Radio SUMBAR untuk Nasional

BERITA TERBARU

Kebahagiaan Ketika Kita Bisa “Memberi”

January 28th, 2011 - Posted in Motivasi Safasindo

TIGA TAHUN LALU, ketika saya memutuskan untuk meninggalkan profesi saya di dunia finansial yang lama –bidang yang saya geluti sampai mentog selama 20 tahun lebih– saya berpamitan dengan rekan-rekan kerja di industri baik yang di dalam maupun yang di luar negeri. Salah satu comment yang saya ingat saat itu adalah ucapan mitra saya, executive perusahaan raksasa di Jerman. Begini katanya, “You have a very strange way to enjoy life…” (Kamu ini memiliki cara yang aneh dalam menikmati hidup !).

Lama saya berusaha memahami ucapannya ini, bahkan saya juga sempat ragu apakah dengan meninggalkan karir puncak di dunia finansial dan segala macam fasilitasnya – saya dapat memperoleh kebahagiaan yang baru…?.

Secara tidak langsung, perlahan tetapi pasti…kebahagiaan yang baru itu ternyata memang hadir. Dalam bentuknya yang aneh dan sangat berbeda dengan kebahagiaan yang lama. Saya ingin share di tulisan ini untuk memotivasi rekan-rekan saya yang ingin terjun berusaha – namun masih enggan meninggalkan segala macam fasilitas yang dinikmatinya kini.

Begini antara lain perbedaan kebahagiaan yang lama dengan kebahagiaan yang baru itu:

Kebahagiaan Lama (Milik Para Pekerja dan Eksekutif):

-Ketika mulai bekerja dahulu, hari-hari yang menyenangkan adalah hari-hari menjelang gajian. Sampai ada joke harimau apa yang paling bahagia? , jawabannya adalah ‘hari mau’ gajian. Mengapa hari-hari menjelang gajian kita berbahagia ?, karena penghasilan kita nyaris tidak cukup untuk keperluan sebulan – maka ketika rekening kita terisi kembali dari posisinya yang nyaris kosong – kita menjadi bahagia.

-Kebahagiaan lain adalah ketika kita mau menerima tunjangan hari raya, gaji ke 13, bonus tahunan dan sejenisnya. Ini bisa meng-cover kebutuhan lain yang lebih besar seperti mengisi tabungan, membayar uang muka rumah, mobil dlsb.

-Ketika karir kita terus menanjak dan sampai puncaknya; penghasilan kita sebenarnya tidak lagi habis dikonsumsi dalam satu bulan. Tetapi tetap saja hari mau gajian membuat bahagia karena hari itu uang kita di bank bertambah.

-Yang lebih membahagiaan bagi kalangan eksekutif adalah ketika tutup buku dengan hasil tahunan yang baik, eksekutif akan mendapatkan bonusnya – yang bisa sangat istimewa – bila perusahaan berkinerja baik.

Kebahagiaan Baru (Milik Para Entrepreneur):

-Di awal-awal usaha setiap menjelang akhir bulan adalah waktu yang menegangkan, bisa nggak ya kita memberi gaji para karyawan kita tepat waktu ?. Selepas gajian, tabungan kita di bank tersedot nyaris habis tetapi ada kebahagiaan yang tidak kalah hebatnya dengan yang dialami karyawan yang menerima gaji – yaitu kebahagiaan karena mampu memberi gaji seluruh karyawan di payroll-kita.

-Setelah perusahaan berjalan baik, ketegangan menjelang gajian ini tidak lagi muncul – tetapi kebahagiaan itu tetap ada disana – yaitu bahagia bisa memberi gaji.

-Karena bahagia itu ada disana – ketika rekening kita berkurang – berpindah keorang lain yaitu untuk menggaji para karyawan; maka lama kelamaan ‘hari mau’ gajian ini juga menjadi kebahagiaan rutin tersendiri. Setiap sabtu sore misalnya, saya melihat sekian puluh karyawan yang bekerja di peternakan Jonggol Farm – pulang dengan bahagia ke keluarganya masing-masing – hari itu mereka pulang membawa gaji mingguannya. Ternyata bukan hanya mereka yang berbahagia, saya juga ikut merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena sampai hari itu kita masih dipilih Allah untuk ‘dilewati’ rizkiNya yang hendak dibagikan ke puluhan karyawan tersebut.

-Kebagiaan ini bertambah besar manakala kita mampu memberi tunjangan hari raya atau sejenisnya.

Jadi ternyata ada perbedaan yang mendasar yang terkait dengan uang saja (tentu banyak sekali kebahagiaan lain yang tidak terkait dengan uang sama sekali !) dari sewaktu kita menjadi karyawan atau eksekutif dengan ketika kita terjun menjadi entrepreneur.

Kelompok yang pertama bahagia ketika rekeningnya bertambah dari gaji atau bonus, kelompok yang kedua pun tetap bisa tidak kalah bahagianya ketika rekening berkurang untuk membayar gaji atau THR.

Kebahagiaan ketika memberi inilah rupanya yang mendorong orang terkaya nomor 2 (Bill Gates dengan kekayaan US$ 53 Milyar) dan nomor 3 dunia (Warren Buffet dengan kekayaan US$ 47 Milyar) pertengahan tahun lalu mengajak ratusan orang-orang terkaya Amerika untuk menyumbangkan 50 % hartanya untuk berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Kebahagiaan dengan memberi ternyata tidak hanya milik Umat Islam yang dalam tuntunan agamanya didorong untuk banyak-banyak ‘memberi’ dalam berbagai bentuknya baik yang bersifat wajib seperti membayar zakat, membayar upah pekerja dan sejenisnya ; maupun yang sifatnya sunah seperti infaq untuk kegiatan sosial ,bantuan kemanusiaan dlsb.

Apa yang dilakukan oleh Bill Gates dan Warren Buffet ini juga dapat menjadi pelajaran bagi kita, bahwa ternyata kebahagiaan itu tidak hanya timbul ketika uang terus bertambah banyak – tetapi kebahagiaan juga timbul dari ‘memberikan’ hasil dari jerih payah bertahun-tahun untuk orang lain yang lebih membutuhkan.

Kalau saja orang-orang kaya negeri ini mengikuti anjurannya Bill Gates dan Warren Buffet, korban-korban kelaparan insyaAllah tidak akan terus bermunculan di negeri ini. Lebih jauh lagi kalau saja kita bisa mengikuti prinsip 1/3 seperti yang dicontohkan dalam hadits yang sahih, insyaAllah Allah akan terus menurunkan ‘hujan’ rizki ke kita – bahkan ketika negeri lain dilanda ‘paceklik’ krisis finansial. InsyaAllah.

Tulis Komentar Anda