Tokoh Oposisi Sudan Hassan Turabi Kembali Ditangkap

Pasukan keamanan Sudan menangkap pemimpin oposisi Hassan al-Turabi Selasa pagi ini (18/1), hanya beberapa jam setelah ia memperingatkan dalam sebuah wawancara akan ada pemberontakan bergaya Tunisia di Sudan.

“Pasukan keamanan membawa Turabi dengan banyak mobil keamanan, dan sempat bentrok dengan salah satu staf dan juga kemudian ditangkap,” sekretaris Turabi, Awad Babiker mengatakan kepada Reuters dari lokasi kejadian pada hari Selasa pagi ini.

“Negara ini telah dikenal dengan pemberontakan rakyat sebelumnya,” Turabi mengatakan kepada AFP dalam sebuah wawancara sebelumnya, merujuk pemberontakan rakyat yang menggulingkan rezim militer di negara Afrika terbesar pada tahun 1964 dan 1985.

“Apa yang terjadi di Tunisia adalah menjadi pengingat. Hal ini mungkin bisa saja terjadi di Sudan,” katanya, mengacu pada protes mematikan yang mendorong Ben Ali lari berlindung di Arab Saudi setelah 23 tahun berkuasa dengan tangan besi.

“Jika tidak, maka akan ada banyak pertumpahan darah. Seluruh negeri akan dikuasai militer. Di kota-kota hal itu akan menjadi pemberontakan rakyat, namun di Darfur, dan juga di Kordofa, mereka memiliki banyak senjata.”

Tokoh oposisi Sudan ini pada hari Minggu lalu mengancam akan turun ke jalan jika pemerintah tidak mencopot menteri keuangan dan membongkar parlemen atas keputusan mereka untuk menaikkan harga pada berbagai barang kebutuhan.

Kenaikan harga telah memicu protes mahasiswa di jantung utara pertanian negara itu.

Penggulingan Ben Ali dari kekuasaannya telah menggema di seluruh dunia Arab, meningkatkan kekhawatiran tentang stabilitas di negara-negara lain di kawasan yang berbagi campuran dalam hal yang sama baik dalam masalah sosial, ekonomi dan politik seperti Tunisia.

Penangkapan Turabi juga datang di saat yang sensitif secara politis bagi pemerintah Presiden Omar Hassan al-Bashir, yang harus kehilangan kontrol atas wilayah selatan penghasil minyak dalam referendum yang telah disetujui sebagai bagian dari kesepakatan damai 2005 hingga mengakhiri perang sipil utara-selatan .

Sudan juga jauh terjun ke dalam krisis ekonomi dengan defisit transaksi berjalan dan devaluasi mata uang yang membuat inflasi.

Bulan ini Khartoum memotong subsidi pada produk minyak dan komoditas gula, memicu protes selama seminggu terakhir, namun diatasi dengan tongkat dan tembakkan gas air mata ke arah demonstran.

Turabi adalah tokoh kunci dibalik kudeta tahun 1989 yang membawa Bashir menduduki tampuk kekuasaan dan telah menghabiskan masa yang panjang di penjara atau tahanan rumah atas komentar blak-blakannya sejak dirinya mulai beroposisi terhadap Bashir pada tahun 1999.

Jangan Tergesa-Gesa dalam Beribadah

Suatu hari, saat  Rasulullah SAW shalat, beliau mendengar suara gaduh di belakang. Seusai shalat Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, apa gerangan yang telah terjadi, sehingga terdengar suara gaduh pada saat shalat? Para sahabat menjawab: “Kami tergesa-gesa mendatangi shalat”. Rasulullah SAW kemudian bersabda: ” Jika kalian mendatangi shalat hendaklah kalian (berjalan dengan) tenang. Ikutilah raka’at yang dapat kalian ikuti dan sempurnakanlah raka’at yang tertinggal.” (HR Bukhari Muslim).

Tergesa-gesa adalah kondisi psikogis seseorang yang secara emosional ingin cepat-cepat melakukan sesuatu, kosong dari pertimbangan fikiran. Karena tanpa pertimbangan terlebih dahulu, maka aktivitas yang dilakukannya juga tidak produktif.

