Insiden Las Vegas, White Privilege, dan Framing Media Terhadap Islam

Apakah diperlukan untuk menyandang titel “Islam” untuk menjadi teroris seutuhnya di media?

Mungkin sebagian pembaca sudah tahu soal berita penembakan di Las Vegas pada Minggu, 01 Oktober lalu. Bertempat di sebuah konser besar yang termasuk dalam rangkaian acara festival musik Lollapalooza. Pelaku bernama Stephen Paddock (64), melakukan tembakan senjata api dari kamar hotel di lantai 32 Mandalay Bay Hotel and Casino di pukul 22.00 waktu setempat, yang diarahkan pada 22.000 orang di lapangan konser. Bukan bersenang-senang, mereka justru harus merasa ketakutan karena adanya serangan tembakan yang menewaskan sedikitnya 58 orang, dan 500 luka – luka. Menurut laporan polisi Las Vegas, Paddock ditemukan bunuh diri dengan pistol setelah penembakan tersebut. Aksi penembakan ini sudah disebut sebagai insiden penembakan yang paling buruk dalam sejarah modern Amerika Serikat.

Nah sekarang, mengesampingkan alasan atau motif pelaku, Penulis akan sedikit membahas tentang opini atau respon pihak berwenang dan masyarakat awam tentang tragedi ini.

Pihak berwenang menyebutkan pelaku sebagai “Serigala Penyendiri”, “Penembak Lokal”, “Penjudi Mabuk”, dll. Tak ada satupun kata “Teroris” yang keluar. Padahal kasus ini sudah cukup untuk bisa dinamakan sebagai terorisme domestik menurut hukum terorisme AS yang berbunyi, “mengintimidasi atau memaksa warga sipil; mempengaruhi kebijakan pemerintah dengan intimidasi atau tekanan; atau untuk mempengaruhi tindakan pemerintah dengan melakukan penghancuran massal, pembunuhan atau penculikan”. Dan sekali lagi, ini adalah kasus penembakan terparah di AS sejak beberapa dekade lalu. Memang, sampai terbukti kalau tindakan si pelaku berlatar belakang politis, barulah dikategorikan sebagai terorisme. Sejauh ini, pihak berwenang masih belum menyebutkan motif pelaku.

Sekarang kembali ke insiden lain yang pernah terjadi di Eropa. Banyak sekali kejadian serangan yang menimbulkan kepanikan, langsung direspon dengan cepat oleh media dan pihak berwenang sebagai 100% terorisme, orang-orang pun langsung percaya. Dari sini, Penulis akan mencoba untuk sedikit eksplisit. Semua punya pola yang mirip secara umum. Berjenggot, nama yang berbau arab, dan yang paling penting, bukan warga kulit putih. Penulis tidak bermaksud rasis. Memang itu fakta yang ada. Semua ini membentuk mindset kalau kulit putih mempunyai kadar kriminal laten yang lebih sedikit. Ini disebut dengan White Privilege. Maka ketika ada aksi atau insiden serupa  publik akan merespon dengan merujuk pada pola sebelumnya. Kalau tidak sesuai dengan pola, mereka  akan kebingungan.

 

 

Penulis Bangladesh Taslima Nasreen juga mempertanyakan, “Pria yang meneror 22.000 orang, membunuh dan melukai ratusan orang, dia tidak disebut teroris! Apa perlu jadi orang Islam untuk mendapat sebutan itu?”

https://twitter.com/taslimanasreen/status/915048019724083200

 

Pengguna media sosial lain, Ben Lehwald, mengatakan, “Bisa membunuh 58 orang dan belum disebut teroris? Jika (pelakunya) ini adalah seorang penganut Islam, itu hal pertama yang mereka tanyakan.”

https://twitter.com/BenLehwald/status/914926576164368384

 

Lewat contoh kicauan yang gamblang ini, Penulis mencoba membuka kembali pikiran Pembaca dari framing media mainstream. Apakah teroris  perlu menyandang titel “kulit hitam” atau “Islam” agar bisa disebut teroris?

Sumber:

http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41480170

http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41521772

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiSmuzL0tzWAhWFGZQKHQUhBcwQFggmMAA&url=http%3A%2F%2Fwww.dailymail.co.uk%2Fnews%2Farticle-4945322%2FVet-wants-know-cops-took-long-stop-shooter.html&usg=AOvVaw0ugePB5kuRg0UDmnaNkYB6

Author: M. Sayyidus Shaleh Y.

Sistem Komputer Universitas Diponegoro 2017

Terima Presiden Kudeta Mesir, Jokowi Dikecam

Indonesian Society For Human Right and Humanity mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mengecam siapa pun pelaku kejahatan kemanusiaan.

Hidayatullah.com– Presiden Joko Widodo menerima Abdul Fattah Al-Sisi, presiden kudeta Mesir, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (04/09/2015) sore. Pada saat hampir bersamaan, sikap Jokowi itu dikecam oleh Indonesian Society For Human Right and Humanity (ISFH).

Dalam aksi menolak kedatangan Al-Sisi ke Indonesia di Jl Medan Merdeka Utara, tak begitu jauh dari Istana Negara, ISFH menyampaikan sejumlah sikap.

Pertama, atas nama rakyat Indonesia, ISFH mendesak agar Al-Sisi ditangkap dan dibawa ke pengadilan internasional, atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya di Mesir.

“Kedua, mengecam Presiden Jokowi yang mengundang penjahat kemanusiaan (Al-Sisi. Red) untuk hadir di Indonesia,” seru koordinator lapangan Noval Abuzar dalam orasinya di atas mobil komando.

Terakhir, ISFH mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mengecam siapa pun pelaku kejahatan kemanusiaan.

Sebelumnya, orator lain, Bilal, menyampaikan hal serupa. “Seret Al-Sisi ke mahkamah internasional,” seru mahasiswa LIPIA dan Al-Hikmah Jakarta ini.

Dalam aksi damai yang diikuti ratusan mahasiswa se-Jabodetabek itu, massa menyayangkan sikap Jokowi terhadap Al-Sisi. Kecaman tersebut dianggap sebagai bentuk rasa sayang terhadap Jokowi.

Pantauan hidayatullah.com di lokasi, massa membawa banyak poster bergambar wajah Jokowi. Di antara poster itu tertulis, “Awas, hati-hati Al-Sisi Indonesia,” dengan tanda panah mengarah ke wajah Jokowi.

Beberapa menit usai aksi tersebut, terdengar puluhan kali suara meriam dari arah Istana Negara sebagai pertanda penyambutan Al-Sisi.

Dikabarkan, Al-Sisi dan rombongan tiba di Istana Negara sekitar pukul 16.15 WIB dan langsung disambut oleh Presiden Jokowi  di tangga istana. Kemudian mereka menuju podium kehormatan guna mengikuti upacara kenegaraan.

Upacara diawali dengan mendengarkan lagu kebangsaan kedua negara dengan diiringi dentuman meriam sebanyak 21 kali. Selanjutnya kedua pemimpin negara melakukan pertemuan empat mata, kemudian diikuti dengan pertemuan bilateral delegasi kedua negara.

Pada Jumat malam, Jokowi diagendakan melangsungkan jamuan makan malam untuk menghormati kunjungan Al-Sisi. Demikian kutip setkab.go.id.*

Malam Terakhir Syeikh Yasin

 Abdul Hamid berjalan agak pincang. Tangannya bertumpu pada sebuah tongkat. Dialah putra pendiri Hamas (Gerakan Perlawanan Islam Palestina) Syeikh Ahmad Yasin. Abdul Hamid ikut terluka parah kaki kanannya saat ayahandanya diterjang tiga roket Zionis Israel, Subuh, 22 Maret 2004.

Kepada belasan anggota Tim Amanah Indonesia dan Malaysia yang menemuinya di Madinah Gaza, Abdul Hamid mengisahkan apa yang terjadi di malam terakhir, sebelum kemuliaan syahid menjemput ayahnya.

Malam itu sesudah solat maghrib, langit kelam kota Gaza dipenuhi pesawat tempur dan helikopter Zionis. Mereka berseliweran di berbagai bagian kota, tapi yang lewat di atas wilayah sekitar rumah Syeikh Yasin sangat banyak. Suaranya bergemuruh seperti setan-setan raksasa yang murka mencari mangsa.

Keadaannya begitu mengkhawatirkan, sampai-sampai istri Syeikh Yasin mengatakan kepada beliau, “Malam ini nampaknya sangat berbahaya, sebaiknya Antum solat ‘Isya di rumah saja…”

Kakek berusia 67 tahun yang hampir seumur hidupnya di atas kursi roda itu menjawab dengan suara serak, “Kenapa kamu suruh saya solat di rumah? Hanya karena pesawat dan helikopter itu? Kalau memang saya harus mati syahid malam ini, malam inilah yang saya tunggu-tunggu seumur hidup saya. Insya Allah, saya akan mati syahid malam ini…”

Jarak antara rumahnya yang sederhana di sebuah gang dengan Masjid Al-Mujamma’ Al-Islami di jalan besar hanya sekitar 200 meter. Masjid itulah yang ditempati Syeikh Yasin mengawali gerakan tarbiyah di Gaza, sekitar 40 tahun sebelumnya. Letaknya di wilayah Ash-Shabra, bagian selatan Madinah Gaza.

Maka ditemani seorang pengawal dan seorang putranya, Syeikh Yasin yang sudah berkali-kali dipenjara dan disiksa oleh Zionis Israel, didorong di atas kursi rodanya menuju masjid.

Seusai menunaikan solat ‘Isya berjamaah, Syeikh tidak langsung pulang ke rumah. Langit Gaza makin terasa mencekam. Di masa itu sebagian besar kawasan Jalur Gaza masih dikuasai Zionis Israel dan kaki tangannya dari kalangan orang Palestina.

Atas saran para jama’ah solat ‘Isya terutama para pemuda, Syeikh Yasin memutuskan malam itu beri’tikaf di masjid sampai datang waktu subuh. Menurut Abdul Hamid malam itu sebagian besar waktu dipakai oleh Syeikh untuk qiyamul lail.

Subhanallah, Allahu Akbar…

 

Wahai Syeikh yang lembut hati

betapa indahnya cara Engkau menyambut mati

Kau bela sepenuh hati

solat berjama’ah sesuai sunnah Nabi

beri’tikaf pula Engkau di masjid yang suci

lalu semalaman jiwamu berdiri

menghadap Rabbul ‘Izzati

kemudian Engkau sahur untuk puasa mensucikan hati

solat subuh pula Engkau di pagi hari

sampai tibalah waktu yang dinanti-nanti

mati syahid di Jalan Ilahi

 

Sebelum azan Subuh dikumandangkan, Syeikh sempat makan sahur untuk puasa sunnat hari itu. Seusai menunaikan solat Subuh berjama’ah, hari masih gelap, saat Syeikh didorong keluar dari pintu masjid. Beramai-ramai para jama’ah bersama keluar menuju rumah masing-masing.

Baru sekitar 70 meter dari masjid, sebuah helikopter Zonis haram jadah bikinan Amerika Serikat mendekat, lalu memuntahkan roket ke tubuh lemah berjiwa baja di atas kursi roda itu. Bukan cuma satu, tapi tiga roket!

Suara gelegar tiga roket meledak itu seakan menghancurkan langit Gaza Subuh itu. Abdul Hamid terlemper beberapa belas meter dari posisi yang tadinya dekat dengan ayahnya.

“Saya sama sekali tak bisa melihat di mana tubuh ayah saya,” kenangnya. “Di dekat saya sedikitnya ada lima jenazah yang hancur bergelimpangan… Darah muncrat dan membanjir kemana-mana…”

Sembilan orang syahid seketika bersama Syeikh Yasin termasuk pengawalnya. Abdul Hamid lalu tak sadarkan diri karena kaki kanannya luka parah. Sejak detik itu ia tak pernah sempat memandang jenazah ayahnya. Karena ia segera dilarikan ke rumah sakit. Ia harus dirawat selama 20 hari, tanpa bisa menghadiri pemakaman ayahnya.

Kabarnya lebih dari 200 ribu orang mengantarkan jenazah Syeikh Yasin dikuburkan di pemakaman Syeikh Ridwan di tengah Madinah Gaza.

Salah seorang sahabat dari Tim Amanah Malaysia bertanya kepada Abdul Hamid, “Apa yang biasa disampaikan Syeikh bila sedang bersama anak-anak di sekitarnya…”

Menurut Abdul Hamid rumah Syeikh Yasin selalu terbuka hampir selama 24 jam setiap hari. Tak ada pengawal yang boleh mencegah orang menemui beliau.

Banyak sekali anak-anak yang tinggal di sekitar rumah Syeikh yang pergi dan pulang sekolahnya sengaja mampir, lalu menjumpai Syeikh hanya untuk mencium tangannya.

Tidak sedikit juga orang yang datang dari tanah Palestina yang jauh, berkilo-kilometer jauhnya, hanya untuk melihat wajah Syeikh. Bahkan, kalau datangnya pas waktu tidur Syeikh, pernah ada yang hanya ingin melihat wajah Syeikh saat sedang tidur, lalu dia pergi lagi.

Di waktu senggangnya di hari Jum’at biasanya sebagian besar waktu dipakai Syeikh Yasin membaca Al-Quran. Sehabis solat Jum’at sering diminta oleh para pendampingnya, baik di kalangan pengawal maupun anak-anaknya, untuk istirahat.

“Syeikh selalu menolak,” kata Abdul Hamid, “lalu meminta kami mengajaknya berziarah kepada siapapun yang memerlukan, terutama orang sakit, orang miskin, atau orang-orang yang sedang memerlukan pertolongan.”

Syeikh Yasin menjadi semacam model terbaik manusia Palestina. Ditindas, sabar, dipenjara, teguh, disiksa, kuat, diteror, tegar, dibunuh, mulia. Nafas dan darah ikhlas Syeikh adalah pupuk subur lahirnya gelombang generasi baru yang menembus batas-batas benua dan alam semesta insya Allah.* (Sahabatalaqsha.com)

Siapa Dibalik Kekacauan di Mesir?

Kaum Sekuler Mesir tidak menginginkan kekuasaan pasca Mubarak jatuh ke tangan kaum Islamis. Prediksi mereka tidak ada kekuatan politik lainnya, pasca Mubarak kalangan Islamis yang akan mengambil alih kekuasaan.

Maka, jalan yang harus dilakukan, hanya mengacaukan situasi politik, dan terus menciptakan kerusuhan, serta tuntutan agar militer mundur dari kekuasaannya, sebagai isu politik.

Kekawatiran kaum sekuler berawal dari referendum di Mesir, 19 Maret lalu, yang diikuti jutaan rakyat, di mana rakyat memberikan persetujuan amandemen konstitusi 1971. Ini adalah konstitusi yang menjadi sandaran rezim Mubarak selama memerintah sejak tahun 1981-2011.

Sebanyak 70 persen rakyat Mesir menyetujui amandemen konstitusi itu. Diantara dari amandemen itu, antara lain, anggota perlemen terpilih kelak mendapat wewenang untuk membentuk dewan konstituante. Dewan ini kelak bertugas menyusun konsitusi baru.

Pada klausul inilah yang membuat keresahana kaum sekuler (liberal dan nasional) di Mesir. Mereka sangat yakin bahwa kubu Islamis, khususnya Ikhwanul Muslimin akan mendapatkan suara yang signifikan, dan akan memenangkan pemilu parlemen mendatang. Karena itu, kalangan Islamis dikawatirkan akan mendominasi dalam penyusunan konstitusi baru, yang mengarah kepada negara Islam.

Maka kubu sekuleris dan nasionalis mulai melakukanl manuver politik, bagaimana agar pemilu gagal. Mereka menilai hasil referendum Maret lalu, sangat menguntungkan golongan Islamis di Mesir. Peluang kubu Islamis yang sangat besar dalam pemilu Mesir itu, membuat kalangan sekuler terus membuat gerakan agar tidak berlangsung pemilu, dan terjadi kekacauan dan menghembuskan isu terhadap militerisme di Mesir.

Kandidat presiden, yang mantan Direktur IAEA, Mohamad El-Baradei, melontarkan gagasan tentang dasar-dasar suprakonstitusi. Dia berusaha menjembatani perbedaan kubu Islamis dan liberal. El Beradai berasal dari kubu liberal, dan dia menyerukan aksi di Tahrir Square, yang menginginkan pembatalan hasil referendum. El Baradei juga menuntut penyusunan konstitusi baru sebelum pemilu parlemen.

Pemerintah menggelar konferensi nasional, yang kemudian menjadi : “Kesepakatan Nasional”, dan menawarkan dasar-dasar suprakonstitusi. Hal ini dilakukan sebelum pemilu. Ada lagi yang disebut dengan dokumen : “Silmi”. Nama “Silmi” diambil dari penggagasnya, yaitu Deputi Perdana Menteri untuk Urusan Politik, Ali al-Silmi.

Dokumen “Silmi” ini menawarkan, butir-butir yang sangat merugikan bagi kalangan Islamis. Di sisi lain, kubu liberalis malah memberikan konsesi politik yang lebih luas kepada militer. Tetapi, pada titik ini, dokumen “Silmi” ini, megajukan klausul, yang sangat merugikan kalangan Islamis, antara lain, menyebutkan dewan konstitusi yang akan dibentuk oleh parlemen terpilih lewat pemilu mendatang harus mendapatkan persetujuan minimal dua pertiga anggota.

Menurut kalangan Islamis, khususnya Ikhwanul Muslimin, mustahil dewan konstitusi yang bertugas menyusun konsitusi baru mendapat persetujuan dua pertiga anggota perlemen. KalanganIslamis merasa persyaratan itu, tidak mungkin kalangan Islamis memenuhi persyaratan itu. Gagasan dokumen “Silmi” itu hanyalah cara menjegal kalangan Islamis berkuasa di Mesir.

Kalangan Islami bersikeras tetap berpegang pada deklarasi konstitusi yang diumumkan Dewan Agung Militer pada 30 Maret 2011. Deklarasi itu menyatakan agar pemilu parlemen digelar terlebih dahulu dan anggota perlemen terpilih membentuk dewan konstituante yang bertugas menyusun konstisusi baru.

Sampai titik ini antara kalangan sekuler, nasionalis dan liberal berbeda dengan kalangan Islamis, dan kemudian mereka membuat gerakan di Tahrir Square, agar pemilu di Mesir gagal. Tentu, ini sangat merugikan bagi kalangan Islamis, dan menguntungkan kalangan sekuler, dan mereka tidak menginginkan kekuasaan jatuh ke tangan kalangan Islamis.

Tentu, kemenangan Islamis Mesir bukan hanya mencemaskan terhadap kalangan sekuler, tetapi akan mempengaruhi perkembangan regional dan geopolitik, serta proses politik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya Palestina.

Sumbang Sepatu Emas ke Palestina, Ronaldo Dikecam Yahudi

Christiano Ronaldo, bintang asal Portugal yang saat ini bermain untuk Real Madrid, memberikan sepatu emasnya kepada lembaga amal klubnya dalam rangka membantu anak-anak Palestina.

Qodsna, dikutip IRIB (21/11/2011) kemarin mengabarkan, lembaga amal Real Madrid melelang sepatu emas milik Ronaldo itu hingga 1,4 juta euro. Uang hasil lelang itu akan digunakan untuk membangun sekolah-sekolah bagi anak-anak di Jalur Gaza.

Ronaldo yang pernah menjadi pemain terbaik dunia pada 2008 itu, sebelumnya ketika masih bermain untuk Manchester United, Inggris, dalam sebuah acara mengenakan kafiyeh Palestina dan ia mendapat kecaman hebat dari lobi-lobi Zionis.

Akan tetapi media massa Inggris menyebut aksi Ronaldo itu menunjukkan kepedulian dan solidaritasnya terhadap krisis Palestina dan warga Jalur Gaza.

Lahir di Funchal, Madeira, Portugal, 5 Februari 1985, Christiano merupakan seorang pemain sepak bola Portugal. Ia dapat berposisi sebagai bermain sebagai sayap kiri atau kanan serta penyerang tengah. Saat ini ia bermain untuk tim Spanyol, Real Madrid dan untuk tim nasional Portugal. Sebelum bermain untuk Real Madrid, ia pernah bermain di Sporting Lisboa dan Manchester United.

Pernah bermain untuk Sporting Lisboa pada 2001—2003, ia bermain 25 kali dan mencetak 3 gol. Saat di Manchester United ia bermain 196 kali dan mencetak 84 gol.

Pada 1 Juli 2009, ia pindah ke Real Madrid, klubnya saat ini, dengan memecahkan rekor transfer sebesar 80 juta poundsterling, yang menjadikannya sebagai pemain termahal dalam sejarah sepak bola.

Rodriguez Kembali Tegaskan 9/11 adalah Konspirasi

Seorang warga AS yang dianggap pahlawan pada insiden penyerangan menara kembar di New York 9/11, William Rodriguez, hari Minggu kemarin (20/11) menegaskan kembali bahwa serangan 11 September itu hanyalah konspirasi.

Berbicara kepada AA, Rodriguez, yang pindah ke Amerika Serikat untuk menjadi seorang pesulap, mengatakan bahwa ia berada di gedung WTC di pagi hari 11 September 2001 dan telah mendengar ledakan di entry level bangunan sebelum serangan pesawat terjadi.

“Serangan 11 September dibuat untuk membenarkan masuknya Amerika ke Irak. Saya tidak bisa menerima tuduhan yang dibuat terhadap umat Islam. Ada ledakan di gedung sebelum pesawat menabrak apapun. Ini adalah konspirasi,” Rodriguez mengatakan.

“Saya yakin bahwa realitas di balik serangan 11 September akan datang ke permukaan suatu hari nanti,” Rodriguez mengatakan.

Rodriguez menjadi pahlawan nasional AS ketika ia membantu menyelamatkan banyak orang dari puing-puing menara kembar setelah insiden penyerangan menara kembar terjadi.

Tidak beberapa lama setelah itu Rodriguez masuk Islam. Keputusannya untuk berpindah agama membawanya ke puncak agenda di Amerika Serikat dan dunia.

Iran Sebut Ada Muatan Politik Dibalik Tuduhan IAEA

Wakil tetap Iran untuk Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Ali-Asghar Soltanieh, Selasa (8/11), mengatakan laporan badan PBB itu mengenai program nuklir Iran adalah tak seimbang, tak profesional dan bermotif politik.

Komentar Soltanieh disampaikan saat Direktur Jenderal IAEA Yukia Amano mengeluarkan laporan di Wina, yang menuding kegiatan Iran bertujuan membuat senjata nuklir. “Laporan Amano bukan sesuatu yang baru dan itu adalah pengulangan dari tuduhan terdahulu terhadap Teheran, “kata Soltanieh sebagaimana dilaporkan Fars.

Iran sudah menjawab semua tuduhan itu dan telah membutkikan semuanya tak berdasar, tambah Soltanieh.

Dengan mengulangi tuduhan yang sama, Amano merusak suasana konstruktif yang telah tercipta antara Iran dan IAEA dalam beberapa bulan belakangan, kata utusan Iran tersebut kepada kantor berita setengah resmi ISNA, Selasa.

Amano telah mempersiapkan laporan itu di bawah tekanan negara tertentu Barat, termasuk Amerika Serikat, kata Soltanieh kepada ISNA, seperti dikutip Xinhua.

Iran telah berulangkali berkeras mengenai sifat damai dari program nuklirnya, negara Barat tetap saja menyampaikan keprihatinan bahwa “Iran akan memanfaatkan pengayaan uranium untuk membuat senjata nuklir”.

