Konsumsi Garam Berlebihan Sama Bahayanya seperti Merokok

Besar kemungkinan setiap kita makan di restoran atau pasar swalayan, asupan garam kita terlalu banyak. Ini buktinya kita semua – tidak peduli dimana pun kita tinggal di dunia, mengkonsumsi garam dalam jumlah besar, dan hal ini memicu tekanan darah tinggi dan lambat laun penyakit jantung atau stroke.

Botol garam kecil ini kelihatannya tidak seperti senjata mematikan, tetapi semakin banyak dokter lama kelamaan botol itu dapat mematikan. Dr. Stephen Havas mengatakan seharusnya sudah sejak lama garam atau sodium kita dikurangi.

Dr. Havas menyarankan, “Kita harus segera mulai. Maksud saya, orang sekarang sakit-sakitan. Orang menjadi lumpuh setiap hari karena sodium berlebihan.” Organisasi Kesehatan Dunia WHO menempatkan penyakit kardiovaskular sebagai pembunuh nomor satu di dunia. Penyakit ini terwujud dalam bentuk serangan jantung, stroke, tekanan darah tinggi atau penyakit di sekiling arteri. Menurut WHO, sekitar 17 juta orang meninggal dunia akibat penyakit kardiovaskular pada tahun 2004. WHO memproyeksikan lebih dari 23 juta orang akan meninggal terutama akibat penyakit jantung dan stroke pada tahun 2030.

WHO mengatakan merokok, kemalasan fisik dan pola makan tidak sehat sebagai penyebab utama. Ketika organisasi-organisasi kesehatan terkemuka berbicara mengenai pola makan tidak sehat, maksud mereka adalah pola makan yang tinggi lemak dan sodiumnya.

Sodium dianggap sebagai salah satu bumbu masak yang aman. Tetapi apakah kita menyadari berapa banyak garam yang sebenarnya kita gunakan?  Satu sendok teh garam adalah sekitar 2.400 miligram.  Tetapi para pakar dalam bidang industri pangan Amerika dan bidang kesehatan sependapat umumnya orang Amerika kini mengkonsumsi sekitar 4.000 miligram garam dalam sehari.

Dr. Stephen Havas mengatakan tubuh manusia sebenarnya hanya membutuhkan 150 miligram garam saja. “Anda membandingkan 150 dengan 4.000 – ini merupakan perbedaan yang sangat besar,” ujarnya.

Sekitar di tengah-tengah angka itu adalah 1.500 miligram sehari, yang direkomendasi Asosiasi Jantung Amerika dan berbagai kelompok medis lainnya.  Para dokter juga ingin kita menurunkan tekanan darah juga.

“Setiap pola tekanan darat diatas 115 sistolik atau 75 diastolik menambah resiko.  Setiap 20 milimeter sistolik diatas 115, akan melipatgandakan resiko,” papar Dr. Havas.

Dr. Stephen Havas mengatakan anjuran selama puluhan agar menghimbau masyarakat mengurangi garam secara sukarela, tidak berhasil. Sulit bagi kami untuk membaca dan memahami label-label makanan yang begitu rumit, ujarnya, dan ia percaya peraturan pemerintah kini merupakan satu-satunya cara untuk memaksa industri makanan siap saji mengurangi jumlah garam.

“Antara lain hal ini karena keengganan untuk berubah. Sebagian lainnya adalah karena adanya kaitan antara industri-industri makanan dan minuman. Jika lebih banyak garam dalam makanan, orang akan membeli lebih banyak produk-produk cairan yang diproduksi oleh perusahanaan makanan. Salah satu alasan mengapa begitu banyak garam, mereka tahu kita akan minum lebih banyak alkohol, jus dan soda, jika lebih banyak garam dalam makanan anda,” kata Dr. Havas selanjutnya.

