Indonesia akan Menjadi Pusat Peradaban Islam

Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyyah (UIA), Jakarta, Hj Tutty Alawiyah menyatakan kebangkitan peradaban Islam akan berawal dari Indonesia. Sebab, harapan besar digantungkan kepada umat Islam Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam.”

Kita yakin peradaban Islam akan muncul dari Indonesia karenanya umat Islam harus berjuang menjadi kuat, baik ekonomi, lahir dan batin, dunia menunggu konstribusi umat berikan maslahat untuk kepentingan hidup,”kata dia saat memberikan taushiyah dalam acara Dzikir Nasional di Masjid At-Tin, Jakarta, Jumat (31/12).

Untuk itu, Tuty yang juga Ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BMKT), mengakatan untuk memperbaiki kondisi umat Islam dan mengatasi keterpurukan bangsa perlu dibuat program perencanaan perbaikan. Sebab, Allah secara tegas menyuruh hamba Nya untuk memikirkan masa depan.

Tuty menjelaskan perbaikan yang dimaksud meliputi lima hal penting sebagaimana tertuang dalam hadis Rasulullah yaitu pertama perbaikan agama yang merupakan benteng bagi segala urusan terlebih kekuatan agama menjadi modal utama menghadapi serangan globalisasi yang merusak.

Kedua, perbaikan dunia dengan menitikberatkan pada ilmu, pendidikan, dan karya nyata umat Islam. “Nabi terdahulu adalah para pakar dunia, nabi Yusuf ahli ekonomi, Musa pembangunan, Isa kesehatan, dan Muhammad perdagangan, kenapa kita tidak meniru mereka menjadikan anak-anak kita jadi pakar seperti mereka,”kata dia.

Tuty melanjutkan, perbaikan ketiga adalah memperbaiki akherat sebagai tempat kembali umat manusia dengan harapan agar Allah memberikan tempat terbaik bagi umat. Keempat, umat Islam perlu memperbaiki kehidupan agar maksimal menjadi ajang memperbanyak kebajikan. Dan terakhir, perbaikan untuk kematian sebagai ajang istirihat dari segala keburukan dan dosa.

“Mulailah perbaikan dari diri sendiri merambah ke keluarga, lingkungan dan masyarakat serta bangsa secara kesuluruhan,”ajak dia.

Alhamdulillah, Sudah 300 Orang Jadi Mualaf di Masjid Sunda Kelapa

Jelang tutup tahun 2010, Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta sudah mengislam 300 orang. Bila ditotal semenjak tahun 1993, Masjid Agung Sunda Kelapa sudah mengislamkan 16.000 orang.

Dari 16.000 mualaf sebagian kecil diantaranya merupakan para ekspatriat atau warga asing yang menetap di Indonesia.

“Alhamdulillah, berkat program dakwah yang digiatkan di masjid ini, banyak saudara-saudara baru yang mengucapkan dua kalimat syahadat,” papar Kepala Bagian Pembinaan Mualaf dan Layanan Konsultasi, Masjid Agung Sunda Kelapa, Anwar Sujana kepada republika.co.id, Jumat (31/12).

Meski begitu, Anwar menilai proses mengislamkan mualaf tidak berhenti sampai pada pemberian keterangan “telah menjadi Muslim”  seperti yang tertulis dalam sertifikat saja.

Lebih dari itu, masih ada tanggung jawab moril dari Masjid Sunda Kelapa untuk memberikan pembinaan kepada mualaf agar yang bersangkutan mampu menjalani dunia barunya dengan arah dan tujuan yang jelas.

“Tentu saja, mengislamkan mualaf memang mudah tapi  akan mulai sulit ketika mualaf mulai menapaki hidup barunya,” kata dia.

Karena itu, pihaknya senantiasa melakukan bimbingan melalui program pembinaan mualaf yang berlangsung selama 6 hari. Pembinaan dan bimbingan itu dimaksudkan memberikan fondasi yang kokoh dalam diri para mualaf.

“Menjadi mualaf sangatlah berat. Pertama tentu dia harus beradaptasi dengan agama barunya. Perlu dicatat pula, tidak semua keluarga mualaf memberikan dukungan. Belum lagi persoalan lain yang sangat berpengaruh seperti ekonomi, sosial dan budaya yang melatari kehidupan mualaf sebelumnya,” kata dia.

Harus diakui, kata Ahmad, membina mualaf itu jauh lebih berat ketimbang membina pribadi yang memang dibesarkan dalam keluarga Muslim. “Di awal saya utarakan, menjadi mualaf tidaklah mudah. Beban mereka sangat berat apalagi ketika faktor minusnya dukungan keluarga atau tekanan lainnya cukup besar,” katanya.