Apa yang terjadi dengan beberapa sahabat Rasulullah SAW seperti dalam kisah di atas juga menggambarkan, bahwa bila shalat dilakukan dengan tidak tenang dan terburu-buru akan merefleksikan shalat yang tidak khusyu’. Shalat tidak khusyu’ tentunya bukanlah shalat yang produktif, karena tidak menghasilkan pahala, kecuali hanya capek semata.

Yang dimaksud tergesa-gesa dalam hadis tersebut di atas adalah tergesa-gesa mendatangi shalat, bukan bersegera mendirikan shalat. Bersegera mendatangi shalat justru dianjurkan karena shalat yang utama adalah “al-shalat ‘alaa waqtiha” (shalat pada (awal) waktunya). Yang dimaksud bersegera mendirikan shalat adalah, ketika mendengar adzan, segala aktivitas ditinggalkan dan tanpa menunda-nunda segera mendatangi masjid. Berbeda dengan tergesa-gesa seperti tersebut dalam hadis tersebut di atas, tergesa-gesa di sini maksudnya, ketika mendatangi tempat shalat, ia berjalan terburu-buru dengan kondisi emosionalnya bergolak. Maka yang shahih adalah, ketika mendengar adzan segeralah tinggalkan aktivitas, ambil air wudlu berjalanlah ke tempat shalat dengan tenang jangan berlari-lari, menata hati karena akan bertemu dangan Allah.

Larangan tergesa-gesa ini merupakan aturan Islam yang mengandung nilai-nilai luar biasa. Orang tergesa-gesa biasanya tidak bisa mengontrol emosi dan pikirannya. Bahkan terkadang pikiran itu kosong dan emosinya dibiarkan mengeplong. Jika pikiran dan hati kosong, maka itu akan menjadi tempat kesukaan syaitan. Sehingga benarlah sabda Rasulullah SAW:

Terburu-buru untuk Lima Hal

الأناة من الله والعجلة من الشيطان

“Ketenangan itu dari Allah dan tergesa-gesa itu dari syaitan” (HR. Turmudzi dalam Sunan Turmudzi Bab Maa Jaa fii al-Ta’anni wa al-’Ajalah hadis no. 1935 juga terdapat dalam al-Muntaqa syarh Muwattha’ Malik).

Imam al-Manawiy dalam Syarh al-Jami’ al-Shaghir menjelaskan, bahwa tergesa-gesa dilarang karena hal itu akan mendatangkan was-was. Ketergesa-gesahan menghalangi keteguhan dan pemikiran matang. Al-Manawiy menambahkan bahwa tergesa-gesa itu sebenarnya adalah trik syaitan untuk menggoda manusia agar menjadi orang yang ragu dan kosong pikirannya. Imam Hasan al-Bashri mengatakan: ”Setiap shalat yang hatinya tidak hudlur maka shalat itu lebih cepat mengundang siksa”. Ketergesa-gesahan inilah yang menyebabkan hati tidak bisa hudlur. Amru bin ‘Ash mengatakan tergesa-gesa yang dilarang adalah terburu-beru pada sesuatu selain keta’atan tanpa ada rasa khouf pada Allah.

Agar shalat bisa khusyuk dan khudlu’,  al-Sayyid Abu Bakar al-Makki memberi tips, jika Anda hendak shalat, maka jangan lupa bahwa Allah melihat kepada hatimau, mengamati kamu dan sesungguhnya Dia hadir untuk menyaksikan kamu.

Imam Abdullah al-Haddad menambahkan, jika engkau tidak bisa khusyu’ maka buatlah suasana dirimu dalam shalat, seolah-olah engkau shalat pada saat itu untuk terakhir kalinya, di belakangmu sudah menuggu malaikat maut yang akan menjemputmu menuju kehadirat-Nya.

Suasana diri dan hati inilah yang barangkali dimiliki para sahabat, sehingga mereka ketika shalat begitu tenangnya berdiri sehingga kepalanya dihinggapi burung, dianggapnya sebuah tiang karena begitu tenangnya.

