Zionis-Israel Ancam Palestina jika Ingin Merdeka

Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman, memperingatkan soal apa yang disebutnya konsekuensi berat jika Otorita Ramallah bersikeras melaksanakan rencananya untuk menggalang dukungan atas deklarasi kemerdekaannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Namun politisi ekstrimis anti-Palestina itu, tidak menyebutkan apa bentuk “konsekuensi berat” tersebut.

“Belum waktunya untuk memberikan perincian apa yang akan terjadi,” ungkap Lieberman seraya menambahkan bahwa “Yang dapat saya katakan dengan pasti adalah bahwa setelah mereka [Palestina] melaksanakan keputusan unilateral itu, akan muncul konsekuensi berat,” ujarnya dikutip Radio IRIB.

Kementerian Luar Negeri Amerika juga menyatakan bahwa Washington akan melawan setiap langkah yang diambil Otorita Ramallah.

Ancaman Amerika Serikat dan Israel itu dilontarkan di saat mayoritas negara anggota PBB termasuk sejumlah anggota pemegang hak veto Dewan Keamanan, mendukung deklarasi kemerdekaan Palestina.

Jika upaya Otorita Ramallah dicegat di Dewan Keamanan, para pejabat Palestina akan kembali merujuk pada Majelis Umum, yang diharapkan deklarasi kemerdekaan Palestina akan mendapat dukungan dari mayoritas anggota.

Sidang Majelis Umum PBB ke-66 akan digelar 20 September dan akan melakukan voting terkait deklarasi kemerdekaan Palestina.

Libya Pasca-Qadafi Gunakan Alquran Sebagai Sumber Undang-Undang

Islam akan menjadi sumber utama undang-undang di Libya pasca-Qaddafi, kata ketua dewan pimpinan Dewan Transisi Nasional (NTC) dalam pidato pertamanya dihadapan publik di Tripoli, Senin.

Ketua NTC Mustafa Abdel Jalil mengeluarkan pernyataan itu dihadapan ribuan warga Libya yang berkumpul di Lapangan Syuhada dua hari setelah kedatangannya di ibu kota itu setelah rezim Muamar Gaddafi disingkirkan.

“Kita tidak akan menyetujui ideologi garis keras apapun, kanan atau kiri. Kita adalah orang Muslim, untuk satu Islam moderat, dan kita akan tetap pada jalan ini,” katanya.

Ini adalah kunjungan pertama Abdul Jalil ke Tripoli sejak pemberontakan menentang Gaddafi meletus Februari.  Pemimpin yang digulingkan itu, kini sedang dikejar sering tampil di lapangan yang waktu itu bernama Lapangan Hijau, untuk menghadiri rapat para pendukungnya.

Setibanya di Tripoli, Sabtu, Abdul Jalil disambut dengan karpet merah, dikerumuni ratusan orang dan dilindungi secara ketat oleh para pendukungnya.

Tindakan keamanan yang ketat juga diberlakukan bagi kehadirannya dengan daerah sekitar lapangan itu ditutup bagi lalu lintas dan pria-pria bersenjata memeriksa mereka memasuki lapangan itu.

Abdel Jalil yang menyebut “Pembebasan Tripoli, satu keajaiban yang terjadi dengan korban jiwa yang minimum,” mengemukakan kepada massa: “Anda akan bersama lagi menghadapi orang yang ingin menyelewengkan revolusi kita.”

Qaddafi , Senin bersumpah akan berperang sampai menang sementara pasukannya melancarkan serangan-serangan balik di tiga front.

Melihat Tanda Kehancuran Amerika Serikat

SEPULUH tahun sudah peristiwa serangan 11 September 2001 atas gedung World Trade Center di New York, Amerika Serikat, dikenang orang. Peringatan 9/11 sesungguhnya bukan semata peringatan menangisi korban dan mengencam aksi terorisme, melainkan juga menyaksikan kehancuran Amerika Serikat.

Dari tahun ke tahun cerita serangan 9/11 “American Under Attack” versi Gedung Putih semakin terkuak kebohongannya. Tidak diperlukan intelejensia yang tinggi untuk mengetahui banyaknya kerancuan yang melingkupi peristiwa 9/11, hanya perlu sedikit kecermatan membaca informasi.