Sebagai contoh saja, papar Anwar, sudah ada paguyuban mualaf yang berada dalam pembinaan Masjid Agung Sunda Kelapa. Didirikan 31 Juli 2010, anggota paguyuban ini baru berjumlah lima orang.

Itupun hanya empat orang yang aktif.Meski begitu, Anwar, optimis paguyuban ini bersama program pembinaan yang disiapkan mampu memberikan sumbangsih terhadap peningkatan dakwah di kalangan mualaf.

Ke depan, kata Anwar, meski fokus umat Islam terhadap pembinaan mualaf masih jauh dari harapan. Pada akhirnya, umat Islam tanah air akan menaruh perhatian dalam perkembangan mualaf.

Soal itu , menurut dia, memang membutuhkan peran kesadaran dan kepedulian. “Kelak para mualaf ini akan berperan dalam mewujudkan kemajuan Islam,” pungkasnya.

Fatwa-Fatwa yang “Menghebohkan” di Tahun 2010

Pada tahun 2010 yang akan segera berakhir ini, sejumlah fatwa agama telah banyak dikeluarkan oleh berbagai ulama, namun ada beberapa fatwa yang dikeluarkan tersebut malah menjadi kontroversi.

Berikut ini adalah beberapa fatwa yang menimbulkan reaksi umat Islam dunia yang berhasil disusun oleh OnIslam:

1. Fatwa membolehkan Ikhtilat

Fatwa ini dikeluarkan oleh Syaikh Ahmad Al-Ghamdi, direktur komisi Amar Maruf Nahi Munkar cabang Mekkah. Fatwanya yang membolehkan ikhtilat (campur baur laki-laki dan wanita bukan mahram) telah menimbulkan kontroversi serta kecaman khususnya dikalangan ulama-ulama besar Saudi. Akibat fatwa ‘liberal’nya ini untuk lingkungan Saudi, Syaikh Al-Ghamdi dipecat dari jabatannya.

2. Fatwa wanita boleh menyanyi

Fatwa ini disampaikan oleh Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Dirinya menyatakan bahwa wanita boleh menyanyi dengan berbagai syarat, menambahkan bahwa ia sendiri tidak keberatan nyanyian yang dilagukan oleh wanita asalkan dalam rangka syariah, yang mensyaratkan bahwa lagu yang dinyanyikan bukan lagu cabul yang mengajak kepada maksiat dan tidak dicampur dengan dihidangkannya minuman keras dan kemaksiatan lainnya.

3. Fatwa Imam Syi’ah Ali Khamenei

Dalam usahanya meredam kemarahan umat Islam sunni di seluruh dunia, akibat dari pernyataan-pernyataan seorang pendakwah Syi’ah asal Kuwait yang tinggal di London, Yasir Habib yang menghina ummul Mukminin Aisyah, Ra secara terbuka, Ali Khomenei mengeluarkan fatwa ‘taqiyah’ yang melarang pelecehan terhadap ummul Mukminin Aisyah, Ra atau merusak dan menghina simbol-simbol umat Islam sunni.

4. Fatwa haram wanita jadi kasir

Al Lajnah Ad Dai`imah li Al Buhuts Al Ilmiah wa Al Ifta` Saudi telah mengeluarkan fatwa yang menyebutkan haramnya wanita menjadi kasir yang dikeluarkan untuk mengakhiri polemik mengenai hukum wanita menjadi kasir. Alasan pengharamannya adalah wanita yang bekerja menjadi kasir akan berikhtilat dengan laki-laki dan hal tersebut bisa menjadi sumber fitnah.

5. Fatwa melarang referendum untuk Sudan selatan

Asosiasi ulama dan imam di Sudan mengeluarkan fatwa yang melarang adanya referendum untuk menentukan nasib sendiri bagi wilayah Sudan selatan, yang referendum itu akan berlangsung pada 9 Januari tahun depan. Para ulama menyebut referendum tersebut akan mempercepat Sudan terpecah yang dulunya Sudan adalah wilayah yang satu.

6. Fatwa larangan mengirim personil militer ke Afghanistan

Para ulama di Front Amal Islam (sayap politik Ikhwan Yordan) sepakat untuk mengeluarkan fatwa yang mengharamkan negara-negara muslim untuk mengirimkan pasukan militer mereka ke Afghanistan untuk bertempur bersama pasukan AS dalam memerangi Taliban.

7. Fatwa Halal Darah el-Baradei oleh ulama Salafi Mesir

Syaikh Muhammad Lutfi Amir yang merupakan pimpinan cabang gerakan Anshar al-Sunnah al-Muhammadiyah Mesir, dalam sebuah fatwanya menyatakan membolehkan pembunuhan terhadap tokoh pemimpin oposisi Mesir Muhammad ElBaradei untuk seruan pembangkangan sipilnya.

