RSBI Wajib Terima Siswa tak Mampu

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) meminta kepada sekolah dengan sistem Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) untuk tidak menyaring calon siswanya sesuai dengan besaran biaya yang dapat diberikan orangtuanya sebagai uang masuk ke sekolah tersebut.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdiknas Mansyur Ramly mengatakan tidak masalah sekolah mengadakan tes untuk calon siswanya. Sekolah RSBI merupakan sekolah pilihan yang mutunya lebih bagus dari sekolah biasa. Untuk itu tes ini juga bertujuan untuk menyaring siswa yang layak masuk ke sekolah tersebut.

Yang menjadi masalah adalah ketika seorang siswa lulus tes akademik namun tidak mampu secara ekonomi. Hal ini tidak boleh menjadi penghalang bagi sekolah untuk tidak menerima siswa tersebut. ‚ÄúSudah menjadi kewajiban bagi setiap sekolah untuk menerima siswa tidak mampu secara ekonomi, tapi pandai di akademiknya. Setidaknya 20 persen,‚ÄĚ ujarnya ketika dihubungi Republika Ahad (15/5).

Ketentuan ini tidak hanya berlaku di sekolah RSBI saja. Semua satuan pendidikan, mulai dari TK hingga perguruan tinggi bertanggungjawab untuk menerima setidaknya 20 persen siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Raja yang Bijak

Kedua orang utusan itu adalah Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. Kepada Najasyi dan  para pembesar istana mereka mempersembahkan hadiah-hadiah dengan  maksud agar mereka sudi mengembalikan orang-orang yang hijrah dari Makkah itu.

“Paduka¬† Raja,”¬† kata mereka, “Penduduk Makkah yang datang ke negeri paduka ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya¬† dan¬† tidak pula menganut agama paduka. Mereka membawa agama¬† yang¬† mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin mereka,¬† oleh orang-orang¬† tua, paman mereka dan keluarga mereka sendiri, supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu.”

Sebenarnya kedua utusan itu telah mengadakan persetujuan dengan pembesar-pembesar istana, setelah menerima hadiah-hadiah dari penduduk Makkah, mereka akan membantu  usaha  mengembalikan  kaum Muslimin itu kepada pihak Quraisy. Pembicaraan mereka ini tidak diketahui raja.

Tetapi¬† baginda¬† menolak¬† sebelum mendengar sendiri keterangan dari¬† pihak Muslimin.¬† Lalu¬† dimintanya¬† mereka¬† datang menghadap. “Agama¬† apa¬† ini¬† yang¬† sampai¬† membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri, tetapi tidak¬† juga tuan-tuan menganut agamaku,¬† atau¬† agama¬† lain?”¬† tanya Najasyi setelah mereka datang.

Yang diajak bicara ketika itu ialah Ja’far bin Abi Thalib. “Paduka Raja,”¬† katanya,¬† “Ketika¬† itu¬† kami¬† masyarakat¬† yang bodoh,¬† kami¬† menyembah berhala, bangkai pun kami makan. Segala kejahatan kami lakukan, memutuskan¬† hubungan¬† dengan kerabat, dengan¬† tetangga pun¬† kami¬† tidak baik, yang kuat menindas yang lemah. Demikian keadaan kami, sampai Tuhan¬† mengutus¬† seorang rasul¬† dari¬† kalangan kami yang sudah kami kenal asal usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula.”

Ja’far melanjutkan, “Ia mengajak¬† kami menyembah¬† hanya¬† kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan batu-batu¬† dan¬† patung-patung¬† yang¬† selama itu kami sembah.¬† Ia menganjurkan kami untuk tidak berdusta untuk berlaku jujur serta¬† mengadakan¬† hubungan keluarga¬† dan¬† tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan darah dan¬† perbuatan¬† terlarang¬† lainnya.¬† Ia¬† melarang¬† kami memakan harta anak yatim atau mencemarkan¬† wanita-wanita¬† yang bersih. Ia meminta kami menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Selanjutnya kami disuruh melakukan shalat, membayar zakat dan berpuasa.”

“Karena itulah, tambah Ja’far, “Masyarakat¬† kami¬† memusuhi¬† kami, menyiksa dan¬† menghasut supaya meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala, kembali membenarkan segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena mereka memaksa, menganiaya, menekan dan menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kami pun keluar pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah¬† yang¬† menjadi¬† pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan di sini takkan ada penganiayaan.”

“Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan bacakan kepada kami?” tanya Raja itu lagi.

“Ya,”¬† jawab¬† Ja’far, lalu membacakan Surah Maryam dari ayat pertama sampai pada firman Allah: “…maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ‘Bagaimana¬† kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?’ Berkata Isa, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali!” (QS Maryam: 29-33).

