Radio SUMBAR untuk Nasional

BERITA TERBARU

“PADUSI” MINANG DALAM KACA MATA ROHANA KUDUS JAMAN NOW

November 30th, 2018 - Posted in Sumbar

“PADUSI” MINANG DALAM KACA MATA ROHANA KUDUS JAMAN NOW
oleh: Nova (masyithah)

Pemimpin sejati itu tak mengharapkan gemuruh tepuk tangan, tak mengharapkan pujian yang pada akhirnyaakan mematahkan semangat juang itu sendiri. Biarlah alam langsung yang bersaksi sehingga perjuangan itu sampai pada posisi dimana Yang Maha Kuasa akan memberikan sebuah “keharuman nama sepanjang masa” walau manusia pada akhirnya sering lupa dengan nama itu sendiri. Begitulan padusi Minang pada zaman dahulu, zaman yang serba kekurangan dari banyaknya keterbatasan, kehancuran dimana-mana, penindasan yang selalu mengancam keselamatan dan marjinalnya fitrah seorang padusi yang terkenal adalah bukan nama mereka yang telah berjuang dengan tumpah darah, namun nama lain yang lebih dikenal sebab ada campurtangan para penjajah.

Judul Padusi Minang Dalam Kacamata Rohana Kudus Jaman Nowyang penulis angkatseakan membangunkan kembali jiwa yang telah berkalang tanah 134 tahun yang lalu, menghadirkansosok Bundo Kanduang yang penuh kharismatik, gigih, berwibawa setiap tutur bahasanya, dengan pondasi keimanan yang kuat, ia pantaskan dirinya sebagai hamba Sang Pemilik jiwa untuk menyambungkan kalimah tauhid dihati para generasi bangsa. Mempersiapkan segala kebutuhan yang dirasa zaman yang akan datang lebih mendominasi pergerakan perempuan di tanah airnya, terkusus pada wilayah Sumatera Barat.
Serta mengajak pulang kerumah gadang duduk di ajungan Bundo Kanduang untuk memberikan nasehat dan menghidupkan gelora juang tanpa henti. Mencicipi manisnya hasil perjuangan untuk lebih membakar semangat dan berpesan “wahai anak-cucuku hadirlah kalian danlibatkan jiwa ragamu untuk perjuangan bangsa, dan hanya padusi-padusi hebatlah yang bisa menginfakkan umurnya untuk kemaslahatan ummat”

Kajian makna “padusi” dalam kacamata Rohana Kudus merupakan suatu gambaran betapa elegannya posisi perempuan Minang dari dahulunya, dari adat dan budaya perempuan Minang telah memiliki posisi yang tak bisa dipandang sebelah mata, bisa jadi perempuan yang masih berpegang teguh pada “adaik basandi syarak, syarak bersandikan kitabullah” adalah perempuan tersantun di dunia ini. Sebab dari contoh sederhana saja dalam pengajaran sumbang 12 perempuan di Minang telah mampu menekankan segala kemungkinan terjelek akan terjadi nantinya, dari duduk saja telah mampu memberi syarat bahwa kehati-hatian dan kesopanan telah meninggikan derjat perempuan itu sendiri.

Duduk tak boleh bersila itu menandakan betapa mulianya perempuan itu di mata Sang Pencipta, karena ada rahim yang tercipta berkat kasih-sayangnNya maka akan hadirlah generasi penerus. Begitu juga dengan pengajaran berdiri yang tak boleh di depan pintu selain menghambat lalu-lalang masuk kerumah juga tak indah dipandang mata, berjalan apalagi tidak boleh tegesa-gesa harus santun lemah gemulai dan hati-hati, selanjutnya bicara dari mulutlah kita akan tahu bagaimana orang itujadi baik buruknya seseorang bisa dinilai dari mulutnya sebab apapbila dari mulut saja banyak yang tersinggug bakalan kehidupan perempuan itu tak akan aman kemanapun ia pergi.Selanjutnya melihat bila berkunjung kerumah orang mata jangan lacang untuk melihat sekeliling rumah, itu namanya tidak sopan, dan dalam subang 12 itu juga terlihat tentang makan yang tak boleh berbunyi layaknya hewan, apalagi dalam berpakaian semuaya telah diatur oleh agama dan diikuti oleh adat berpakaian yang longgar yang tak menampakkan lekuk tubuh, bukan berarti berpakaian namun telanjang.

Bekerjanya seorang perempuan tak akan mampu melewati kemampuan tenaga laki-laki, bila perempuan itu seorang ibu maka ia akan mampu memberikan waktu terbaiknya setelah bekerja diluar rumah untuk seluruh keluarganya, namun yag kita lihat zaman sekarang sungguh banyak pekerjaan laki-laki yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan, bukan berarti itu mutlak dilakukan oleh seorang perempuan justru ada batasannya. Bertanya juga menjadi acuan terpenting juga diantara sumbang 12 itu, namun dalam konteks bertaya di zaman now telah keluar dari jalur yang tak semestinya ada disana, seperti bertanya tentang anak kepada orang yang tak punya anak, bertanya tentang dosanya berhutang kepada mereka yang banyak hutang, bertanya dimana bekerja kepada mereka yang pengangguran, dan bertanya kepada orang yang belum pernah merasakan naik pesawat juga bertanya kepada penjual terhadap apa yang tidak dijualnya.

Sewaktu ada bertanya tentu ada bagaimana menjawab, disini menjawab tak mesti sekenanya sebab menjawablah sesuai apa yang ditanyakan orang kepadanya dan dalam menjawab ini bila tidak mampu untuk menjawab maka berilah tenggang waktu untuk mencari jawaban yang tepat, jangan sampai jawaban tersebut menyisakan luka bagi yang bertanya. Paling dahsyatnya dalam nilai etika dan estetika sumbang 12 yang lain adalah bergaul bak pepatah mengatakan bila kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan tercium juga aroma wanginya, bila kita berteman dengan pembangkang maka kita akan terbawa juga keras kepalanya, selanjutnya berteman harus hati-hati. Serta karakter diri seorang perempuan itu telah tergambar jelas secara turun temurun.

Namun bila dilihat pada jaman now realitasnya merosot drastis, mulai dari segi memaknai emansipasi, feminisme serta kurang pahamnya akan posisi diri sebagai seorang perempuan walau tak semua perempuan demikian, bisa jadi perempuan jaman now telah memiliki segalanya, mulai dari segi kecangihan teknologi, tak ada lagi penekanan-penekanan terhadap pergerakan perempuan, begitu juga sekarang telah banyak serba instan.Di situlah berawal pergolakan semangat juang pantang mundur sebelum berperang itu terbata-bata di ucapkan serta di aplikasikan dalam kehidupan ini.

Berbicara mengenai sosok Bundo Kanduang Rohana Kudus, merupakan hal yang menarik sekali, apalagi hari ini adalah hari yang menggaungkan program literasi dari pemerintah. Tentu lahirnya program ini tak terlepas dari peran penting seorang jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Bukankah suatu bangsa itu akan selalu dikenang karena bangsa itu memberikan tempat terbaik bagi para pahlawannya dengan cara menghargai jasa para pahlawan dan meneruskannya.? Jawabannya adalah ya, kalau bukan dari diri sendiri, lantas bisakah orang melaksanakan apa yang kita lakukan, penulis rasa tidak sebab diri sendirilah cikal bakal sebuah kisah itu akan berulang kembali walau kisah dan sejarah itu tak serupa dengan kisah para pahlawan.

Setiap individu adalah seorang pahlawan, sekurang-kurangnya sebagai pahlawan dalam komunitas terkecil yaitu keluarga.Padusi sekarang harus lebih mampu mengekspresikan kewajiban untuk membuat bangsa ini lebih berwarna, memasukkan pikiran bagaimana keberlangsungan pemerintah dimasa yang akan datang, apalagi di Minangkabau terkenal dengan matrilinealnya, mengingat tema diatas padusi Minang dalam kacamata Rohana Kudus di zaman now harus menjadi garda terdepan dalam pembaharuan ummat, sebab tanpa adanya sosok seorang perempuan dalam perjuangan yang dilalui di zaman now yang penuh lika-liku kehidupan apalagi pada era ini maka pejuang iduak-induakharus bisa menyumbangkan pikiran positifnya agar generasi berikutnya akan termotivasi juga untuk menjadi pejuang di lingkungannya.

Saatnya padusi Minang bangkit dari keterpurukkan, bukan berarti selama ini perempuan Minang terbelakang dari segala kemungkinan, namun terbelakang dalam segi semangat juang. Mari perempuan Minang hadirkan semangat juang Bundo Kanduang Rohana Kudus didalam hati, untuk menggerakkan keseriusan untuk menatap masa depan. Bila engkau seorang guru maka berdayakanlah semangat itu untuk anak muridmu, bila engkau wahai perempuan Minang seorang anggota legislative perankan kemampuanmu untuk mendengarkan akan kebutuhan masyarakat, begitu juga jika engkau seorang ibu rumah tangga, maka lahirkanlah dari rahimmu dan pengajaranmu dirumah dengan didikan para pejuang agar terahir anak yang hebat dan mampu meneruskan perjuangan bangsa. Jika engkau seorang jurnalis, maka tuliskanlah tulisan yang mencerahkan bangsa dengan tulisnmu akan hidup sosok-sosok yang telah mengharumkan nama bangsa ini.

Saatnya padusi Minang berada pada barisan terdepan, dari Minanglah semua ke-elokan akhlak dan budi akan tercipta dengan kesantunan serta nilai adat dan budaya yang mempesona. Serta pengajaran kalam Ilahi yang keluar dari lisannya, dengan takbir bergemalah alam semesta, dengan keberanian akan tercipta rasa kasih dan sayang serta dengan ilmu maka padusi Minang tak akan dipandang sebelah mata.

Tulis Komentar Anda