Menurut Amir, seruan ElBaradei untuk mengubah konstitusi dan pembentukan Majelis Nasional untuk Perubahan untuk mempromosikan Mesir sebagai reformasi demokratis merupakan hasutan untuk memberontak dan tidak taat terhadap penguasa. Tindakan-tindakan pembangkangan sipil, ia berpendapat, bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang mewajibkan perlunya mematuhi penguasa.(fq/oi)

Inilah Kasus-kasus Kristenisasi di Balik Insiden Ciketing Bekasi

Bagi Kristen HKBP dan aktivis liberal, insiden Ciketing 12 September 2010  adalah berkat tersendiri. Bentrokan fisik antara ratusan jemaat HKBP dengan belasan warga muslim di kelurahan Mustika Jaya Bekasi yang mengakibatkan tertusuknya jemaat HKBP Hasian Sihombing itu menjadi komoditi untuk mendiskreditkan umat Islam. Mereka mengabaikan fakta bahwa dalam insiden itu para warga muslim juga menjadi korban luka dikeroyok jemaat.

Selama empat bulan sejak peristiwa itu, secara Spartan media Kristen mengangkat tema intoleransi umat Islam. Perhatikan tajuk media Kristen: “Hentikan Langkah Kelompok Intoleran” (tabloid Reformata edisi Oktober 2010), “Nasib Gereja Makin Terancam” (majalah Spektrum edisi November 2010), “Intoleransi Pada Umat Kristen Meningkat” (majalah Narwastu edisi November 2010), “Kaum Minoritas Kehilangan Tempat” (tabloid Zaitun edisi 55), dll.

Insiden Ciketing dieksploitasi sedemikian rupa untuk menarik simpati dunia, seolah-olah mereka adalah kaum yang tertindas, terzalimi dan terintimidasi di negeri mayoritas Muslim ini. Insiden itu bahkan dipolitisir secara resmi oleh ephorus HKBP untuk mencabut Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) Nomor 8 dan 9 tahun 2006 tentang Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah. Sementara akar masalah yang sesungguhnya mereka tutup rapat-rapat, misalnya, pemalsuan tandatangan warga dan manipulasi fotokopi KTP warga Muslim dalam proses perizinan gereja HKBP. Kasus suap Rp 100.000 hingga 1 juta rupiah yang dikucurkan HKBP untuk satu buah foto copy KTP pun tak disinggung-singgung.

Namun, sepandai-pandai HKBP menutupi fakta, akhirnya terbongkar juga. Akhir November 2010, International Crisis Group (ICG) merilis laporan berkode “Asia Briefing N°114” yang sangat mengejutkan. Secara blak-blakan, lembaga yang bermarkas di Brussels Belgia ini memublikasikan hasil investigasi yang panjang dari berbagai sumber bahwa akar masalah di balik insiden Ciketing itu adalah maraknya gerakan kristenisasi di Bekasi yang sebagian didanai dari luar negeri.

Dalam laporan berjudul “Indonesia: ‘Christianization’ and Intolerance” itu, ICG menyimpulkan bahwa salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antarumat beragama di Indonesia adalah agresivitas Kegiatan penginjilan di daerah Muslim (Aggressive evangelical Christian proselytizing in Muslim strongholds).

“On the Christian side, several evangelical organizations committed to converting Muslims have also set up shop in Bekasi, some funded internationally, others purely home-grown. Yayasan Mahanaim, one of the wealthiest and most active, is particularly loathed by the Islamist community because of its programs targeting the Muslim poor. Another, Yayasan Bethmidrash Talmiddin, run by a Muslim convert to Christianity, uses Arabic calligraphy on the cover of its booklets, suggesting they are Islamic in content, and requires every student at its school as a graduation requirement to convert five people,” demikian laporan ICG tertanggal 24 November 2010.

(Di pihak Kristen, beberapa organisasi penginjil yang berkomitmen untuk mengkristenkan Muslim ada di Bekasi, beberapa didanai dari luar negeri, yang lain murni lokal. Yayasan Mahanaim, salah satu organisasi neo-Pentakosta yang paling bonafit serta aktif, sangat dibenci kaum muslim garis keras karena program-programnya menjadikan orang-orang muslim yang miskin sebagai objek pemurtadan. Sebelumnya, Yayasan Kaki Dian Emas, yang dijalankan oleh pendeta yang tadinya muslim, menggunakan kaligrafi Arab pada sampul-sampul publikasinya, seolah-olah isinya mengenai Islam, dan mewajibkan setiap siswa sekolahnya mengkristenkan sepuluh orang sebagai syarat kelulusan).

