Hikmah dari Ustadz Muhammad Arifin Ilham: Menjaminkan Surga

Rasulullah SAW bersabda, “Jaminlah untukku enam hal darimu, aku jaminkan surga untukmu; benar dalam bicara, tepat janji kepada Allah dan manusia, tunaikan amanah, tutup aurat dan jaga kemaluanmu, tahan matamu dari yang haram, dan jaga tangan.” (HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaki).

Subhanallah, Rasulullah ternyata akan menjaminkan surga kepada setiap umatnya jika mampu menghadirkan dalam keseharian akhlaknya enam amalan. Pertama, benar dalam setiap pembicaraannya. Setiap kata yang keluar selalu berorientasi hikmah dan tidak ada yang sia-sia. Seseorang yang benar dalam bertutur kata biasanya memiliki kejernihan hati. Sedapat mungkin jejeran kata selalu ada ruhiyahnya dan karenanya tak akan mengecewakan siapa pun (QS an-Nisa [4]: 9).

Kedua, menepati janji, baik kepada Allah ataupun manusia. Kepada Allah, sama sekali tidak tebersit untuk mengkhianti-Nya. Pun demikian kepada sesama ciptaan-Nya, tidak ada kezaliman yang diperbuat olehnya. Perwujudan janji yang ditepati adalah dengan menunaikan totalitas penghambaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Saat taat kepada Allah dan Rasul-Nya, saat itulah kita telah menepati janji. Kita semua sesungguhnya terikat dengan janji kepada Allah waktu di alam roh. Seperti ada ikatan primordial yang lekat antara kita sewaktu masih menjadi makhluk ruh dengan Sang Pencipta, Rabbul Izzah (QS al-A’raf [7]: 172).

Ketiga, tunaikan amanah. Orang yang amanah adalah orang yang diberi rasa aman, yaitu sebagai buah dari keimanannya kepada Allah. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil …” (QS an-Nisa [4]: 58).

Keempat, tutup aurat dan jaga kemaluan. Orang yang menjaga aurat akan terjaga dan meningkat kehormatannya. “…. Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasan nya kecuali yang tampak dari padanya … (QS an-Nuur [24]: 31).

Kelima, tahan mata dari perkara yang haram. Pada diri sea tiap mata ada hak. Dan di antara hak mata adalah menghindarkan nya dari tontonan yang diharam kan. Alquran surah an-Nuur di atas sudah cukup untuk mengingatkan kita supaya menjaga pandangan mata.

Karena itu, akan dijaminkan surga jika seseorang mampu menahan matanya dari hal-hal yang diharamkan seperti tontonan yang mengumbar aurat, film-film atau situs-situs porno. “Tatapan pertama hadiah bagimu, sementara tatapan berikutnya bukan milikmu,” ujar Ali bin Abi Thalib.

Keenam, jaga tangan. Menjaga tangan berarti menempatkan tangan sesuai fungsinya. Dan fungsi tangan di antaranya menolong siapa pun yang membutuhkan uluran tangannya. Baik diminta ataupun tidak. Menurut Nabi SAW cukuplah keimanan seseorang kepada Allah dan hari Kiamat jika mampu menahan tangannya dari menyakiti saudara atau tetangganya. Wallahu a’lam.

Hikmah Mengubah Diri Sendiri

Di alam ini, segala hal berubah, dan tak ada yang tak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Pada masa kita sekarang, perubahan berjalan sangat cepat, bahkan dahsyat dan dramatik. Kita semua, tak bisa tidak, berjalan bersama atau seiring dengan perubahan itu. Tak berlebihan bila Alan Deutschman pernah menulis buku, untuk mengingatkan kita semua, dengan judul agak ekstrim, “Change or Die” (Berubah atau Mati).

Perubahan pada hakekatnya adalah ketetapan Allah (sunnatullah) yang berlangsung konstan (ajek), tidak pernah berubah, serta tidak bisa dilawan, sebagai bukti dari wujud dan kuasa-Nya (QS. Ali Imran [3]: 190-191). Namun, perubahan yang dikehendaki, yaitu perubahan menuju kemajuan, tidak datang dari langit  (given) atau datang secara cuma-cuma (taken for granted). Hal ini, karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubah diri mereka sendiri (QS. Al-Ra`d [13]: 11).

Untuk mencapai kemajuan, setiap orang harus merencanakan perubahan, dan perubahan itu harus datang dan dimulai dari diri sendiri. Perubahan sejatinya tidak dapat dipaksakan dari luar, tetapi merupakan revolusi kesadaran yang lahir dari dalam. Itu sebabnya, kepada orang yang bertanya soal hijrah dan jihad,  Nabi berpesan. Kata beliau, “Ibda’ bi nafsik, faghzuha” (mulailah dari dirimu sendiri, lalu berperanglah!).  (HR. al-Thayalisi dari Abdullah Ibn `Umar).

