Belilah dan Jangan Di Tawar

Sahabat…
Pernahkah membeli permainan wiah-wiah yang di buat dari betung jika di putar bunyinya khas..??

Burung yang di buat dari gabus halus cara mainnya dikasih kayu dan roda, jika kita jalankan maka berbunyi seperti kita memukul batok kelapa.??

Topeng dengan berbagai bentuk, ada satria baja hitam dan topeng lainnya, serta pluit untuk kita pergunakan saat main kejar-kejaran.
Jika belum pernah membelinya, YUK KITA BELI DAGANGAN BAPAK.

Perkenalkan nama bapak dalam foto ini adalah Zulkifli biasa di sapa Pak Zul. Usia beliau 64 tahun, berasal dari Pasaman dan tinggal di Gadut Kabupaten Limapuluh Kota. Tiap hari Pak Zul ber jualan di Pasar Ibuh Kota Payakumbuh.

Tanpa mengeluh dan selalu tersenyum Pak Zul jualan telah memasuki sepuluh tahun. Terkadang dalam sehari Pak Zul bisa membawa hasil penjualannya ke rumah, dan adakalanya tidak ada yang akan di berikan untuk saudara kecuali tetap semangat.

Sahabat dimanapun berada jika ada melihat Pak Zul, alangkah baiknya kita beli apa yang di jualnya, sebab selain harganya murah, juga banyak mengandung nilai edukasi jika anak, kemenakan, cucu yang memainkannya.

(Masyithah)

2018 Saatnya Berani Keluar Dari Zona Nyaman

Selama ini kita merasa telah nyaman dengan apa yang kita lakukan contonya seperti pekerjaan, kesibukan, usaha, bahkan cita-cita yang nantinya akan kita capai. Tak heran apa yang kita lakukan itu berharap tidak ada masalah, damai-damai saja, dan pada ujungnya jalan di tempat dan tidak berkembang. Terasa ataupun tidak, ya itulah rasa nyaman yang belum sepenuhnya bisa kita rasakan.

Sahabat, sering kali kita terjebak dengan rasa “nyaman” yang kita rasakan pada suatu bidang atau beberapa bidang yang kita lakoni, dengan rasa itu maka kita takut mencoba hal yang baru.  Mencoba hal yang baru bukan berarti kita terlambat untuk mengenalnya, dan ketahuilah hal yang baru itu akan membuka dan membantu kita untuk mengetahui siapakah diri kita dalam artian kita mampu mengetahui dimana titik lemah dan kedasyatan potensi yang kita miliki. Nah itu semua tentu berawal dari kita berani keluar dari zona nyaman di tahun 2017 lalu. Sekarang ini tahun 2018 adalah saat kita memulai semua impian yang pernah kita tulis di secarik kertas, masanya tulisan itu harus kita hapus dengan target, semangat dan action. Setiap jiwa adalah pembelajar yang ulung yang selalu memanfaatkan sisa umur yang Allah Swt titipkan.

Sahabat, kita tidak tahu sejauh mana usaha kita itu akan bernilai ibadah, sedangkan untuk mencapai sebuah kesuksesan, dan berusaha keluar dari zona nyaman yang sering “melenakan diri dan enggan untuk belajar dan mencari perkembangan baru juga apapun itu, target- target pribadi, ataupun target- target dakwah, harus diikuti dengan langkah-langkah yang istiqomah. Bukankah Allah Swt. menyukai amalan yang sedikit tetapi dilakukan secara terus menerus? Dan tidak kalah pentingnya, setelah sekian usaha kita lakukan, kita serahkan hasilnya kepada Allah Swt.  Sambil memohon pertolongan, karena tiadalah yang dapat menolong kita selain Allah Swt, sebab Allah lah yang memiliki segala urusan yang kita lakukan di dunia ini . Ingat ya sahabat Allah Swt hanya melihat usaha kita, bukanlah hasil. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berserah diri kepada-Nya,” (Q.S. Ali Imron ayat 159).

Selamat menjadi pribadi yang berani mendedikasikan hidupnya pada perubahan kearah yang lebih baik, kearah yang memperjuangkan kemuliaan Allah Swt pada perubahan yang dilakukan. Selamat juga kepada sahabat yang telah berani keluar dari zona nyaman yang melelapkan segala impian untuk terus bangkit dan bangkit. Selamat juga pada sahabat yang berani memotivasi dirinya untuk meneladani Rasulullah Saw dalam segala bidang. Zona nyaman bukan suatu hal yang nyaman untuk di nyamankan. (Masyithah)

Luar biasa bagi yang membaca Al-qur’an

Berkata Abdul Malik bin Umair:
“Satu-satunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selalu membaca Al-qur’an”.

“Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Al-qur’an”.

Berkata Al-imam Qurtubi:
“Barang siapa yang membaca Al-qur’an, maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun”.

Imam besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat pada muridnya Abbas bin Abdi Daim rahimahullah.
“Perbanyaklah membaca Al-qur’an jangan pernah kau tinggalkan, kerana sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan di mudahkan setara dengan yang kamu baca”.

Berkata Ibnu Solah:
“Bahwasannya para Malaikat tidak diberi keutama’an untuk membaca Al-qur’an, maka oleh karena itu para Malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari baca’an manusia”.

Berkata Abu Zanad:
“Di tengah malam, aku keluar menuju masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam sungguh tidak ada satu rumahpun yang aku lewati melainkan pada nya ada yang membaca Al-qur’an”.

Berkata Shaikhul Islam ibnu Taimiyyah: “tidak ada sesuatu yang lebih bisa memberikan nutrisi otak, kesegaran jiwa, dan kesehatan tubuh serta mencakup segala kebahagiaan melebihi dari orang yang selalu melihat kitabullah ta’ala”.

Bergantunglah pada Alqur’an niscaya kau akan mendapatkan keberkahan.
Allah berfirman: “ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu yang penuh keberkahan agar mereka mau mentadaburi ayat-ayatnya”.

