Belajar dari Indonesia, Jepang Bertekad Bangkit

Pemerintah Jepang akan kembali bangkit dari kondisi sulit setelah dilanda gempa, tsunami dan kebocoran nuklir dengan mencontoh apa yang telah dicapai oleh pemerintah Indonesia dalam menangani bencana serupa di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

“Kita akan bangkit kembali dengan mencontoh Indonesia yang sebelumnya juga dilanda gempa dan tsunami dan Jepang percaya akan mampu mengatasi kesulitan-kesulitan ini sama halnya dengan keberhasilan Indonesia,” kata Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri, disela acara “Pray for Japan” di sebuah Universitas di Jakarta, Kamis malam.

Dubes mengaku merasa sangat terharu atas dukungan yang diberikan rakyat dan pemerintah Indonesia. “Hari ini saya terima ungkapan prihatin yang akan membuat kami jadi semangat lagi,” ujar Dubes dengan raut wajah prihatin itu.

Mengenakan baju batik lengan panjang berwarna abu-abu gelap, dubes menyatakan ucapan terimakasih pada pihak rakyat Indonesia. Selain itu perhatian besar juga telah diberikan berbagai bangsa di dunia dalam bentuk bantuan kemanusiaan dan barang, namun dengan adanya keterbatasan penyimpanan dan sarana trasportasi hingga membuat hasilnya belum maksimal.

Dubes juga menyampaikan rasa terimakasih kepada pemerintah RI yang telah memberikan bantuan senilai hampir 2 juta dolar AS. “Kita juga menerima pesan dari pemerintah RI bahwa mereka akan mengirimkan tim penyelamatan ke Jepang,” ujarnya didampingi istri.

Pengusaha nasional yang hadir dalam acara itu Rahmat Gobel menyatakan keyakinannya Jepang bisa cepat bangkit dalam mengatasi berbagai dampak yang ditimbulkan pasca gempa, tsunami dan kebocoran nuklir mereka. Rahmat yang juga ketua asosiasi Indonesia Jepang menegaskan dengan ketekunan dan kerja keras yang dimiliki warga negara itu kejayaan mereka bisa akan kembali didapat.

“Saya beberapa tahun tinggal di Jepang untuk kuliah dan tahu betul kegigihan, kedisiplinan serta kemampuan mereka dalam berusaha serta menguasai teknologi,” ujar Presiden Direktur Panasonic Gobel itu.

Bagaimana Pengelolaan Wakaf di Era Dinasti-Dinasti Islam?

Tata cara pengelolaan wakaf dalam Islam telah diatur berdasarkan Alquran dan Sunah Rasulullah SAW. Harta wakaf, menurut ajaran Islam, hanya diambil manfaatnya, sementara barang asalnya harus tetap. Karena itu, harta wakaf tidak boleh dijual, dihibahkan, atau diwariskan. Pada prinsipnya, menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern, pembuat wakaf menentukan bentuk pengelolaan wakafnya sendiri. Pengelola wakaf biasa disebut dengan istilah mutawalli atau nadhir.

Dalam perkembangannya praktik wakaf menjadi lebih luas pada masa pemerintahan Islam sesudah era Khulafaur Rasyidin. Sri Nurhayati dalam tulisannya yang bertajuk Akuntansi Syariah di Indonesia memaparkan bahwa pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, semua orang berduyun-duyun untuk melaksanakan wakaf. Pada masa itu, wakaf tidak hanya untuk orang-orang fakir dan miskin saja, tetapi wakaf menjadi modal untuk membangun lembaga pendidikan, membangun perpustakaan dan membayar gaji para stafnya, gaji para guru dan beasiswa untuk para siswa dan mahasiswa.

Antusiasme masyarakat kepada pelaksanaan wakaf telah menarik perhatian negara untuk mengatur pengelolaan wakaf. Maka, dalam perkembangan berikutnya mulai dibentuk lembaga yang mengatur wakaf. Lembaga ini bertugas untuk mengelola, memelihara dan menggunakan harta wakaf, baik secara umum seperti masjid atau secara individu atau keluarga.