Sayyidina Ali r.a lebih luar biasa, pernah suatu kali, kaki beliau terkena panah ketika perang. Ali menyuruh para sahabat mencabut panahnya saat dia shalat, agar kata, Sayyidina Ali, tidak merasa sakit. Begitu nikmatnya para salaf shalih kita berdekatan dan berkomunikasi dengan Allah sehingga anak panah yang dicabut dari tubuhnya pun tak terasa. Inilah hikmah jika kita tidak terburu-buru melakukan ibadah.

Di antara hikmahnya juga adalah membentuk karakter mukmin yang bijaksana. Hadis-hadis dan petuah para salah shalih kita di atas secara lebih luas dapat dipahami sebagai pendidikan karakter untuk menjadi insan yang bijaksana (wisdom). Orang yang tidak bijaksana biasanya gagal mempertimbangkan hal-hal terselubung ini dan abai mempertimbangkan pro-kontra sebelum membuat keputusan atau mewujudkan suatu gagasan. Keteledoran sering mendatangkan akibat yang tidak diharapkan dan tak terduga.

Dengan memegangi prinsip Amru bin ‘Ash seperti di atas,  kita bisa menyimpulkan berarti ada ketergesa yang positif. Tentunya tergesa-gesa yang positif ini bukan berarti tanpa pikiran matang dan terkesan emosional. Jika ada embel-embel positif berarti makna itu sebenarnya sama dengan bersegera.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tergesa-gesa itu sifat tercela kecuali pada lima tempat. “Tergesa-gesa itu berasal dari syaitan, kecuali pada lima tempat, karena sesungguhnya tergesa-gesa dalam hal itu termasuk sunnah Rasulullah SAW. yaitu: Memberi makan kepada tamu, jika menginap. Mengurus jenazah orang yang sudah meninggal. Mengawinkan anak perempuan jika sudah baligh. Membayar hutang jika telah jatuh tempo pembayarannya. Dan bertaubat dari dosa jika terlanjur mengerjakannya.” Ketergesa-gesahan dalam lima perkara ini sebenarnya bukanlah ketergesa-gesahan, akan tetapi pensegerahan untuk cepat dilakukan dengan pemikiran yang jernih dan matang terlebih dahulu.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah, bahwa dalam melakukan sesuatu aktifitas apaun kegitan itu, seorang muslim harus memiliki pertimbangan matang agar tidak menyesal di belakang. Sifat sabar, dalam hal ini berperang penting mengontrol emosi yang tergesa-gesa.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Bukhari). Orang sabar dicintai Allah, orang yang tenang akan disayang Allah! Hiasilah jiwa denang sabar, tutupi jasadmu dengan takwa. Insya Allah kamu akan dekat dengan Nabi Muhammad sehingga dengan mudah menggapai cinta dan Ridla Allah Ta’ala. Wallahu a’lam bisshowab.

Lembaga Riset Islam Al-Azhar Serukan Untuk Kembali ke Sistem Syura

Dr Ismail Muhammad Sayyid Thanthawi, seorang ulama Al-Azhar dan juga anggota Majma’ al-Buhuts Islamiyah (lembaga riset Islam Al-Azhar), mengkritisi sistem demokrasi secara umum dan menyerukan umat Islam untuk kembali ke sistem Syura, sembari mengatakan: “Ini saatnya kita mengelola pemerintahan dengan sistem Syura yang ada dalam Islam, karena sistem tersebut kita melihatnya berbeda dari setiap sistem parlemen yang ada di seluruh dunia, baik di zaman dahulu maupun di zaman modern saat ini.”

Hal tersebut disampaikan oleh Dr Ismail Muhammad Sayyid Thanthawi selama seminar bulanan yang diselenggarakan oleh Majelis lembaga riset Islam Al-Azhar dengan judul “Aspek kebesaran syura Nabi dan toleransi,” Apakah ada dalam Pemilu?

Dalam menjelaskan itu semua Dr Sayyid Thanthawi menyatakan bahwa dalam sistem demokrasi yang menghasilkan pemilu, semuanya bersifat rahasia, menekankan bahwa dalam sistem Syura Islam, Dewan Syura justru lebih banyak berada di masjid masjid dan masyarakat bisa langsung bertemu serta menyampaikan pandangan mereka secara terus terang, tanpa takut akan sesuatu hal.