Di hari yang sama saat 9/11 terjadi, Presiden AS ketika itu George W. Bush, sedang melakukan kunjungan ke sebuah sekolah dasar di Florida.

Pesawat pertama menghantam tower utara WTC pada pukul 8:46 pagi itu. Tidak sampai dua puluh menit kemudian, pesawat kedua menusuk tower kedua. Bush, yang sedang bercengkrama dengan anak-anak sekolah, dibisiki pembantunya mengenai peristiwa tersebut. Anehnya, tidak ada tindakan apapun yang diambil para pengawal presiden, untuk mengamankan pemimpin mereka. Bush malah terus berada di tempat itu lebih dari setengah jam lamanya, mendengarkan dongeng yang dibacakan siswa sekolah dasar di sana.

Pada saat yang bersamaan, pesawat American Airlines Flight 77 jatuh di Pentagon, simbol pertahanan Amerika Serikat. Tiga puluh menit kemudian sebuah pesawat penumpang lainnya jatuh di wilayah Pennsylvania. Pesawat ke lima yang berhasil digagalkan pembajakannya, kabarnya akan dijatuhkan di Gedung Putih.

Bayangkan, sebuah negara adidaya yang senantiasa merasa menjadi sasaran teror, presiden dan kaki tangannya tidak terlihat panik sama sekali, saat lima pesawat dibajak dan dijatuhkan di tempat-tempat yang menjadi simbol kebanggaan negaranya. Jika memang penguasa negara besar itu tidak tahu sama sekali tentang “skenario serangan” tersebut, maka berarti pertahanan negara adidaya itu ternyata sangat lemah sekali sampai-sampai kejadian di atas bisa terjadi.

Lebih dari 1.500 arsitektur, insinyur dan profesional serta lebih dari 13.000 pendukungnya telah menandatangani petisi yang berisi tuntutan adanya penelitian independen yang sungguh-sungguh oleh Kongres AS atas runtuhnya kompleks gedung WTC. Mereka mengajukan bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa menara kembar kebanggaan Amerika itu tidak akan rontok begitu saja karena ditabrak satu pesawat terbang di masing-masing tower.

Sejarah Amerika Serikat mencatat bahwa negara itu terbentuk dan menjadi besar seiring dengan berbagai temuan dan inovasi teknologi para intelektualnya. Ketika lembaga perwakilan rakyat tidak mengindahkan tuntutan penyelidikan ilmiah atas salah satu ikon kebanggaan AS itu, maka hal tersebut bisa diartikan sebagai pelecehan atas para cerdik cendikia yang ikut membangun negara tersebut.

Sutradara Holywood Michael Moore yang kerap mengkritik pemerintah Amerika lewat film-film dokumenter box office-nya, saat menerima penghargaan Academy Award 2003 berkata, “We live in the time where we have fictitious election results that elects a fictitious president. We live in a time where we have a man sending us to war for fictitious reasons … we are against this war, Mr. Bush. Shame on you. Mr. Bush, shame on you.” (Kita hidup pada masa di mana kita mendapati hasil pemilu fiktif, yang memilih presiden fiktif. Kita hidup pada masa di mana seorang pria mengirim kita berperang demi alasan yang fiktif…kami menentang perang ini. Anda memalukan, Tuan Bush, Anda memalukan.)

Tapi, bagi Bush yang merupakan seorang pengusaha asal Texas itu, perang tidak memalukan sama sekali. Anggap saja kematian atau gangguan jiwa para prajurit akibat perang sebagai “modal usaha.”

Bermodalkan 5 pesawat, dua menara kembar, kurang dari 3.000 nyawa orang tak berdosa di WTC, Amerika Serikat mendapatkan dua medan perang di Afghanistan dan Iraq. Mereka tidak hanya bebas mengatur pemerintah negara setempat, tapi juga menguasai sumber-sumber daya alamnya. Selain itu, Amerika Serikat bebas menembaki anak-anak, perempuan dan orang jompo dengan alasan mencari “teroris”.

