Gejala Buruk Pengkeramatan Kuburan

Aneh, Kuburanpun Dianggap Berfakultas dan Jurusan

SALAH satu penyakit akidah yang menjangkiti Ummat Islam di Indonesia adalah kegemarannya mengkultuskan kuburan nenek moyang dan sosok yang dianggap saleh, untuk dijadikan perantara meminta berkah, kesehatan, minta anak, jodoh, jabatan dan berbagai hajat lainnya.

Kenyataan adanya kepercayaan yang salah bahkan merusak aqidah Islam, contohnya keberadaan makam Walisongo tidak lepas dari mitos. Konon, bila orang punya tujuan tertentu berziarah ke makam Walisongo, doa-doanya akan dikabulkan.

โ€Orang yang ingin mendapat ilmu biasanya berziarah ke makam Sunan Kalijaga, mendapat harta pergi ke makam Sunan Kudus, dan bila ingin mendapat kedudukan berziarah ke makam Raden Fatah,โ€ ungkap Soleh, salah satu penjaga makam Raden Fatah di halaman Masjid Agung Demak sebagaimana dikutip oleh koran di Jakarta beberapa waktu lalu.

Demikian di antara isi bedah buku “Kuburan-kuburan Keramat” di Nusantara karya Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede di Islamic Book Fair 2011/ 1432H di Istora Senayan, Jakarta, Kamis 10 Maret 2011. Dua pembicara dihadirkan oleh penerbit Al-Kutsar Jakarta untuk membedah buku ini, yakni penulisnya, Hartono Ahmad Jaiz, dan pembandingnya dari MUI Pusat, Dr Cholil Nafis. Acara ini dipandu oleh redaktur penerbit buku itu, Abduh Zulfidar Akaha.

Dijelaskan, masalah dikeramatkannya kuburan-kuburan bukan hanya menggejala di satu tempat, namun sudah menjangkit ke mana-mana, dan jumlahnya sangat banyak. Sebagai contoh, ada tulisan “Daftar Makam Keramat di Kabupaten Bandung Jawa Barat yang Terdeteksi” di situs kaskus, disebutkan ada satu kecamatan yang makam keramatnya sampai 51 tempat, lengkap dengan nama kuburannya dan alamatnya. Kemudian masih diberi komentar, “Dari sekian Banyak makam di sini masih sangat banyak yang belum ditulis karna tempat yang jauh dan di tengah hutan…..” (kaskus.us, 12-09-2010, 08:32 AM, Ireng_kencana).

Banyaknya makam yang dikeramatkan di berbagai tempat itu menjadikan keprihatinan para ulama yang masih punya kepedulian dan menyayangi Ummat Islam agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan yang nyata.

Seorang Syaikh dari Timur Tengah yang berceramah di Radio Rodja Cilengsi Bogor diterjemahkan Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsuddin, Selasa 05 Oktober 2010 tentang pentingnya Tauhid menyebutkan, di dunia Islam ada 20.000 kuburan yang dikeramatkan, yang dapat mengakibatkan pelakunya melakukan kemusyrikan yang mengeluarkan dari Islam.

Kalau toh tidak sampai terjerumus ke dalam kubangan kemusyrikan, masalah berkaitan dengan kuburan ini menimbulkan pula amaliah yang belum tentu sesuai dengan syariโ€™ah. Termasuk, sekedar membaca Al-Qurโ€™an. Membaca Al-Qurโ€™an di kuburan merupakan amalan yang tidak ada tuntunannya, namun oleh mereka diyakini sebagai amal baik yang layak dilakukan saat melakukan ziarah kubur.

Buku ini ditulis berdua (Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede), dengan judul “Kuburan-kuburan Keramat di Nusantara”. Isinya mengenai sejumlah kuburan yang dikeramatkan di berbagai tempat di Indonesia. Tema ini menambah wawasan bagi yang telah membaca buku “Pendangkan Akidah Berkedok Ziarah di Balik Kasus Kuburan Keramat Mbah Priok”. Dan akan lebih jelas lagi rangkaiannya dengan membaca buku yang baru terbit dan beredar di IBF 5-13 Maret 2011 itu berjudul Lingkar Pembodohan dan Penyesatan karya Hartono Ahmad Jaiz dkk terbitan Pustaka Nahi Munkar Surabaya.

Menurut penulisnya, buku “Kuburan-kuburan Keramat di Nusantara” ini dimaksudkan untuk mengingatkan, tugas untuk berdaโ€™wah di masa kini dan kemungkinan di masa mendatang relative cukup berat. Karena masalahnya menyangkut hal yang rumit dan pelik, sekaligus mengenai jantung utama dalam melaksanakan Islam yaitu aqidah Islamiyah, keyakinan Islam.

Kenapa?