Taubah bin Ghar al-Hadhramiy yang menjabat sebagai hakim di Mesir pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik (724-743 M) dari Dinasti Umayyah, misalnya, telah merintis pengelolaan wakaf di bawah pengawasan seorang hakim. Ia juga menetapkan formulir pendaftaran khusus dan kantor untuk mencatat dan mengawasi wakaf di daerahnya.

Upaya ini mencapai puncaknya dengan didirikannya kantor wakaf untuk pendaftaran dan melakukan kontrol yang dikaitkan dengan kepala pengadilan, yang biasa disebut dengan “hakimnya para hakim”. Lembaga wakaf inilah yang pertama kali dilakukan dalam administrasi wakaf di Mesir, bahkan di seluruh negeri Islam pada masa itu. Pada saat itu juga, Hakim Taubah mendirikan lembaga wakaf di Basrah. Sejak itulah pengelolaan wakaf berada di bawah kewenangan lembaga kehakiman.

Keberadaan lembaga wakaf ini juga diteruskan pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Pemerintah Abbasiyah membentuk sebuah lembaga yang diberinama Shadr al-Wuquuf. Lembaga wakaf ini bertugas mengurusi masalah administrasi dan memilih staf pengelola lembaga wakaf.

Sementara di masa Dinasti Ayyubiyah di Mesir, perkembangan wakaf cukup menggembirakan, dimana hampir semua tanah-tanah pertanian menjadi harta wakaf yang dikelola oleh negara dan menjadi milik negara. Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memerintah di Mesir, ia mewakafkan tanah-tanah milik negara untuk diserahkan kepada institusi agama dan sosial yang ada pada masa itu. Langkah serupa juga pernah dilakukan oleh penguasa Islam di Mesir sebelumnya dari Dinasti Fathimiyah.

Perkembangan wakaf pada masa Dinasti Mamluk sangat pesat dan beraneka ragam. Pada masa pemerintahan Mamluk, apapun yang dapat diambil manfaatnya boleh diwakafkan. Akan tetapi paling banyak yang diwakafkan pada masa itu adalah tanah pertanian dan bangunan.

Pada masa Mamluk juga dikenal yang namanya wakaf hamba sahaya, yakni mewakafkan budak untuk memelihara masjid dan madrasah. Hal ini dilakukan pertama kali oleh pengusa Dinasti Ustmani ketika menaklukan Mesir, Sulaiman Basya, yang mewakafkan budaknya untuk merawat masjid.

Undang-undang wakaf

Di era Dinasti Mamluk inilah awal mula disahkannya undang-undang wakaf dalam sebuah pemerintahan Islam. Berbagai sumber sejarah menyebutkan, perundang-undangan wakaf pada Dinasti Mamluk dimulai sejak masa Sultan Dzahir Baybars al-Bandaqdari, dimana beliau memilih hakim dari masing-masing empat mazhab.

Sementara itu di masa pemerintahan Turki Utsmaniyah, kekuasaan politik yang diraih oleh dinasti ini telah mempermudah penerapan syari’at Islam, di antaranya adalah peraturan tentang perwakafan. Bahkan untuk menangangi persoalan wakaf ini, pada awal abad ke-19 M, pemerintahan Turki Utsmaniyah membentuk kabinet khusus untuk menangangi masalah wakaf.

Di antara undang-undang perwakafan yang paling penting yang pernah dikeluarkan oleh pemerintahan Turki Utsmaniyah adalah yang dikeluarkan pada tanggal 29 November 1863. Undang-undang ini mengatur pengelolaan dan pengawasan wakaf. Undang-undang ini dipraktikkan di berbagai negara (Turki, Suriah, Irak, Lebanon, Palestina, dan Arab Saudi) untuk beberapa tahun setelah perpecahan Kesultanan Turki Utsmaniyah pada tahun 1918.

