Fundamentalis Israel Serang Sejumlah Rumah Palestina

Pemukim fundamentalis Israel pada Jumat (25/2) fajar melakukan beberapa serangan terhadap beberapa rumah dan tanah yang dimiliki  warga di beberapa desa dekat Nablus, di bagian utara Tepi Barat.
Sumber-sumber lokal melaporkan, sebagaimana diberitakan International Middle East Media Center,  sejumlah pemukim bersenjata berasal dari Yitzhar, selatan Nablus, membakar sebuah buldoser milik penduduk bernama Eshtayya Ibrahim, dari desa Burin, Nablus selatan.

Para pemukim Israel juga menulis grafiti anti-Arab dan anti-Palestina di pintu masuk desa Jeet, selatan barat Nablus, dan juga menusuk sejumlah ban kendaraan.

Selanjutnya, sekelompok pemukim menumbangkan 25 pohon zaitun di daerah Al Sadara, utara desa Orif. Pohon-pohon zaitun itu milik Hasan Abdul Fattah Safady dan Mohammad Salama Safady.

Penyerangan belakangan ini merupakan tindakan yang sama secara berkali-kali terhadap warga dan tanah mereka di berbagai tempat di Tepi Barat, khususnya di Nablus dan Hebron.

Tentara Gadhafi Menembaki Rakyat Usai Shalat Jum’at

Puluhan ribu rakyat melakukan protes, usai shalat Jum’at, dan gerakan mereka berpusat di ibukota Tripoli. Gerakan protes yang mereka lakukan menjelang sore, usai shalat Jum’at.

Para demonstran di ibukota Tripoli, mengambil jalan-jalan yang ada, kemudian pasukan keamana yang loyal kepada Presiden Gadhafi, dikabarkan langsung menyerang mereka dengan tembakan yang membabi buta, dan dikabarkan sedikitnya enam orang tewas, seperti yang dilaporkan oleh Associated Press.

Terdengar suara tembakan dari senjata berat di berbagai distrik di sekitar ibukota Tirpoli, seperti Fashloum, Ashour, Jumhuoria, dan Suoq al, ujar seorang wartawan Aljazeera.

“Tentara tidak palah-pilih terhadap para demonstran, mereka menyiram dengan tembakan senjata”, ujar seorang penduduk di kota bagian timur Tripoli. Di sekitar Tripoli terjadi bentrok antara para penentang pemerintah dengan pasukan yang setia kepada Gadhafi. “Tampak mayat-mayat di jalan Sug-al Jumaa”, ujar seorang penduduk.

Sementara itu, Brigade Khamis, kelompok pasukan brigade khusus, yang sangat loyal kepada keluarga Gadhafi, merek dilengkapi dengan senjata yang modern dan canggih, guna menghadapi kelompok penentang pemerintah.

Jumlah korban yang tewas sudah mencapai 2.000 lebih yang tewas, ujar Francois Zimeray, Direktur Human Right Watch, yang menyaksikan kondisi dilapangan. Sementara itu, yang mengalami luka-luka sudah ribuan orang, akibat kekerasan yang terus berlangsung.

Tetapi, sejumlah kota penting jatuh ke tangan kelompok penentang pemerintah, sepreti kota Zuwarah, yang sebelumnya terjadi perang antara pasukan yang loyal dengan Gadhafi dengan kelompok oposisi. Di Az Zawiyah, puluhan ribu orang mengantarkan korban-korban yang tewas ke kuburan, dan mereka meneriakkan yel-yel, “Pergilah Gadhafi besok pagi”, ujar mereka.

Cintailah Sesama Muslim karena Allah SWT

Ketika Rasulullah Shalallahu alahai wa salam bersama para sahabat, seorang lelaki asing melintas di hadapan mereka. Setelah ia berlalu, Rasullullah berkata kepada para sahabatnya, “Dialah ahli surga.” Hal yang demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali ketika orang tersebut melintas di hadapan Rasulullah.

