Radio SUMBAR untuk Nasional

BERITA TERBARU

Halusnya “Serangan Akidah” di Desa Kalibening

March 30th, 2011 - Posted in Nasional

SUWARDI duduk di sofa usang di ruang tamunya. Pandangan wajah lelaki berkulit sawo matang ini menerawang jauh menembus bilik dinding rumahnya. Di balik wajah tirusnya itu, tampak tersimpan kegelisan begitu dalam.

Kegelisan lelaki yang akrab disapa Wardi itu muncul pasca erupsi Merapi beberapa bulan lalu. Tetapi, bukan karena dusunya yang rusak, melainkan akidah saudara-saudaranya yang kini sedang terancam.

“Pasca erupsi terjadi, kini banyak LSM berada di sini. Dalih mereka sosial, tapi sebenarnya mereka punya misi,” kata Suwardi kepada hidayatullah.com di rumahnya beberapa hari lalu.

Wardi sendiri adalah warga Dusun Demo, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Letaknya tak jauh dari Merapi. Menuju tempat ini, harus melalui jalan aspal berliku-liku dan menanjak. Udaranya pun sangat dingin. Saat erupsi terjadi, Desa Kalibening yang jumlah penduduknya sekitar 1800 ini tak luput dari awan panas.

“Pohon-pohon kelapa di sini patah dan rusak. Daunya tak lagi utuh seperti semula,” ujarnya.

Namun sejak saat itu, kata Wardi mulai banyak LSM berdatangan. Ada yang Islam tapi tak sedikit pula yang non Islam. LSM tersebut jika dilihat dari cirinya, kata Wardi seperti milik non Muslim.

“Ada sekitar lima lebih LSM. Bahkan di antaranya dari GKI dan KWI,” terangnya. Bahkan, menurutnya, ada satu LSM yang sudah ada sejak lima tahun lalu.

Kegiatan LSM tersebut menurut Wardi selama ini bergerak dalam bidang sosial, kesenian, pendidikan, dan pertanian. Termasuk bantuan penyediaan bibit.

“Bidang-bidang itu yang dijadikan alat mendekati masyarakat,” paparnya.
Tak hanya itu, masyarakat juga dibantu membuat irigasi. Bahkan, bagi masyarakat yang ingin membangun rumah, disediakan semen.

“Itu diberikan gratis kepada warga, tak perlu bayar,” terangnya. Tidak hanya itu, ujar Wardi, ada LSM yang memberi uang Rp 890 ribu per-PKK-nya.

Pendekatan itu, kata Wardi, belum seberapa. Pasalnya, mereka juga melakukan pendekatan kepada anak-anak. Caranya dengan membuat taman baca. Di taman baca itu disediakan berbagai macam buku bacaan. Tak pelak, banyak anak yang tertarik dan datang ke tempat itu.

“Di situ mereka membaca dan bergaul dengan mereka. Bahkan tak jarang hingga lupa shalat,” kata lelaki berkumis tipis ini.

Hal serupa dikatakan Sunari, relawan dan staff operasional Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Solo, Jateng yang melakukan pembinaan di Dusun Demo. Katanya, taman baca itu hampir tiap pekanya ramai pengunjung. Bahkan lebih dari 50 orang. Mereka ada yang SD, SMP, SMA dan masyarakat umum.

“Buku-buku itu dipinjamkan gratis. Tinggal daftar saja,” kata mahasiswa pasca Universitas Muhammadiyah Surakarta ini. Tapi, buku yang disediakan tidak melulu umum, di situ tak sedikit ada buku agama Kristen. Bahkan, menurutnya, banyak buku yang berbahaya bagi akidah.

“Kalau mau jeli, di situ banyak buku yang bisa mengaburkan akidah Islam,” paparnya. Buku-buku itu berupa kartun tokoh filsafat kuno Barat dengan isi dan cover sangat menarik.

Menurut Wardi, ibu-ibu rumah tangga juga tak luput jadi bidikan LSM. Mereka disuruh membentuk kelompok ibu-ibu tiap RT. Lalu, masing-masing kelompok diberi kegiatan seperti membuat polibek dan pupuk organik. “Siapapun yang tergabung dalam kelompok itu sangat sulit untuk keluar. Mereka sudah merasa terikat,” katanya.

Tidak cukup hanya di situ, ada juga yang mengadakan program Life In. Program ini kata Wardi, berbentuk kegiatan para pelajar Kristen yang tinggal beberapa waktu dengan masyarakat. Mereka berbaur dan belajar banyak hal dengan masyarakat.
Dengan beberapa bantuan itu, kata Wardi, membuat masyarakat betul-betul jatuh hati kepada mereka.

“Masyarakat sangat senang dengan mereka,”ujarnya. Kini, lanjut Wardi, masyarakat tidak bisa lagi membedakan siapa sebenarnya mereka. “Masyarakat sudah naik perahu mereka. Tapi tidak tahu mau dibawa kemana dan siapa nahkodanya,” tegas Wardi mengibaratkan.

Sistematis

Kendati mereka tidak secara terang-terangan mengajak masuk Kristen, tapi kata Wardi, apa yang telah mereka lakukan telah “menyihir” mereka. “Mereka berbuat sangat halus dan kontinyu. Mustahil jika tanpa tujuan,” paparnya.

Wardi nyakin jika program tersebut ada misi jangkan panjang. “Ini program bukan dua tiga tahun. Tapi ini jangka panjang,” imbuhnya lagi.

Wardi berkesimpulan, LSM tersebut sebenarnya sedang ingin beradu lomba dengan umat Islam. “Di saat begini,  kira-kira siapa yang paling mulia dan paling peduli. Umat Islam atau Kristen. Ini lomba,” tegasnya.

Sementara, Sunari mengatakan, pola-pola yang dilakukan LSM itu sistematis halus dan jangka panjang. Setidaknya, menurutnya, ada empat tahap yang dilakukan.

Pertama, mereka melakukan pencitraan. Mereka mengesankan jika Kristen itu bagus, baik, dan toleran kepada siapa saja.

Kedua, melalui bantuan logistik. Setiap kebutuhan warga, kata Sunari, mulai dari sandang, papan hingga pangan dibantu. Bahkan, jumlahnya tak tanggung-tanggung, sangat besar.

Setelah langkah pertama dan kedua itu, lanjut Sunari, baru mempengaruhi psikologi masyarakat. Secara tidak langsung, masyarakat akan menerima mereka dan menganggap mereka begitu berjasa.

Padahal, menurut mahasiswa psikologi pendidikan ini, anggapan seperti itu berdampak psikologis sangat luarbiasa.

“Orang yang berani mengatakan demikian ada sesuatu di dalam dirinya yang berubah,” paparnya.

Jika sudah demikian, maka masyarakat merasa ketergantungan dengan mereka. Lebih jauh lagi, lambat laun mereka bisa ikut mereka.

Step by step, tidak pindah agama langsung,” ujarnya.

Seperti yang ia saksikan saat ini. Menurutnya, mereka berani mengajak anak-anak Muslim out bond bersama beda agama. Tidak hanya itu, mereka juga membagikan sembako di Gereja.

“Gereja sudah kaya pasar saja, tempat pembagian sembako,” paparnya.

Meski tak ada catatan resmi, Sunari mengatakan, laporan yang masuk padanya, sudah banyak yang masuk Kristen.

“Kita tidak bisa memastikan. Tapi yang kita jumpai di lapangan, banyak yang pindah agama ke Kristen,” jelasnya.

Modusnya, kata Sunari, warga diajak jalan-jalan ke Jogjakarta. Padahal, katanya tidak menutup kemungkinan di sana mereka dibaptis. Pulangnya mereka diberi makan dan uang.

Bekerjasama

Wardi tidak menampik sudah banyak ormas Islam yang turut peduli dengan maysarakat. Namun menurut Wardi kepedulian umat Islam di Desa Kalibening tak sebesar LSM tersebut. Bahkan, katanya, umat Islam terkesan kurang solid dan tidak terkoordinasi dengan baik.

“Ada Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Muhammadiyah, NU dan Hidayatullah. Mereka sempat membantu di sini,” paparnya. Hanya saja, menurutnya baru DDII yang hingga kini masih aktif melakukan pembinaan.

Minimya kepudulian umat Islam membuat Wardi miris. Pasalnya, bisa jadi, jika dalam “lomba” ini dimenangkan para pembawa misi itu.

Apalagi, katanya, dari jumlah penduduk sekitar 1800 itu, yang memiliki paham Islam yang benar hanya sedikit. Dari jumlah itu, lebih banyak yang membutuhkan penguatan akidah. Karena itu, mereka rentan terpengaruh.

Namun Sunari mengatakan, DDII akan berjuang habis-habisan.

“Selama masyarakat percaya dan mengamanahkan kepada kita, kita akan bantu mereka sampai waktu yang tidak ditentukan,” ujarnya.

Fokus DDII sendiri adalah dakwah. Adapun jika ada pemberian sembako dan lainnya, itu sekedar stimulus agar mereka menerima. Untuk memperkuat gerakan Islam di sana, DDII memprakarsai terbentuknya Forum Komunikasi Umat Islam (FKUI).

Dakwah di bekas bencana dan minimnya pemahaman Islam butuh waktu panjang. Sayangnya, kata Sunari, kini sudah banyak bendera ormas yang diturunkan. Padahal, mereka masih butuh pembinaan. “Kita akan berjuang di sini hingga mereka siap ditinggalkan,” katanya.

DDII dan Suwardi kini saling bekerjasama menangkis ‘kristenisasi tersembunyi” itu. Mereka mengakifkan kembali TPA yang sudah lama berhenti. Selain itu, mereka juga mengadakan pengaji di masyarakat. Pengajian itu lebih difokuskan untuk memperkuat akidah masyarakat.

“Masyarakat kita ajak cinta Islam dan mau menjalankan perintah Allah,” ungkapnya Wardi yang memanfaatk mushola di samping rumahnya untuk syiar Islam.

Tentusaja, mereka banyak berharap agar ormas Islam ikut peduli dan perhatian dalam masalah ini.

Tulis Komentar Anda