10 Hal yang Mendatangkan Keberkahan dalam Perdagangan

SECARA materi para pedagang memperoleh kemakmurannya melalui dua hal yaitu perputaran modal (frequency) dan margin perdagangan yang wajar.  Namun diluar hal yang bersifat materi ini, ada yang jauh lebih penting yaitu keberkahan dari harta itu sendiri. Lantas bagaimana caranya agar kita bisa meraih keberkahan dalam perdagangan ini ?. Berikut saya ambilkan diantaranya 10 hal dari Kitab Fiqih Sunnah-nya Sayyid Sabiq.

Ketika ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, apa pekerjaan yang terbaik ? (maksudnya yang paling halal dan paling berkah)”, Rasulullah menjawab, “Pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri dan transkasi jual beli yang mabrur”. (HR. Ahmad dan Bazzar). Mabrur artinya halal dan berkah, baik, bersih, suci, bebas dari dosa.

Secara konkrit yang bisa kita ikuti dan praktekan untuk jual beli yang mabrur atau halal dan berkah ini adalah jual beli yang dilakukan dengan cara-cara atau mengandung hal-hal yang antara lain sebagai berikut :

  1. Sigap, mensegerakan berpagi-pagi mencari rizki. Dasarnya adalah do’a Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam “ Ya Allah, berkahilah bagi umatku yang bersegera mencari rizki di pagi buta”.
  2. Jual beli yang dilakukan dengan saling ridlo dan tidak ada paksaan, penjual tidak boleh mengkondisikan agar seseorang terpaksa membeli – pembeli juga tidak boleh mengkondisikan agar seseorang terpaksa menjual. Dasarnya adalah Ayat “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu…” (QS 4 : 29).
  3. Menyempurnakan takaran/timbangan dan tidak menguranginya. Dasarnya ada di beberapa ayat antara lain  QS 6 : 152 ; QS 17 : 35 dan QS 83 : 1 – 6.
  4. 4.Jual beli yang saling memudahkan. Dasarnya adalah hadits Bukhari dan Tirmidzi yang meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Allah merakhmati seseorang yang memberikan kemudahan apabila dia menjual, membeli dan menagih haknya”.
  5. Tidak bersumpah untuk sekedar melariskan perdagangan. Dasarnya adalah hadits “Sumpah itu bisa melariskan dagangan, akan tetapi dapat menghapus keberkahannya”. (HR Bukhari dan lainnya dari Abu Hurairah).
  6. Tidak mempermainkan harga. Dasarnya adalah hadits Ashabus Sunan dengan sanad perawi yang sahih telah meriwayatkan dari Ansa R.A, ia berkata “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga-harga untuk kami”. Rasulullah menjawab, “ Allah Penentu harga, Penahan, Pembentang dan Pemberi rizki, aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedzaliman dalam urusan darah dan harta””.
  7. Tidak menimbun barang yang dibutuhkan masyarakat. Dasarnya hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim, Ibnu Syaibah dan Al –Bazzaz, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda, : “Barang siapa yang menimbun barang pangan selama 40 hari, ia sungguh telah lepas dari Allah dan Allah telah berlepas darinya”.
  8. Tidak menyembunyikan kelemahan atau cacat barang  yang dijualnya. Cacat barang, kelemahan atau kekurangan harus ditunjukkan/dijelaskan ke pembeli. Dasarnya hadits “Seseorang muslim itu saudara, maka tidak dihalalkan menjual kepada saudara sesama Muslim barang yang cacat, kecuali ia telah menjelaskan cacat tersebut”. (HR Ahmad, Ibnu Majjah, Daruquthni, Hakim dan Thabrani).
  9. Tidak menipu atau konspirasi mempermainkan pembeli, kartel harga dan sejenisnya. Dasarnya antara lain Hadits “Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami”.
  10. Tidak mengandung Maisir (perjudian), Gharar (Spekulatif) dan Riba. Dasarnya ada di sejumlah ayat Al-Qur’an antara lain QS 2:279 ; QS 4 : 161 ; QS 30 : 39 dan sejumlah hadits yang terkait dengan masalah-masalah ini.