Lebih jauh, ICG memperingatkan bahwa gerakan kristenisasi itu bisa memicu lahirnya gerakan jihadis yang mereka sebut dengan istilah teroris dan ekstremis, yang dilakukan oleh para aktivis antipemurtadan.

Dalam sub-judul “Christianization: The Reality,” ICG memaparkan fakta-fakta gerakan kristenisasi. Kristenisasi di Indonesia bukanlah isu, melainkan fakta dan diprogram oleh lembaga resmi gereja, dengan membidik Jawa Barat sebagai target utama. Pada halaman 2, ICG melaporkan, dalam wawancara di Jakarta tanggal 10 Oktober 2010, salah seorang pengurus PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), mengakui adanya lembaga Kristen besar yang menjadikan Jawa Barat dan Banten sebagai target penginjilan:

“An official at the Indonesian Communion of Churches, a Protestant umbrella organization, said the big evangelical organizations were deliberately targeting West  Java and Banten, the provinces that ring Jakarta, in the hope that a pincer movement of proselytisation would eventually  gain them a bigger foothold in the capital.”

Beberapa lembaga penginjilan internasional yang membidik urang Sunda, di antaranya adalah:

1. Joshua Project, lembaga penginjilan internasional yang menargetkan komunitas etnis mayoritas nonkristen di seluruh dunia. Orang Sunda tak luput dari bidikannya, karena dianggap sebagai salah satu kelompok minoritas, dengan populasi Kristen kurang dari 2 persen.

2. Beja Kabungahan (Lampstand), lembaga yang dirintis sejak tahun 1969 oleh misionaris Amerika ini memfokuskan pendirian gereja dan penginjilan kepada suku Sunda di Jawa Barat.

3. Partners International (Mitra Internasional), lembaga yang berbasis di Spokane, Washington ini juga menargetkan suku Sunda, Jawa Barat. Dalam operasinya, mereka bekerja melalui Evangelical Theological Seminary Indonesia (ETSI) dan Persekutuan Kristen Sunda.

4. Frontiers, sebuah organisasi berbasis di Arizona ditujukan untuk menyebarkan kekristenan kepada umat Muslim di Jawa Barat.

5. Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), perwakilan dari lembaga penginjilan internasional The Orlando. Di Jawa Barat LPMI sangat aktif menyebarkan misi di kampus-kampus. Bulan Desember 2006 kelompok LPMI Malang Jatim bikin geger dengan melakukan ritual mengusir setan penghuni Al-Qur’an. Buntut pelecehan agama ini, 11 orang pendeta ditangkap dan divonis penjara masing-masing 5 tahun.

Selain itu, dua lembaga Kristen yang melakukan penginjilan secara radikal di Bekasi adalah Yayasan Mahanaim dan Yayasan Bethmidrash Talmiddin.

BEKASI SURGANYA PEMURTADAN

Jika dirunut, insiden Ciketing adalah proses konflik yang sangat panjang dan tak bisa dipisahkan dari banyaknya kasus kristenisasi yang menyulut gesekan antarumat beragama. Di Bekasi itu, para penginjil radikal melakukan kristenisasi dengan segala cara, termasuk menipu dan melecehkan agama lain. Inilah beberapa kasus kristenisasi di Bekasi sebelum pecahnya insiden Ciketing:

1. Sekolah Teologi ‘Pemurtadan’ Edhie Sapto

Pendeta berdarah Madura ini mendirikan Yayasan Kaki Dian Emas (YKDE), berlokasi di rumahnya, Kom­pleks Galaksi Jl Palem F-844 kelurahan Jaka Mulya, Bekasi Selatan. Dari komplek ini Edhie Sapto melakukan banyak kegiatan penginjilan, antara lain: penerbitan majalah Midrash Talmiddim, produksi CD qasidah kristiani, dan mengadakan Sekolah Alkitab Terampil dan Terpadu (SATT).

Secara terang-terangan, pendeta mantan pembunuh bayaran ini mewajibkan para mahasiswa SATT untuk mengkristenkan umat Islam minimal 5 orang sebagai syarat kelulusan. Program ini diumumkan secara terbuka di majalah: “Program SATT: Pengutusan siswa/siswi SATT dalam rangka mencari jiwa minimal lima jiwa dari saudara sepupu sebagai salah satu syarat kelulusan yang ada di Manado, Cilacap, Madura, Lampung dan Riau” (Midrash Talmiddim edisi 4, hal. 44).

