Astagfirullah.. Tentara Suriah Tembaki Demonstran Hingga Dalam Masjid

Aksi demonstrasi di kota Dara’a, Suriah, Kamis (24/3) berbuah petaka. Sedikitnya 15 orang tewas, termasuk dokter, ketika pasukan keamanan Suriah melancarkan serangan menjelang fajar di Masjid Umari.

Para saksi mengatakan bahwa puluhan orang tewas dan terluka. Ratusan lainnya ditangkap. “Pasukan keamanan Suriah menyerbu kota Dara’a dan mulai menembakkan senjata kecil dan senapan mesin ketika aku tiba di Masjid Umari. Mereka menggunakan penutup mata ketika melakukan serangan di gelapnya malam,” tutur saksi tersebut seperti dikutip situs Al-Sharq Al-Awsat.

Saksi lain menuturkan, pasukan keamanan juga mengevakuasi jenazah warga maupun korban yang terluka dari halaman Masjid Umari. Pihak berwenang menuduh ‘gerombolan bersenjata’ yang terlibat dalam serangan tersebut.

Washington mengutuk kekerasan terhadap demonstran di Suriah, sebagaimana dikatakan Kementerian Luar Negeri AS. Sekretaris-Jenderal PBB, Ban Ki-moon, juga menyerukan penyelidikan mendalam untuk menahan mereka yang bertanggung jawab secara hukum. Presiden Suriah juga disarankan untuk melakukan reformasi politik.

Kelompok Poso akan Jadi Kambing Hitam Bom Buku?

Ketua Tim Pembela Muslim atau TPM, Mahendradatta mensinyalir adanya skenario untuk menjadikan orang-orang yang pernah terlibat dalam konflik Poso sebagai tersangka kasus maraknya bom buku.

Tak lama lagi, menurut Mahendradatta, akan ada penangkapan terkait kasus maraknya bom buku. “Saya yakin itu. Entah yang ditangkap pelaku yang sebenarnya, atau hanya rekayasa,” ujar Mahendradatta dalam konpres di kantor TPM di Jakarta kemarin.

Menurutnya, kelompok Poso merupakan kelompok yang tersisa yang bisa menjadi incaran polisi. “Ya mungkin tinggal itu stoknya polisi,” tegas Mahendradatta.

Padahal, masih menurut Mahendradatta, konflik yang pernah terjadi di Poso sama sekali tidak menggunakan perangkat bom. Konflik itu semata-mata perang karena dendam. Dan hanya menggunakan senjata api rakitan dan senjata tajam.

Walau demikian, Mahendradatta mempersilakan jika memang polisi akan melakukan penangkapan. Tapi, ia mewanti-wanti agar tidak terjadi pemaksaan dan pembohongan. ”Jangan dipaksa, dirayu, apalagi dibohongi. Ini untuk melindungi agar tidak ada skenario,” tambah Mahendradatta yang saat itu didampingi ketua FUI dan ketua Pemuda Pancasila.

Selain penjelasan itu, konpres di TPM dimaksudkan untuk mengklarifikasi adanya kemungkinan skenario pihak-pihak tertentu untuk mengadu domba antara aktivis Islam dengan pemuda pancasila.

Air Telah Mengalir Ke Dusun Sumber Puncak Utara Merapi

Pasca erupsi Merapi mengakibatkan sumber air di dusun Sumber kec. Selo Boyolali tidak mengalir. Hal ini dikarenakan jalur air dari dusun Sumber ke mata air yang jaraknya 5 km rusak diterjang lahar dingin.

Relawan Masjid Indonesia bekerjasama dengan Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu dan Penerbit Pro-U Media memperbaiki saluran air tersebut. Dengan membantu pengadaan pipa dan kawat seling kepada warga dusun Sumber, Alhamdulillah air saat ini telah mengalir dengan lancar. Sebagai rasa syukur, diadakan pengajian di Masjid Hikmatul Amin dusun Sumber yang saat ini juga sedang dibantu RMI, Lazis PLN Disjaya, dan DMI Ciracas utk renovasi Masjid karena rusak akibat erupsi Merapi.

Peliharalah Iman, Bersahabatlah dengan Orang Shalih

Dalam kitab Al-Arba’in fi Ushul al-Din, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa berkawan dengan orang baik karena Allah adalah salah satu pilar memperkuat agama (Kitab Al-Arba’in fi Ushul al-Din, hal. 63).

Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba jika mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 41).

Pergaulan merupakan faktor yang mempengaruhi pemikiran, lebih-lebih keimanannya. Seseorang dapat menjual iman, karena tergiur tipuan kawannya. Sebaliknya, seseorang bisa menjadi orang shalih karena selalu dinasihati teman dekatnya.

Maka dari itu, Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang dapat dinilai dari agama kawan setianya, maka hendaklah di antara kalian melihat seseorang dari siapa mereka bergaul.” (HR. al Hakim).

