Kasus Ahmadiyah Lebih “Seksi” dari Lia Eden

Masalah Ahmadiyah di Indonesia tidak menutup kemungkina bisa “dijual” pihak-pihak tertentu ke kancah internasional. Menurut pengamat Hak Asasi Manusia (HAM) Heru Susetyo, meski sama-sama kasus penodaan agama, masalah Ahmadiyah Indonesia lebih “laku” dibanding kasus Lia Eden, Mossadeq atau kasus ‘Jyllands Posten’, media yang pernah menampilkan kartun Nabi Muhammad dan menghebohkan dunia tersebut.

“Karena kasus ini ‘seksi’, jika bicara masalah freedom of religion (kebebasan beragama), conscience (hati nurani), dan expression (ekspresi) di negeri Muslim terbesar. Sedangkan isu Lia Eden dan Denmark tidak seksi dalam perspektif non-governmental organization (NGO/LSM),” ujarnya staf pengajar Hukum Perlindungan Anak Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) ini beralasan, pada hidayatullah.com, Selasa (15/3).

Sebagaimana diketahui,  Jumat (11/3) lalu,  LSM Indonesia,  Human Right Working Group (HRWG) mengatakan akan membawa kasus Ahmadiyah ke PBB.  Menurut Koordinator HRGW Khoirul Anam di Jakarta,  perwakilan LSM tersebut sudah tiba di Jenewa, Swiss.

Tim dikepalai Direktur HRWG Rafendi Djamin beserta dua orang lain. Menurut  Khoirul Anam, tim juga akan melaporkan keluarnya serentetan kebijakan lokal dalam bentuk surat keputusan (SK) pelarangan Ahmadiyah. Sebelum ini, beberapa kepala daerah telah mengeluarkan SK pelarangan Ahmadiyah di daerah masing-masing. Di antaranya, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Kembali pada Islam

Sementara itu, rencananya siang ini sebanyak 19 jemaah Ahmadiyah  melakukan tobat massal di hadapan Muspika Cibungbulang dan Ciampea, Bogor. Ikrar kembali pada ajaran Islam secara massal ini dilaksankan di Masjid Al-Hasan, Kampung Ciaruteun, Desa Ciaruteun Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kepala Desa Ciaruteun Udik Roskusniawati mengatakan, pihaknya saat ini masih melakukan pendataan terhadap warga yang ingin masuk Islam kembali.

“Kami masih mendata dan jumlahnya pasti akan bertambah,” ujarnya, Selasa (15/3).
Keinginan mereka masuk Islam, kata dia, atas keinginan sendiri. “Mereka masuk Islam dengan cara mendatangi ketua RT setempat,” terangnya dikutip Okezone. Sementara itu Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Nurhayati saat dikonfirmasi menyambut baik rencana tersebut.*

“Radix Pizza House”, Alternatif Produk “Boikot”

Seruan para ulama sedunia untuk tidak mendukung produk Yahudi, rupanya  membuat kalangan pengusaha Muslim melakukan langkah kreatif.  Baru-baru ini, sebuah restoran bernama “Radix Pizza House” (RPH), diluncurkan di Jakarta.   Sebagai restoran Muslim, RPH menyajikan makanan halal dan menyehatkan (halalan thoyyiban).

RPH yang berlokasi di C’ONE Hotel Plaza, Jln. Letjend. Suprapto, Cempaka Putih Jakarta diresmikan  hari  Ahad, (13/3) kemarin,  merupakan buah karya kaum Muslimin yang bermujahadah ingin melahirkan produk-produk terbaik yang lahir dari tangan umat Islam sendiri.

Selain concern pada bahan halal, RPH juga menyajikan makanan dan minuman yang menyehatkan (thayyib).  Menu-menu yang disajikan dalam RPH menghindari penggunaan bahan-bahan tambahan yang terbuat dari kimia sintetik, seperti MSG (monosodium glutamat), gula putih, pelembut makanan, pengembangan makanan, dan berbagai jenis zat yang mampu merekayasa rasa menjadi agar terasa lebih nikmat.

Padahal, penggunaan bahan tambahan seperti itu jika dikonsumsi secara berlebihan dan terus menerus akan berdampak buruk. Salah satunya adalah jika dikonsumsi pada anak secara berlebihan akan mengakibatkan hiperaktif. Yang juga perlu diwaspadai, dalam beberapa penelitian diketahui bahwa unsur-unsur kimia tersebut seringkali terdapat unsur babi.

Maka itu guna mencegah terjadinya hal tersebut, RPH sama sekali tidak mencampurkan unsur-unsur kimia sintetik dalam makanan maupun minuman.

“Makanan dan minuman yang terdapat dalam menu RPH hanya mengandalkan bahan-bahan alami. Misalnya, untuk bisa mendapatkan ramuan Pizza yang baik, tim RPH telah melakukan uji coba selama beberapa bulan. Sementara untuk rasa manis dalam makanan maupun minuman, RPH menggunakan sari tebu murni atau gula batu,” papar pengelola Restoran Muslim RPH, Agustina.

Tidak hanya itu, yang juga menjadi keunggulan dari makanan dan minuman di RPH, mengandung ramuan herba-herba yang diambil langsung dari bumi Indonesia.

Dalam motto “Radix Pizza House: Sensasi Kelezatan Alami, Halalan Thoyyiban,” RPH mempersembahkan beberapa menu yang sangat beragam, sekali lagi, tentunya tetap Halal dan Menyehatkan.

Menu utama (Main Course), RPH memiliki beberapa menu, antara lain: Great Amazing Pizza, Radix Vaganza, Great Seafood Pizza, Spicty Tuna Sesame Seed, Double Smoked Beef, dan berbagai macam lainnya. Terdapat juga menu pelengkap (Appetizer), antara lain: Garlic Bread, Bread Steak, Cream Corn Soup, aneka Pasta, dan pilihan kenikmatan lainnya.

Untuk minuman, selain terdapat aneka macam juice, RPH juga mempersembahkan minuman menyehatkan, seperti Ice Tea Pegagan, Rossele Syrup, serta satu lagi minuman yang terbilang unik, Heaven Dew. Minuman yang terbuat dari cengkeh, sereh, jahe, dan gula tebu segar ini terasa dingin di lidah, tapi ketika melewati tenggorokan Anda, minuman ini akan terasa menghangatkan. Luar biasa bukan! Satu lagi yang tak ketinggalan yaitu Kopi Radix, dengan dua pilihan penyajian: Ice Coffe Radix atau Hot Coffe Radix.

RPH  yang tersinergi dalam wadah Herba Penawar Al-Wahida (HPA) merupakan sebuah syarikat milik umat Islam yang didirikan oleh Tn Haji Ismail bin Haji Ahmad, selaku Pengarah Urusan I. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1987 di Perlis, Malaysia.

Hingga kini, HPA telah ada diberbagai negara: Malaysia, Indonesia, Singapura, Kamboja, Vietnam, Thailand, Mekkah, serta negara lainnya. Pada awalnya HPA berkiprah dalam bisnis herba, namun hingga kini HPA telah menunjukan kiprahnya dalam bermacam jenis usaha, seperti: Hotel, Restoran, Travel, Kulineri, serta Obat-obatan herba.

RPH yang saat ini akan dilauncing merupakan bagian dari usaha yang dikembangkan oleh HPA dalam dunia kuliner. Selain itu juga ada Radix Fried Chicken, Radix Oriental Cuisine, Radix Chicken House, dan Radix Bakery House.

Dukung Palestina

RPH, yang telah mendapatkan label Halal dari LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Makanan Majelis Ulama Indonesia) kini membentuk central kitchen yang berfungsi untuk riset dan pengembangan (RND), distribusi, dan pusat quality control.
“Dengan konsep ini RPH bisa menjaga kualitas kehalalan dan rasa yang disajikan pada konsumen di setiap restoran RPH dimanapun berada,” papar Agustina.

Fungsi lain dari central kitchen ini adalah berhubungan langsung dengan para supplier. Menurut Agustina, banyak supplier yang menawarkan daging, yang merupakan salah satu bahan dalam Pizza, berasal dari luar Indonesia (impor). RPH sangat berhati-hati dengan tawaran seperti ini, sebab belum jelas bagaimana proses pemotongannya. Semua bahan yang masuk ke central kitchen RPH harus mempunyai status halal. “Salah satu yang kami tuntut dari supplier adalah label halal,” terang Agustina.

Tak hanya itu, yang lebih penting lagi, menurut Agustina, RPH berkomitmen akan menyisihkan keuntungan dari penjualan untuk rakyat Palestina.

“Mengenai hal ini kami akan bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang concern pada perjuangan Palestina,” kata Head Departement Culinary PT Radix Indonesia ini.*

Sertifikasi tidak Tingkatkan Kualitas Guru

Kompetensi guru yang dinyatakan lulus setelah mengikuti sertifikasi belum mengalami perbedaan signifikan. Hasil kajian Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) menyebut, sebanyak 40 persen guru yang lulus sertifikasi memiliki standar nilai dibawah lima. Artinya lebih banyak kualitas guru yang tetap meski mendapatkan tunjangan profesi pendidik (TPP) dengan syarat lulus setifikasi.

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Salamun, mengatakan, hasil kajian itu, membuat Kemdiknas mewajibkan program diklat akreditasi bagi seluruh guru yang telah lulus sertifikasi dan menerima TPP. Padahal kelulusan dalam proses sertifikasi dan pemberian tunjangan dampaknya tidak terlalu banyak bagi kualifikasi seorang guru.

“Hanya 29,6 persen kompetensi guru naik setelah adanya sertifikasi dan pemberian TPP,” ujar Salamun, Selasa (15/3).

Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Zainuddin Maliki, menilai Kemdiknas harus segera melakukan evaluasi ulang dan mengubah konsep sertifikasi guru. Ia menegaskan, sertifikasi guru digunakan untuk meningkatkan kualitas guru, bukan ditujukan sebagai syarat mendapatkan tunjangan profesi.

“Saat ini dicampuradukkan. Guru dalam proses sertifikasi tidak mengejar proses, tapi hasil demi dapat mendapatkan tambahan penghasilan,” ulas Zainuddin.

Ia melanjutkan, program sertifikasi guru belum berjalan ideal. Sebab, guru yang dinyatakan lulus belum menunjukkan perubahan signifikan dari sisi kualitas. Terlebih lagi, beberapa guru malah sibuk mengurus administrasi dalam proses sertifikasi. Kelulusan dalam proses sertifikasi dianggap sebagai batu loncatan untuk mendapatkan tambahan uang tunjangan.

“Persentase keberhasilan pelaksanaan sertifikasi guru untuk peningkatkan mutu hanya 50 persen. Sedangkan untuk kesejahteraan guru mencapai sekitar 60 persen,” ujar Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya itu.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Timur (Jatim), Ikhwan Sumadi membantah jika kinerja guru tidak meningkat, meski mendapat TPP. Ikhwan, mengaku guru penerima TPP kinerjanya sudah meningkat. Indikatornya adalah guru mulai tergerak membeli buku yang berkaitan dengan program sertifikasi.

“Guru juga berlatih membuat penelitian hasil pembelajaran di kelas,” ungkapnya.

Menurut Ikhwan, lebih separuh guru yang disurvei mengalami peningkatan kinerja. Tolok ukurnya, pendidik menjadi lebih bersemangat saat mengajar dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran kepada anak didik. Itu karena PGRI terus mendorong seluruh guru penerima sertfikasi tidak hanya menuntut haknya saja.

“Guru mulai sadar harus melaksanakan kewajibannya demi perbaikan kualitas pendidikan setelah haknya terpenuhi,” jelas Ikhwan.

Begini Mekanisme Gempa Hingga Menggeser Daratan Jepang

Pantai Jepang mungkin telah bergeser sebanyak 4 meter (13 kaki)  saat gempa bermagnitude 8,9 SR menngguncang bagian timur negeri itu. Data dari jaringan Geonet yang dilengkapi sekitar 1.200 stasiun pemantauan GPS juga menunjukkan data yang sama.

Roger Musson dari British Geological Survey (BGS) mengatakan kepada BBC News bahwa gempa bumi itu menggeser bumi dari porosnya sekitar 6,5 inci (16,5cm) dan menyebabkan planet berputar agak lebih cepat, memperpendek panjang hari sekitar 1,8 sepersejuta detik.

Badan Meteorologi Jepang memperbarui dara besarnya gempa menjadi 9,0 SR. Hal ini akan membuat gempa terbesar  kelima sejak catatan instrumental gempa dimulai.

Jepang terletak di “Cincin Api” yang terkenal, garis dimana sering terjadi gempa dan letusan gunung berapi yang mengelilingi hampir seluruh lingkar Pasifik Rim.

Batuan padat di dasar Samudra Pasifik  ditarik ke bawah (subduksi) di bawah Jepang ketika lempeng bumi bergerak ke arah barat menuju Eurasia.

Dr Brian Baptie, juga dari BGS, menjelaskan bahwa gempa terjadi pada zona subduksi sepanjang dua lempeng tektonik, lempeng Pasifik di sebelah timur dan lainnya di barat, yang banyak ahli geologi menganggap sebagai kelanjutan dari pelat Amerika Utara.

Saat lempeng Pasifik bergerak ke arah barat di bawah Jepang, menyeret ke bawah lempeng Amerika Utara ke barat karenanya. Tumbukan inilah yang membuat guncangan gempa sangat besar. Sebagian area di atasnya turut dalam pergeseran itu.

Gerakan ini juga memberikan efek menggusur di dasar laut  sehingga menyebabkan gelombang tsunami yang memporakporandakan wilayah pantai timur Sendai.

“Pelat Pasifik telah pindah maksimal 20 meter ke arah barat, tetapi jumlah gerakan akan berbeda-beda,” kata Dr Musson. Itu tidak berarti seluruh negeri telah bergeser karena perpindahan  itu, tambahnya.

Geonet dioperasikan oleh Geographical Survey Institute (GSI) Jepang. Bekerja sejak tahun 1993, dan kini telah berkembang menjadi jaringan GPS yang  terbesar di dunia, menurut GSI.

Dr Ken Hudnut, seorang ahli geofisika di US Geological Survey (USGS) di Pasadena, California, mengatakan kepada MSNBC bahwa sumber daya informasi yang menghubungkan pembacaan GPS ke peta, harus berubah sebagai akibat dari pergeseran tersebut. “Jaringan nasional mereka untuk definisi batas properti telah menyesatkan,” jelasnya. “Untuk kapal, rambu-rambu nautikal perlu di revisi karena kedalaman air berubah, juga banyak dari garis pantai turun beberapa meter.”