Seperti diharapkan Nabi SAW dalam riwayat di atas, perubahan dari dalam dan dari diri sendiri merupakan pangkal segala perubahan, dan sekaligus merupakan kepemimpinan dalam arti yang sebenarnya. Hakekat kepemimpinan adalah kepemimpinan atas diri sendiri. Dikatakan demikian, karena seorang tak mungkin memimpin dan mengubah orang lain, bila ia tak sanggup memimpin dan mengubah dirinya sendiri.

Perubahan dalam diri manusia dimulai dari perubahan cara pandang atau perubahan paradigma pikir (mindset). Manusia tak mungkin mengubah hidupnya, bilamana ia tak mampu mengubah paradigma pikirnya. Karena itu, kita disuruh mengubah pikiran kita agar kita dapat mengubah hidup kita (Change Our Thinking Change Our Life).

Selanjutnya, perubahan paradigma harus disertai dengan perubahan dalam penguasaan ilmu dan keterampilan. Perubahan yang satu ini memerlukan pembelajaran  dan pembiasaan (learning habits) yang perlu terus diasah.

Akhirnya, perubahan diri itu, menurut Imam al-Ghazali, membutuhkan tindakan nyata (al-Af`al). Ilmu hanya menjadi kekuatan jika ia benar-benar dikelola menjadi program dan tindakan nyata yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Pada tahap ini, tindakan menjadi faktor pamungkas, dan menjadi satu-satunya kekuatan yang bisa mengubah cita-cita (harapan) menjadi realita (kenyataan). Wallahu a`lam!

Hikmah Shalat Tahajud

Di antara ibadah sunah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW adalah shalat malam (Tahajud). Rasulullah mengerjakannya hingga kedua telapak kaki beliau bengkak-bengkak. Tahajud merupakan ibadah yang disyariatkan sebagai rahmat, tambahan kebaikan, dan keutamaan (QS Al-Muzzammil [73]: 1-4).

Shalat Tahajud menjadi jalan hidup dan amalan rutin bagi orangorang saleh (HR Tirmidzi); orangorang besar (takwa) (QS AdzDzariyat [51]: 17-18); ‘Ibadurrahman (QS Al-Furqan [25]: 64); dan menjadi salah satu ciri orang-orang yang memiliki kesem purnaan iman (QS As-Sajdah [32]: 16-17).

Selain menjadi sumber energi keimanan, shalat Tahajud memiliki banyak manfaat yang dapat dirasa kan secara langsung oleh orang orang yang melaksanakannya.

Pertama, menjaga kesehatan. Sabda Nabi SAW, “Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari per buatan dosa, penghapus kesalah an, dan pencegah segala penyakit dari tubuh.”

Kedua, merawat ketampanan atau kecantikan. “Barang siapa yang banyak menunaikan shalat malam, maka wajahnya akan terlihat tampan/cantik di siang hari.” (HR Ibnu Majah).

Ketiga, meningkatkan produktivitas kerja. “Setan membuat ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan tiga ikatan dan setiap kali memasang ikatan dia berkata: `Malam masih panjang, maka tidurlah.’ Jika orang tadi bangun lalu berzikir kepada Allah SWT, maka terlepas satu ikatan, jika dia berwudhu, maka terlepas satu ikatan yang lainnya, dan jika dia melaksanakan shalat, maka terlepas semua ikatannya.

Pada akhirnya, dia akan menjadi segar dengan jiwa yang bersih. Jika tidak, dia akan bangun dengan jiwa yang kotor yang diliputi rasa malas.” (HR Bukhari).

Keempat, mempercepat tercapainya cita-cita dan rasa aman. “Ketahuilah sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang lakilaki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu dan melakukan shalat. Allah SWT berfirman kepada para MalaikatNya, “Apa yang mendorong hambaKu melakukan ini?” Mereka menjawab, “Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan (cita-citakan) dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR Ahmad).

Kelima, melembutkan hati yang keras. Dari Abu Hanifah, “Saya tidak lebih dari satu ayat yang saya baca ketika melakukan shalat malam.” Satu ayat tersebut dibaca berulang-ulang semalam suntuk, “Sesungguhnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” (QS Al-Qamar [54]: 46). Karena itu,  bersegeralah untuk menunaikan shalat Tahajud dan raih manfaatnya (balasannya) (QS As-Sajdah [32]: 17). Wallahu a’lam.