Karena masalah pengkeramatan kuburan itu berkaitan langsung dengan aqidah, yakni rawan kemusyrikan. Sedang kemusyrikan atau syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya) itu adalah dosa paling besar, apalagi kalau syirik akbar (besar) maka mengeluarkan pelakunya dari Islam. Hingga kalau pelaku syirik akbar itu mati dalam keadaan belum bertaubat maka haram masuk surga dan kekal di neraka.

Resikonya:

  1. Seluruh amaliahnya batal, sia-sia.
  2. Keluar dari Islam.
  3. Haram masuk surga
  4. Kekal di neraka.
  5. Kalau keluar dari Islam maka batal pernikahannya, dan tidak boleh waris mewarisi dengan orang Islam.

Kenapa sampai segawat itu bahayanya?

Ya, karena menyangkut masalah aqidah (keyakinan), yaitu mengalihkan doa (ibadah) dan rangkaiannya (pengorbanan/ persembahan, nadzar dan sebagainya) yang mestinya hanya untuk Allah namun dialihkan kepada isi kubur (mayat) yang dikeramatkan. Padahal itu merupakan pelanggaran yang paling besar menurut Islam, maka bahayanya dalam merusak aqidah pun sangat dahsyat.

Dalam buku ini dibahas rangkaiannya dan juga dalilnya. Karena pada dasarnya, ramainya orang ke kuburan-kuburan para wali atau kuburan yang dianggap keramat di waktu-waktu tertentu, misalnya sangat ramai ketika menjelang bulan puasa, sedang bulannya itu sendiri yakni Syaโ€™ban disebut Bulan Ruwah (dikaitkan dengan roh atau arwah) itu adalah tradisi dari luar Islam yakni Hinduisme. Makanya ziarah kubur saat itu disebut nyadran, dari lafal ajaran Hindu:srada atau sadra, artinya menghormati leluhur. Jadi tradisi nyadran itu bukan dari Islam, walau ziarah kubur itu sendiri diajarkan dalam Islam. Namun kenyataannya โ€”yang dipraktekkan banyak orangโ€” jauh berbeda dengan yang diajarkan Islam, yakni tidak menentukan waktu-waktu tertentu, hanya untuk mengingat akherat dan mendoakan mayit isi kubur yang Muslim.

Itu semua dijelaskan di buku ini.

Penyelisihan yang jauh dari Islam itu lebih jauh lagi ketika tujuan orang-orang yang berziarah kubur pun menurut penuturan para juru kunci, untuk meminta apa-apa yang dihajatkan. Bahkan ada juru kunci yang mencatat hajat masing-masing peziarah untuk dijadikan apa yang mereka sebut pengantar dalam doa (meminta kepada mayat). Hingga kuburan-kuburan itupun dianggap ada fak-fak atau jurusan-jurusan masing-masing. Yang mau lancar rezekinya maka juru kunci menunjuki ke kuburan wali Anu. Yang ingin naik jabatan maka ke kuburan wali Anu yang lain lagi. Asraghfirullah al โ€˜adhiem. Betapa jauhnya dari apa yang diucapkan setiap shalat, membaca al-fatihah:

ุฅููŠูŽู‘ุงูƒูŽ ู†ูŽุนู’ุจูุฏู ูˆูŽุฅููŠูŽู‘ุงูƒูŽ ู†ูŽุณู’ุชูŽุนููŠู†ู

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. (QS Al-fatihah [1] : 5)

Larangan berdoa kepada selain Allah pun telah ditegaskan dalam Al-Qurโ€™an:

ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฏู’ุนู ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ููŽุนููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุถูุฑูู‘ูƒูŽ ููŽุฅูู†ู’ ููŽุนูŽู„ู’ุชูŽ ููŽุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุฅูุฐู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธูŽู‘ุงู„ูู…ููŠู†ูŽ (106) ูˆูŽุฅูู†ู’ ูŠูŽู…ู’ุณูŽุณู’ูƒูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจูุถูุฑูู‘ ููŽู„ูŽุง ูƒูŽุงุดูููŽ ู„ูŽู‡ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู‡ููˆูŽ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูŠูุฑูุฏู’ูƒูŽ ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู ููŽู„ูŽุง ุฑูŽุงุฏูŽู‘ ู„ูููŽุถู’ู„ูู‡ู ูŠูุตููŠุจู ุจูู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุบูŽูููˆุฑู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู…ู [ูŠูˆู†ุณ/106-107]

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.ย ย Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Yunus [10] : 107)

Berdoa adalah ibadah, maka orang yang berdoa memohon kepada selain Allah (isi kubur, roh orang yang dipatungkan dan sebaginya) berarti adalah menyembahnya. Maka Syaikh As-Syinqithi dalam Tafsir Adhwaaul Bayan menggolongkan lafal zalim dalam QS. Yunus [10] : 106 (jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim) itu artinya adalah kafir. Sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah [2] : 254, dan QS Luqman [31] : 13.

