Insiden Las Vegas, White Privilege, dan Framing Media Terhadap Islam

Apakah diperlukan untuk menyandang titel “Islam” untuk menjadi teroris seutuhnya di media?

Mungkin sebagian pembaca sudah tahu soal berita penembakan di Las Vegas pada Minggu, 01 Oktober lalu. Bertempat di sebuah konser besar yang termasuk dalam rangkaian acara festival musik Lollapalooza. Pelaku bernama Stephen Paddock (64), melakukan tembakan senjata api dari kamar hotel di lantai 32 Mandalay Bay Hotel and Casino di pukul 22.00 waktu setempat, yang diarahkan pada 22.000 orang di lapangan konser. Bukan bersenang-senang, mereka justru harus merasa ketakutan karena adanya serangan tembakan yang menewaskan sedikitnya 58 orang, dan 500 luka – luka. Menurut laporan polisi Las Vegas, Paddock ditemukan bunuh diri dengan pistol setelah penembakan tersebut. Aksi penembakan ini sudah disebut sebagai insiden penembakan yang paling buruk dalam sejarah modern Amerika Serikat.

Nah sekarang, mengesampingkan alasan atau motif pelaku, Penulis akan sedikit membahas tentang opini atau respon pihak berwenang dan masyarakat awam tentang tragedi ini.

Pihak berwenang menyebutkan pelaku sebagai “Serigala Penyendiri”, “Penembak Lokal”, “Penjudi Mabuk”, dll. Tak ada satupun kata “Teroris” yang keluar. Padahal kasus ini sudah cukup untuk bisa dinamakan sebagai terorisme domestik menurut hukum terorisme AS yang berbunyi, “mengintimidasi atau memaksa warga sipil; mempengaruhi kebijakan pemerintah dengan intimidasi atau tekanan; atau untuk mempengaruhi tindakan pemerintah dengan melakukan penghancuran massal, pembunuhan atau penculikan”. Dan sekali lagi, ini adalah kasus penembakan terparah di AS sejak beberapa dekade lalu. Memang, sampai terbukti kalau tindakan si pelaku berlatar belakang politis, barulah dikategorikan sebagai terorisme. Sejauh ini, pihak berwenang masih belum menyebutkan motif pelaku.

Sekarang kembali ke insiden lain yang pernah terjadi di Eropa. Banyak sekali kejadian serangan yang menimbulkan kepanikan, langsung direspon dengan cepat oleh media dan pihak berwenang sebagai 100% terorisme, orang-orang pun langsung percaya. Dari sini, Penulis akan mencoba untuk sedikit eksplisit. Semua punya pola yang mirip secara umum. Berjenggot, nama yang berbau arab, dan yang paling penting, bukan warga kulit putih. Penulis tidak bermaksud rasis. Memang itu fakta yang ada. Semua ini membentuk mindset kalau kulit putih mempunyai kadar kriminal laten yang lebih sedikit. Ini disebut dengan White Privilege. Maka ketika ada aksi atau insiden serupa  publik akan merespon dengan merujuk pada pola sebelumnya. Kalau tidak sesuai dengan pola, mereka  akan kebingungan.

 

 

Penulis Bangladesh Taslima Nasreen juga mempertanyakan, “Pria yang meneror 22.000 orang, membunuh dan melukai ratusan orang, dia tidak disebut teroris! Apa perlu jadi orang Islam untuk mendapat sebutan itu?”

https://twitter.com/taslimanasreen/status/915048019724083200

 

Pengguna media sosial lain, Ben Lehwald, mengatakan, “Bisa membunuh 58 orang dan belum disebut teroris? Jika (pelakunya) ini adalah seorang penganut Islam, itu hal pertama yang mereka tanyakan.”

https://twitter.com/BenLehwald/status/914926576164368384

 

Lewat contoh kicauan yang gamblang ini, Penulis mencoba membuka kembali pikiran Pembaca dari framing media mainstream. Apakah teroris  perlu menyandang titel “kulit hitam” atau “Islam” agar bisa disebut teroris?