Di majalah Midrash Talmiddin yang menjadi corong YKDE, secara berkala Edhie Sapto mengupas islamologi, yang ciri khasnya adalah mendiskreditkan Islam. Misalnya: menyatakan Allah dalam Al-Quran itu tidak Maha Peng­ampun dan tidak mem­berikan petun­juk; menuduh Nabi Muham­mad pernah jadi orang kafir; Muhammad seorang pemarah; Nabi Muhammad tidak memiliki mukjizat; dll.

Untuk memuluskan penginjilan melalui seni budaya, Edhie Sapto dan anak buahnya menerbitkan kaset dan CD audio qasidah kristiani, yaitu lagu-lagu doktrin Kristen berbahasa Arab dengan iringan irama padang pasir, agar bisa diterima oleh umat Islam. Beberapa judul lagu Qasidah tersebut antara lain: Isa Almasih Qudro­tulloh, Allahu Akbar, Laukanal­lohu Aba’akum, Isa Kalimatullah, Ahlan Wasahlan Bismi­robbina, Nahmaduka Ya Allah, dll.

Dengan intensitas penginjilan beridiom keislaman tersebut, kelompok Edhie Sapto mengklaim berhasil mengkristenkan minimal 50 orang dalam satu tahun. (Midrash Talmiddim edisi 3, hal. 15).

2. Blog Santo Bellarminus Menantang Perang

Blog Santo Bellarminus Bekasi ini sangat provokatif. Dalam blog bertitel “Habisi Islam di Indonesia” ini diposting tulisan dan foto-foto yang ditujukan untuk membangkitkan amarah umat Islam. Misalnya, dalam pesan berjudul “Habisi Islam di Indonesia!!” yang diposting hari Rabu, 21 April 2010 pukul 02:05 dengan gambar foto kitab suci Al-Qur’an dengan sampul warna hijau yang  dimasukkan ke dalam WC. Foto penghinaan ini diberi komentar sarkasme yang sangat tidak senonoh.

Penulis Blog Bellarminus ini menamakan diri berasal dari Gerakan Membasmi Islam (GMI) ini juga mencaci-maki Allah SWT, Nabi Muhammad dan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kata-kata yang hina dan jorok. Setelah puas mencaci maki Islam, blog Bellarminus mewajibkan umat Islam untuk pindah agama menjadi Kristen atau Katolik. Ia juga bersumpah untuk mengganyang Islam dari muka bumi.

3. Pelajar Kristen Lecehkan Al-Qur’an dengan Pose “Fuck You”

Di SMA Negeri 5 Bekasi, Felix Abraham Gradi, bersama dengan Yohanes Raditya (Joy), alumnus SMP Bellarminus berulah dengan membuat dua buah foto pose melecehkan Al-Qur’an.

Di sebuah ruangan kelas bulan Februari 2010, Joy memotret Felix berakting sambil memegang kitab suci Al-Qur’an dan mengacungkan jari tengah simbol “Fuck You.” Sedangkan foto kedua, Felix memfoto dirinya sendiri yang menginjak kitab suci Al-Qur’an. Kedua foto itu membuat geger umat Islam Bekasi, setelah diupload di blog Bellarminus.

Untuk meredam konflik akibat dua buah foto pelecehan ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi berinisiatif melaporkannya ke Polres Metro Bekasi. Setelah  diproses hukum, Felix terbukti bersalah melakukan penodaan agama dengan cara menginjak Al-Qur’an dan menyebut Al-Qur’an “Fuck You.” Pengadilan Negeri Bekasi pada Selasa (7/9/2010) memvonis Felix dengan hukuman satu tahun penjara.

4. Formasi Pedang Salib di Masjid Agung Bekasi

Belum reda panasnya penghujatan terhadap Islam di blog Bellarminus, sepekan kemudian Kristen radikal kembali memancing amarah umat Islam. Di pelataran Masjid Agung kebanggaan umat Islam Bekasi itu, mereka melakukan pawai berkedok Karnaval antinarkoba yang digelar dalam  rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Ahad (2/5/2010), dengan membawa panji-panji kristiani bertuliskan: Elshadai, Adonai, Yehova Rapha, Yehova Shalom, Yehova Nissi, Yehova Shammah, dll. Mereka juga membawa replica mahkota Paus dan bendera-bendera berlogo bintang David (David star).

Pukul 8.30 pagi saat jamaah Masjid Agung sedang khusyuk mendengar tilawah Al-Qur’an pada acara akad nikah, belasan peserta pawai memasuki pelataran masjid. Beberapa meter dari pintu utama masjid, mereka melakukan tari-tarian dan membentuk formasi “pedang-salib” menghadap ke barat. Sempat terjadi keributan, para satpam tak menahan para pembuat onar.