Kenyataan jauhnya praktek penyimpangan di kalangan Ummat Islam, tampaknya semakin menjadi-jadi, sedang secara jumlah pun semakin berkembang subur. Kenapa? Pasti ada penyebabnya atau factor-faktor yang mendorongnya.

Perlu kita tengok, gejala buruk ini mesti ada pemicunya, bahkan mungkin ada penggeraknya. Kita tengok ke sepuluhan tahun yang lalu, bagaimana keadaan yang menggiring ke arah carut marutnya pemahaman dan pengamalan Ummat Islam terhadap agamanya. Sebagai gambaran singkat, mari kita simak kutipan berikut ini:

Dalam kata pengantar buku kami (Hartono Ahmad Jaiz) berjudul Tasawuf, Pluralisme, dan Pemurtadan terbitan Pustaka Al-Kautsar 2001 di antaranya ditulis:

Perlu diingat, kalimah syahadat pun diacak-acak Nurcholish Madjid dengan cara menerjemahkannya menjadi Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar). Sedang lafal Assalamu’alaikum diinginkan Gus Dur untuk diganti dengan selamat pagi. Kuburan pun diberi istilah “keramat” entah oleh siapa, yang kandungannya rawan syirik. Lalu Gus Dur menghidupkan Sunnah Sayyi’ah (jalan keburukan) tentang pengeramatan itu dengan menghadiri kuburan Joko Tingkir di Lamongan Jawa Timur yang tak banyak dikenal orang, akibatnya praktek rawan kemusyrikan itu marak kembali sejak Juli 1999. (Tulisan ini bukan berarti anti ziarah kubur, namun dalam hal ini jelas kaitannya dengan pengeramatan kuburan yang jelas mengandung kerawanan syirik). Sementara itu pihak Nasrani lewat Nehemia-nya mengacak-acak Islam dengan menyebarkan lembaran-lembaran yang disebut โ€œDakwah Ukhuwahโ€ padahal isinya memutar balikkan ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadits. (Kata Pengantar buku Hartono Ahmad Jaiz, berjudul Tasawuf, Pluralisme, dan Pemurtadan terbitan Pustaka Al-Kautsar 2001).

Pembaca yang kami hormati, dari keadaan ditulisnya pristiwa itu hingga kini jaraknya hanya dalam masa sepuluhan tahun, tetapi ternyata perusakan agama itu sudah sedemikan dahsyat dampaknya. Di antaranya:

  1. Pluralisme agama yang bahasa Islamnya adalah kemusyrikan baru (namun karena istilahnya tidak diambil dari istilah Islam maka Ummat Islam tidak faham) sudah merambah ke mana-mana. Sampai-sampai akan diselenggarakan perayaan lintas agama di Senayan Jakarta, Ahad 06 Februari 2011, bahkan tokoh utamanya ketua umum Muhammadiyah Din Syamsuddin dan direncanakan akan didatangkan 10.000-an orang dari berbagai agama. Acara itu disertai pula doa bersama antar agama, yang tentu saja hal itu sama sekali tidak sesuai dengan Islam. Sebagaimana telah berlangsung acara yang mengagetkan, apa yang disebut haul memperingati kematian Gus Dur tahun pertama Desember 2010 diadakan doa bersama antar agama dan tahlilan serta yasinan di gereja di Jombang. Itu di samping acara lainnya, haul Gus Dur disertai tahlilan dengan diadakan pula arak-arakan barongsai dari keyakinan Konghucu Cina.
  2. New Age Movement suatu keyakinan spiritual yang mengambil dari agama-agama Timur dalam bentuk spiritual, tidak mengakui Tuhan di luar diri manusia, tidak percaya taqdir dan akherat; namun keyakinan batil itu merebak ke mana-mana.
  3. Kubur-kubur yang dikeramatkan pun semakin mengkristalkan sikap kultus yang luar biasa, hingga satu kuburan keramat di Tanjung Priok Jakarta (kuburan Mbah Priok) mampu mengerahkan pembela-pembelanya sampai ribuan orang dan ada yang masih dibawah umur (alias anak-anak) namun jibaku seolah seperti berjihad dalam agama, ketika membela kuburan yang mereka anggap keramat. (lihat buku Pendangkan Akidah Berkedok Ziarah di Balik Kasus Kuburan Keramat Mbah Priok).
  4. Penguasa pun terseret ke pemahaman yang sama sekali tidak berlandaskan ilmu yang benar, serta tanpa landasan agama yang benar, hingga satu kuburan dibiayai Rp180 milyar. Yakni kuburan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) di Jombang.
  5. Para pemegang kekuasaan, baik tingkat daerah maupun pusat yang bersikap tanpa landasan yang benar seperti itu mengakibatkan suburnya kesesatan yang nyata, hingga kuburan itu kabarnya setiap hari dikunjungi ribuan orang.

Kesesatan dan Maksiat Dipelihara Bahkan Dikembang Suburkan

Keadaan Ummat Islam yang digiring ke tempat-tempat yang rawan kemusyrikan seperti itu jelas sangat membahayakan. Bahkan yang lebih menyedihkan, kemusyrikan dengan aneka ubo rampe-nya (perangkat) dan tetek bengek-nya (aneka macamnya) itu seakan dipiara bahkan dikembang suburkan. Itupun oleh aneka pihak.

Masih ada yang lebih memprihatinkan lagi, ketika kemusyrikan itu dipelihara dengan menyuburkan pelacuran tanpa malu-malu dan tega pula menyebut tempat mesum dan kemusyrikan itu sebagai tempat wisata. Ini bukan cerita khayal, tetapi terjadi nyata di negeri yang disebut religious alias agamis, padahal tidak bermoral dan merusak agama. Yakni apa yang terjadi di kuburan Gunung Kemukus di Jawa Tengah.

Di zaman Presiden Soeharto, pernah Media Dakwah terbitan Dewan Dakwah memberitakan, MUI Kabupaten Sragen meminta agar tempat mesum dan kemusyrikan di kuburan itu ditutup. Namun malah MUI dibalikin (dibantah dengan membalikkan perkataan), agar MUI mengganti retribusi yang setiap waktu diterima Pemda.

Benar-benar memalukan. Itu lebih โ€œsopanโ€ ketika ada seorang tetangga yang anaknya jadi pelacur, misalnya, lalu dinasihati orang, agar menghentikan anaknya yang merusak moral masyarakat itu. Lalu dijawab, kalau begitu, ya silahkan kamu ganti duit yang setiap saat aku terima dari anakku yang pelacur itu.

Kenapa lebih โ€œsopanโ€, karena perusakan dari satu orang itu hanya akan menimpa sejumlah kecil korban. Bahkan setelah dinasehati seperti itu mungkin kemudian keluarga itu minggat atau menghilang. Tetapi kasus Gunung Kemukus yang memalukan itu masih dipelihara sampai sekarang. Walaupun yang dulunya beralasan seperti itu mungkin sudah dipanggil Allah Taโ€™ala untuk tunggu giliran dalam mempertanggung jawabkan perbuatannya, atau sudah pension atau tidak berkuasa lagi, namun penerusnya masih meneruskannya.

Itulah kenyataan sengaja merusak moral masyarakat dan memporak porandakan aqidah Ummat yang dilakukan oleh orang-orang yang mendapatkan amanat. Di saat tempat pelacuran dapat dihapus di berbagai tempat, bahkan di Kramat Tunggak Tanjung Priok dapat dibredel kemudian didirikan Masjid dengan Islamic Center, ternyata kalau pelacuran itu plus kemusyrikan seperti di kuburan Gunung Kemukus justru diberlangsungkan. Betapa tidak punya rasa malu, mereka itu.

Lantaran ngeyelnya para perusak masyarakat namun menduduki jabatan apa yang disebut pamong (pengasuh rakyat), ditambah dengan aneka pihak yang sejalan dalam merusak moral masyarakat dan agama Ummat, maka dalam rentang waktu yang baru sepuluhan tahun-an saja kerusakannya telah sebegitu dahsyatnya. Oleh karena itu, penulis mengungkapkan, atas pertolongan Allah Taโ€™ala, menyusun buku ini adalah untuk membendung dan bahkan memberantas ketidak lurusan itu semua. Agar Ummat Islam ini memahami betapa besar bahaya yang melanda bagi Ummat ini. Setelah itu semoga mereka kembali ke jalan yang benar, bertaubat, dan tidak lagi mendekati praktek-praktek yang rawan syirik.

Untuk mengembalikan kepada ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Qurโ€™an dan As-Sunnah secara pemahaman para ulama yang mengikuti manhaj yang selamat, buku ini diberi ulasan-ulasan mengenai hal yang menyimpang berkaitan dengan kuburan. Ulasan itu dilandasi dengan dalil-dalil yang jelas, sehingga para pembaca diharapkan mampu menyerapnya dengan baik.

Penguasa Kebijakannya Menyelisihi Aturan

Dalam buku ini di sana sini ada nada mengharap agar pihak-pihak yang berkuasa tidak menambahi terjerumusnya Ummat Islam kepada kesesatan bahkan kemusyrikan berkaitan dengan kuburan. Entah dengan dalih cagar budaya, pelestarian sejarah atau apapun, yang jelas kalau itu mendukung kemusyrikan maka sama sekali bukan kebijakan yang mengikuti aturan, bila melestarikannya. Karena aturan secara konstitusi justru agama ini (Islam) dilindungi atau dijamin, sedang membiarkan bahkan mendukung adanya penyelewengan agama (dari tauhid kepada syirik) itu berarti bukan melindungi agama tetapi adalah mendukung adanya penyelewengan bahkan perusakan agama.
Jadi dua perkara yang dilanggar oleh para penguasa bila yang terjadi seperti itu, yakni melanggar konstitusi dan sekaligus melanggar agama.