Dr Muhammad Sayyid Thanthawi menjelaskan kisah tentang Ratu Saba’ yang memiliki 313 konsultan dalam rangka mengurus pemerintahannya dan berkonsultasi dengan mereka setiap waktu, sedangkan khalifah Umar Bin Al Khattab, ra memiliki 6 sahabat utama dalam majelis syuranya dalam rangka membantunya menjalankan roda pemerintahan dan berkonsultasi dengan mereka dalam urusan kaum muslimin.

Dapatkah 12 Instruksi Presiden Menghabisi Gayus?

Presiden SBY tak tahan mendapatkan kritikan yang pedas dari berbagai kalangan, karena dinilai tidak tegas terhadap Gayus, dan penanganan para koruptor lainnya yang tidak jalan. Bahkan sangat terasa pemerintah SBY dipermainkan oleh para pelaku korupsi dan koruptor seperti Gayus. Sehingga, pengadilan menjadi ajang ujuk gigi para koruptor, seperti yang dipertontonkan Gayus di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Kemudian, Presiden SBY mengeluarkan 12 perintah untuk mempercepat penuntasan kasus mafia pajak yang melibatkan mantan pegawai Ditjen Pajak Gayus HP Tambunan. Presiden SBY juga memberikan tenggat waktu satu pekan. Terhitung sejak dikeluarkannya perintah. Diantara perintah Presiden itu,

1.Kepolisian, Kejaksaan, serta Kementerian Hukum dan HAM harus mempercepat dan menuntaskan kaus Gayus.

2.Tingkatkan sinergi antar penegakkan hukum yang melibatkan PPATK, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum dan KPK.

3.Lakukan audit kinerja dan keuangan di Kepolisian, Kejaksaan, dan Direktorat Jendral Pajak.

4.Penegakkan hukum dijalankan secara adil dan tidak pandang pulu, termasuk pada perusahaan yang memiliki msalah perpajakan.

5.Metode pembuktian terbalik dapat dijalankan.

6.Amankan uang dan aset-aset negara yang diduga hasil korupsi dari kasus Gayus.

7.Berikan sanksi hukum, bagi pejabat yang melakukan pelanggaran termasuk mutasi dan pencopotan.

8.Tata ulang lembaga yang melakukan penyimpangan.

9.Lakukan perbaikan sistem kerja dan aturan yang memiliki celah hukum.

10.Berikan laporan kemajuan penunasan kasus Gayus setiap dua pekan.

11.Umumkan kepada masyarakat penanganan kasus Gayus secara berkala.

12.Wakil Presiden Boediono memimpin pengawaan, pemantauan, dan penilaian instruksi presiden ini dibantu Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum.

Itulah 12 instruksi Presiden SBY terkait dengan penuntasan kasus Gayus. Demikian hebatnya Gayus harus secara khusus ada instruksi Presiden SBY langsung penanganannya. Ini menunjukkan aparat penegakkan hukum selama ini, tak mampu menyelesiakannya. Karena hampir semua aparat penegak hukum telah ‘termakan’ oleh Gayus.

Keputusan yang merupakan instruksi Presiden itu merupakan hasil rapat kabinet terbatas, yang dipimpin langung Presiden. Menanggapi sikap pemerintah yang telah mengeluarkan instruksi itu, Guru Besar Hukum Pidana Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji, mengatakan, “Instruksi khusus Presiden tentang kasus Gayus bersifat umum dan tidak luar biasa, karena mekanisme in sudah dilakukan penegak hukum”, ucap Adji.

Sementara itu, anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo, pesimistis, 12 instruksi Presiden tentang penegakkan hukum tidak akan menyelesaikan masalah. “Presiden telah berulang kali mengeluarkan instruksi serupa, tetapi pelaksanaannya tak pernah efektif. Sebelumnya, Presiden menginstruksikan kasus Gayus harus bisa dituntaskan 60 hari. Sampa hari ini maslah justru semakin rumit”, ujar Bambang Soesatyo.