Berkata sebagian ahli tafsir
“Manakala kita menyibukkan diri dengan Al-qur’an maka kita akan di banjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan di dunia”.

“Saya memohon kepada Allah agar mberikan taufiqnya kepada saya dan kalian semua untuk selalu membaca Al-qur’an dan mengamalkan kandungannya”.

Karyati, Kisah Seorang Pemulung Naik Haji

Niat dan usaha yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang pada sesuatu yang dicita-citakannya. Setidaknya inilah yang diyakini dan diamalkan oleh Karyati, seorang pemulung asal Desa Pondok Wuluh Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Meski secara logika pekerjaan yang dijalaninya merupakan pekerjaan rendahan, tetapi nenek yang berusia sekitar 69 tahun tersebut ternyata mampu mencapai cita-citanya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima naik haji ke tanah suci.

Namun demi bisa mencapai keinginannya tersebut, Karyati telah bekerja sangat keras. Bahkan selama 20 tahun lamanya, wanita paruh baya tersebut menyisihkan sebagian jerih payahnya sebagai pengais barang bekas plastik dan kertas.

Janda renta yang mempunyai 4 (empat) orang anak ini berkeyakinan bahwa suatu saat nanti dirinya bakal bisa naik haji ke tanah suci layaknya orang-orang lain yang berduit. Atas keyakinan tersebut, dirinya selalu menyisihkan hasil dari memulung untuk ditabung dan sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Memang untuk mewujudkan impian naik haji ini penuh perjuangan. Karena saya harus menabung selama 20 tahun lamanya. Tetapi saya yakin Allah pasti mengabulkan doa saya untuk bisa melihat Ka’bah secara langsung,” ujar Karyati.

Menurut Karyati, cita-cita naik haji itu sudah lama terpendam semenjak 2002 lalu. Saat itu dirinya mengaku masih punya toko kelontong di desanya. Masa-masa sulit dilewatinya saat usaha kelontongnya bangkrut di pada tahun 2005. Namun untuk menyambung hidup, Karyati kemudian menjadi seorang pemulung. Meski pekerjaannya terbilang rendah, tetapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk bisa meraih cita-citanya untuk menunaikan ibadah haji.

Sekitar tahun 2004, Karyati mulai mendaftarkan diri sebagai haji Kabupaten Probolinggo. Pada waktu itu, tabungannya dari hasil menjadi pemulung sudah mencapai sekitar Rp. 20 juta. Selain dari hasil memulung, uang tersebut didapat dari beberapa sukarelawan.

“Pernah suatu ketika, tepatnya pada tahun 2010 saya pernah ditipu oleh seseorang yang mencoba menawarkan jasa. Namun tanpa disadari saya tertipu sebesar Rp. 10 juta dan uang tersebut tidak dikembalikan meskipun beberapa waktu kemudian akhirnya ditangkap oleh polisi,” jelasnya.

Dan selama mengejar impiannya, Karyati tidak mau kumpul atau tidur di rumah anak-anaknya. Bukannya tidak sayang kepada anak dan cucunya, namun nenek bercucu 12 orang ini tidak mau mengganggu atau menjadi beban hidup anak-anaknya. Dirinya lebih memilih tidur di toko usang miliknya. Terkadang pula tidur di masjid desanya. “Kalau pas bersih-bersih masjid ada orang kasih rejeki, saya tabung,” katanya.

Namun dengan tekad yang kuat, semua kejadian tersebut tidak mematahkan semangat Karyati untuk mewujudkan cita-citanya untuk dapat berangkat haji. “Saya hanya bisa pasrah namun saya tidak mau putus asa untuk tetap bisa berangkat haji ke tanah suci,” terangnya.

Bermodalkan sebuah sepeda buntut, Karyati keliling dari kampung ke kampung mengumpulkan barang bekas. Sebagian hasilnya digunakan untuk makan dan sebagian lain ditabung untuk bisa naik haji. “Dalam sehari, upah memungut barang bekas sebesar Rp. 10 ribu. Yang Rp. 5 ribu ditabung dan yang Rp. 5 ribu untuk makan,” akunya.

Usaha yang dilakukan Karyati tidak sia-sia. Semua hasil jerih payah dan keikhlasan hatinya membawa Karyati berangkat haji di tahun 2013 ini. Karyati direncanakan akan berangkat ke tanah suci pada tanggal 29 September 2013 melalui kloter 43 Embarkasi Juanda, Surabaya. (syamsul akbar-anam/dakwatuna/no.or.id)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/09/19/39543/karyati-kisah-seorang-pemulung-naik-haji/#ixzz2fL5c62cR
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Sekiranya engkau bukan istri Amirul Mukminin…

Ketika khalifah Umar mengetahui bahwa istrinya mendapat hadiah perhiasan dari permaisuri raja Romawi berupa intan berlian mahal, saat itu juga ia memerintahkan agar istrinya menyerahkan hadiah itu pada baitul mal seraya berkata

“Wahai istriku, ketahuilah bahwa engkau tidak akan mendapat hadiah dari permaisuri raja Romawi itu sekiranya engkau bukan istri Amirul Mukminin”.

Umar menghela napas sebentar lalu melanjutkan,
“Ketahuilah pula, aku dianggap orang yang paling kuat dan berkuasa, itu karena di belakangku berdiri pasukan muslim yang setiap saat bersedia melakukan tugasnya”.

*Sumber: buku “The Great of Two Umars” by Fuad Abdurrahman.

Manfaat Kesehatan Berhenti Merokok

Efek buruk rokok tak hanya berbahaya bagi si perokok. Sebanyak 70 persen perokok pasif yang terpapar asap mengalami efek  buruk rokok. Namun, kerap perokok sangat sulit lepas dari kebiasaan yang berbahaya bagi kesehatan ini.

Tak ada kata terlambat untuk menghentikan kebiasaan merokok. Berapapun usia Anda saat ini, berusaha menghentikan kebiasaan merokok bisa sangat bermanfaat untuk kesehatan Anda dan orang di sekitar Anda.

