Sumbar

Euforia Profesi ASN ?

3 Mins read

Oleh: Nova Lina Syukri

ASN/PNS bak profesi idaman, hinggar bingarnya terasa dari ujung ke ujung negeri. Masing-masing pasti punya alasan tersendiri. Apakah se-favorit itu? Lalu siap-kah mereka berdedikasi jika ditakdirkan menjadi PNS atau siap-kah mereka berdedikasi jika tidak ditakdirkan sebagai PNS? Dan siapkah melepas profesi PNS jika kondisi itu mesti diambil? Karena penasaran, Nova mengajukan pertanyaan ke beberapa teman yang tersebar di beberapa wilayah kerja yang berbeda, beginilah jawaban teman-teman Nova;

  1. Umma Fatih Seorang IRT di Natuna berpendapat begini;

Di Indonesia, PNS ini dianggap pekerjaan yang menjanjikan, serta mindset orang tua selalu mengarahkan anaknya untuk menjadi PNS. Alasannya adalah gaji setiap bulan dan ada uang pensiunan jaminan di hari tua. Sementara Umma Fatih tidak pernah becita-cita menjadi PNS, sebab ia bercita-cita menjadi pengusaha dan ingin memiliki Event Organizer. Walaupun sudah menjadi seorang istri dan mempunyai usaha, Umma Fatih tetap mengikuti tes CPNS, dengan tujuan mengabulkan permintaan orang tua. Tapi, ia selalu menganggap PNS bukan satu-satunya pilihan pekerjaan. Ia akan melakukan pekerjaan lain secara maksimal sehingga mengubah mindset orang tua atau orang kebanyakan, “kita tanpa PNS bisa menjadi sukses.”

Jikalau lulus sebagai PNS, Umma Fatih juga bersedia berkomitmen untuk menjalankan tugas sebagai abdi negara yang taat, jujur, dan anti korupsi. Lalu, jikalau keadaan terpaksa melepaskan profesi PNS, ia juga bersedia melespaskannya apalagi alasannya adalah keluarga.

  • Maya, guru honorer, Siak, Riau.

Tak jauh berbeda dari Umma Fatih, Maya mengakui profesi PNS digandrungi karena pernyataan orang tua bahwa PNS itu memberikan jaminan hari tua. Selain itu, PNS adalah cita-citanya dari SD. Meskipun begitu, profesi PNS bukan profesi yang difavoritkannya. Ibu guru ini hanya ingin mengabulkan permintaan orang tua-nya, jika belum lulus menjadi PNS rasanya kecewa saja. Dan jikalau lulus PNS, Maya pun tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, ia siap melaksanakan tanggung jawab sebagai PNS. Lalu, bila berprofesi sebagai PNS, ia tak akan melepas profesi itu kecuali sakit tak kunjung sembuh atau meninggal.

  • Yeski, ex Sekretaris Dubes Libanon, Lulusan CPNS 2020

Profesi PNS menurut Yeski bukanlah profesi yang hebat. “Jika kita menjadi PNS maka kita harusnya menjadi abdi negara yang melayani masyarakat.” Tapi mindset tersebut sepertinya tidak dipahami dengan cara yang sama oleh semua orang. Malah, banyak yang beranggapan menjadi PNS berarti menjadi hebat.

Profesi ini sangat digandrungi karena kepastian dan jaminannya. Tidak banyak profesi selain PNS yang jenjang karirnya jelas dan pasti, tidak banyak juga pekerjaan lain yang memberikan jaminan kesehatan dan pensiunan. Oleh karena itu, profesi ini sangat digandrungi masyarakat menengah ke bawah, mungkin karena kurangnya pengetahuan akan luasnya kesempatan kerja di tempat lain. Tidak bisa dipungkiri, ada perusahaan swasta yang bahkan memberikan jaminan kesehatan lebih bagus dari pada yang diberikan oleh negara, tetapi kesempatan ini mungkin tidak digandrungi karena tidak ada jaminan kepastian seumur hidup atau pensiunan.

  • Rahmi, IRT lulusan Sastra Indonesia UNP

Rahmi atau Umma Khadijah tidak mempermasalahkan jika ia tidak ditakdirkan menjadi PNS, sebab Allah Maha Luas Rezekinya. Dan apabila ditakdirkan sebagai PNS tentu ia siap memberikan yang terbaik untuk negara. Lalu, jika ia sebagai seorang istri dalam keadaan terdesak mesti melepaskan profesi PNS-nya maka ia bersedia, sebab keluarga lebih utama. Sampai saat ini Ibu satu anak ini menikmati hari-harinya dalam berbisnis, ia memutuskan tidak ikut tes CPNS lagi.

Dulu Umma Khadijah pernah ikut seleksi atas permintaan Papa-nya. Setelah itu ia tidak berminat lagi. Baginya, PNS bukanlah profesi yang ia favoritkan. Profesi PNS itu hebatnya di uang pensiun hari tua saja. Oleh karena itu tak masalah baginya jika tidak ditakdirkan berprofesi sebagai PNS.

Luar biasa, pada umumnya orang Indonesia setamat S1 hingga usia 35 tahun, sasarannya adalah ikut seleksi CPNS. Dari keempat teman yang Nova wawancarai, mereka sependapat dengan hal tersebut. PNS adalah profesi idaman orang banyak. Jika ada euforia kelulusan PNS, itu adalah hal wajar. Tapi, kita patut mengancungi jempol buat orang yang berani bergerak di luar PNS. Ia berpofesi bukan PNS, berani tidak ikut tes CPN, sementara ia punya kesempatan besar ikut tes. Orang-orang yang seperti itu biasanya adalah orang-orang yang berkompetensi di atas rata-rata. Sementara orang yang memiliki potensi rata-rata lebih mengandrungi profesi PNS. Ini hanya pendapat, pilihan hidup tetap masing-masing diri. Hal terpenting, dimanapun profesi kita jangan pernah berkecil hati (syukuri), berdedikasi, amanah, dan Allah ridho atas profesi itu. Bahkan, tak sedikit orang di sekitar kita, ia hanya berjualan jus tetapi penghasilannya 4x gaji PNS.

Hanya ingin berpesan, tak usah meng-agungkan profesi PNS, sebab ada Yang Maha Agung patut di-agungkan. Dan tidak salah mengandrungi profesi PNS, apalagi siap berdedikasi secara maskimal (amanah, jujur, dan bertanggungjawab). Apapun profesimu, semoga berkah bagimu dan bagi orang-orang di sekitarmu.

Seorang PNS bertanggungjawab memberikan abdinya. Seorang pengusaha bertanggungjawab memberikan pelayanan terbaik: jujur dan terpercaya. Seorang IRT bertanggungjawb atas rumah tangganya, bukan rumah tangga orang lain. Seorang petani bertanggungjawab menjaga dan merawat pertaniannya. Hal yang paling penting, kita amanah di profesi masing-masing.

Salam sehat, semoga istiqamah, “Tak salah mengandrungi profesi PNS dan tetap bisa sukses walaupun bukan PNS. Tak satu pintu rezki yang ada, mari berjuang menjadi kaya, sehingga berguna bagi banyak manusia.”

Wallahu a’alam bi showab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *