Radio SUMBAR untuk Nasional

BERITA TERBARU

Insiden Las Vegas, White Privilege, dan Framing Media Terhadap Islam

October 7th, 2017 - Posted in International

Apakah diperlukan untuk menyandang titel “Islam” untuk menjadi teroris seutuhnya di media?

Mungkin sebagian pembaca sudah tahu soal berita penembakan di Las Vegas pada Minggu, 01 Oktober lalu. Bertempat di sebuah konser besar yang termasuk dalam rangkaian acara festival musik Lollapalooza. Pelaku bernama Stephen Paddock (64), melakukan tembakan senjata api dari kamar hotel di lantai 32 Mandalay Bay Hotel and Casino di pukul 22.00 waktu setempat, yang diarahkan pada 22.000 orang di lapangan konser. Bukan bersenang-senang, mereka justru harus merasa ketakutan karena adanya serangan tembakan yang menewaskan sedikitnya 58 orang, dan 500 luka – luka. Menurut laporan polisi Las Vegas, Paddock ditemukan bunuh diri dengan pistol setelah penembakan tersebut. Aksi penembakan ini sudah disebut sebagai insiden penembakan yang paling buruk dalam sejarah modern Amerika Serikat.

Nah sekarang, mengesampingkan alasan atau motif pelaku, Penulis akan sedikit membahas tentang opini atau respon pihak berwenang dan masyarakat awam tentang tragedi ini.

Pihak berwenang menyebutkan pelaku sebagai “Serigala Penyendiri”, “Penembak Lokal”, “Penjudi Mabuk”, dll. Tak ada satupun kata “Teroris” yang keluar. Padahal kasus ini sudah cukup untuk bisa dinamakan sebagai terorisme domestik menurut hukum terorisme AS yang berbunyi, “mengintimidasi atau memaksa warga sipil; mempengaruhi kebijakan pemerintah dengan intimidasi atau tekanan; atau untuk mempengaruhi tindakan pemerintah dengan melakukan penghancuran massal, pembunuhan atau penculikan”. Dan sekali lagi, ini adalah kasus penembakan terparah di AS sejak beberapa dekade lalu. Memang, sampai terbukti kalau tindakan si pelaku berlatar belakang politis, barulah dikategorikan sebagai terorisme. Sejauh ini, pihak berwenang masih belum menyebutkan motif pelaku.

Sekarang kembali ke insiden lain yang pernah terjadi di Eropa. Banyak sekali kejadian serangan yang menimbulkan kepanikan, langsung direspon dengan cepat oleh media dan pihak berwenang sebagai 100% terorisme, orang-orang pun langsung percaya. Dari sini, Penulis akan mencoba untuk sedikit eksplisit. Semua punya pola yang mirip secara umum. Berjenggot, nama yang berbau arab, dan yang paling penting, bukan warga kulit putih. Penulis tidak bermaksud rasis. Memang itu fakta yang ada. Semua ini membentuk mindset kalau kulit putih mempunyai kadar kriminal laten yang lebih sedikit. Ini disebut dengan White Privilege. Maka ketika ada aksi atau insiden serupa  publik akan merespon dengan merujuk pada pola sebelumnya. Kalau tidak sesuai dengan pola, mereka  akan kebingungan.

 

 

Penulis Bangladesh Taslima Nasreen juga mempertanyakan, “Pria yang meneror 22.000 orang, membunuh dan melukai ratusan orang, dia tidak disebut teroris! Apa perlu jadi orang Islam untuk mendapat sebutan itu?”

https://twitter.com/taslimanasreen/status/915048019724083200

 

Pengguna media sosial lain, Ben Lehwald, mengatakan, “Bisa membunuh 58 orang dan belum disebut teroris? Jika (pelakunya) ini adalah seorang penganut Islam, itu hal pertama yang mereka tanyakan.”

https://twitter.com/BenLehwald/status/914926576164368384

 

Lewat contoh kicauan yang gamblang ini, Penulis mencoba membuka kembali pikiran Pembaca dari framing media mainstream. Apakah teroris  perlu menyandang titel “kulit hitam” atau “Islam” agar bisa disebut teroris?

Sumber:

http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41480170

http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41521772

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiSmuzL0tzWAhWFGZQKHQUhBcwQFggmMAA&url=http%3A%2F%2Fwww.dailymail.co.uk%2Fnews%2Farticle-4945322%2FVet-wants-know-cops-took-long-stop-shooter.html&usg=AOvVaw0ugePB5kuRg0UDmnaNkYB6

Author: M. Sayyidus Shaleh Y.

Sistem Komputer Universitas Diponegoro 2017

Tulis Komentar Anda