Saat ini Dr. Stephen Havas merekomendasi agar sebanyak mungkin orang mengurangi garam sekarang, dan menghemat uang yang mungkin dihabiskan untuk pengobatan pada masa depan.

Perlunya Mewaspadai Dosa Dosa Pengguncang Hati

HAMPIR sebagian besar dari kita, mengenal dosa dan maksiat hanyalah hasil perbuatan  anggota tubuh. Perbuatan panca indra. Maksiat tangan dan kaki, mata dan telinga, lidah dan hidung, dan sebagainya. Pada intinya tidak jauh-jauh dengan syahwat perut dan kemaluan.

Pernahkah kita berfikir bahwa ada dosa dan maksiat yang sumbernya dari hati atau ‘qalb’. Yang tak nampak oleh mata, tak terdengar di telinga, tak tersentuh dengan tangan, tak tercium melalui hidung dan tak terasa di lidah.

Maksiat Anggota Tubuh

Mata bermaksiat melihat aurat. Telinga bermaksiat mendengar keburukan lisan, yang menurut Imam Ghazali mempunyai hampir 20 varian. Dusta, menggunjing, menggosip, mengejek, sumpah janji palsu, bicara yang tidak perlu, menfitnah, bersaksi palsu, meratap, memaki, melecehkan, dan lainnya.

Tangan bermaksiat dengan menindas, memukul tanpa hak, membunuh, bekerja sama dengan musuh Allah, menulis yang tidak seharusnya ditulis. Kaki bermaksiat dengan berjalan ke tempat yang diharamkan, menziarahi orang zalim, safar dalam kezaliman. Kemaluan bermaksiat dengan berzina, melakukan amalan kaum Luth, mendatangi perempuan dari tempat yang dilarang.

Perut bermaksiat dengan minum khamr (alkohol), memakan hasil riba, hasil judi, menjual sesuatu yang diharamkan, menyembunyikan barang di pasaran dengan harapan harga menjadi naik, menerima suap, dan lain sebagainya dari memakan harta orang lain dengan batil dan zalim.

Maksiat Yang Membinasakan

Sekali lagi dosa-dosa diatas masih masuk kategori dosa yang nampak dari hasil perbuatan anggota tubuh. Padahal, setiap muslim diperintahkan untuk menjauhi dosa yang nampak ataupun tidak. Allah SWT berfirman:

وذروا ظاهر الإثم وباطنه إن الذين يكسبون الإثم سيجزون بما كانوا يقترفون

Artinya: “Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.” (Al-An’Am ayat 120)

Sebenarnya, maksiat batin itu lebih dahsyat bahayanya dari maksiat zahir sebagaimana ketaatan hati itu lebih penting daripada ketaatan anggota badan. Bukankah, amalan anggota tubuh tidak akan diterima tanpa amalan hati yaitu niat yang ikhlas?

Maksiat hati itu; sombong, takabur, bangga diri, riya, cinta dunia, cinta harta, hasud, dengki, amarah, dan lain sebagainya yang dinamakan Imam Ghazali dengan “penghancur” sesuai dengan bunyi hadis:

ثلاث مهلكات: شح مطاع، وهوى متبع، وإعجاب المرء بنفسه

Tiga muhlikat (penghancur) adalah: sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan takjub terhadap diri sendiri.”

Dosa Hati Lebih Berbahaya

Dosa hati lebih berbahaya dibandingkan yang lainnya, karena:

Pertama, ia langsung berkaitan dengan hati. Qalbu adalah hakekat manusia itu sendiri. Manusia bukanlah sekedar makhluk terbungkus jasmani yang terbuat dari tanah. Hanya makan dan minum tetapi ia menyimpan satu mutiara yaitu ruh, yaitu kalbu, yaitu hati. Berkaitan dengan ini, Rasulullah SAW bersabda:

ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله؛ ألا وهي القلب

Ketahuilah, bahwa di dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik, maka akan baik seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka akan rusak seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”

إن الله لا ينظر إلى أجسامكم وصوركم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad dan bentuk kalian, tetapi Ia melihat pada hati dan amal perbuatan kalian.”

