Pelaku Bom Buku Pemain Lama?

Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Irjen Pol (Purn) Ansyaad Mbai, yakin bahwa pelaku bom buku yang marak terjadi pada pekan ini adalah pemain lama. Ansyaad menjelaskan polisi kita sedang dalam upaya penyelidikan untuk menangkap kelompok tersebut.

“Kita percayakan kepada polisi yang sudah hapal karakter kelompok mana pelaku ini. Perlu bukti tajam sekali untuk menangkap mereka,” ungkap Ansyaad usai diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (19/3). Meski tidak mau secara spesifik menyebutkan siapa kelompok tersebut, Ansyaad meyakini mereka bukan pemain baru.”Pemain lama,” singkatnya.

Kalau pun ada pelaku baru, Ansyaad yakin bahwa pelaku merupakan hasil rekrutmen dari pemain lama. Hal tersebut, ujar Ansyaad, menunjukkan bahwa kaderisasi kelompok teroris masih terus berjalan.

Indikasi bahwa pelaku merupakan pemain lama, ungkap Ansyaad, terlihat dari siapa target bom buku tersebut yang secara ideologis berseberangan dengan kelompok itu. Menurutnya, Ulil Absar Abdala, Komjen Pol Gorys Mere, Ahmad Dhani, dan Yapto S Soeryosumarno adalah simbol perlawanan mereka.

Taehbaruah Kembali Dilanda Kebakaran

Kebakaran hebat kembali terjadi di Nagari Taehbaruah,  Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota. Jika bulan lalu, pasar tradisional Taehbaruah  ayang hangus menjadi abu. Maka Kamis (17/1) malam, giliran rumah penduduk setempat ludes dilahap si jago merah.

Informasi yang diperoleh Padang Ekspres di Taehbaruah menyebutkan, rumah yang terbakar itu dihuni dua kepala keluarga. Masing-masing keluarga Amris, 61, dan keluarga Marta Elia Umar, 40.

Saat api membakar rumah mereka, kedua keluarga dilaporkan berada di tempat. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak untuk memadamkan api. Mereka juga tidak bisa menyelamatkan barang-barang berharga dari dalam rumah.

Awak pemadam kebakaran Payakumbuh dan Limapuluh Kota, yang datang ke Taehbaruah beberapa saat setelah kejadian, sudah berupaya memadamkan api dengan dibantu masyarakat. Tapi api begitu cepat membesar, sehingga sulit untuk dijinakkan.

“Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi api sangat besar. Kami hanya bisa mencegah, agar api tidak merembet ke rumah warga lainnya,” kata Kepala Bidang Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota Edi kepada Padang Ekspres, Jum’at (18/1) siang.

Edi memperkirakan, kebakaran yang terjadi di Taehbaruah, membuat pemiliknya menderita kerugian mencapai Rp150juta. “Kebakaran ini cukup besar. Membuat masyarakat Taehbarua berhamburan keluar rumah,” kata Edi yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Barisan Pemadam Kebakaran Limapuluh Kota.

Secara terpisah, Kapolres Limapuluh Kota AKBP Chairul Aziz didampingi Kapolsek Payakumbuh AKP Ibrahim mengatakan, pihaknya masih menyelidiki penyebab kebakaran di Taehbaruah. “Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Belum bisa dipastikan dari mana sumber api,” kata mereka berbarengan.

Jurus Mabuk Pelaku Teror Bom

-Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf menilai pelaku teror bom yang sedang beraksi belakangan ini memainkan “jurus mabuk”, yakni menyerang sasaran yang beragam untuk membingungkan masyarakat dan aparat kemananan.

“Tapi sebagai aksi terorisme tujuannya jelas, yakni membuat masyarakat merasa tidak aman, menciptakan instabilitas politik, dan menanamkan ketidakpercayaan pada pemerintah,” kata Slamet di Jakarta.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk mengusut dan mengungkap pelaku aparat kemanan semestinya tidak menempuh cara biasa, apalagi secara terburu-buru mengarahkan kecurigaan kepada satu kelompok tertentu. “Aparat keamanan harus memainkan jurus yang sama, jurus mabuk,” kata Slamet yang juga salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut.

Artinya, kata mantan politisi Partai Golkar itu, aparat keamanan harus membuka kemungkinan pelaku berasal dari kelompok lain di luar pihak yang saat ini diduga kuat sebagai pelaku. “Pemetaan dalam pencarian pelaku harus dimulai dari pemetaan yang komprehensif, serta membuka lebar adanya alternatif,” katanya.

Dikatakannya, upaya pengungkapan pelaku harus dimulai dari pertanyaan apakah yang ingin membuat masyarakat resah, ingin ada instabilitas dan ingin menghancurkan kredibilitas pemerintah hanya satu pihak saja.

Lalu, lanjut Slamet, apakah mereka yang menginginkan kondisi seperti itu hanya kelompok dengan satu motif? Apakah yang menginginkan hal seperti itu hanya elemen domestik. “Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus menjadi pegangan aparat keamanan,” katanya.

Menurut Slamet, sekalipun terorisme selalu dikaitkan dengan ideologi, tapi aparat keamanan tidak bisa apriori dengan meniadakan latar belakang dan motif lain.

Sementara itu kantor The Wahid Institute di Jalan Taman Amir Hamzah dikabarkan didatangi orang tidak dikenal yang bergelagat mencurigakan. Namun orang tersebut tidak membawa ataupun meninggalkan barang.

“Memang ada orang tidak dikenal yang datang ke kantor. Ketika ditanya identitas tidak mau menunjukkan. Tapi orang itu tidak membawa apa-apa kok,” kata Direktur Eksekutif The Wahid Institute, Yeni Wahid.

Sembilan Alasan Tolak Pembatasan Subsidi BBM

Sekitar 500 massa Hizbut Tahrir Indonesia mengajukan sembilan alasan penolakan rencana pembatasan subsidi bahan bakar minyak (BBM), Kamis (18/3) siang di depan Istana Presiden, Jakarta.

Kesembilan alasan itu ialah:

Pertama, menipu. “Istilah subsidi BBM adalah istilah menipu, sebab faktanya tak ada subsidi BBM!” tegas Ketua DPP HTI Dr Arim Nasim. Menurutnya Pemerintah mengambil minyak bumi milik rakyat secara gratis dengan biaya hanya US$ 10/barrel. Tapi karena hanya bisa menjualnya seharga US$ 77/barrel pemerintah merasa rugi jika harga minyak Internasional lebih dari harga itu.

Kedua, penjajahan. Penghapusan subsidi BBM adalah bagian dari agenda Konsensus Washington untuk meliberalkan perekonomian Indonesia. Kenaikan BBM adalah proses sistematis untuk meminggirkan rakyat menuju Neokolonialisme (penjajahan baru) melalui liberalisasi BBM. BBM akan dikuasai perusahaan asing mulai dari hulu (eksplorasi minyak) sampai hilir (pom bensin/SPBU). “Kenaikan harga BBM hanya menguntungkan mafia BBM asing dan anteknya!” tegasnya.

Ketiga, menyengsarakan rakyat. Kenaikan/penghapusan subsidi BBM dapat dipastikan akan memicu kenaikkan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup rakyat.
Keempat,tidak adil. Subsidi untuk Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dan bunganya sebesar Rp230.33 triliun hanya dinikmati sekitar 14.000 orang, sedangkan ‘subsidi’ BBM sebesar Rp201.36 triliun dinikmati oleh 230 juta orang.

Kelima, bohong. Tuduhan pemerintah kalau BBM murah akan menjadikan masyarakat boros menggunakan BBM adalah bohong. “Sebab, konsumsi BBM Indonesia cukup rendah, berada di urutan ke-116 di bawah negara Afrika seperti Botswana dan Namibia,” ungkapnya.

Keenam, dusta. Pemerintah mengatakan bahwa harga BBM di Indonesia murah karenanya harus dinaikkan. Di Amerika, Cina, dan Jepang memang harga BBM lebih tinggi dari pada di Indonesia. “Tapi ingat, pendapatan mereka pun jauh lebih tinggi dari pada Indonesia!” tegasnya.

Padahal, BBM di Indonesia (premium, Rp 5000/liter) lebih mahal dari pada Venezuela Rp 460/l, Turkmenistan Rp736/l, Iran Rp 828/l, Nigeria Rp 920/l, Saudi Arabia Rp1104/l, Kuwait Rp1932/l, dan Mesir Rp2.300/l.

Ketujuh, energi Indonesia untuk asing, bukan untuk rakyat. Indonesia ekspor 70% Batubara ke luar negeri. Indonesia pengekspor LNG terbesar di dunia. Indonesia ekspor 500.000 barrel per hari minyak.

“Tapi, di dalam negeri listrik sering padam, rakyat antri gas, minyak tanah, dan bensin pun harganya terus meningkat!” sesalnya. Sebab, Pertamina hanya memproduksi 13,8% sementara sisa minyak Indonesia dikelola asing! Chevron (41%), Total E&P Indonesie (10%), Chonoco Philips (3,6%) dan CNOOC (4,6%).

Kedelapan, Tidak salah sasaran. “Subsidi hanya dinikmati orang kaya? Tidak! “ tegasnya. Lantaran menurut data kepolisian orang kaya di Indonesia yang memiliki mobil mewah kurang dari 5%.

Kesembilan, Pengalihan subsidi? Katanya, subsidi harus dialihkan dalam bentuk subsidi langsung seperti pendidikan, kesehatan dan pencarian sumber energi alternatif.

Faktanya, pendidikan dan kesehatan tetap mahal, orang miskin dilarang sakit! Pencarian sumber energi alternatif hanya omongan. “Yang sudah pasti harga BBM naik lagi! Beban rakyat bertambah lagi!” pungkasnya.

Sebelumnya massa melakukan longmarch dari Masjdi Istiqlal menuju Istana Presiden usai shalat Jum’at. Sepanjang jalan mereka meneriakan yel-yel penolakan pembatasan subsidi BBM.