Ketika kondisinya seperti itu, sedang semuanya diam, bahkan menganggapnya wajar, maka seakan buku ini justru dianggap aneh.

Untuk membuktikan bahwa buku ini ibarat barang putih, sedang lakon yang disoroti di buku ini adalah lakon yang gelap bila ditimbang dari dalil agama (Islam), maka pembaca dipersilakan menyimak lembar demi lembar (362 halaman). Insya Allah akan ketemu bukti-buktinya.

Gubernur: Hentikan Pengeboran Lapindo Brantas

Rencana PT Lapindo Brantas yang akan melakukan pengeboran gas lebih dalam di tujuh titik di Desa Kalidawir, Tanggulangin, Sidoarjo mendapat perhatian serius dari Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. Ia menghimbau PT Lapindo Brantas agar tidak melakukan pengeboran yang bisa menimbulkan kekhawatiran terhadap warga sekitar. Meski mengaku sudah memiliki izin pengeboran minyak dari mantan bupati Win Hendrarso, namun Soekarwo meminta PT Lapindo Brantas untuk tetap menghormati sikap masyarakat. โ€œMeski sudah punya izin, tapi dengarkan suara masyarakat. Jangan dilanggar aturan itu,โ€ tegas Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo, di Kantor Gubernuran, Surabaya, Jumat (11/3).

Dalam era demokrasi, kata Pakde Karwo, pemerintah harus melibatkan masyarakat dalam mengambil keputusan dan kepentingan bersama yang harus diutamakan dan didukung. Kegiatan eksplorasi harus mempertimbangkan lingkungan dan mendapat izin gangguan (HO). โ€œPengeboran harus mempertimbangkan sikap masyarakat dan dampak lingkungan. Tidak bisa diteruskan jika belum menyelesaikan masalah ini,โ€ katanya.

Ia mengungkapkan sudah berbincang dengan Bupati Sidoarjo, Saiful Illah, untuk membicarakan kemungkinan buruk tentang pengeboran PT Lapindo Brantas. Pakde Karwo menyatakan sudah berpesan agar Pemkab Sidoarjo mengutamakan masyarakat daripada memenuhi permintaan korporasi. โ€œMasyarakat bukan menolak pengeboran, tapi takut terjadi luapan lumpur Lapindo di wilayahnya. Hal-hal ini yang harus diantisipasi agar jangan terulang lagi,โ€ katanya.

Karena sudah tahu sikap warga setempat, Soekarwo mendesak penghentian pengeboran sebagai solusi terbaik. Pasalnya, masyarakat trauma jika di wilayahnya terjadi kasus semburan lumpur seperti di Porong, yang membuat ribuan orang terusir dari rumahnya akibat terendam lumpur yang keluar dari sumur bor.

โ€œPT Lapindo Brantas jangan berpegangan pada aturan izin yang dikeluarkan pemerintah pusat. Jika masyarakat menolak, izin bisa dicabut oleh BP Migas dengan rekomendasi kami,โ€ kata Pakde Karwo.

Di Balik Manuver Dua Kubu di Libya

TIDAK sebagaimana revolusi rakyat di Tunisia dan Mesir yang berakhir dengan melegakan meskipun tetap menelan korban jiwa, namun situasi di Libya kelihatannya lebih kompleks dan sulit. Situasi hingga tiga minggu lebih sejak unjukrasa anti rejim meletus 17 Februari lalu mengarah kepada kondisi yang makin tidak jelas karena kedua kubu (rejim dan revolusioner) masih sulit untuk saling mengatasi dengan kekuatan militer sehingga warga sipil yang paling menderita akibatnya.

Batalion-batalion dari unsur keamanan terlatih yang masih setia kepada rejim disamping pasukan angkatan udara (AU) ditambah lagi dengan tentara bayaran terutama dari sejumlah negara Afrika, dilihat dari sisi persenjataan dan ketrampilan tempur memang lebih unggul dari kaum muda revolusioner dan tentara yang membelot. Apalagi selama ini dikenal tentara Libya tidak begitu terlatih baik sebab Qadhafi lebih menfokuskan pada batalion keamanan selaku pelindung rejim yang dipimpin oleh putra-putranya dan keluarga dekat kepercayaannya.