Jadi, Anda perlu tahu apa keuntungan yang bisa diperoleh jika Anda berhasil menghentikan terjadinya adiksi nikotin.

“20 menit saja Anda berhenti merokok bisa sangat berguna untuk kesehatan. Jadi tidak ada kata terlambat untuk berhenti merokok,” kata Operator Director Sahid Sahirman Memorial Hospital, Drg Yusrahma Nurina, MARS saat acara pembukaan Klinik Stop Merokok di kantornya, Rabu 12 Juli 2011.

Dokter yang akrap disapa Dr Rina ini pun membeberkan keuntungan berhenti merokok untuk kesehatan.

1. Berhenti merokok 20 menit, tekanan darah, denyut jantung, dan aliran darah tepi membaik

2. Dua jam berhenti merokok, tingkat karbon monoksida dalam darah kembali normal

3. Selama 48 jam berhenti merokok, akan memperbaiki sistem aliran darah, dan fungsi jantung meningkat

4. Dua sampai 12 minggu berhenti merokok, nikotin tereliminasi dari sistem tubuh, indera pengecap dan penciuman membaik

5. Satu hingga sembilan bulan berhenti merokok , nafas pendek (sesak) dan batuk-batuk berkurang

6. Satu tahun berhenti merokok, risiko terjadinya jantung koroner berkurang setengahnya dibandingkan dengan perokok

7. Sepuluh tahun berhenti merokok, resiko kanker paru setengahnya dibandingkan perokok

8. Selama 15 tahun berhenti merokok, risiko serangan jantung dan stroke turun ke tingkat yang sama dengan yang bukan perokok

Peranan para dokter dan ahli medis penting untuk menanyakan status merokok, mengedukasi dan membantu pasien untuk berhenti merokok. Ini sangat membantu para pecandu rokok menghilangkan kebiasaannya.

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dr Aulia Sani, SpJP (K), FJCC, FIHA, FasCC, mengungkap, satu kematian dini dapat dihindari apabila dua perokok dihimbau dan dibantu berhenti merokok.

“Untuk itu, peran tenaga medis perofesional sangat dibutuhkan untuk membantu perokok lepas dari adiksi nikotin,” katanya.

Rasulullah Menyuruh Kita Berbuat Baik kepada Pekerja

Insiden perlakuan buruk terhadap kalangan pegawai (servant) atau pembantu rumah (housemaid) masih sering terjadi. Perlakuan buruk ini  mulai dari kekasaran dalam bentuk ucapan, penipuan, penyiksaan secara fisikal dan bahkan sampai kepada jinayah (criminal) yang merenggut nyawa.

Tidak sedikit di antara golongan tenaga kerja yang sering membuat pengaduan yang menggugah rasa prihatin. Seperti sikap majikan yang kasar dan pemarah, adanya iming-iming upah yang menggiurkan, sementara kenyataannya sungguh jauh dari apa yang diangan-angankan. Bahkan ada yang sudah bekerja berbulan-bulan baik sebagai pembantu rumah tangga atau kuli bangunan, tetapi kerja keras dan peluh mereka dirasakan sia-sia karena upahnya tidak dibayar oleh majikan atau perusahan yang bersangkutan.

Penderitaan semakin lengkap ketika ada di antara mereka yang dianiaya secara fisik, berupa pukulan, tendangan, injakan kaki, ditempel besi panas, disiram air panas, dicambuk, diikat dengan tali atau rantai binatang peliharaan, disekap di kamar mandi dan sebagainya. Sebagaimana insiden paling buruk di akhir tahun 2010 tentu belum bisa dilupakan, pasangan suami isteri yang menempelkan setrika panas kepada bagian badan pembantunya dan menyiramnya dengan air panas. Sadis dan tidak manusiawi.

Penganiyaan terhadap pekerja atau pembantu rumah tersebut merupakan bentuk jinayah yang memerlukan pencegahan dan penanganan secara serius. Sebab, selain melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), perlakuan buruk tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang telah diajarkan Allah dan RasulNya.

Berkenaan dengan masalah ini, Rasulullah SAW telah memberikan arahan kepada para sahabat dan kaum muslimin supaya memperlakukan para pekerjanya dengan baik, bijaksana dan penuh kasih sayang.

Disebutkan dalam sebuah riwayat yang datang dari Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda: “Ada saudara-saudara kalian yang dijadikan oleh Allah SWT sebagai pembantu yang berada di bawah kekuasaan kalian. Barang siapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, maka hendaklah dia memberinya makanan dari makanannya, memberinya pakaian dari pakaiannya, dan janganlah kalian membebaninya dengan sesuatu yang tidak sanggup ia kerjakan. Jika ia membebaninya dengan sesuatu yang tidak sanggup dikerjakan, maka hendaklah ia membantunya.” (HR Bukhari Muslim)

Sedangkan dalam hadis lain, Abdullah bin Umar juga pernah meriwayatkan, “Seorang lelaki menghadap kepada baginda Nabi SAW kemudian berkata: Wahai Rasulullah, berapa kali aku harus memaafkan pembantuku? Rasulullah SAW terdiam. Lelaki itu kemudian bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Maka Rasulullah SAW menjawab: Tujuh puluh kali setiap hari.” (HR Tirmidzi). Wallahu ‘alam Al-Musta’an.

Dari Primitif Menuju Hijrah Peradaban

SATU hal penting yang perlu diambil pelajaran dari peringatan tahun baru Hijriyah adalah, saatnya melakukan perubahan peradaban. Momentum ini selayaknya menjadi generator untuk melakukan perbaikan peradaban yang lebih baik, menutup peradaban jahiliyah menuju pola peradaban yang mencerahkan. Kita patut mengambil ibrah secara mendalam dari peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari kota Makkah menuju Madinah. Bahwa, hijrahnya Nabi SAW itu sesungguhnya Hijrah Peradaban. Bukan hijrah Nabi SAW secara fisik yang kita pelajari, tapi spirit apa yang bisa diambil dari peristiwa bersejarah tersebut.

