Presiden Terguling Tunisia Ben Ali Meninggal Dunia

Setelah berada dalam kondisi kritis, Presiden terguling Tunisia Zine El Abidine Ben Ali menghembuskan nafas terakhir. Berita itu dilaporkan situs Koran Mesir Al-Wafd, Sabtu (19/2) kemarin, seperti yang juga dikutip sejumlah media-media massa Arab.

Kantor Berita IRNA mengutip laporan Televisi France 2 melaporkan, Ben Ali meninggal dunia setelah koma dua hari. Sebelumnya, Seorang kerabat mantan presiden Tunisia, Zine Al-Abidine Ben Ali, mengatakan, mantan diktator tersebut saat ini dalam kondisi koma karena terserang stroke otak.

Kerabat Ben Ali itu kepada Reuters mengatakan, Ben Ali sudah dalam kondisi koma selama dua hari. Saat ini Ben Ali dirawat di sebuah rumah sakit di Jeddah. Ia terkena stroke otak dan kondisinya sangat kritis. Juru Bicara Pemerintah Tunisia, Tayib Bakush mengatakan, “Kondisi fisik Ben Ali dibahas oleh kabinet Tunisia kemarin (18/2).”

Sebelumnya, Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz diisukan meninggal dunia di tempat peristirahatannya yang terletak di rumah. Kantor Berita Alborz mengutip laporan Islam Times melaporkan kematian Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Berdasarkan laporan tersebut, Raja Abdullah beristirahat di Maroko. Saat itu, kondisi Raja Abdullah sakit berat dan meninggal dunia setelah terkena serangan jantung.

Radiasi Kuat dari Matahari Telah Sampai ke Bumi

NASA mengatakan radiasi badai matahari pekan ini melintas di atas kutub utara yang menciptakan pertunjukan cahaya yang menakjubkan.

Radiasi dari badai matahari yang paling kuat dalam lebih empat tahun telah sampai ke bumi, tetapi tidak langsung mengenai planet ini.

Badan Antariksa Amerika, NASA, mengatakan radiasi badai pekan ini melintas di atas kutub utara yang menciptakan pertunjukan cahaya  yang sangat menakjubkan di angkasa yang disebut juga “aurora borealis”.

Pemandangan yang sangat menakjubkan ini bisa terlihat di atas  kawasan kutub utara, serta dalam bentuk titik-titik sampai sejauh ke selatan seperti Kanada utara.  Badai itu juga mengganggu komunikasi radio di beberapa bagian dunia ini.

Kobaran api matahari adalah badai geo-magnit yang kuat di permukaan matahari yang menyemburkan radiasi yang kuat ke antariksa. Semburan radiasi ini dinamakan Coronal Mass Ejections, CME, karena radiasi tersebut memancar dari  atmosfir-luar matahari atau corona.

Medan magnit bumi sendiri melindungi bumi terhadap sebagian besar radiasi antariksa.  Tetapi, badan Amerika Serikat yang melacak cuaca antariksa, NOAA, mengatakan bahwa sebagian semburan api matahari yang sangat besar dapat menghasilkan Coronal Mass Ejection ( CME).

CME adalah partikel yang mampu menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap bumi, antara lain, terhentinya  komunikasi, sistem alat pembantu navigasi satelit atau GPS dan korsletnya transmisi tenaga listrik.

Sebagian pakar yakin perkembangan di matahari pekan ini merupakan awal dari periode baru peningkatan kegaduhan di permukaan matahari. *

SIDANG PIDANA KORUPSI SAPI P2FM 2006 BPKP : Selisih Uang Rp148 Juta, itu Milik Kelompok Warga Miskin

Selisih uang pembelian sapi bantuan Departemen Sosial Rp148 juta yang difasilitas Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Pemberdayaan Masyarakat Sawahlunto adalah milik 37 kelompok warga miskin.