Diperkirakan jumlah batalion keamanan yang masih setia sekitar 10 ribu personil dengan persenjataan yang jauh unggul dari kelompok revolusioner. Namun salah satu kelemahannya adalah spirit, sebab pertempuran yang mereka lakukan adalah bukan melawan musuh tapi rakyat sendiri sehingga ditengarai mereka kadang-kadang sengaja meluputkan sasaran dan yang lebih demoninan bertempur adalah tentara-tentara bayaran.
Di lain pihak, kelompok revolusioner bersama tentara yang membelot sangat kekurangan senjata berat. Mereka masih mampu mengimbangi dikarenakan semangat tempur dan dukungan sebagian besar rakyat Libya disamping dukungan internasional kepada Dewan Transisi Nasional pimpinan mantan Menteri Kehakiman, Mustafa Abdul Jalil yang kian hari makin banyak negara yang menyatakan dukungannya.

Kondisi seperti demikian, menyebabkan sangat sulit dari kedua belah pihak untuk saling mengalahkan. Memang sebagian besar wilayah negeri seluas 1,7 juta km2 itu telah dikuasai kelompok revolusioner yang didukung tentara yang membelot dari rejim Qadhafi, namun sebagian rakyat terutama kabilah (suku) asal Qadhafi dan suku-suku lainnya yang berkoalisi dengannya masih belum menentukan sikap tegas mendukung mundurnya rejim yang telah berkuasa sekitar 42 tahun itu.

Seruan demi seruan yang dilakukan sejumlah tokoh Libya baik di dalam maupun di pengasingan bersama sejumlah ulama terkemuka Arab semisal Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi agar seluruh rakyat menentang rejim tak begitu berpengaruh paling tidak hingga saat ini karena fanatik suku nampaknya masih berperan sebagai salah satu faktor penentu mengapa Qadhafi masih bersikeras bertahan. Bahkan sejak beberapa hari lalu, ia aktif mengirim utusannya ke mancara negara terutama Mesir dan sejumlah negara Eropa untuk mengimbangi upaya kelompok revolusi mendapat pengakuan internasional.

Sebagian kabilah yang selama ini dimanjakan rejim dan punya kepentingan terhadap langgengnya rejim sekarang, memang sangat sulit untuk diajak melawan bersama kubu revolusi. “Keinginan sebagian kabilah agar rejim tetap bertahan sama dengan keinginan rejim untuk mempertahankan legitimasi kekuasaannya,” papar sejumlah analis.

Berbagai upaya dari kedua kubu tersebut, kelihatannya tidak akan dengan sendirinya segera mengakhiri pertumpahan darah dan kerugian materi yang dialami negeri yang memiliki cadangan minyak terbesar di Afrika dengan penduduk hanya 6,5 juta jiwa itu.

Bahkan sejak, Rabu (9/3) angkatan udara Qadhafi telah menyerang kilang minyak yang sejauh ini dikuasi oleh para penentang rejim yang mengisyaratkan tekadnya untuk membumihanguskan setiap target yang bisa menjadi kekuatan kaum revolusioner.

Sebenarnya faktor dukungan dalam negeri terutama dari seluruh suku yang ada, paling menentukan siapa akhirnya yang akan segera memenangkan perang saat ini meskipun hampir dipastikan bahwa kemenangan pada akhirnya akan berpihak kepada gerakan perubahan status quo. Tapi yang menjadi permasalahan serius adalah kemenangan tersebut jangan sampai dicapai dengan korban jiwa dan kehancuran mengerikan.

Pembagian peta kekuataan masing-masing kubu saat ini yang terpecah menjadi bagian wilayah pantai timur pendukung revolusi dan wilayah pantai bagian barat sebagai basis dukungan Qadhafi mengingatkan kembali kepada sejarah negeri itu. Disini kita menyebutkan wilayah pantai, mengingat 80 % penduduk negeri itu hidup di daerah-daerah sekitar pantai sebab sebagian besar wilayah pedalaman adalah gurun pasir.

Kedua wilayah tersebut hingga pertengahan abad 20 (tahun 1950-an) masih terpisah secara budaya dan politik. Raja Idris Al-Sanusi baru dapat menyatukannya di bawah Kerajaan Libya Bersatu yang tidak lama setelahnya dikudeta Qadhafi dan kawan-kawan yang selanjutnya tetap membiarkan negara dalam bentuk loyalitas kepada suku-suku.

Faktor loyalitas kepada suku tersebut oleh banyak analis Arab yang menyebabkan revolusi di Libya tidak berjalan damai seperti halnya negeri jirannya di Tunisia dan Mesir. Bila batalion Qadhafi menang (jauh dari kemungkinan) maka dipastikan pembunuhan akan berlanjut, sementara bila kaum revolusioner menang (lebih dekat kepada kenyataan) maka dipastikan akan terjadi balas dendam atas para tentara dan suku yang setia kepada Qadhafi yang dianggap sebagai penyebab keterpurukan mereka selama 42 tahun.