Dengan alasan memerangi teror, Amerika menghancurkan Afghanistan dan Iraq. Bahkan ketika Afghanistan sudah hancur-lebur, Amerika tak juga mendapati Usamah, sekalipun sarung atau sandalnya. Naifnya, sampai Iraq hancur dan khasanah Islam juga banyak yang hilang,  alasan mencari senjata pemusnah massal (Weapons of mass destruction / WMD) yang sering digembar-gemborkan itu juga tak pernah ditemukan.

Kini, dengan alasan yang sama, ia akan meng-Iraq-kan Libya, yang dikenal memiliki cadangan kandungan minyak cukup besar setelah Saudi.

Pengorbanan semacam itu sangat lazim, terlebih Amerika Serikat pernah melakukan hal yang serupa sebelumnya.

Di awal tahun 1960-an, para pemimpin teras militer AS dilaporkan pernah membuat rencana untuk membunuh orang-orang tak bersalah dan melancarkan aksi terorisme di kota-kota di Amerika Serikat guna mencari dukungan perang melawan Kuba. Begitu kabar yang pernah dilansir ABC News Mei 2001.

Operasi yang dinamakan Operation Northwoods itu merencanakan pembunuhan atas para imigran Kuba, menenggelamkan kapal-kapal yang mengangkut pengungsi kuba di laut lepas, meledakkan kapal-kapal Amerika, membajak pesawat-pesawat dan bahkan melancarkan aksi terorisme di berbagai kota di Amerika.

Krisis Paman Sam

Salah satu indikator untuk menilai kemakmuran sebuah negara adalah dengan melihat keadaan terkait kesejahteraan rakyatnya, seperti bidang pendidikan, kesehatan pangan dan papan.

Jika kita kumpulkan berita-berita yang berceceran tentang kehidupan rakyat Amerika Serikat dalam waktu beberapa tahun terakhir pasca 9/11, maka dengan jelas kita akan mendapati berita yang tidak jauh berbeda dengan beberapa negara berkembang atau bahkan terbelakang.

Kita mendengar tentang jutaan pengangguran di Amerika Serikat, tentang rakyat yang mengantri kupon makanan, rakyat yang kehilangan rumahnya, rakyat yang terbelit bunga hutang, orang sakit yang tidak bisa membayar biaya perawatan, dan juga sekolah-sekolah yang ditutup.

Melihat kondisi Amerika Serikat yang semakin memburuk, pada Maret 2009 Perdana Menteri China Wen Jiabao bahkan kepada wartawan pernah mengutarakan kekhawatirannya.

“Kami telah memberikan pinjaman yang sangat besar kepada Amerika Serikat. Tentu saja kami khawatir atas kemanan aset-aset kami. Jujur, saya sedikit khawatir,” kata wen ketika itu. “Saya ingin menyerukan kepada Amerika Serikat untuk menghormati janji-janjinya, tetaplah menjadi negara yang kredibel dan memastikan keamanan aset-aset China,” kata Wen, perdana menteri dari satu-satunya negara pemegang surat hutang AS terbesar di dunia.

Pendidikan, kata orang bijak, adalah modal utama kemajuan dan kebesaran sebuah negara. Kenyataannya pada masa sekarang ini, sepuluh tahun setelah peristiwa 9/11, kita melihat sekolah-sekolah dasar dan menengah di banyak negara bagian Amerika Serikat ditutup. Kita mendengar kabar bahwa guru-guru di Amerika bahkan harus membeli kapur tulisnya sendiri.

Boleh jadi, kehancuran akibat kejahatan dan dosa-dosa besar Amerika terhadap banyak negara dan berbagai bangsa akan berakhir pada titik kulminasi. Masalah, kapan waktu itu akan datang, hanya Alloh SWT yang Maha tahu.

Konsekuensi Keuangan AS Akibat Serangan 911

Sepuluh tahun setelah serangan 9/11 di Amerika Serikat, Amerika masih harus membayar untuk apa yang para pejabat AS namakan “Perang Melawan Teror.” Kebijakan perang AS di Afghanistan, Irak dan Pakistan yang telah menelan biaya triliunan dolar pembayar pajak Amerika sejak tahun 2001.