Israel Kecam Keanggotaan Palestina di UNESCO

Para pejabat Israel, Senin (31/10), menolak dengan keras masuknya Palestina sebagai anggota ke-195 di Sidang Majelis Umum Organisasi Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan PBB (UNESCO).
Sebanyak 52 suara abstain dalam pemungutan suara yang diselenggarakan di markas besar organisasi itu di Paris. Dalam sidang itu, sebanyak 107 suara mendukung dan 14 suara menolak.

Kementerian Luar Negeri Israel dalam pernyataannya menyebut keputusan itu sebagai sebuah langkah sepihak Palestina yang tidak akan membawa perubahan di lapangan tapi justru akan menghapus kemungkinan lebih jauh untuk mencapai kesepakatan perdamaian.
“Israel tidak boleh dipermainkan, dari waktu ke waktu, sebagai parasit Timur Tengah,” kata Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman, yang juga menentang langkah Palestina itu.

Lieberman, berdasarkan siaran Radio Israel, menambahkan rakyat Palestina harus membayar atas apa yang mereka kerjakan. Langkah-langkah sepihak itu harus menerima balasan yang jelas.

Palestina percaya pengakuan simbolis yang besar akan tetap membantu mereka dalam meraih kesempatan sebagai anggota penuh PBB sejak Presiden Palestian, Mahmoud Abbas, mengajukan keanggotaan negaranya ke badan dunia itu, pada 23 September.

Dengan mengutip pernyataan keempat anggota Kuartet Internasional untuk perdamaian Timur Tengah –AS, PBB, Uni Eropa, dan Rusia– agar kedua pihak kembali berunding secara langsung, Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan langkah Palestina di UNESCO, serta langkah-langkah serupa di badan-badan PBB, sama saja dengan penolakan terhadap upaya masyarakat internasional untuk memajukan proses perdamaian.

AS bersikap setali tiga uang.. “Tindakan hari ini akan mempersulit kemampuan kami untuk mendukung UNESCO,” kata Wakil AS di UNESCO, David T Killion, kepada para wartawan setelah pemungutan suara berlangsung.

Pernyataan Killion tersebut mengisyaratkan penarikan dukungan dana AS kepada UNESCO. AS memberi dana sekitar 80 juta dolar AS, 22 persen dari pendanaan badan PBB itu. “Sikap AS telah jelas mengenai perlunya penyelesaian dua-negara, tapi satu-satunya cara ialah melalui perundingan langsung dan tidak ada jalan pintas, inisiatif seperti hari ini sangat kontraproduktif,” kata Killion.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri tersebut menyiratkan kemungkinan Israel mungkin tidak akan lagi melakukan kerja sama dengan UNESCO akibat pemungutan suara tersebut. “Terkait dengan keputusan penerimaan Palestina sebagai anggota tetap UNESCO, Israel akan mempertimbangkan langkah berikutnya untuk kerja sama yang sedang berlangsung dengan organisasi itu,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel.

Pangeran Mahkota Arab Saudi Wafat

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Pangeran mahkota Arab Saudi Sultan bin Abdul Aziz al-Saud meninggal dunia pada Sabtu subuh (22/10/2011) di luar negeri. Demikian pengumuman dari pengurus keluarga kerajaan lewat pernyataan yang disampaikan oleh kantor berita dan stasiun televisi pemerintah, SPA.

Pangeran Sultan yang telah berusia sekitar 86 tahun wafat di Amerika Serikat, di mana  sejak bulan Juni lalu ia menjalani mengobatan.

Selain menjadi pengeran mahkota, Sultan telah menjadi menteri pertahanan dan menteri penerbangan selama kira-kira empat dekade.

Menurut laporan SPA, Sabtu (22/10/2011), prosesi pemakanan untuk Pangeran Sultan akan dilaksanakan pada hari Selasa besok.

Diperkirakan Pangeran Naif yang berusia 70-an tahun, pejabat deputi kedua perdana menteri sejak 2009, akan menjadi pengganti Pangeran Sultan sebagai pangeran mahkota.

Raja Saudi sendiri, Abdullah, yang juga berusia 80-an tahun seperti Sultan, belum lama ini menjalani operasi tulang belakang.