Dengan keluarnya status upaya perubahan di Libya sebagai revolusi damai, itu berarti, kedua skenario tersebut diatas akan mengakibatkan genangan darah masih akan berlanjut apalagi kaumย  revolusioner saat ini telah merebut banyak senjata dari gudang-gudang senjata yang ditinggalkan rejim. Mereka juga telah mendapat pelatihan militer cukup memadai dari para tentara Libya yang membelot dari rejim.

Apabila kondisi ini berkepanjangan atau dengan kata lain rejim bersikeras mempertahankan kursi kekuasaan maka lambat laun dapat mengarah kepada perang saudara berkepanjangan. “Kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan karena tidak ada kubu yang akan dapat segera mengatasi kubu lain dengan kekuatan militer sehingga dapat mengarah kepada perang saudara yang lebih mengerikan,” papar sejumlah analis dan pakar militer Arab.

Upaya manuver

Ditengah pertumpahan darah yang masih sengit, setiap kubu berusaha melakukan manuver untuk melemahkan kubu lainnya. Kubu Qadhafi misalnya melakukan manuver dengan menghembuskan isu keinginannya untuk lengser dengan syarat dia dan keluarganya bebas memilih negara pengasingan tanpa dikejar tuntutan hukum oleh kubu revolusioner. Bahkan dilaporkan, ia telah mengirim utusannya ke Benghazi, pusat kekuasaan kubu revolusi untuk membicarakan hal itu.

Tujuan utama isu lengser tersebut adalah untuk memecahbelah barisan kubu revolusioner karena dengan kondisi sekarang yang sudah berdarah-darah maka sulit bagi rakyat untuk memaafkan rejim yang telah menyebabkan ribuan orang korban jiwa. Rejim berharap perpecahan dalam kubu revolusi akan sangat penting artinya untuk mengembalikan kepercayaan rakyat yang selanjutnya dapat merebut kembali wilayah-wilayah yang telah dikuasai kubu revolusi.

Berbagai isu yang dicoba dihembuskan dan masih terus dihembuskan rejim hingga saat ini seperti isu al-Qaidah, ancaman dari gerakan Islam garis keras dan ancaman bagi keamanan Israel bila rejim jatuh, sudah tidak laku dijual termasuk di luar negeri. Di dalam negeri isu Al-Qaidah dan gerakan garis keras hanya menjadi bahan tertawaan, di luar negeri isu tersebut pun sudah semakin tidak mempengaruhi dukungan Barat terhadap kubu revolusi.
Menghadapi manuver tersebut, kubu revolusi, Selasa (8/3) membalasnya dengan manuver serupa berupa ultimatum kepada rejim untuk mundur dari kursi kekuasaan dalam batas waktu 72 jam (3 hari). Ketua Dewan Transisi Nasional, Mustafa Abdul Jalil menyampaikan ultimatum tersebut dengan alasan untuk menghentikan pertumpahan darah yang kian hari semakin melimpah.

Dalam ultimatum tersebut disebutkan bahwa Qadhafi bebas menentukan negara yang akan menjadi tujuan pengasingan dan tidak akan dikejar tuntutan hukum atas serangkaian kejahatan yang dilakukan selama ini terhadap rakyat selama 42 masa kekuasaannya sebagai imbalan atas pengehentian bombardemen. Banyak pihak khawatir bila ultimatum tersebut menyebabkan perpecahan dalam kubu revolusi.

Tapi kekhawatiran tersebut nampaknya tidak pada tempatnya karena dipastikan, sebagai manuver tandingan yang oleh kubu revolusi menyebutnya sebagai “iqamatul hujjah“(tuntutan pembalikan argumen) terhadap rejim. Karena bila keadaan makin parah yang akhirnya menyebabkan intervensi asing terjadi maka yang bertanggungjawab adalah rejim yang telah diberikan kesempatan untuk mundur secara terhormat tanpa khawatir akan dikejar tuntutan hukum.

Sebagian analis juga melihat bahwa ultimatum tersebut semata-mata iqomatul hujjah atas rejim sebab kubu revolusi sangat yakin rejim yang masih haus kekuasaan dan merasa masih banyak rakyat yang mencintainya tanpa melihat di lapangan bila mayoritas rakyat ingin perubahan status quo, tidak akan semudah itu mundur. Intinya, ultimatum kubu revolusi juga sebagai test case (uji kasus) sejauh mana sang rejim bertekad mempertahankan kekuasaan karena dipastikan tidak akan bersedia lengser secara sukarela.

Tapi ultimatum tersebut dapat pula dipahami sebagai peringatan bahwa intervensi internasional tidak akan terhindarkan apabila rejim yang memiliki keunggulan senjata termasuk pesawat tempur dan helikopter serta berbagai senjata berat lainnya bersikeras melanjutkan serangan yang menyebabkan angka korban terutama di kalangan sipil terus meningkat. Paling tidak 72 jam sebagai standar batas waktu bagi internasional untuk bertindak lebih jauh.