Biaya langsung dari serangan 9/11:

  • World Trade Center dan gedung-gedung yang berdekatannya telah diasuransikan sebesar 4 miliar dolar.
  • Kerusakan Pentagon akibat serangan menelan biaya perbaikan miliaran dolar.
  • Keempat pesawat yang konon melakukan serangan, senilai antara 50 juta dolar hingga 100 juta dolar.
  • Perkiraan asuransi atas kerugian yang dicatat atas barang dan jasa yang tidak diberikan selama beberapa hari setelah serangan mencapai total 10 miliar dolar.
  • Perkiraan total biaya keseluruhan asuransi untuk New York akibat serangan menelan biaya antara 25 miliar hingga 30 miliar dolar.

Biaya “Perang Melawan Teror” bagi AS:

Menurut penelitian proyek bulan Juni 2011 terkait “Biaya Perang” yang dilakukan oleh Brown University Watson Institut Studi Internasional, tagihan akhir dari tiga perang AS di Afghanistan Irak, dan Pakistan akan mencapai setidaknya 3.7 triliun dolar dan bisa meningkat hingga 44 triliun dolar. Perkiraan itu tidak termasuk setidaknya 1 triliun dolar lebih dalam pembayaran bunga miliaran dolasr yang jatuh tempo dan banyak lagi beban yang tidak dapat dihitung, menurut penelitian ini.

Menurut sebuah laporan investigasi tahun 2010 oleh Washington Post, anggaran intelijen AS sangat tinggi, yang diumumkan pada tahun 2009 saja 75 miliar dolar, lebih besar 21 kali pada 10 September, 2001. Tetapi angka itu belum termasuk kegiatan militer atau program kontraterorisme domestik.

Belanja pertahanan AS meningkat sebesar 2,8 persen pada tahun 2010 menjadi 98 miliar dolar, setelah rata-rata pertumbuhan meningkat 7,4 persen antara 2001 hingga 2009.

Usai Membunuh Usamah, Harusnya AS Segera keluar dari Afghanistan

Amerika Serikat seharusnya mengambil keuntungan dari kematian Usamah bin Ladin dengan menarik tentaranya dari Afghanistan, kata mantan duta besar Saudi untuk Washington, Pangeran Turki Faisal, Rabu.

Karena, menurut dia,  pembunuhan pemimpin Alqaidah itu bukan akhir terorisme dan itu seharusnya diberi nilai lebih oleh warga Amerika Serikat, kata Turki.

Pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat melacak tempat persembunyian bin Laden di kota garnisun Pakistan, Abbottabad, dan membunuhnya dalam serangan berani pada awal Mei. Kematian bin Laden dapat menjadi kesempatan sempurna bagi presiden Amerika Serikat untuk menarik pasukannya, kata pangeran mantan kepala intelejen Saudi itu.

“(Tapi) Saya lihat Amerika Serikat tak pelak menarik diri dari Afghanistan. Saya melihat Amerika Serikat melakukannya pada sekitar 2014,” tambah John Negroponte, mantan diplomat Amerika Serikat dan direktur pertama lembaga intelejen negara di bawah Presiden George W Bush.

Negroponte dan Faisal membahas perubahan ancaman terorisme beberapa hari menjelang peringatan 10 tahun serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat. Negroponte menyatakan kekuatan teknologi informasi dimasukkan ke dalam tangan masyarakat sandi Amerika Serikat dalam hal menyasar teroris selama dasawarsa belakangan.

Pentagon pada awal Agustus berusaha menghilangkan kekuatirannya akan kebangkitan Taliban setelah pejuang Afghanistan itu menembak jatuh helikopter pada akhir pekan sebelumnya, yang menewaskan 30 tentara Amerika Serikat.

Itu kejadian paling mematikan bagi pasukan Amerika Serikat di Afghanistan sejak perang tersebut dimulai hampir sedasawarsa lalu dan mengikuti serangkaian pembunuhan kelas tinggi serta serangan gerilyawan dalam beberapa bulan belakangan.

Pejabat tentara Amerika Serikat berulang kali mengecilkan kejadian itu saat Taliban berusaha menunjukkan kekuatan sesudah serangkaian kekalahan, yang mengakibatkan kubu mereka diambil alih pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Kapal Perang Turki Akan Kawal Bantuan ke Gaza

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa kapal perang Angkatan Laut Turki akan mengawal setiap kapal bantuan Turki untuk rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Dalam pernyataannya yang disiarkan televisi Al-Jazeera, Erdogan mengatakan bahwa Turki telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah Israel dari eksploitasi sumber daya alam secara sepihak di Mediterania timur.

Erdogan telah berjanji kepada Israel akan menambah lebih banyak sanksi lagi jika negara Zionis itu tetap bersikeras dengan sikapnya itu.

Dalam jumpa pers usai bertemu dengan Perdana Menteri Spanyol Jose Luis Rodriguez Zapatero, Erdogan menegaskan bahwa Turki akan terus menempatkan sanksi lebih lanjut kepada Israel. Dia juga menjelaskan bahwa prosedur yang diberlakukan Turki saat ini hanyalah awal dari sanksi-sanksi terhadap Israel.

Hubungan Turki dengan Israel semakin memburuk pekan lalu setelah Israel menolak meminta maaf secara resmi kepada Turki atas serangan Mavi Marmara pada akhir Mei 2010 lalu.

Jumat lalu, Ankara juga telah mengumumkan pengusiran Duta Besar Israel Gabby Levy dan memutuskan semua hubungan militer, termasuk kontrak bisnis yang berkaitan dengan pertahanan.

Kehadiran Erdogan Bakal Disambut Jutaan Pemuda Mesir

Pemuda revolusioner di Mesir meluncurkan gerakan untuk melakukan seruan “sejuta orang menyambut kedatangan PM Turki Recep Thayeb Erdogan”, yang sedianya berkunjung ke Kairo pada 12 September ini.

Langkah pemuda revolusioner Mesir ini sebagai respon positif atas sikap pemerintah Turki terhadap isu Arab dan Islam, terutama adalah sikap Turki terhadap isu Palestina, ditambah lagi gaung positif yang meluas atas langkah Turki mengusir dubes Israel karena pemerintahnya tidak mau meminta maaf atas serangan yang dilakukan terhadap armada kebebasan yang mengakibatkan gugurnya 9 relawan Turki tahun lalu.

Disebutkan pula bahwa Erdogan juga berniat akan mengunjungi Jalur Gaza di tengah-tengah blokade dunia atas wilayah tersebut. Hal ini semakin menambah popularitas erdogan di kalangan orang-orang Mesir yang berharap pemerintah mereka berinisitif membebaskan blokade Jalur Gaza dan tidak hanya memantau saja

Pertama Kalinya dalam Sejarah Partai Syiah Berdiri di Mesir

Di Mesir, untuk pertama kalinya partai politik Syiah berdiri dengan membawa bersama wakil-wakil dari warga Syiah yang ada di negara tersebut, surat kabar Al-Syuruk melaporkan Rabu kemarin (24/8). Partai Syiah ini diberi nama “Partai Persatuan dan kebebasan.”

Pendiri Partai, Ahmad Rasimal-Nafis, mengatakan bahwa partainya akan mempromosikan nilai-nilai tradisional Mesir, misalnya, mengkampanyekan hidup berdampingan secara damai meski memiliki keyakinan yang berbeda. Menurut dia, platform partai harus mencerminkan pluralisme yang mencirikan masyarakat yang ada di Mesir.

Perlu dicatat bahwa agama Syiah pada abad pertengahan lalu adalah agama yang sempat menguasai Mesir , ketika negara itu diperintah oleh para khalifah dari dinasti Fatimiyah, yang berakar ke sekte Syiah Ismailiyah. Setelah jatuhnya rezim Fatimiyah, agama Syiah telah kehilangan posisi posisi terkemukanya di Mesir. Data yang tepat mengenai jumlah masyarakat Syiah Mesir tidak diketahui, tetapi menurut beberapa sumber, hanya ada beberapa ratus ribu orang – kurang dari 1% dari total populasi.

Pendiri partai Al-Nafis (57 tahun) lahir dari sebuah sebuah keluarga Sunni, namun pada tahun 1985 ia memutuskan untuk murtad dan masuk ke agama Syiah. Pada tahun 2004, dia meminta pihak berwenang untuk memberikan status resmi dari minoritas agama Syiah di Mesir, tapi mendapat penolakan. Dalam sebuah wawancara tahun lalu al-Nafis mengatakan bahwa Syiah selalu teraniaya, dan setelah perang di Libanon pada tahun 2006, pemerintah Mesir mulai lebih dekat memantau komunitas Syiah

Gempa Besar Terjadi di AS, WNI Aman

Washington DC, New York dan beberapa kota di wilayah timur laut Amerika Serikat pada Selasa siang diguncang gempa bumi relatif kuat yang berpusat di Virginia, yaitu negara bagian yang berbatasan dengan Washington DC, namun WNI disana aman.

Menurut berbagai laporan yang dihimpun dari New York, gempa berkekuatan 5,8 skala Richter itu sempat mengguncang bangunan-bangunan – terutama gedung-gedung tinggi- dan membuat panik sebagian masyarakat.

Hingga laporan ini diturunkan, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan berarti. Demikian pula perwakilan-perwakilan Indonesia di Washington DC dan New York tidak menerima laporan adanya warga Indonesia menjadi korban.

“Tadi kita berusaha menghubungi para warga kita yang berada di Virginia. Sebagian besar sulit dihubungi karena sinyal telepon terganggu akibat gempa. Namun mereka yang berhasil kita hubungi, mengatakan mereka baik-baik saja walaupun sangat kaget,” kata juru bicara KBRI Washington DC Heru Subolo.

Warga Indonesia yang berada di Virginia berjumlah sekitar 1.500 orang. Secara keseluruhan, warga Indonesia yang tinggal di Virginia, Washington DC dan Maryland –negara bagian yang juga berbatasan dengan Washington DC– berjumlah sekitar 4.000 orang.

Gempa terjadi sekitar pukul 13.50 waktu setempat, membuat orang-orang yang berada di luar gedung berhamburan ke jalan. Pihak berwenang di gedung-gedung pemerintahan AS segera melakukan evakuasi terhadap para stafnya ke luar gedung. Pemandangan yang sama juga terjadi di kompleks KBRI Washington.

“Saya merasakan getaran cukup keras saat sedang bekerja di lantai 3, kerai jendela di belakang saya bergerak ke sana ke mari. Teman-teman yang berada di dalam juga merasakan gempa kuat, dan langsung ke luar untuk menghindari kemungkinan gempa susulan,” kata Heru.

Di luar gedung KBRI – yang terletak di Jalan Massachusetts Ave NW – pada saat yang sama terlihat kerumunan orang yang baru saja dievakuasi dari bangunan-bangunan yang terletak di dekat gedung KBRI DC termasuk, termasuk Hotel Hilton dan Hotel Fairfax, ujar Heru.

Ribuan Jamaah Dicegah oleh Pasukan Israel dari Memasuki Masjid Al-Aqsha

Pemerintah pendudukan Israel melarang ribuan jamaah dari Yerusalem dari mencapai Masjid Al-Aqsa pada hari Jumat ketiga bulan Ramadhan kemarin (19/8).

Polisi dan tentara pendudukan Israel dikerahkan dalam jumlah besar di jalan-jalan kota Yerusalem dan sekitarnya.

Mereka menghentikan pria di bawah usia 50 dan wanita di bawah usia 40 dari mencapai Masjid Al-Aqsha menolakl ribuan warga dari kota suci itu mencapai masjid.

Kriteria ini sudah digunakan terhadap orang-orang dari Tepi Barat, tapi pada Jumat pertama Ramadhan kali ini kriteria itu juga digunakan terhadap penduduk Yerusalem yang diduduki.

Baku hantam pecah antara jamaah yang menunggu untuk diizinkan mencapai masjid Al-Aqsha melalui Bab al-Amoud dengan polisi pendudukan. Jamaah saling dorong dengan polisi sebelum polisi pendudukan membawa meriam air dan lebih banyak lagi pasukan polisi.

Ribuan jamaah terpaksa harus shalat di jalan-jalan di luar tembok kota tua.

Lebih dari 180 ribu jamaah menghadiri shalat Jumat pekan lalu dan jumlah itu diperkirakan bisa mencapai 250 ribu pada Jumat ini, tetapi tindakan pasukan pendudukan yang ketat mencegah hal ini terjadi.