Bahkan satu-satunya  jalan untuk sukses di kehidupan akhirat, adalah selamatnya hati dari penyakit yang membinasakannya. Allah SWT berfirman:

ولا تخزني يوم يبعثون يوم لا ينفع مال ولا بنون  إلا من أتى الله بقلب سليم

dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara ayat 87-89)

Selamatnya hati yakni selamat dari kemusyrikan yang nampak ataupun yang tersembunyi. Selamat dari kemunafikan besar maupun kecil. Selamat dari rasa sombong, hasud, iri dengki dan lain sebagainya.

Ibnu Qoyyim berkata: “selamat dari lima perkara: dari syirik yang bertentangan tauhid, dari bid’ah yang melawan sunnah, dari syahwat yang melawan perintah, dari kelalaian yang melupakan zikir, dan dari hawa nafsu yang menghancurkan keikhlasan”.

Kedua, maksiat hati lebih bahaya karena ia langsung mengarahkan anggota tubuh yang lain untuk melakukannya.

Kufur misalnya, kadang kala didorong oleh rasa hasud didalam hati. Seperti yang terjadi pada kaum yahudi. Firman Allah:

ود كثير من أهل الكتاب لو يردونكم من بعد إيمانكم كفارا حسدا من عند أنفسهم من بعد ما تبين لهم الحق

“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Baqarah ayat: 109)

Ia juga mendorong kepada kesombongan seperti yang terjadi pada diri Fir’aun dan pendukungnya:

وجحدوا بها واستيقنتها أنفسهم ظلما وعلوا فانظر كيف كان عاقبة المفسدين

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (QS. An-Naml: ayat 14)

Demikian pula hasud dan iri dengki dalam hati bahkan bisa membuat pelakunya tega menghabisi nyawa orang lain seperti yang terjadi pada kisah Habil dan Qabil:

إذ قربا قربانا فتقبل من أحدهما ولم يتقبل من الآخر قال لأقتلنك قال إنما يتقبل الله من المتقين

Ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!.” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: ayat 27)

Ketiga, pada kebiasaanya, dosa dan maksiat yang zahir sebabnya adalah lemahnya iman dan sifat alpa sehingga pelakunya mudah untuk segera melakukan taubat. Berbeda dengan dosa akibat hati yang rusak.

Dosa yang dilakukan Adam as dan Hawa karena lalai dan termakan tipuan Iblis yang merayu untuk memakan buah khuldi yang dilarang. Oleh itu, mereka berdua segera menyadari kesalahan dan cepat-cepat meminta ampun pada Allah swt.

قالا ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS: Al-A’raf ayat 23)

Akibatnya, Allah swt dengan mudah memaafkan dan menerima taubat mereka:

فتلقى آدم من ربه كلمات فتاب عليه إنه هو التواب الرحيم

“Keduanya berkata: Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah ayat 37)

Ini berbeda dengan Iblis. Dosa yang dilakukannya adalah dosa hati, yaitu abai pada perintah Allah dan menyombongkan dirinya.

قال يا إبليس ما منعك أن تسجد لما خلقت بيدي أستكبرت أم كنت من العالين قال أنا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين

“Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.” (QS. Shad ayat 75-76)

Oleh itu, balasan bagi Iblis adalah:

قال فاخرج منها فإنك رجيم وإن عليك اللعنة إلى يوم الدين

Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (QS. Shad ayat 77-78)

Keempat, ganjaran bagi pelaku maksiat hati lebih dahsyat daripada pelaku maksiat anggota tubuh.

Rasulullah saw bersabda:

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun seberat biji zarrah.”

Demikian pula Nabi SAW mengatakan “jangan marah” sebanyak tiga kali kepada sahabat yang meminta wasiat kepada beliau.