Sama dengan ikhtiar yang sifatnya materi.  Ikhtiar untuk memperoleh keberkahan ini juga bukan hal yang tidak mungkin untuk kita laksanakan dalam perdagangan sehari-hari. Yang diperlukan adalah keistiqomahan kita dalam mengamalkannya.

Mudah-mudahan rizki kita semua melimpah dan juga mendapat berkah…. Amin.

Amerika Potensial Terkena Radiasi Nuklir Jepang

Meledaknya instalasi nuklir Jepang tidak lama setelah gempa besar menguncang negeri sakura itu telah menimbulkan ketakutan akan terjadinya kebocoran radiasi, yang sangat mungkin akan berdampak luas, tergantung dari keadaan cuaca. Apakah akan terjadi radiasi besar sehingga menimbulkan bencana lain, hal ini menjadi bagian dari masalah meteorologi.

Jepang terletak pada pertengahan lintang bumi belahan utara, seperti halnya Amerika Serikat. Dengan demikian cuacanya didominasi oleh angin barat, namun dengan variasi signifikan di dekat permukaan bumi.

Kemana perginya ‘awan radiasi’ dari Fukushima Daiichi atau Onagawa, sangat tergantung pada pola cuaca saat radiasi di instalasi nuklir tersebut bocor.

Selain itu, kondisi tersebut tergantung pada seberapa tinggi awan bisa mencapai atmosfer. Oleh karena, angin biasanya sangat bervariasi di daerah antara dekat permukaan bumi dan atmosfer, tempat aliran yang mengarah ke timur.

Secara umum, awan radioaktif bisa naik tinggi ke atmosfer, lalu terbang ke arah timur dan timur laut menyeberangi Samudera Pasifik hingga mencapai wilayah Amerika Utara, atau sekitar Alaska  sampai California. Penyebaran awan yang mengandung radioaktif itu juga tergantung pada kondisi atmosfer saat kebocoran radiasi terjadi.

Meskipun awan semacam itu kelihatan tidak berbahaya saat berada di atas atmosfer, namun jatuhnya partikel radioaktif dari awan-awan tersebut harus menjadi perhatian pihak berwenang.

Jika terjadi kebocoran radiasi di dekat permukaan tanah, maka kebocoran itu bisa dipengaruhi oleh angin yang bertiup rendah, yang mudah berubah.

Umumnya selama musim dingin, angin di dekat permukaan bumi di kawasan timur laut Honshu bertiup ke arah lepas pantai atau dari arah barat ke timur. Dalam kondisi seperti itu, radiasi yang terjadi di lapisan atmosfer rendah akan terdorong ke laut. Namun demikian, adakalanya angin bertiup ke arah pantai, dan jika ini terjadi maka tidak diragukan lagi hal itu akan menjadi masalah besar yang harus dihadapi pihak berwenang Jepang.*

Dalam artikelnya di AccuWeather (16/3), meteorolog senior Jim Andrews membuat tabel perkiraan waktu tempuh penyebaran radiasi dari instalasi nuklir Jepang ke kota-kota di pesisir barat Amerika Serikat dengan kecepatan angin 20 mil per jam.

Radiasi nuklir diperkirakan mencapai kota Anchorage, yang berjarak 3.457 mil dari Jepang, dalam waktu 7 hari. Mencapai kota Honolulu (3.847 mil) dalam waktu 8 hari. Tiba di Seattle (4.792 mil) dalam waktu 10 hari, dan di Los Angeles (5.477 mil) dalam waktu 11 hari.*

Mengapa Bom Lagi – Teroris Lagi – Umat Islam Lagi?

Oleh Harits Abu Ulya (Pemerhati Kontra-Terorisme & Ketua Lajnah Siyasiyah–DPP HTI)

Tiga buah bom meledak dalam waktu berdekatan Rabu (15/3) kemarin. Satu di kantor Radio 68H, satu untuk BNN dan satu lagi untuk tokoh ormas kepemudaan. Karena target peledakan ini beragam, maka spekulasi apa sebenarnya yang menjadi target dari aksi paket bom tersebut menjadi tidak mudah untuk menjawabnya.