Dalam konteks kajian peradaban Islam, setidaknya ada makna penting dari peristiwa bersejarah ini, yaitu Nabi SAW telah melakukan dua tahap hijrah; hijrah fikriyah dan madaniyah. Tahap ini dilakukan dalam rangka mengadabkan pemikiran dan perilaku manusia.

Rasulullah SAW telah mempersiapkan matang-matang jauh hari sejak di kota Makkah sebelum hijrah ke Madinah. Penguatan basic-faith terhadap para sahabat merupakan aktifitas esensial yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di Makkah. Sebab, basic-faith menentukan bentuk pola piker, cara pandang dan prilaku manusia.

Dalam pandangan Ninian Smart, cara pandang atau basic pemikiran manusia melihat realitas dan kepercayaan befungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.

Maka, untuk membangun sebuah peradaban yang bermartabat langkah utama yang ditempuh pertama-pertama adalah melakukan hijrah fikriyah. Melakukan perubahan fundamental dari pola pikir badhawah (primitif) menjadi mode pemikiran yang hadharah (berperadaban). Dari hijrah fikriyah ini akan memantapkan hijrah madaniyah (hadlari).

Mengubah Pola Pikir Badhawah

Dalam teori Ibn Khaldun, di dalam suatu negara terdapat siklus dinamis, yaitu timbul dan tenggelam peradaban serta benturan antara pola pikir badhawah ( pola pikir primitif) dan pola pikir hadharah (pola pikir beradab). Pada mula terbentuk negara, ciri khas pola badhawah biasanya masih mendominasi. Ciri pola ini misalnya keberanian penguasa untuk merampas milik orang lain. Pada tahap ini pemimpin cenderung memiliki sifat despotisme (lalim), monopoli kemewahan dan kemegahan dan berusaha menjauhkan kawan agar tidak direbut kekuasaannya.

Artinya, jika kedzaliman masih dominan pada masyarakat apalagi pada level penguasa, maka negara itu belum mencapai kematangan, masih pada tahap pencarian bentuk untuk membentuk peradaban kota. Maka, dengan perspektif teori Ibnu Khaldun tersebut, manakala negara kita masih didominasi pola berkuasa yang dzalim, korup, tidak beradab, dan masih banyaknya kerancuan berpikir, maka sebenarnya kita belum menegakkan sebuah negara yang benar-benar Negara modern beradab.

Pola berpikir badhawah ini dapat disebut the loss of adab (ketiadaan adab) dalam istilah Syed M.Naquib al-Attas. Kehilangan adab akan memicu kerancuan epistemologi, cara bertindak, munculnya segala bentuk sofisme dan berlakunya ketidakadilan baik di bidang sosial masyarakat, politik lebih-lebih ketidakadilan di bidang ilmu – sebagai faktor utama penggerak berpikir. Manakala konsep-konsep ilmu tidak ditempatkan secara tepat, maka akan merusak tatanan moral dan rusaknya bidang ilmu pengetahuan (corruption of knowledge). Untuk itu, cara berpikir yang badhawah itu harus diubah dengan meningkatkan tradisi ilmu dalam masyarakat.

Makanya, dalam peradaban Islam, tradisi ilmu merupakan substansi terpenting. Menurut Ibnu Khaldun, tanda tegaknya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan, baik sains maupun agama. Dalam perjalanannya, tradisi keilmuan selalu dikawal oleh konsep iman. Bagi seorang muslim, akidah Islam menjadi basis sebuah proses memperoleh pengetahuan.

Cara berpikir muslim beradab mestinya dihubungkan dengan konsepsi ketuhanan. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW menjunjukkan hal itu. “Bacalah dengan Nama Tuhanmu” (QS. Al-‘Alaq:1) memberi pelajaran bahwa mencari ilmu (bacalah) harus disertai konsepsi tentang keyakinan kepada Tuhan.

Pembacaan tidak boleh parsial, lepas dari aturan dan ingatan kepada-Nya. Ini semua menunjukkan bahwa elemen-elemen dasar membangun peradaban itu adalah dengan pembentukan pola berpikir yang mendasar (hijrah fikriyah) kemudian pola ini dibangun dengan tradisi keilmuan yang dibimbing oleh akidah.

Jadi, untuk menuju pola Negara yang berperadaban, maka yang perlu diubah pertama kali adalah pola pikir masyarakat, ulama’, penegak hukum, dan para pejabatnya. Cara pandang terhadap sesuatu menjadi kata kunci. Pandangan-pandangannya unsur-unsur penegakan Negara mestinya adalah cara pandang Rabbaniyyah, dihubungkan dengan iman dan takwa kepada Allah SWT. Kenapa masih ada pejabat muslim yang korupsi? Karena cara pandang pejabat tersebut masih materialistik dan sekular, tidak Rabbani, meskipun muslim. Antar hati, pikiran dan perbuatan tidak sejalan. Pejabat yang beradab adalah pejabat yang hati, pikiran dan perbuatannya selalu dihubungkan dengan takwa kepada-Nya.

Menuju Pemikiran Hadhari

Pola masyarakat yang hadhari itu tidak sekedar ditandai dengan kemajuan variabel-variabel fisik kota, kemewahan, kemegahan, dan kesuburan tanah saja. Sebuah negara dinilai sebagai negara beradab jika telah berubah menjadi pola hadlarah. Yaitu pola yang masyarakatnya bermoral. Ibnu Khaldun mengatakan, kehancuran negara berkaitan dengan bobroknya moralitas penguasa dan masyarakat kota. Artinya, perkembangan negara dinilai dengan pertimbangan-pertimbangan moral dan agama.

Sejalan dengan itu, Sayyid Qutb juga mengatakan bahwa agama dan keyakinan adalah asas segala peradaban. Iman, menurut Sayyid Qutb adalah mashdaru al-hadharah (sumber peradaban). Iman yang juga elemen utama karakteristik konsep Islam secara prinsipil membentuk organisasi keilmuan yang didukung oleh taqwa, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan, menjaga dari keinginan hewani, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi berdasarkan petunjuak dan perintah-Nya.

Prinsip-prinsip Islam tersebut membentuk sebuah organisasi masyarakat Islam, yang disebut masyarakat madani – seperti halnya masyarakat yang dibentuk oleh Rasulullah SAW di kota Madinah. Bisa dikakatan di sini bahwa Islam itu tidak sekedar ritual agama, tapi Islam sejak awal merupakan peradaban.

Islam sebagai konsep din (agama) adalah hakikatnya mengandung misi sebagai peradaban. Sebab kata din sendiri memiliki keterkaitan secara linguistik dengan kata madinah dan madani/tamaddun. Keterkaitan derivatif ini juga memiliki hubungan konseptual. Islam sebagai satu-satunya agama berkonsep Din mengikuti pola atau bentuk yang menjadi acuan Allah SWT dalam memerintah yang merupakan peniruan dari sistem kosmik yang diwujudkan dalam kehidupan di dunia sebagai sistem sosial, budaya, politik dan elemen-eleman lainnya secara menyeruluh.

Kata din berasal dari akar kata dayana, yang memiliki beragam tapi terkait satu sama lain; yaitu bermakna berhutang, penyerahan diri, kuasa peradilan, dan kecenderungan alami mengikuti fitrah manusia yang beriman. Hakikat keadaan berhutang adalah wujud dan eksistensi manusia di dunia yang penuh kenikmatan fisikal dan spiritual. Mulanya, manusia itu dalam kerugian. Yakni lahir tanpa memiliki suatu apapun.

”Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” (QS.al-’Ashr: 2). Manusia beriman akan sadar bahwa segala sesuatu tentang dirinya, apa yang ada pada dirinya dan darinya sesungguhnya dimiliki oleh Sang Pencipta Yang Memiliki segala sesuatu.

Manusia yang beriman tidak sekedar merasa berhutang pada yang Maha Kuasa, tetapi kesadaran memiliki hutang diwujudkan dengan penyerahan diri (aslama). Dalam konsep Din, penyerahan tidak sekedar menyerahkan tanpa aturan. Konsep penyerahan diri barangkali umumnya dapat ditemukan di semua agama. Akan tetapi tidak semua agama menetapkan suatu penyerahan diri yang sesungghuhnya. Ada mekanisme teratur dalam melaksanakan penyerahan itu, yang tercermin dalam aturan syari’at.

Penyerahan diri menurut konsep Islam adalah penyerahan yang tulus dan menyeluruh menurut kehendak Allah dijalankan dengan sepenuh hati dengan ketaatan secara mutlak terhadap hukum yang diwahyukan oleh-Nya. Jadi syarat penyerahan diri itu adalah; kaffah tidak parsial, sesuai kehendak Allah bukan kehendak manusia, taat pada hukum sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an. Selain syarat ini, bukan konsep penyerahan diri secara Islam.

Inlah cara ’membayar hutang’. Ada mekanismenya. Mekanisme itu telah terlengkapi dengan acuan-acuan yang mengarahkan manusia menjadi manusia agung dan bebas. Bebas dari belenggu penjara nafsu. Makanya, kita mesti menyadari secara mutlak, bahwa kita tak memiliki apaun untuk membayar hutang kecuali dengan mekanisme yang telah terberi itu.

Diri manusia sendiri adalah hutang yang harus dikembalikan kepada Sang Pemilik. Mengembalikan hutang bermakna menjadikan dirinya dalam keadaan khidmat atau menghambakan diri kepada Allah. Konsep mengembalikan inilah yang telah wujud pada struktur konseptual istilah Din.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa dalam istilah din tersimpan suatu sistem kehidupan manusia yang terstruktur dengan baik. Oleh karena itulah, maka ketika din ini disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW dan dilaksanakan di suatu kota maka kota ini lantas disebut dengan Madinah (kota beragama/berperadaban). Kata madinah berasal dari kata yang sama dengan din, yaitu dayana. Kemudian kata ini membentuk kata baru yaitu madana, yang artinya membangun kota dan memajukan. Sehingga dari sinilah kemudian lahir kata tamaddun yang sering diterjemahkan dengan peradaban.

Dengan memotret peristiwa hijrah Rasulullah SAW dengan pemahaman bahwa Islam itu agama sekaligus peradaban ini, maka kita dapat mengambil pelajaran, bahwa yang terpenting kita lakukan saat ini adalah langkah pertama, yaitu melakukan hijrah fikriyah. Pola pikir badhawah (primitif) harus diberantas. Saat pola fikir kita menjadi hadhari maka, saat itulah kita berada di pintu masuk era madaniyah – tahap di mana, manusia memiliki peradaban yang bermartabat dan berkeadilan. Inilah esensi hijrah ruhiyah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Harapan Sederhana untuk Anak

AKU tapaki jalan ini penuh pinta, anakku. Kesenangan adalah impian yang kusimpan untuk kuminta pada Tuhan ketika tubuh ini sudah menjadi tulang belulang, sebab dunia terlalu pahit untuk diperebutkan. Tak ada yang abadi dari permainan dunia, sebagaimana hidup ini juga tidak abadi. Banyak sudah manusia yang mati. Dan kita hanya menunggu kematian dipergilirkan.

Mengenangkan orang-orang tercinta, anakku, adalah rasa hina karena tak sanggup membalaskan kebaikan-kebaikan mereka semua. Betapa mudah hati lupa oleh kenikmatan yang tak seberapa ini. Lupa asal-usul, lupa tempat kembali sesudah mati, dan lupa pada tujuan penciptaan ini. Maka aku pesankan, anakku, arahkanlah pandangan mata hatimu kepada hidup sesudah mati. Dan bahwa sesungguhnya kehidupan ini hanyalah saat untuk bersiap-siap….