Yang harus diutamakan kawan adalah orang yang berilmu. Sebab sedikit atau banyak akan mempengaruhi pemikiran kita.

Dituturkan oleh Rasulullah SAW bahwa, lebih baik bersendiri dari pada bergaul dengan orang-orang yang rusak. Dan lebih baik bergaul dengan orang-orang baik daripada menyendiri (HR. Al Hakim).

Orang baik (ahl al-khoir) adalah orang yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Individu yang baik ini adalah orang yang beradab. Bukan sekedar beretika, tapi juga bertauhid.

Syed Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan orang baik sebagai orang yang mengamalkan adab secara menyeluruh.

Pengamalan adab ini meliputi adab kepada Allah SWT, sebagai tingkatan adab tertinggi. Kemudian adab dengan sesama manusia, kepada ilmu, kepada alam dan sebagainya. Adab-adab ini dipandang dengan kacamata tauhid.

Karena orang baik (insan adabi) memberi pencerahan dalam segala aspek bidang kehidupan, makanya Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk mempergaulinya.

Orang yang demikian akan melihat realitas secara konstan dari kacamata ketuhanan – sebagai fondasi utamanya. Orang yang demikianlah yang dimaksud Rasulullah SAW untuk kita pergauli. Tidak memberi faedah kecuali faedah agama.

Sebaliknya, bergaul dengan orang-orang dzalim dan lalai bisa membutakan hati. Allah SWT bersabda: “Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka. Dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah SWT, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (HR. QS. Hud: 113).

Condong dalam ayat tersebut di atas maksudnya, mendukung, melapangkan jalan, memuji-muji dan bersekutu bersama mereka. Tujuannya tidak lebih untuk kepentingan materialistik.

Setiap kita bergaul secara akrab dengan orang-orang lalai maka, saat itu iman kita mengalami pelemahan (Kitab Al-Arba’in fi Ushul al-Din, hal. 61).  Duduk bersama orang-orang fasik oleh Rasulullah SAW dikaitkan dengan kadar keimanannya. Tidak mungkin orang beriman bergaul akrab bersama mereka dalam bersekutu melakukan aktifitas tidak baik.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia duduk (di suatu majelis) yang dihidangkan padanya minuman keras.” (HR. Abdu Dawud dan Ibn Majah).

Ketika kita memiliki kecondongan kepada mereka, maka cepat-cepatlah memutus kecondongan itu. Sebab dikhawatirkan akan mendapatkan kemungkaran. Karena mereka sangat pandai dalam tipu daya dan penipuan. Terkecuali jika kita memiliki misi khusus, berbekal ilmu akan mendakwahi mereka. Sikap ini bukan dinamakan memiliki kecondongan sebab tujuannya adalah dakwah.

Pernah Khalifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz mendapat laporan tentang adanya suatu kaum yang sedang meminum khamr. Beliaupun memerintahkan agar mereka semua dicambuk. Kemudian seseorang berkata kepada beliau; “Sesungguhnya di antara mereka ada orang yang sedang berpuasa.”

‘Umar bin Abdul ‘Aziz menjawab: “Mulailah darinya (dalam mencambuk). Tidakkah kalian mendengar firman Allah SWT: “Dan sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan kepada kalian di dalam al-Qur’an bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah SWT diingkari dan diperolok-olok, maka janganlah kalian duduk bersama mereka. Sehingga mereka pindah kepada pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (jika kalian berbuat demikian), maka tentulah kalian serupa dengan mereka.” (QS. Al-Nisa’ : 140).

Hal yang perlu digari bawahi di sini adalah, sebenarnya bergaul dengan siapa pun kita mesti memiliki cara pandang Islam yang kokoh. Semua harus atas dasar berukhuwah karena Allah SWT. Jika kita ingin memasuki majelis orang-orang fasik, maka pertama-tama yang harus dipertanyakan dalam hati adalah, atas dasar apa kita masuk dalam majelis itu?

Jika dasarnya adalah karena Allah SWT dengan maksud berdakwah, maka itu adalah langkah baik. Memberi nasihat, meluruskan padangan orang-orang fasik dan mengajak bertaubat. Jika kita mendapati sebuah majelis di dalamnya ajaran Islam dihina, maka jika kita mampu maka luruskan mereka atau janganlah duduk-duduk bersama. Jika kita diam, berarti kita setuju dengan mereka.

Namun, jika iman kita masih lemah. Terlalu mudah terbuai godaan, maka lebih baik tidak memasukinya, dan sebaliknya bergabunglah bersama orang-orang shalih.
Faedah bergaul dengan orang shalih ada dua, yaitu mengambil ilmu dan menjaga keimanan agar tetap konstan. Iman itu diperkuat dengan ilmu, maka hendaklah kita mengambil faedah ilmu dari orang shalih agar keimanan selalu terjaga.