Setelah mendengar bahwa keterangan itu membenarkan apa yang tersebut dalam¬† Injil, pemuka-pemuka istana terkejut. “Kata-kata yang keluar dari sumber yang mengeluarkan kata-kata Yesus Kristus,” kata mereka.

Najasyi lalu berkata (kepada kedua orang utusan Quraisy), “Kata-kata ini dan yang dibawa oleh Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama. Tuan-tuan pergilah. Kami takkan menyerahkan mereka kepada tuan-tuan!”

Keesokan harinya Amr bin Ash kembali menghadap Raja dengan mengatakan bahwa  kaum Muslimin mengeluarkan tuduhan yang luar biasa terhadap Isa anak Maryam.

“Panggillah mereka dan tanyakan apa yang mereka katakan itu!” perintah Najasyi.

Setelah mereka datang, Ja’far berkata, “Tentang dia, pendapat kami seperti yang dikatakan Nabi kami. Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya, ruh-Nya dan firman-Nya yang disampaikan kepada perawan Maryam.”

Najasyi lalu mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di lantai. Dan dengan gembira berkata, “Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini.”

Setelah mendengar keterangan dari kedua belah pihak, nyatalah bagi Najasyi, bahwa kaum Muslimin itu mengakui  Isa, mengenal adanya Kristen dan menyembah Allah.

Selama di Abisinia kaum Muslimin merasa aman dan tenteram. Ketika kemudian disampaikan kepada mereka, bahwa permusuhan pihak Quraisy sudah berangsur  reda, mereka lalu kembali ke Makkah untuk pertama kalinya. Sementara Rasulullah SAW pun masih di Makkah.

Penggalangan Dana di ATM 100 Persen NII

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan, mengatakan bahwa penggalangan dana di anjungan tunai mandiri (ATM) mengatasnamakan yayasan adalah 100 persen sebagai bentuk penggalangan dana NII.

“Penggalangan dana NII dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya di tempat-tempat umum, seperti ATM, halte bus, dan pom bensin, namun untuk di ATM-ATM saya jamin 100 persen untuk gerakan NII,” katanya, di Semarang, Sabtu.

Usai seminar “Pencegahan Masuknya Ideologi Gerakan NII di Kalangan Mahasiswa,” yang diprakarsai Universitas Diponegoro Semarang itu, ia mengatakan bahwa ATM-ATM merupakan sasaran utama gerakan NII dalam mengumpulkan pendanaan.

Ia menjelaskan alasan dijadikannya ATM-ATM sebagai sasaran penggalangan dana gerakan NII karena jumlah uang yang bisa didapatkan dari nasabah yang mengambil uang di ATM lebih banyak dibandingkan tempat-tempat umum lain.

“Sekarang lihat, misalnya seseorang mengambil uang di ATM sebanyak ratusan ribu rupiah, untuk mengeluarkan uang Rp5.000 hingga Rp10.000 tentu tidak akan terlalu keberatan. Ini lebih menguntungkan,” katanya.

Menurut dia, gerakan NII memang mendirikan berbagai yayasan untuk mendukung penggalangan dananya, dan didaftarkan secara resmi, kemudian yayasan itu disalahgunakan dan diatasnamakan untuk menghimpun dana dari masyarakat,” katanya.

Ia menyebutkan berbagai yayasan penyokong NII itu tersebar di berbagai daerah, seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang yang menyaru sebagai lembaga pendidikan, yayasan yatim piatu, dan sebagainya untuk mengelabui masyarakat.

“Mereka berdalih membantu fakir miskin, yatim piatu, padahal sebenarnya untuk kepentingan gerakan NII. Kami memiliki data yayasan itu dan berani, serta siap jika mereka mengadukan secara hukum,” katanya.

Ken menjelaskan visi pendirian negara Islam yang digemborkan gerakan NII itu sebenarnya bohong, karena tujuan mereka sebenarnya hanya pengumpulan dana, termasuk sampai Pondok Pesantren Al-Zaytun bisa megah seperti sekarang.

Ia mengakui penggalangan dana gerakan NII mengatasnamakan yayasan itu memang menjadi momok bagi masyarakat yang memang ingin beramal karena pasti curiga kalau ada yang meminta sumbangan semacam itu berarti anggota gerakan NII.

“Namun, untuk penggalangan dana yang mengatasnamakan yayasan di ATM-ATM itu 100 persen gerakan NII, bahkan saat terjadi bencana tsunami dan letusan Gunung Merapi lalu mampu meraih pendapatan yang fantastis,” demikian Ken.