Sebelum masuk pada beberapa analisa, perlu melihat konteks saat ini dimana paket bom itu nongol. Penguasa tengah kelimpungan menghadapi hak angket pajak oleh DPR, yang ini juga mengancam perpecahan koalisi yang sudah dibangun. Meski konon tidak bakal terjadi reshuffle kabinet, tapi kondisi setgab justru tengah memanas karena ada upaya mendongkel pengurus setgab.

Pemerintahan SBY juga sudah dibuat panik dengan bocoran kawat diplomatik dari kedubes AS yang ditebar Wikileaks. Tudingan terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, korupsi dan memperkaya diri yang dilansir 2 harian Australia dari Wikileaks sempat membuat sejumlah pejabat sibuk melakukan bantahan dimana-mana. Karena sebagian pihak melihat apa yang dibocorkan Wikileaks adalah hanya seperti puncak gunung es-nya, artinya ada yang lebih besar dan dasyat dari itu semua

Untuk kalangan oposisi sendiri cenderung untuk percaya kepada pemberitaan tersebut. Direktur Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum (FH) UGM Zainal Arifin Muchtar, meminta pemerintah SBY menyodorkan bukti bila tudingan Wikileaks itu tidak benar. (detiknews.com, 14/3)

Kredibilitas pemerintah di mata rakyat dan pengamat juga terus merosot. Selain kasus hukum kelas kakap yang tidak selesai —mafia pajak, mafia hukum, Bank Century—, ditambah lagi rencana kenaikan BBM non-subsidi. Membuat rakyat semakin sengsara dan tidak percaya lagi atas keberpihakan penguasa kepada mereka.

Terkait isu terorisme dan persidangan Ustad ABB terakhir, ada kejadian menarik dengan munculnya pengakuan ‘taubat’ ustad Khairul Ghazali dari balik jeruji besi di Polda Sumut. Sebuah pertaubatan yang menampar pihak aparat (khususnya Densus88), dan menyebabkan Densus88 ‘mengamuk’ untuk memberikan stick kepada K. Ghazali cs di tahanan Polda Sumut. Tuduhan-tuduhan terhadap ustadz ABB makin terlihat sumir, karena dari pengakuan K. Ghazali mengungkap betapa jahatnya rekayasa untuk mengkuyo-kuyo ustad ABB. (lihat di arrahmah.com, yang rencana mau dibuat K Ghazali akhir Februari dan tertunda, akhirnya baru awal Maret dirilis). Tentu ini menjadi ancaman dari sebuah proyek prestisius dari WOT (War on Terrorism) dengan target-target derivatnya.

Dari titik ini, kita mencoba membuka sebuah prespektif. Tidak berlebihan jika sebagian kalangan berpikir, jangan-jangan kasus bom ini adalah pengalih isu, atau setidaknya bisa dimanfaatkan sebagai pengalih isu. Atau memang ada ‘hidden target’ itu masih terkait isu terorisme? Disini kita coba mengurai beberapa spekulasi dan menguji kelogisannya, tentang siapa pelaku dan apa motifnya dengan catatan sekalipun sering kali satu operasi itu tidak selaras dengan logika linear konspiratif.

Pertama, sasaran bom itu dengan target personal dan beragam orangnya. Bukan saja untuk Ulil, tapi juga untuk pimpinan BNN Gories Mere, dan Japto selaku aktifis kepemudaan. Kalau anggapan pelakunya adalah kelompok ‘teroris’ dan mengalami pergeseran strategi dan target sasaran. Namun tetap perlu di kritisi, mungkin orang bisa berdalih bahwa Gories Mere berada di belakang operasi ‘War on Terrorism’ sehingga menjadi target sasaran sasaran pemboman, tapi bukankah bom itu dikirim ke BNN yang menangani narkoba? Mengapa bukan ke rumahnya atau ke markas Densus88? Begitu juga untuk Ulil yang dianggap menjadi penggiat liberalisme, paket bomnya dikirim ke kantor radio FM68H, dan pola seperti ini sangat berpeluang besar akan meleset dari target sasaran, bahkan menjadi random. Lalu bagaimana dengan Yapto? Apa relevansinya ia dengan benturan pemikiran Islam ‘garis keras’?

Muncul keganjilan, berita bom yang ditujukan untuk tokoh JIL, Ulil Abshar Abdalla, kemudian justru lebih banyak mengisi porsi pemberitaan media massa ketimbang dua bom lainnya. Entah karena unsur jurnalisme-nya, ‘name makes news’, atau karena bernafsu untuk men-drive opini publik tentang target bom tersebut. Stasiun televisi TVOne, misalnya langsung mengundang ‘godfather’ WOT, Hendropriyono untuk mengomentari kasus bom buku. Kesimpulannya; kelompok militan Islam di balik semua ini.

BNPT, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, lewat lisan Ansyad Mbai juga setali tiga uang. Demikian pula kolega Ulil seperti Usman Hamid. Yang lucu, Partai Demokrat Jafar Hafshah juga ikutan berkomentar kalau aksi ini didalangi oleh terorisme, bukan karena status Ulil sebagai kader Partai Demokrat.

Menariknya lagi, di tengah maraknya tudingan terhadap kelompok Islam ‘garis keras’ sebagai pelaku oleh sejumlah pihak —di antaranya oleh BNPT, Hendropriyono, dan pengurus Parpol Demokrat— Kapolda Metro Jaya justru tidak sependapat. Inspektur Jendral Sutarman, selaku Kapolda, justru keberatan bila ledakan ini dikaitkan dengan terorisme. Menurutnya terlalu sumir untuk menyimpulkan motif dan pelakunya. (vivanews.com, 15/3)

Demikian pula psikolog forensik Reza Indragiri Amriel tidak sependapat dengan tudingan terorisme. Ia melihatnya sebagai aksi vandalisme karena beberapa alasan. (detiknews.com, 17/3)

Di antara alasannya ialah, bomnya low explosive, rakitannya sederhana dan bukan bunuh diri seperti yang lalu-lalu. Dan disini ada yang aneh bin ajaib, orang seperti Hendropriyono dan penggiat kontra-terrorisme lainya lebih latah untuk berpropaganda dibandingkan membuka argumentasi yang dilandasi bukti. Yang terjadi sebaliknya, sebuah vonis yang tendensius sekali. Dan lebih tepat di labeli cara berpikir yang sudah ‘katarak’ dan ‘paranoid’.

Kedua, bila 3 bom dianggap manifestasi benturan Islam ‘garis keras’ dan kaum liberal, ini adalah ‘lebay’. Kenyataannya Ulil sudah lama tidak terdengar kelimat nyinyirnya menyuarakan pemikiran liberal, yang terlihat sekrang dia lebih suka memilih menunggangi partai berkuasa dan mempengaruhi politik kebijakan untuk memuluskan agenda-agenda kebencianya terhadap opini syariat. Maka jika benar ditujukan untuk Ulil karena ke-liberalan-nya, mengapa tidak sedari dulu ia diteror? Seperti pengakuannya kepada sejumlah wartawan, ia tidak pernah mendapatkan ancaman fisik ketika masih menjadi koordinator JIL. Padahal dulu Forum Ulama Umat Islam (FUUI) pernah menyatakan darahnya sudah halal. Justru saat ia berada di sebuah parpol yang kebetulan jadi parpol penguasa, ini terjadi. Jadi ekspos posisi Ulil secara tidak proporsional, tidak lebih adalah rekayasa untuk membangun eksistensi kelompok liberal dan seluruh jaringanya dengan drama seolah-olah ‘terdzalimi’. Jika itu massif tentu bisa memberikan efek domino kepada isu-isu lainya terkait radikalisme dan terorisme.