Sumber:

http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41480170

http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41521772

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiSmuzL0tzWAhWFGZQKHQUhBcwQFggmMAA&url=http%3A%2F%2Fwww.dailymail.co.uk%2Fnews%2Farticle-4945322%2FVet-wants-know-cops-took-long-stop-shooter.html&usg=AOvVaw0ugePB5kuRg0UDmnaNkYB6

Author: M. Sayyidus Shaleh Y.

Sistem Komputer Universitas Diponegoro 2017

Luar biasa bagi yang membaca Al-qur’an

Berkata Abdul Malik bin Umair:
“Satu-satunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selalu membaca Al-qur’an”.

“Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Al-qur’an”.

Berkata Al-imam Qurtubi:
“Barang siapa yang membaca Al-qur’an, maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun”.

Imam besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat pada muridnya Abbas bin Abdi Daim rahimahullah.
“Perbanyaklah membaca Al-qur’an jangan pernah kau tinggalkan, kerana sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan di mudahkan setara dengan yang kamu baca”.

Berkata Ibnu Solah:
“Bahwasannya para Malaikat tidak diberi keutama’an untuk membaca Al-qur’an, maka oleh karena itu para Malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari baca’an manusia”.

Berkata Abu Zanad:
“Di tengah malam, aku keluar menuju masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam sungguh tidak ada satu rumahpun yang aku lewati melainkan pada nya ada yang membaca Al-qur’an”.

Berkata Shaikhul Islam ibnu Taimiyyah: “tidak ada sesuatu yang lebih bisa memberikan nutrisi otak, kesegaran jiwa, dan kesehatan tubuh serta mencakup segala kebahagiaan melebihi dari orang yang selalu melihat kitabullah ta’ala”.

Bergantunglah pada Alqur’an niscaya kau akan mendapatkan keberkahan.
Allah berfirman: “ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu yang penuh keberkahan agar mereka mau mentadaburi ayat-ayatnya”.

Berkata sebagian ahli tafsir
“Manakala kita menyibukkan diri dengan Al-qur’an maka kita akan di banjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan di dunia”.

“Saya memohon kepada Allah agar mberikan taufiqnya kepada saya dan kalian semua untuk selalu membaca Al-qur’an dan mengamalkan kandungannya”.

Hikmah Ramadhan …… hari ke 9

CINTA DAN TUNDUK
(إياك نعبد)

Imam Ibnul Qayyim Aljauziyah menyebutkan bahwa “ibadah” yang sempurna itu harus menggabungkan dua hal sekaligus secara bersamaan. Yang pertama adalah cinta dan yang kedua adalah tunduk.

Artinya, kita belum menjadi hamba Allah yang benar kecuali kita telah beribadah dengan penuh cinta dan penuh ketundukan kepada Allah.

Ibnul Qayyim berkata, “Bila engkau mencintai Allah tapi engkau tidak tunduk kepadaNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Jika engkau tunduk kepadaNya tapi engkau tidak mencintaiNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Engkau baru seorang hamba yang benar bila mencintaiNya dan tunduk kepadaNya”. (Madaariju As Salikin).

Bila seseorang beribadah karena senang, tapi dia tidak patuh dengan aturan Allah, maka dia belum beribadah dengan benar dan belum menjadi hamba yang benar. Dia hanya sedang melakukan hobby atau kesukaannya. Ini biasanya terjadi dalam hal ibadah-ibadah yang menyenangkan. Seperti ibadah haji, umrah dan lain-lain.

Sebaliknya bila seseorang tunduk beribadah kepada Allah, tapi dia tidak senang dan mencintai Allah, maka dia sedang terpaksa. Tidak tulus dan tidak ikhlas. Manusia saja tidak suka dengan orang yang bekerja terpaksa. Apalagi Allah yang Maha Mulia.

Dalil-dalil yang menunjukkan perintah mencintai dan juga tunduk kepada Allah sangat banyak di dalam Al quran dan hadits Rasulullah saw.

Allah menegaskan bahwa orang yang beriman itu tandanya adalah dia sangat amat cinta kepada Allah. Sedangkan orang kafir mencintai tuhan-tuhan lain selain Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Artinya: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS Al baqarah: 165).

Dalam ayat lain, Allah memuji orang yang beriman, generasi pilihan, yang karakternya adalah mencintai Allah dan Allah mencintai mereka:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ…

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela….” (QS Al maidah: 54).

Rasulullah saw menyatakan bahwa kesempurnaan iman itu terletak pada cinta kepada Allah dan RasulNya:

“ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان، من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلاَّ لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار”.

Artinya: “Tiga hal yg apabila dimiliki oleh seseorang niscaya dia akan merasakan manisnya iman. Yaitu orang paling mencintai Allah dan RasulNya melebihi selain keduanya. Dan orang yg mencintai orang lain karena Allah. Dan orang yang tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak rela dilemparkan ke dalam api neraka”. (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Dalam hal ketundukan dan kepatuhan, Allah ta’alaa menegaskan perintahNya dengan sangat jelas :

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ.

Artinya: Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS Ali Imran: 32).

Allah juga menegaskan bahwa orang yang engkar (tidak patuh) kepadaNya, melanggar batas-batas hukumNya, akan dimasukkan ke dalam neraka yang abadi:

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ (14)

Artinya: “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS An nisa: 14).

Dengan demikian, kesempurnaan ibadah akan terwujud bila dikerjakan dengan cinta serta tunduk kepada Allah.

H. Irsyad Safar Lc.
Wallahu A’laa wa A’lam.

Menyambut Tamu Agung

ANDAI presiden, raja, atau orang mulia yang akan datang ke rumah kita, sambutan apa yang hendak dipersembahkan untuk tamu agung tersebut? Secara sosial, masyarakat pada umumnya antusias dalam menyambut tamu agung ini. Lalu bagaimana dengan Ramadhan? Satu-satunya bulan istimewa yang disebut dalam al-Qur`an; bulan yang biasa disebut penuh ampunan, berkah, rahmat, dan pembebas diri dari api neraka. Apakah sama penyambutannya dengan tamu agung yang lain?

Penyambutan kita terhadap Ramadhan merupakan cerminan keimanan dan kunci sukses menuju Ramadhan. Dalam masalah ini, kita bisa melihat betapa antusiasnya nabi dalam menyambutnya. Anas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Shalalallahu ‘Alaihi Wassallam sebelum Ramadhan biasa berdoa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

 “Ya Allah! Berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” (HR. Thabrani). Di sini kita tidak berdebat masalah setatus hadits, tapi maknanya  jelas: jika sebelum Ramadhan –minimal pada bulan Rajab dan Sya’ban- amalan kita untuk menyambut Ramadhan adalah amalan yang diberkati, maka insyaallah akan sukses dalam menjalani Ramadhan.

Baca: Dihadiri Ribuan, Al-Azhar Hidupkan Malam Nisfu Sya’ban dengan Periwayatan Hadits

Menurut Mu`alla bin al-Fadhl dalam kitab yang berjudul: Nidâu al-Rayyân fî Fiqhi al-Shaum wa fadhli Ramadhân’, karya: Abu Bakar Jabir al-Jazāiri (1/164); demikian juga dalam, ‘Istiqbâlu al-Muslimîn li Ramadhâna’, karya: `Athiyah bin Muhammad Salim (1/26), menyatakan: “Para salafus shalih enam bulan sebelum Ramadhan (terbiasa) memohon Allah supaya bisa berjumpa Ramadhan. Apabila (mereka) sudah menjumpai Ramadhan, mereka memohon agar diberi taufik serta dianugerahi kesungguhan dan semangat oleh-Nya. Apabila mereka telah menyempurnakannya, mereka memohon pada-Nya agar (amalan) enam bulan setelah Ramadhan bisa diterima.