Meski acara itu menghebohkan umat Islam seluruh Bekasi, namun pelakunya belum tersentuh hukum. Baik Ketua Panitia Wong Cahyadi maupun Benny Tunggul selaku koordinator lapangan acara tersebut, hanya dimintai keterangan oleh polisi tanpa mendapat sanksi apapun.

5. Mahanaim Membaptis Ratusan Umat Islam dengan Cara Menipu

Misionaris radikal Kelompok Mahanaim Bekasi menipu ratusan umat Islam untuk dibaptis massal di Perumahan Kemang Pratama Regency.

Rabu siang (23/6/2010), sekitar lima ratusan warga Muslim di kawasan Senen, Jakarta Pusat diangkut ke kawasan elit Bekasi menggunakan 14 buah bus mini Kopaja. Mereka dijanjikan rekreasi, jalan-jalan dan renang gratis oleh para koordinator. Ternyata janji refreshing gratis itu bohong belaka. Mereka malah diboyong ke sebuah rumah tingkat beralamat di jalan Komala 2 di blok L nomor 14.

Warga yang sebagian besar ibu-ibu dan nenek-nenek berjilbab ini langsung digiring ke kolam renang yang tak seberapa luas. Ternyata rumah berlantai dua ini adalah milik Hendry Leonardi Sutanto, ketua Yayasan Kristen Mahanaim. Koordinator acara baptis massal tersebut adalah Andreas Dusly Sanau.

Andreas adalah pengurus Mahanaim yang dua tahun sebelumnya, menjadi panitia acara “Bekasi Berbagi Berbahagia” (B3). Ahad 23 November 2008 silam, Mahanaim menipu umat Islam dengan kedok lomba tumpang se-Bekasi yang akan dimasukkan ke MURI (Musium Rekor Indonesia). Ternyata pada acara tersebut peserta dimandikan di kolam buatan di lapangan sebagai prosesi pembaptisan. Para korbannya kebanyakan wanita dari anak-anak, remaja hingga nenek-nenek berjilbab.

Air Mata

“Dan mereka munyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS Al Israa[17]:109)

Seringkali, ketika sesuatu terjadi di luar rencana, harapan dan keinginan lewat tak tertangkap barulah manusia mengingat Dia. Sadar dirinya tak mampu berbuat apa-apa, jika Allah sudah berkehendak. Saat itu biasanya manusia menangis atau berkeinginan untuk menangis. Namun, tak lama bila ada harapan dan keinginan yang terwujud, maka tertawalah ia dan lupa lagi kepada Sang Pemberi Harapan.

Amat biasa, manusia menangis, melelehkan airmatanya, ketika merasa hancur, tujuannya gagal, harapannya kabur, dan cita-citanya berantakan. Atau, apabila yang telah diupayakannya mengalami kebuntuan.

Menangis adalah cara Allah menunjukkan kekuasaan dan kemahabesaranNya. Air mata itu mungkin saja diciptakan untuk menyadarkan manujsia agar senantiasa mengingatNya. Titik-titik air bening dari kelopak mata itu bisa jadi adalah teguran Allah terhadap riak kenistaan yang kerap mewarnai kehidupan ini.

Seperti Allah menurunkan hujan dari gumpalan awan untuk membahasahi bumi dari kekeringan hingga tumbuh sayur segar dan buah yang ranum. Seperti itulah barangkali tangis manusia akan membahasahi kekeringan hati dan melelehkan kerak kegersangan agar menghadirkan kembali wajah Dia yang mengiringi setiap langkah selanjutnya.

Semestinya, tangisan meluluhkan bongkah bongkah keangkuhan dalam dada, hingga timbul kesadaran hanya Dia yang berhak berlaku sombong. Air mata itu akan melelahkan pandangan mata dari m tangis manusia akan membahasahi kekeringan hati dan melelehkan kerak kegersangan agar menghadirkan kembali wajah Dia yang mengiringi setiap langkah selanjutnya.

Semestinya, tangisan meluluhkan bongkah bongkah keangkuhan dalam dada, hingga timbul kesadaran hanya Dia yang berhak berlaku sombong. Air mata itu akan melelahkan pandangan mata dari meremehkan orang lain dan semakin menjernihkan kacamata untuk lebih bias melihat kemahabesaran dan kekuasaan Alah. Titik titik bening itu akan membersihkan debu debu pengingkaran yang menyesaki kelopak mata yang menjadikan seringkali lupa bersyukur atas nikmat pemberianNya.

Semestinya pula, melelehkan air mata membuat hati tetap basah oleh ke tawadluan, qana’ah, dan juga cinta terhadap sesame. Air mata menjadi penyadar bahwa apa pun yang kita upayakan semua tergantung padaNya. Tak ada yang patut disombongkan pada diri di hadapan sesame apalagi di hadapan Dia. Air mata akan mengantarkan kita pada kekhusyukan.