Melihat kenyataan tersebut, sahabat Abdullah bin Umar yang dikenal kritis bertanya kepada Rasulullah “Ya, Rasulullah, mengapa engkau katakan itu kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalinya sebagai sahabatmu? Sedangkan terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu engkau tidak pernah mengatakan hal itu?”

Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh bijak,‘‘Jika engkau ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan tanyakan sendiri kepadanya.”

Abdullah yang mendengar jawaban Rasulullah itu semakin penasaran untuk mengetahui apa keistimewaan lelaki tersebut sehingga dia dikatakan sebagai ahli surga.

Akhirnya Abdullah berkunjung ke rumah lelaki itu sambil memperhatikan amalan yang dilakukan olehnya. Selama di sana, Abdullah tidak melihat ada yang istimewa dalam ibadah orang tersebut. Akhirnya Abdullah bertanya kepadanya,‘‘Sewaktu engkau melintas di hadapan kami, Rasulullah mengatakan bahwa engkau seorang ahli surga. Apa yang menjadi rahasiamu sehingga Rasulullah begitu memuliakanmu?” Lelaki itu tersenyum, kemudian menjawab, “Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak memiliki kekayaan apa-apa. Baik ilmu maupun harta yang bisa aku sedekahkan, apa yang aku miliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang-orang kafir sekalipun.”

Dari kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa rasa cinta yang tulus terhadap orang lain bisa menyebabkan seseorang masuk surga. Sebaliknya, memelihara perasaan benci dan marah, bisa menyebabkan seseorang terjerumus dalam jurang neraka sebagaimana yang ditunjukkan Setan saat penciptaan Nabi Adam.

Dalam kisah tersebut kita tahu bahwa perasaan benci yang ditunjukkan Setan, tidak  hanya mengakibatkan fitnah dan permusuhan, tetapi juga menimbulkan penyakit batin yang sangat buruk sehingga menjauhkannya dari surga.

Orang yang menyimpan perasaan benci kepada orang lain biasanya memiliki sikap mudah menyalahkan orang yang dibencinya.

Rasulullah adalah orang yang selalu menjaga rasa cinta kepada setiap orang, terutama kepada para sahabat.  Di zaman Nabi, pernah ada sekelompok orang yang digerakkan oleh kaum munafik untuk mencela sahabat Rasul. Melihat hal itu Rasulullah lalu bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfaqkan emas sebanyak bukit uhud, tidak akan ada yang menyamai satu timbangan (pahala) seorangpun dari mereka, juga tidak akan sampai setengahnya“. (HR.Bukhari)

Pokok Masalah

Sebenarnya pokok pangkal sebuah amal tergantung kepada lidah dan hati. Diriwayatkan bahawa Lukman al-Hakim, pernah disuruh majikannya membeli daging yang baik untuk menjamu para tamunya. Lukman membeli hati dan lidah. Majikannya merasa marah dengan tindakan Lukman dan bertanya kepadanya kenapa dia membeli hati dan lidah.

‘‘Tidakkah ini daging yang baik seperti tuan pesan. Hati merupakan sumber amal perbuatan yang baik, sedang lidah dapat menjalin persaudaraan. Dari keduanya orang dapat membangun kebaikan,” jawab Lukman.

Pada satu hari majikannya kembali menyuruh Lukman membeli daging yang busuk. Tujuan majikannya ialah untuk mengetahui jenis daging apa yang akan dibeli oleh Lukman.

Ternyata, Lukman sekali lagi membeli hati dan lidah. Tindakan ini mengejutkan majikannya dan bertanya kenapa dia berbuat demikian sedangkan yang disuruh dibeli ialah daging yang busuk.

‘‘Benar tuan, ini daging terbusuk. Hati adalah daging yang paling baik dan sekaligus juga paling busuk. Ia sumber kedengkian dan rasa bongkak. Lidah merupakan ‘alat’ untuk melaknat, mencerca dan mencaci orang lain.”