Ketiga, pola standart operasi terorisme internasional, biasanya cara mereka mengeksekusi target yang bersifat personal, bukan massa atau lembaga maupun gedung, adalah langsung menyerangnya secara individual, misalnya dengan menembak langsung, baik dari jarak dekat atau dengan sniper, menikam, atau bom bunuh diri atau dengan bom berpengendali jarak jauh, atau meracuninya seperti yang dialami Munir atau mantan intelijen Rusia yang masuk Islam Levitnenko. Mengirimkan paket bom ke kantor dengan sasaran personal, tidaklah lazim karena kemungkinan melesetnya amat besar. Kasus 3 bom yang dikirim ke rumah atau ke kantor seperti yang terjadi beberapa hari lalu, jauh dari sasaran personal. Bom-bom itu lebih bersifat mengacaukan keamanan belaka, karena toh ternyata low explosive. Dan yang menarik, paket pos dan semacamnya sudah biasa masuk ke ‘Utan Kayu’ namun kenapa untuk kali ini paket bisa diduga Bom dan ada kecurigaan berisi bom?

Keempat, ada tanda-tanda ngototnya pihak tertentu untuk membawa kasus paket bom ini kepada espektasi lebih jauh tentang terorisme dan ancamannya terhadap NKRI dan semacamnya, maka makin menimbulkan ‘curiga’. Cara pandang yang ‘katarak’ ini menjelaskan adanya jejak konspirasi dan motifnya. Dugaanya kalaulah benar yang melakukan kelompok ‘teroris’ maka itu ‘teroris binaan’ dari pihak-pihak tertentu yang selama ini tau peta dan punya akses kendali dikalangan mereka. Karena faktanya banyak para ‘combatan’ yang sudah dilebur dalam cawan proyek kontra-terorisme, dengan kompensasi ‘fasilitas’ dan ‘reward’ lainya. Strategi operasional lapangan bagaimana eksekusinya, yaitu dengan menggunakan variable yang mendukung: adanya judul buku yang menarik, sasaran yang relevan (khususnya Ulil dan Gories), dan ada kasus persidangan ustad ABB dimana saat itu sudah ada warming tentang ancaman untuk orang-orang tertentu (termasuk untuk Gories). Dan teknik deception (pengelabuhan) juga disiapkan, dengan membuat paket bom 3 buah yang satu untuk seorang Yapto.

Tidak aneh kalau paket bom ini divonis sebagai produk intelijen dan tidak menutup peluang, seperti kata pepatah, serangan bom ini adalah sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Mengalihkan perhatian publik dan politisi, mengundang simpati kepada kelompok liberal yang pro Ahmadiyah, juga menyudutkan kelompok Islam pro-syariah. Atau terkait dengan kontinuitas proyek WOT beserta target dibaliknya. Karena saat ini juga proses sidang ustad ABB terkait isu terorisme terancam terbuka kedok konspirasinya pasca pengakuan taubat Khairul Ghazali di balik jeruji besi Polda Sumut. Maka siapa yang bisa menampik kalau kasus paket bom itu spekulasinya adalah untuk meneguhkan tentang bahayanya terorisme dan cerita eksistensinya masih perlu di tangani. Baik dengan di eksekusi para tokoh inspiratornya atau para pengikutnya.

Ala kulli hal, saat ini kasus paket bom cukup menjadi obat penenang dari kegelisahan status quo. Karena banyak masalah yang cukup memusingkan, dan dengan adanya paket bom bak obat gelisah karena isu yang memusingnkan dari reshuffle sampai Wikileaks tidak lagi bertiup kearahnya, ada pergeseran arah ‘angin’ bertiup. Tapi bukan tidak mungkin, nanti kondisi akan berbalik. Belajar dari kasus Ahmadiyah di Pandeglang, Banten, publik dan pengamat juga Komnas HAM justru percaya dan bisa membuktikan ada unsur rekayasa di sana. Boleh saja musuh-musuh Islam membuat aneka makar, toh Allah tetap pembuat makar yang terbaik.

“maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari,” (QS. An-Nahl [16] : 45).

Wallahu a’lam bisshowab.