Bersyukurlah bila masih bias meneteskan air mata. Namun, air mata menjadi tak ada atinya jika setelah tetes terakhir, tak ada perubahan apapun dalam langkah kita. Tak akan ada hikmahnya, bila kesombongan masih menjadi baju utama kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

Seorang Muslim Ditunjuk Sebagai Kepala Departemen Ilmuwan NASA

Lembaga riset aeronatika dan ruang angkasa AS, NASA menunjuk seorang ilmuwan muslim Waleed Abdalati sebagai kepala departemen ilmuwan NASA.

Pengumuman itu disampaikan oleh kepala administrator NASA Charles Bolden pada 13 Desember 2010. “Kami gembira Waleed bergabung kembali dengan NASA selama masa kritis periode transisi di NASA,” kata Bolden dalam pernyataannya.

“Pengalaman, pengetahuan yang luas di bidang ilmiah dan namanya yang sudah akrab di NASA, akan sangat menguntungkan bagi lembaga ini. Dia akan menjadi pendukung sejati bagi banyak program NASA di berbagai bidang keilmuan, riset dan eksplorasi,” tulis Bolden.

Abdalati efektif menjalankan jabatan barunya mulai tanggal 3 Januari 2011. Ia akan menjadi kepala penasehat bagi program-program ilmiah, perencanaan strategis dan investasi yang dilakukan NASA. Dalam melaksanakan tugasnya, Abdalati yang sekarang masih menjabat sebagai Direktur lembaga Earth Science and Observation Center di Universitas Colorado akan memastikan bahwa program-program ilmiah NASA sejalan dengan target Gedung Putih di bidang sains. Ia akan bersinergi dengan kantor Kebijakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta kantor Anggaran dan Manajemen Gedung Putih.

Sebelumnya, Abdalati yang giat meneliti kondisi es di kawasan kutub pernah menjabat sejumlah posisi dii NASA antara tahun 1998-2008 dan pernah mengepalai Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland.

Tanggap Darurat di Mentawai Dilanjutkan

PADANG – Hasil pertemuan antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan Pemerintah Kabupaten Kepualaun Mentawai tadi malam, masa tanggap darurat pascatsunami dilanjutkan lagi setelah sempat dicabut pada 22 November 2010.

“Tanggap darurat kembali dilakukan dan berakhir pada 31 Desember 2010,” kata Kepala BNPB Syamsul Ma’arif kepada wartawan di Padang.

Diperpanjangnya masa tanggap darurat atas permintaan dari Bupati Kepulauan Mentawai Edison Saleleubaja. Menurut bupati, masa tanggap darurat masih diperlukan karena masyarakat korban tsunami masih membutuhkan perawatan.
“Lagipula hunian sementara yang sedianya selesai sebelum Natal, tampaknya tidak tercapai,’ kata bupati.

Masa tanggap darurat dibutuhkan untuk masa penyaluran bantuan. Saat ini Pemkab kesulitan menyediakan anggaran, karena APBD 2011 belum ditetapkan.
Sampai saat ini, masyarakat di Mentawai belum bisa menggerakkan perekonomian karena masih trauma, sementara mereka membutuhkan transportasi dan makanan.

Sebelumnya, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menetapkan masa tanggap darurat selama dua minggu pasca gempa dan tsunami terjadi Mentawai pada 25 Oktober 2010. Lalu masa tanggap darurat diperpanjang dua minggu dan berakhir pada 22 November.(musfah

Gema Syahadat Para Mualaf di Masjid Sunda Kelapa

Hujan lebat mengguyur kawasan Jakarta, khususnya Menteng, Jumat (12/11) siang. Hujan yang turun saat shalat Jumat baru saja usai ditunaikan itu membuat ribuan jamaah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, lebih memilih untuk bertahan sembari menunggu hujan reda.

Apalagi pada saat bersamaan, di masjid tersebut ada prosesi pengislaman tiga mualaf. Mereka adalah Juan Alvarez Vita ( Duta Besar Peru untuk Indonesia), Julien Meltzer (seorang musisi asal Prancis), dan Peter John Cass (seorang pensiunan asal Kanada). Upacara pengucapan syahadat tersebut dipimpin Ustaz Dr H Abdurrahim Yapono MA dan disiarkan langsung melalui CCTV sehingga bisa disaksikan dengan jelas oleh para jamaah, baik yang berada di lantai satu maupun lantai dasar.

Setiap kali salah seorang dari mereka mengucapkan syahadat, jamaah berseru, “Allahu Akbar”. Setelah itu, Ustaz Abdurrahim bertanya dalam bahasa Inggris, “Sekarang, apa agama Anda?” Mereka menjawab, “Islam.” Abdurrahim lalu memberikan wejangan singkat mengenai tugas dan tanggung jawab menjadi seorang Muslim.

Dalam acara yang juga dihadiri dan disaksikan oleh dubes dari empat negara sahabat (Saudi Arabia, Iran, Somalia, dan Bosnia) itu, Ustaz Abdurrahim mengupas rukun Islam yang lima. Mulai dari syahadat, shalat fardhu lima waktu, kewajiban berzakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan pergi haji ke Tanah Suci bagi yang mampu melaksanakannya.

Kemudian, ia memimpin doa untuk ketiga mualaf tersebut maupun seluruh jamaah yang hadir. “Ya Allah, bahagiakan ketiga saudara kami ini, bahagiakan mereka di dunia dan akhirat, bahagiakan kami di dunia dan akhirat.”

Upacara tersebut ditutup dengan acara pemberian ucapan selamat. Ratusan jamaah menyalami, bahkan memeluk hangat ketiga mualaf tersebut. Wajah ketiganya semringah mendapatkan sambutan yang begitu hangat dari saudara-saudaranya sesama Muslim.

Seusai upacara ikrar syahadat, tiga orang mualaf itu diundang oleh Ketua Dewan Pengurus Masjid Sunda Kelapa, HM Aksa Mahmud, untuk berbincang di ruang pengurus. Dengan senang hati, Juan Alvarez Vita dan Julien Meltzer memenuhi undangan tersebut, sedangkan Peter John Cass sudah pulang lebih dahulu karena ada urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Juan Alvarez Vita dan Julian Metlzer berbagi cerita tentang perjalanan mereka menemukan Islam. Vita mengatakan, sebelum datang ke Indonesia ia telah mempelajari Islam selama 10 tahun. “Sejak berada di Indonesia empat tahun lalu, saya makin aktif belajar Islam, baik melalui diskusi-diskusi, khususnya dengan dua orang guru saya, Pujadi dan David, maupun membaca berbagai buku tentang Islam dan Alquran,” ungkapnya.

Setelah mengenal dan memahami ajaran Islam, Juan merasa ajaran Islam itu sangat indah. “Islam adalah agama yang cinta damai dan sangat menghormati eksistensi manusia. Namun, selama ini Barat melancarkan propanda yang menjelekkan Islam,” sesalnya.

Sementara Meltzer mengisahkan sudah mempelajari Islam sejak empat tahun lalu saat masih tinggal di Prancis. ”Dan, saya makin yakin kepada Islam setelah belajar Islam di Indonesia selama dua tahun,” ungkap Meltzer.

Pada kesempatan tersebut, Aksa Mahmud memberikan cendera mata berupa Alquran terjemah dan songkok hitam. Ia mengatakan, Masjid Sunda Kelapa secara aktif terlibat dalam kegiatan mengislamkan orang-orang non-Muslim yang memutuskan untuk menjadi Muslim (mualaf).

“Tiap minggu selalu ada orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Sunda Kelapa. Mereka berasal dari berbagai negara,” kata pengusaha nasional yang terjun ke politik (menjadi wakil ketua MPR priode 2004-2009 dan anggota DPD priode 2009-2014) dan kini menjadi pengurus masjid itu.

Kepala Bagian Mualaf Masjid Sunda Kelapa, Drs Anwar Sujana, menyebutkan, sejak 1993 sampai saat ini, Masjid Sunda Kelapa sudah mengislamkan belasan ribu orang. “Hingga November 2010, jumlahnya sudah mencapai 15.956 orang,” papar Anwar Sujana

Al-Qaradhawi Senang Qatar Jadi Tuan Rumah Piala Dunia

Syaikh Yusuf al-Qaradhawi mengatakan kepada para jamaah di Doha bahwa dirinya “dipenuhi sukacita” setelah pengurus sepak bola dunia FIFA hari Kamis lalu memilih Qatar dan bukannya Amerika Serikat atau tiga negara lain untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Pernyataan Syaikh al-Qaradhawi yang disampaikan pada khutbah Jumat (3/12) tersebut dikutip koran-koran Qatar hari Sabtu. Dia mengatakan, Qatar mengalahkan Amerika Serikat, yang menurutnya selalu berusaha mendominasi setiap urusan di dunia.
Sebagaimana dilansir AP (4/12), Presiden AS Barrack Obama mengatakan FIFA membuat “keputusan salah” dengan memilih Qatar. Namun para pemimpin Arab memandangnya sebagai gebrakan yang akan mengubah persepsi atas Timur Tengah.[di/ap/ hidayatullah.com]