Indikasi ke arah itu sudah mulai nampak dimana negara-negara kawasan Teluk yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (GCC) dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) telah mengisyaratkan persetujuan terhadap pemberlakukan larangan terbang di Libya. Alasan dukungan larangan terbang tersebut adalah untuk melindungi warga sipil, dengan catatan tetap menolak intervensi militer secara langsung.

Serangan dahsyat dari pasukan rejim yang menyebabkan korban jiwa terus bertambah juga akan membuka jalan bagi sebagian besar negara Arab, mau tidak mau akan mengadopsi persetujuan dimaksud yang direncanakan dibahas pada pertemuan darurat tingkat Menlu Liga Arab, Sabtu (12/3) di Kairo. Bila intervensi terjadi meskipun sebatas larangan terbang maka yang dilimpahkan tangungjawab atas intervensi tersebut adalah rejim sehingga manuver kubu revolusi yang memberi ultimatum 72 jam mengenai sasaran.

Menyusut

Seperti disebutkan sebelumnya, pasukan pro Qadhafi memang berhasil merebut kembali sebagian wilayah yang diduduki kubu revolusi berkat keunggulan senjata, tapi peluang untuk terus mempertahankan kekuasaan kian menyusut. Pasalanya keunggulan tersebut justeru semakin memancing campur tangan asing termasuk dengan mengirim senjata canggih kepada kubu revolusi.

Tapi pada waktu yang sama, juga dapat merugikan kubu revolusi karena akan dianggap sebagai alat untuk menancapkan kekuasaan Barat di negeri Mujahid Omar Mukhtar itu meskipun sejatinya rejim yang paling bertanggungjawab atas intervensi tersebut karena tidak mengindahkan tuntutan perubahan yang diinginkan mayoritas rakyat.

Rejim sejak dini telah memanfaatkan peluang itu untuk melakukan kampanye menyudutkan kubu revolusi dengan menyebutnya sebagai pengkhianat besar yang membawa agenda imperialisme baru di Libya. Bila kampanye ini manjur paling tidak di kalangan kabilah yang masih mendukung dan pasukan yang setia, maka akan memperpanjang pertumpahan darah.

Jika hal itu terjadi maka krisis Libya akan semakin kompleks dimana banyak kepentingan yang akan saling berebut pengaruh apalagi bila faktor ekonomi menjadi alasan utama yang menyebabkan dua kekuatan dunia, Rusia dan China bisa berbalik mendukung rejim. Bila dua kekuatan besar dunia itu mendukung, tidak menutup kemungkinan keduanya menggunakan hak veto di DK PBB terkait intervensi asing di Libya .

Banyak pihak berharap terjadi kejutan agar Libya terhindar dari intervensi asing yang hanya akan merugikan revolusi rakyat negeri ini. Kejutan yang dimaksud adalah kesediaan rejim meninggalkan kursi kekuasaan secara legowo guna menghindari pertumpahan darah yang makin meluas dan menghadang intervensi asing dimaksud yang hanya akan menciptakan derita panjang bagi rakyat.*/Sana`a, 5 R. Thani 1432 H

Menjadi Mulia Tak Perlu Menunggu Kaya

Ini sebuah kisah nyata: ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara berinfak. Hal ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Tetapi tunggu, ulama tersebut melanjutkan kisahnya.

Siapakah kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu? Mereka bukanlah anak dan ibu atau kakak beradik. Lalu, siapakah gerangan mereka? Keduanya tak lain adalah seorang majikan dan pembantunya.

Tanpa diketahui oleh masing-masing, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang diperoleh setiap kali menerima gaji, demikian pula dengan sang majikan. Secara logika kita pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari sang pembantu, maka infaknya pun tentu akan lebih besar. Sang pembantu, berapalah ia mampu infakkan, apalagi harus berbagi dengan kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya.

Namun, Allah mempunyai matematika lain. Dengan gaji tak seberapa plus dipotong infak, ia hidup cukup. Anak-anaknya bersekolah sampai jenjang tertinggi.

Tentu saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena sudah jelas tercantum firman-Nya dalam Alquran:

โ€œPerumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.โ€ (QS Al-Baqarah: 261).

โ€œSesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.โ€ (QS Al-Hadid: 18)

Demikianlah, Allah telah banyak menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui kisah serupa. Sebagai sebuah pelajaran supaya cukuplah Allah tempat kita menyandarkan keyakinan sepenuhnya atas rezeki yang diberikan-Nya. Di samping itu kita tidak perlu merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang Allah titipkan tersebut karena janji Allah pastilah benar adanya. Kita pun tak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi rezeki demi mendapatkan kemuliaan di hadapan-Nya.

โ€œ…. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.โ€(QS Al Hujuraat [49]:13).