Lidah merupakan cermin hati seseorang. Bila hati bersih, lidah niscaya tidak akan berkata

kecuali yang baik. Sebaliknya bila hati ‘busuk’, maka lidah akan mudah mengucapkan kata-kata yang buruk.

Oleh karena itu dalam rangka memelihara persaudaraan Islam maka kita perlu menjaga lidah untuk tidak mencaci dan memaki sesama Islam. Perbedaan apapun yang terjadi, jangan sampai menodai persaudaraan Islam.

Allah menggambarkan orang yang menjaga dalamnya persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiah), menggunakan kata ikhwah, yang berarti “saudara kandung’’.  Ini berbeda dengan ikhwan, yang artinya “berteman’’, sebagaimana digunakan Allah dalam surat Ali ‘Imran ayat 103, untuk menggambarkan bagaimana suku-suku Arab pada zaman jahiliah yang bermusuh-musuhan, kemudian bersatu setelah memeluk Islam.

Jadi, setelah berada dalam satu agama, setiap Muslim adalah teman bagi yang lain. Dan setelah keislaman meningkat, setiap Muslim diharuskan memandang Muslim yang lain sebagai saudara kandungnya.

Ukhuwah Islamiah yang benar sebagaimana yang digambarkan Rasulullah dalam sabdanya bahwa seorang Muslim harus dapat mencintai Muslim lain sebagaimana ia mencintai diri sendiri; bahawa seorang Muslim harus dapat merasakan kesusahan yang dialami Muslim lain. (HR. Bukhari)

Di dalam al-Quran, Allah tegas memrintahkan agar seorang Muslim tidak memusuhi, mencaci, dan berburuk sangka kepada Muslim lain. Umat Islam harus memegang teguh persaudaraan Islam sebagimana firman-Nya dalam surah Ali Imran ayat 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.’

Dari ayat ini bisa kita ambil hikmahnya bahwa sikap yang paling bijak ialah berusaha memperbaiki diri, sekaligus menjadi orang yang pemaaf. Sebab itulah yang selalu dilakukan Rasulullah SAW sepanjang hidupnya. Sedangkan hidup Nabi adalah contoh bagi setiap mukmin.

Semoga kita diberi kekuatan untuk senantiasa memelihara ukhuwah Islamiah. Amin.

Amerika “Dalang” Revolusi Dunia Arab?

Pergolakan politik yang menjalar di dunia Arab yang menjatuhkan rezim Tunisia dan Mesir adalah proyek strategi rancangan Amerika Serikat berjudul Timur Tengah Baru. Demikian seorang anggota parlemen Bahrain.

Istilah Timur Tengah Baru sendiri dikenalkan pada 2006 oleh Menteri Luar Negeri AS saat itu Condoleezza Rice. Para analis mengatakan proyek itu mendefinisikan kebijakan Washington di wilayah yang luas, termasuk negara Arab dan Asia Tengah.

“Kerusuhan dan revolusi yang kita saksikan saat ini di negara Arab adalah akibat dari implementasi proyek AS bernama `Timur Tengah Baru` itu. Program tersebut dimulai dari Irak, kemudian Lebanon,” kata anggota parlemen Bahrain sekaligus wartawan Samira Rajab.

“Babak baru implementasi proyek itu baru akan terlihat setidaknya sepuluh tahun lagi, yang dimulai sejak 2011,” katanya seraya menambahkan bahwa strategi AS di wilayah Timur Tengah bertujuan untuk melemahkan rezim berkuasa dan mengenalkan kelompok oposisi ke pemerintahan mereka.

Gelombang aksi protes, yang telah berhasil menggulingkan rezim otoriter di Tunisia dan Mesir, menyapu dunia Muslim, yang memicu aksi perlawanan massa di Libya, Bahrain, dan Yaman. *