Auditor dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Eddy mengatakan, Seharusnya selisih uang Rp148 juta dari pembelian sapi itu dikembalikan kepada kelompok. “ karena uang itu milik kube dan bisa dipergunakannya untuk keperluan kebutuhan ternak sapi tersebut, “katanya selaku ahli dalam sidang lanjutan kasus pidana korupsi Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) tahun 2006 di Pengadilan Negeri Sawahlunto,

Terdakwa dalam perkara tindak pidana korupsi itu mantan Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana Sawahlunto, M.Oktavianus Manan dan Maryusfi mantan Kepala Dinas Kependudukan Catatan Sipil Sosial dan Tenaga Kerja. Kedua terdakwa dituding jaksa, merugikan keuangan negara sebesar Rp217 juta dalam kasus sapi bantuan untuk warga miskin melalui program P2FM tahun 2006.

Dikatakan auditor BPKP, kalau Dinas Sosial membelikan sapi maka tidak sesuai dengan petunjuk pelaksanaan. Dalam pelaksanaannya kelompok penerima bantuan yang harus membeli. Semestinya, Dinas Sosial tunduk pada pengadaan barang dan jasa.

“Kalau Dinas Sosial memfasilitasi pembelian sapi tidak masalah. Tetapi, harus memenuhi syarat ketentuang pengadaan barang dan jasa di pemerintah, agar sesuai dengan kualitas barang yang hendak dibeli dan tunduk dengan Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003, “ujar Eddy menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim Yuzaida.

Menurut ahli, pembelian sapi yang dilakukan dinas sosial tidak ada dokumen pembelian. Selain itu juga terjadi penyimpangan. Harga pembelian kepada penjual sapi, lebih kecil dari uang yang diterima kelompok warga miskin. Harga seekor sapi Rp4 juta. Sedangkan, sapi dibeli melalui fasilitas Dinas Sosial Rp3.600.000 per ekor.

Eddy menambahkan, terkait dengan dana pendamping pembelian sapi bantuan itu yang sarana pendukung yang bersumber dari APBD Sawahlunto tahun 2006 seperti pembuatan kandang, obat-obatan dan papan plang nama, realisasi anggaran yang dilaksanakan lebih kecil dari yang disediakan. “Kita bisa menyatakan bantuan ini tidak sampai dan hanya diatas kertas sebagai bentuk ertanggung jawaban formal saja, “tutur auditor BPKP ini menanggapi pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Deddi Taufik.

Gawat, 4,7 Persen Pelajar Pengguna Narkoba

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Nasional Anti-Narkotika (Granat) Sumatra Utara H Hamdani Harahap mengatakan, berdasarkan data, sebanyak 921.695 orang atau sekitar 4,7 persen dari total pelajar dan mahasiswa di Tanah Air tercatat sebagai pengguna narkoba.

“Angka tersebut cukup tinggi, dan hal ini tidak bisa terus dibiarkan, melainkan harus secepatnya dicegah untuk menyelamatkan generasi muda dari kehancuran,” katanya di Medan, Sabtu, saat diminta komentarnya mengenai cukup maraknya kasus pelajar dan mahasiswa yang diketahui memakai narkoba.

Hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan, prevalensi penyalahgunaan narkoba di lingkungan pelajar mencapai 4,7 persen dari jumlah pelajar dan mahasiswa atau sekitar 921.695 orang.

Dari jumlah tersebut, 61 persen di antaranya menggunakan narkoba jenis analgesic dan 39 persen jenis ganja, amphetamine, ekstasi dan lem, kata Kabid Pembinaan dan Pencegahan Badan Narkotika Provinsi Sumatra Utara, Arifin Sianipar, di Medan.

Ia mengatakan, jumlah pecandu narkoba yang mendapatkan terapi dan rehabilitasi di seluruh Indonesia, berdasarkan data Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) tahun 2010 sebanyak 17.734 orang.

Jumlah pengguna narkoba terbanyak pada usia 20 hingga 34 tahun. Jenis narkoba yang paling banyak digunakan oleh pecandu yang mendapatkan terapi dan rehabilitasi adalah jenis heroin sebanyak 10.768 orang, ganja 1.774 orang dan sabu-sabu sebanyak 984 orang.

Selebihnya, katanya, umumnya menggunakan alkohol, MDMA, amphetamine lain serta benzodiazepine.

Hamdani menambahkan, jika masalah peredaran narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa tersebut tidak secepatnya diantisipasi oleh pihak kepolisian dan instansi terkait, maka dikhawatirkan akan terus bertambah banyak.

Dengan demikian generasi muda yang diharapkan sebagai calon-calon pemimpin bangsa itu akan rusak moral dan mentalnya. *