Aku tapaki jalan ini penuh airmata, anakku. Aku pernah sakit berbulan-bulan dengan jantung yang sedikit bermasalah. Aku akhirnya bisa bangkit ketika aku belajar melupakan rasa sakit dan tidak sibuk meratap dengan apa yang dikatakan oleh dokter tentang harapan sehat bagi diriku. Kudidik diriku untuk tidak diam terpaku menanti waktu habis di pembaringan. Aku akhirnya bisa duduk dengan tegak tanpa penyakit jantung yang membuat nafas bapakmu megap-megap, ketika bapakmu belajar untuk memberi manfaat bagi manusia. Sesungguhnya keindahan hidup sebagai orang yang beriman kepada-Nya adalah ketika kita bisa memberi manfaat, atau ketika belum sanggup kita mengambil manfaat dari sesama.

Aku namakan dirimu Muhammad Hibatillah Hasanin karena ingin sekali bapakmu ini menjadikan dirimu sebagai hamba-Nya yang memberi manfaat kebaikan sangat besar bagi ummat. Tidaklah aku namakan dirimu dengan main-main. Ada do’a yang kuharap dengan sungguh-sungguh melalui nama yang kuberikan itu, anakku. Ada harapan yang kutanam dengan membaguskan namamu, sebagaimana Nabi Saw. pernah berpesan kepada kita. Mudah-mudahan dengan membaguskan namamu, Allah ‘Azza wa Jalla meninggikan derajatmu di antara manusia yang ada di muka bumi ini.

Nama itu aku berikan kepadamu, Nak karena engkau adalah anugerah yang amat berharga dari Allah ‘Azza wa Jalla. Engkau lahir di bulan Maret tanggal 18, ketika bapakmu sedang belajar mendakwahkan agama ini dengan ilmu yang tak seberapa. Malam ketika bapak tiba di penginapan, ibumu memberi kabar masuk rumah sakit untuk bersalin. Ingin rasanya bapakmu segera pulang agar bisa menunggui persalinan itu. Tetapi ada tugas yang harus dituntaskan. Gelisah rasanya bapakmu untuk segera kembali karena tahu bahwa di saat-saat seperti ini, tentu ibumu sangat butuh pertolongan. Tetapi andaikan pun bapakmu segera bergegas pulang, perjalanan terlalu jauh untuk bisa ditempuh dengan waktu singkat.

Maka, kemanakah bapakmu harus berlari kalau bukan kepada Allah? Kemanakah harus meminta pertolongan kalau bukan kepada Allah? Kemanakah harus meminta keselamatan kalau bukan kepada Allah? Kemanakah harus mengeluh di saat manusia sudah terlelap tidur, kalau bukan kepada Allah? Bukankah kalau kita mendekat kepada-Nya dengan berjalan, Ia akan menyambut kita dengan berlari? Bukankah kalau kita berjalan kepada-Nya selangkah, Ia akan mendekati kita beberapa langkah?

Di saat bapakmu sedang dalam kegelisahan, ada kabar yang datang dari ibumu bahwa bayi yang akan dilahirkannya sungsang. Petugas mengatakan, kemungkinan baru bisa bersalin siang hari dan kemungkinan besar harus melalui operasi. Padahal waktu itu baru melewati tengah malam. Sangat panjang waktu yang harus dilalui untuk sampai ke siang hari, andaikata perkiraan itu benar.

Maka aku bersihkan diri dan bersuci. Aku serahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sendirian di malam itu aku bermunajat kepada Allah, menyungkurkan kening yang hina ini untuk berdo’a kepada-Nya. Di sujud yang terakhir, kumohon dengan sangat agar Ia berkenan memberi keajaiban –ah, rasanya bapakmu belum santun dalam berdo’a. Kumohon dengan sangat agar Ia memberi pertolongan.

Dan engkau tahu, anakku, Allah Ta’ala adalah sebaik-baik tempat meminta dan sebaik-baik pemberi. Ia lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Sesungguhnya, Tuhanmu Maha Pemurah. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaaq: 1-5).

Seusai shalat dua raka’at dan memanjatkan do’a, anakku, segera bapakmu ini mencari kabar tentang dirimu. Kutelepon ibumu dengan harap-harap cemas. Nyaris tak percaya, anakku, Allah Ta’ala benar-benar memberi keajaiban. Seorang sahabat bapak, Mohammad Rozi namanya, yang istrinya menunggui ibumu bersalin, mengabarkan bahwa engkau telah lahir dengan mudah dan lancar. Kelahiranmu, rasanya, anugerah yang tak ternilai harganya. Banyak pelajaran yang bapak renungkan dari peristiwa itu dan ingin kubagi denganmu beserta saudara-saudaramu. Rasanya, setiap kelahiran dari kalian adalah pelajaran berharga tentang kekuasaan, kasih-sayang dan kemahapemurahan Allah. Sesungguhnya, Allah adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Sesungguhnya Ia adalah sebaik-baik tempat meminta. Sesungguhnya Ia adalah sebaik-baik penjaga.

Teringat aku pada sebuah ungkapan, “Sometimes accident is not accident at all.” Kadangkala kecelakaan itu sama sekali bukan kecelakaan. Kesulitan itu sama sekali bukan kesulitan. Kata Umar bin Khaththab ra., “Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku.”

Keajaiban yang mengiringi kelahiranmu, mengingatkan bapak agar meyakini janji Allah tanpa ragu. Telah berfirman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, pasti Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).

Apakah Allah butuh pertolongan? Tidak. Sama sekali tidak, Nak. Maha Suci Allah dari membutuhkan pertolongan. Tetapi seruan Allah Ta’ala ini bermakna agar engkau mengingati tugas yang dipikulkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita semua. Sesungguhnya tidaklah jin dan manusia diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah. Tugas kita sebagai khalifatuLlah di muka bumi ini, anakku, juga di atas pijakan pengabdian kepada-Nya. Kernanya, makmurkanlah bumi ini sehingga engkau menjadi hadiah Allah bagi ummat dengan menghidupkan tauhid di dalam dadamu dan langkah-langkahmu. Mudah-mudahan dengan demikian, kesucian agama ini memancar dari setiap langkah yang engkau kerjakan.

Aku tulis pesan ini dengan sesungguh hati, Anakku. Meski jiwa bapakmu masih rapuh dan iman ini masih sangat menyedihkan, tetapi sembari memohon pertolongan kepada Allah Yang Menciptakan, izinkan bapakmu berpesan. Ingatlah, wahai Anakku, jangan pernah engkau lepaskan Allah Ta’ala dari hatimu. Genggamlah kesucian tauhid dalam ‘aqidahmu sekuat-kuatnya. Cengkeramlah dengan gigi gerahammu sehingga menjiwai setiap kata dan tindakanmu.

Belajarlah mencintai Tuhanmu menurut cara yang dikehendaki oleh-Nya. Betapa banyak orang yang melakukan perjalanan menuju Allah (suluk), tetapi mereka melalui jalan yang tidak disukai-Nya. Mereka mencipta sendiri jalan yang akan dilewati. Mereka mengira sedang memuja Allah, padahal sesungguhnya sedang mencari keasyikan diri untuk menemukan saat-saat yang “memabokkan” (isyiq). Melalui cara ini, kepenatan jiwa memang pergi, Anakku. Tetapi bukan itu yang harus engkau lalui. Bukan itu jalan yang akan membawamu pada ketenangan dan kedamaian. Ia hanya membuatmu lupa sejenak dengan beban-beban duniamu. Sesudahnya, engkau akan segera kembali dalam kepenatan yang melelahkan. Kernanya, ada yang kemudian benar-benar bukan saja lupa pada beban dunianya untuk sementara, tetapi bahkan sampai lupa tanggung-jawab dan lupa pada diri sendiri.

Sesungguhnya, ketenangan dan kedamaian jiwa yang sebenar-benarnya ada bersama dengan kebenaran. Sesungguhnya ketenangan itu karena engkau menghadapkan wajahmu kepada Allah untuk mencari ridha-Nya. Engkau kembali dan senantiasa berusaha kembali kepada-Nya, atas setiap khilaf yang terjadi setiap hari kerna manusia memang tempat salah dan lupa. Semoga dengan demikian kita termasuk orang-orang yang diseru oleh Allah ‘Azza wa Jalla dengan seruan, “Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Artinya, bukan ketenangan itu yang menjadi tujuan dari wirid-wirid panjangmu, Anakku. Tetapi ketenangan itu muncul sebagai akibat dari kokohnya keyakinanmu pada Tuhanmu. Sungguh, jangan jadikan agama ini sebagai candu sehingga hatimu jadi beku. Tetapi berjalanlah di atasnya sesuai dengan tuntunan wahyu. Bukan ra’yu. Semoga dengan demikian jiwamu akan terang, hatimu akan tenang dan di akhirat nanti engkau akan meraih kemenangan. Semoga pula kelak engkau akan aku banggakan di hadapan Tuhanmu.

Aku ingin pesankan satu lagi, Anakku. Atas apa-apa yang Allah Ta’ala tidak menjaminkannya bagimu, mintalah kepada-Nya dan berusahalah untuk meraihnya. Iman dan kemenangan di Hari Akhir, termasuk di antaranya. Atas apa-apa yang Allah Ta’ala telah jaminkan bagimu dan bagi seluruh makhluknya, ketahuilah kunci-kuncinya. Rezeki termasuk di dalamnya.

Gunakanlah rezeki yang dikaruniakan Allah kepadamu untuk meraih akhirat dan menjaga iman. Jangan mengorbankan akhirat untuk dunia yang cuma segenggam. Dan apabila engkau mampu, kejarlah akhirat dan sekaligus membuka pintu-pintu dunia. Gunakanlah dunia untuk “membeli” akhirat.

Wallahu a’lam bishawab. Sesungguhnya, tak ada ilmu pada bapakmu ini kecuali sangat sedikit saja.

Pelajaran Penting Peristiwa Hijrah

Banyak pelajaran penting (ibrah) yang dapat kita ambil dari peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Di antaranya adalah faktor-faktor yang menjadi penyebab diperintahkannya hijrah itu sendiri.

Pentingnya Menjaga Akidah
Sebagaimana kita ketahui, hijrah bukanlah rekreasi atau piknik yang menyenangkan. Hijrah merupakan perjalanan yang teramat sulit dan berat. Banyak hal yang harus dikorbankan dalam berhijrah. Harta, kerabat, keluarga, tanah air, bahkan nyawa menjadi taruhannya. Satu hal yang terpenting dari semua itu adalah bahwasannya tujuan utama dari hijrah adalah menyelamatkan akidah.

Ketika kondisi suatu negara atau komunitas tertentu tidak memungkinkan untuk menjaga keimanan serta melaksanakan syiar-syiar Islam, maka hijrah menjadi suatu solusi. Hal itu tentunya berlaku jika kondisi umat Islam masih dalam keadaan lemah seperti pada awal masa kenabian di Makkah, di mana agama mayoritas yang mendominasi kota Makkah saat itu adalah agama paganisme (Watsaniyah).

Syariat tentang jihad pun belum turun pada saat itu. Satu-satunya solusi terbaik untuk mengatasi masalah seperti itu adalah dengan berhijrah dan bergabung bersama komunitas muslim yang memiliki visi dan misi yang sama demi menegakkan agama Allah. Adapun ketika kondisi umat Islam telah menjadi kuat seperti pada era Madinah, maka syariat jihad pun harus dilaksanakan demi membentengi dakwah Islam yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia.

Menjaga akidah merupakan suatu kewajiban yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Tak adanya tempat yang dapat digunakan untuk melaksanakan Syariat Islam bukanlah alasan untuk tidak berhijrah, karena Allah SWT sendiri mengingatkan kita bahwa bumi-Nya teramat luas. (QS An Nisa: 97).

Peran Mush’ab bin Umair
Satu pelajaran penting lainnya yang dapat kita ambil dari peristiwa hijrah adalah peran penting yang dimainkan oleh salah seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair dalam menyiapkan kondisi kota Madinah sebagai tempat yang kondusif untuk ladang hijrah.

Dia yang berperan sebagai Duta Besar yang dikirim oleh Rasulullah SAW telah berhasil menyebarkan dakwah Islam ke seantero kota Madinah, sehingga tak tersisa satu rumah pun yang tidak tersentuh dakwah Islam. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap masa depan Islam pada tahap selanjutnya.

Bahkan dakwah yang beliau lakukan tidak hanya terbatas pada kaum proletar, namun lebih dari itu para pemuka masyarakat yang selanjutnya menjadi pembesar golongan Anshar (penolong), pun telah memeluk Islam berkat dakwah beliau.

Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair yang saat itu menjabat sebagai kepala suku telah tertarik dengan dakwah yang dilakukan oleh Mush’ab bin Umair. Kota Madinah yang sebelumnya dilanda konflik internal yang berdarah dan berkepanjangan antara suku Aus dan Khazraj berubah drastis semenjak kedatangan utusan Rasulullah SAW tersebut.

Relevansi Hijrah dalam Konteks Kekinian
Sudah menjadi kewajiban bagi kita umat Islam untuk menjaga dan mempertahankan akidah kita dari pengaruh-pengaruh luar yang membahayakan. Berbagai macam slogan ideologi yang dewasa ini banyak digembor-gemborkan oleh sebagian kalangan patut mendapatkan perhatian serius. Umat Islam sudah selayaknya memiliki filter yang dapat menyaring, memilah dan membedakan mana hal-hal yang sesuai dengan akidah Islam dan mana yang tidak.

Tidak dapat dipungkiri bahwa umat Islam saat ini sedang diinvasi dalam berbagai aspek, baik secara militer, ekonomi, politik, budaya dan pendidikan. Belum kering ingatan kita tentang tragedi yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina, Irak, Afghanistan, Chechnya, Kashmir dan beberapa negara muslim lainnya yang dilanda perang.

Dari aspek ekonomi, akibat embargo yang berkepanjangan terhadap beberapa negara muslim yang diaggap ‘membangkang’ telah menjadikan ratusan bahkan ribuan anak-anak mati kelaparan sebagaiman terjadi di Irak. Banyaknya hutang yang melilit bangsa kita pun akhirnya menjadikan beberapa kebijakan pemerintah, baik dalam negeri maupun luar negeri, mendapatkan intervensi asing.

Dalam dunia intelektual, musibah yang menimpa sebagian cendekiawan Muslim negeri kita telah memberikan indikasi betapa pentingnya memahami Islam secara benar sesuai petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan sesuai pesanan Barat demi mencairkan dana dari LSM-LSM asing yang menyokong aktivitas-aktivitas yang mendukung kepentingan mereka.

Perang yang dilancarkan oleh Barat terhadap Islam tak dapat lagi ditutup-tutupi. Meskipun dengan dalih membasmi terorisme, menerapkan demokrasi, menjunjung hak asasi manusia dan seribu alasan lainnya, aroma konspirasi itu akan tetap tercium juga. Yang paling membahayakan dari semua itu adalah perang yang dilancarkan pada tataran pemikiran atau sering dikenal dengan istilah Ghawul Fikri atau pertarungan ideologi yang semakin hari semakin marak. Jika invasi militer dapat membunuh manusia dan merusak infrastruktur bangunan secara fisik, maka invasi pemikiran akan membunuh akidah dan merusak cara berpikir seseorang.

Dari sinilah kita melihat perlunya proses imunisasi dari segala macam wabah penyakit yang menyerang pemikiran umat Islam. Kita harus segera berhijrah dari segala macam kekangan ideologi-ideologi neo-“Jahiliyah Kontemporer” yang seringkali berlindung di balik topeng demokrasi, liberalisme, pluralisme dan sejenisnya.

Sudah saatnya umat Islam kembali kepada pedoman hidup mereka yaitu Al-Qur’an dan As Sunnah sehingga tak perlu lagi mencari-cari pedoman hidup lainnya. Tak hanya itu, cara memahami dan menginterpretasikan teks-teks keagamaan (An Nushush Asy Syar’iyyah) yang menjadi bahan bangunan agama kita pun perlu diperhatikan sehingga metode-metode yang kita lakukan harus sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh para Ulama terdahulu (As Salaf Ash Shalih), dengan tujuan agar kita dapat terhindar dari kegelinciran cara berpikir dalam memahami agama kita sendiri.

Dalam tataran budaya, kita banyak menyaksikan perilaku remaja-remaja muslim di zaman sekarang yang mulai cenderung mengikuti pola hidup Barat. Mulai dari gaya berpakaian, potongan rambut, cara berbicara, bersikap dan bergaul mulai banyak yang jauh dari akhlak-akhlak Islam. Segala macam tingkah laku dan gaya hidup hedonis dan permisif mulai menjadi ciri khas anak muda zaman sekarang. Hal ini tentu patut mendapatkan perhatian serius karena menyangkut masa depan bangsa kita. Apa jadinya jika bangsa kita ke depannya dipimpin oleh generasi-generasi yang miskin mental dan berjiwa ‘penjiplak’?

Tentu kita semua mengharapkan bangkitnya generasi-generasi Islam yang akan memperbaiki bangsa kita yang saat ini sedang dilanda krisis multidimensi. Kita tidak menginginkan musibah-musibah yang telah ditimpakan atas umat-umat terdahulu menimpa kepada bangsa kita dikarenakan ulah para penerus bangsa kita yang tidak lagi mengindahkan aturan-aturan Tuhan.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita membentengi diri kita sendiri serta keluarga dan kerabat kita dari pengaruh-pengaruh budaya luar yang banyak menyimpang. Jika Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya mampu melakukan hijrah secara fisik demi menyelamatkan keimanan mereka, maka sudah selayaknya kita lebih mampu melakukan hijrah yang bersifat abstrak (maknawi) dari kejahiliyahan-kejahiliyahan modern menuju kemurnian ajaran Islam yang akan terus bertahan sampai Akhir Zaman.