Bayangkang bagaimana begitu luar biasanya mereka dalam menyambut Ramadhan. Enam bulan sebelum Ramadhan sudah diperseiapkan secara matang. Sedangkan 6 bulan setelahnya, digunakan sebagai moemen untuk mengintrospeksi diri dam menengadah ke haribaan Allah agar segenap amalan di bulan Ramadhan bisa diterima sampai bertemu kembali dengan Ramadhan.

Dalam tradisi orang Muslim –sebagaimana cerita  Abdul Aziz bin Marwan- pun ada doa yang biasa dilantunkan untuk menyambut Ramadhan:

اللّهُمَّ قَدْ أَظَلَّنَا شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ فَسَلِّمْهُ لَنَا وَسَلِّمْنَا لَهُ، وَارْزُقْنَا صِيَامَهُ وَقِيَامَهَ. وَارْزُقْنَا فِيْهِ الْجِدَّ وَالْاِجْتِهَادَ وَالنَّشَاطَ، وَأَعِذْنَا فِيْهِ مِنَ الْفِتَنَ.

“Ya Allah! Ramadhan telah hadir mendatangi kita, maka sampaikanlah kami kepadanya dengan selamat demikian juga sebaliknya. Anugerahkanlah kepada kami rezeki agar mampu melaksanakan puasa dan shalat malam di bulan Ramadhan. Karuniakan kami ketekununan, kesungguhan dan semangat (dalam menjalaninya) dan kami berlindung kepada-Mu dari fitnah-fitnah yang ada dalam bulan Ramadhan.” (Abdurrahman An-Najdi, Wadhâ`ifu Ramadhân, 11). Lihat bagaimana optimisme mereka dalam menyambut Ramadhan. Doa-doa positif selalu terlantun untuk menyambutnya. Doa-doa yang terpanjat tersebut, tidak akan bisa diterima dengan baik, kecuali dipersiapkan secara matang sebelum Ramadhan.

Baca: Delapan Sikap Siapkan Diri Menyambut Ramadhan

Sedangkan Yahya bin Abi Katsir mempunyai doa khusus untuk menyambut Ramadhan:

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ، وتسلَّمه مِنِّي مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Abdurrahman An-Najdi, Wadhâ`ifu Ramadhân, 11). Untuk sampai ke bulan Ramadhan memang sebuah nikmat agung yang harus disyukuri. Jika sebelum Ramadhan tidak dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, bagaimana mungkin bisa mensyukuri nikmat agung ini?

Ramadhan benar-benar begitu istimewa di hati para salaf, sehingga mereka tidak mau menjadi orang hina di bulan Ramadhan sebagaimana hadits nabi:

رَجُل دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Orang yang mendapati bulan Ramadhan kemudian ketika bulan istimewa ini telah berlalu, tapi dosa-dosa belum terampuni.” (HR. Tirmidzi). Dari hadits ini, penyambutan Ramadhan bisa diupayakan melalui taubat atau membersihkan jiwa dari kemaksiatan dan dosa. Karena gol dari amalan Ramadhan di antaranya adalah dosa-dosa terampuni.

Tulisan ini akan saya akhiri dengan puisi berjudul “Marhaban Ya Ramadhan” :

Setelah sebelas bulan lamanya

Kau tinggal kami pergi

Sebentar lagi kau kembali tiba

Sedang kebanyakan hamba tak betul-betul menyadari

Lantaran sibuk dengan urusan dunia

Yang tak bakal dibawa mati

Marhaban Ya Ramadhan

Dengan bekal iman yang dipunya

Serta amal-amal yang dipersiapkan

Semoga kita

Bisa menjalani ujian

Menjadi manusia bertakwa.*/Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar