpinggirkan dan tergerus waktu, akibat kemajuan teknologi. Saat ini, anak-anak calon generasi penerus itu, tidak lagi memikirkan bagaimana mendapatkan atau membuat mainan sendiri.

“Hilangnya permainan tradisional dari tengah anak-anak, membuat daya kreasi anak-anak ikut hilang,” pungkasnya.

Timur Tengah Tak Pernah Akan Kembali

Pernah membayangkan saat berlangsung KTT Liga Arab, agenda yang pertamanya adalah perkenalan. Perkenalan antara para pemimpin Arab. Siapa yang masih akan bertahan saat KTT Liga Arab, yang akan berlangsung tahun 2012 nanti?

Mungkin KTT Liga Arab akan dihadiri oleh para pemimpin Arab yang baru, dan para pemimpin yang ada sekarang sudah tidak ada lagi. Mereka sudah disingkirkan rakyatnya. Para raja, presiden yang ada sekarang ini, mungkin sudah hidup dipengasingan. Bahkan, ada ‘joke’, Raja Abdullah akan membangun komplek yang amat luas, di Tabuk, Arab Saudi, yang akan menjadi tempat tinggal para mantan raja dan presiden yang sudah digulingkan oleh rakyatnya.

Para raja dan presiden, mereka akan tinggal di Arab Saudi, dan mendapatkan jaminan dari  kerajaan. Bukan hanya itu. Pemerintah juga akan membangunkan komplek yang dikhususkan untuk para mantan raja dan presiden yang sudah ‘dipensiunkan’ secara paksa oleh rakyatnya. Mereka menghabiskan sisa-sisa hidupanya di komplek para raja dan presiden. Inilah sebuah ‘joke’ yang sekarang dikalangan dunia Arab. Karena, Raja Abdullah, sangat besar dukungannya terhadap para otokrat (tiran), sewaktu mereka berkuasa.

Bukan hanya itu. Arab Saudi juga akan membangun tempat ‘pekuburan’ atau ‘peristirahatan terakhir’ bagi para raja dan presiden. Sehingga, para sanak familinya, keluarganya, anaknya, dan kroninya akan dapat mengunjungi dan tetirah ke makam mereka yang sudah dibuang dan dibenci oleh rakyatnya.

Mulai dari Jenderal Ja’far Numaeri (Sudan) menghabiskan umurnya di Saudi, sesudah pemimpin Sudan itu digulingkan oleh sebuah kudeta militer. Idi Amin pemimpin Uganda itu, juga menghabiskan umurnya di Arab Saudi. Banyak mereka yang dahulu sangat berkuasa, meninggalkan negerinya sesudah digulingkan, dan Arab Saudi melindunginya sampai mati.

Lalu, Zein El Abidin (Tunisia), Hosni Mubarak (Mesir), Ali Abdullah Saleh (Yaman), Qaddafi (Libia), Abdel Aziz Bouteflika (Aljazair), Raja Hasan IV (Maroko), Raja Abdullah (Yordan), Raja Abdullah (Arab Saudi), dan sejumlah pemimpin negara-negara Teluk, yang sekarang menghadapi hari-hari akhir kekuasaannya. Mereka semua akan pergi dari kekuasaannya, dan tak akan kembali lagi.

Revolusi di dunia Arab mulai pada bulan Januari. Berawal dari sebuah negara kecil, tetapi mempunyai dampak yang begitu penting. Kemudian protes menyebar ke negara yang mempunyai posisi yang sangat penting secara geopolitik, yaitu Mesir. Negara yang terbesar dan yang paling penting di Timur Tengah. Rezim yang nampak begitu kuat, akhirnya jatuh. Rakyat Mesir menjatuhkan rezim yang mempunyai dukungan begitu kuat. Terutama dari militer. Kehidupan rakyat mulai dipenuhi dengan pembicaraan tentang kebebasan dan kebebasan.Protes berlangsung di mana-mana, menentang kekuasaan para otokrat dan raja-raja, di mana mereka melihat dari istana dengan ketakutan.

Peristiwa di Tunisia dan Mesir sebuah ‘Revolusi’ yang ‘telah menginspirasi seluruh rakyat Timur Tengah. Seakan mengulang kembali peristiwa pemberontakan yang populer 162 tahun yang lalu, dan dimulai dari Sisilia dan Perancis. Revolusi tahun 1848, sebagaimana mereka disebut, adalah sangat mirip dengan apa yang terjadi sekarang di Timur Tengah.

Latar belakang terjadinya ‘Revolusi’, seperti sekarang, adalah akibat resesi yang menyebabkan harga pangan naik dan mahal. Para monarki dan presiden yang sudah tua dan tidak mau mendengarkan lagi rakyatnya. Pemberontakan yang sekarang ini terjasdi dimotori oleh kaum muda, dan mereka berada di garis paling depan.Teknologi informasi baru – koran yang mirip koran yang massal — menghubungkan begitu orang banyak.

Pusat krisis Timur Tengah adanya jumlah pemuda yang begitu besar, sekitar 60% dari populasi di wilayah itu, dan umur mereka rata-rata berada di bawah 30 tahun. Jutaan orang muda memiliki aspirasi yang harus dipenuhi, tetapi rezim yang berkuasa tidak pernah mau mengenal aspirasi para pemuda.

Tuntutan para pengunjuk rasa turunnya rezim yang berkuasa, baik itu dari kalangan fundamentalis atau kalangan sekuler yang berpendidikan Barat. Protes itu sering membuat sekutu lama Barat gelisah, karena itu mereka terguncang.

Sebuah survei terbaru terhadap pemuda Timur Tengah, nomor satu keinginan kaum muda di sembilan negara adalah untuk hidup di negara mereka dengan bebas. Inilah yang menjadi tuntutan mereka di seluruh Timur Tengah. Mereka sudah tidak ingin lagi diperintah oleh rezim diktator.

Ada dua model kontrol: represi dan penyuapan. Mungkin yang terakhir, yang digunakan di negara-negara Teluk, terbukti lebih efektif – meskipun di Bahrain, rezim menghadapi tantangan-tantangan khusus, di mana minoritas Sunni berkuasa atas mayoritas Syiah.

Barangkali terlalu sederhana untuk mengatakan apa yang terjadi di Tunisia dan Mesir dampak dari Facebook. Tetapi teknologi – satelit televisi, komputer, ponsel dan internet – telah memainkan peran yang kuat dalam menginformasikan, mendidik dan menghubungkan orang-orang di kawasan Timur Tengah.

Mungkin Timur Tengah tidak akan pernah kembali ke zaman otokrasi dan diktator, rakyat di kawasan, khususnya kaum mudanya sudah tidak menginginkan kehidupan politik seperti. Revolusi di Mesir telah mengubah segalanya.