Air Mata

“Dan mereka munyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS Al Israa[17]:109)

Seringkali, ketika sesuatu terjadi di luar rencana, harapan dan keinginan lewat tak tertangkap barulah manusia mengingat Dia. Sadar dirinya tak mampu berbuat apa-apa, jika Allah sudah berkehendak. Saat itu biasanya manusia menangis atau berkeinginan untuk menangis. Namun, tak lama bila ada harapan dan keinginan yang terwujud, maka tertawalah ia dan lupa lagi kepada Sang Pemberi Harapan.

Amat biasa, manusia menangis, melelehkan airmatanya, ketika merasa hancur, tujuannya gagal, harapannya kabur, dan cita-citanya berantakan. Atau, apabila yang telah diupayakannya mengalami kebuntuan.

Menangis adalah cara Allah menunjukkan kekuasaan dan kemahabesaranNya. Air mata itu mungkin saja diciptakan untuk menyadarkan manujsia agar senantiasa mengingatNya. Titik-titik air bening dari kelopak mata itu bisa jadi adalah teguran Allah terhadap riak kenistaan yang kerap mewarnai kehidupan ini.

Seperti Allah menurunkan hujan dari gumpalan awan untuk membahasahi bumi dari kekeringan hingga tumbuh sayur segar dan buah yang ranum. Seperti itulah barangkali tangis manusia akan membahasahi kekeringan hati dan melelehkan kerak kegersangan agar menghadirkan kembali wajah Dia yang mengiringi setiap langkah selanjutnya.

Semestinya, tangisan meluluhkan bongkah bongkah keangkuhan dalam dada, hingga timbul kesadaran hanya Dia yang berhak berlaku sombong. Air mata itu akan melelahkan pandangan mata dari m tangis manusia akan membahasahi kekeringan hati dan melelehkan kerak kegersangan agar menghadirkan kembali wajah Dia yang mengiringi setiap langkah selanjutnya.

Semestinya, tangisan meluluhkan bongkah bongkah keangkuhan dalam dada, hingga timbul kesadaran hanya Dia yang berhak berlaku sombong. Air mata itu akan melelahkan pandangan mata dari meremehkan orang lain dan semakin menjernihkan kacamata untuk lebih bias melihat kemahabesaran dan kekuasaan Alah. Titik titik bening itu akan membersihkan debu debu pengingkaran yang menyesaki kelopak mata yang menjadikan seringkali lupa bersyukur atas nikmat pemberianNya.

Semestinya pula, melelehkan air mata membuat hati tetap basah oleh ke tawadluan, qana’ah, dan juga cinta terhadap sesame. Air mata menjadi penyadar bahwa apa pun yang kita upayakan semua tergantung padaNya. Tak ada yang patut disombongkan pada diri di hadapan sesame apalagi di hadapan Dia. Air mata akan mengantarkan kita pada kekhusyukan.

Bersyukurlah bila masih bias meneteskan air mata. Namun, air mata menjadi tak ada atinya jika setelah tetes terakhir, tak ada perubahan apapun dalam langkah kita. Tak akan ada hikmahnya, bila kesombongan masih menjadi baju utama kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

Ini Dia Para Pesohor yang Memutuskan Menjadi Mualaf

London. Tiga puluh tahun lalu, publik Barat hanya mencatat beberapa nama yang memutuskan menjadi Muslim. Di antara sedikit nama itu, ada juara tinju dunia, Muhammad Ali, atau legenda basket, Karim Abduljabbar.

Beberapa tahun kemudian, beberapa nama disebut-sebut menjadi mualaf, antara lain Michael Jackson, Ice Cube, dan Snoop Dogg.

Semua berkulit hitam? Tidak juga. Saat ini, banyak kulit putih yang juga menjadi mualaf. Sebut Cat Steven, yang memutuskan menjadi Muslim pada tahun 1977 dan mengubah namanya menjadi Yusuf Islam.

Lama vakum dari dunia hiburan, tahun 2006 ia menelurkan album berjudul An Other Cup dan tahun 2009, Roadsinger, yang disebut-sebut “sangat Cat Steven” dan ditujukan untuk mengobati kerinduan penggemarnya.

Kini, Cat Steven bukan lagi satu-satunya pria kulit putih abad ini yang menjadi Muslim. The Sunday Times melaporkan saat ini ada sekitar 14 ribu warga Inggris kulit putih yang menjadi Muslim. Di antara mereka, tercatat sejumlah pesohor negeri itu, antara lain Yahya (semula Jonathan) Birt, anak Lord Birt, mantan petinggi BBC, dan Emma Clark, cicit mantan perdana menteri Inggris Herbert Asquith, yang membawa Inggris dalam Perang Dunia I.

Beberapa memutuskan menjadi mualaf karena terinspirasi Charles Le Gai Eaton, mantan diplomat. Eaton, penulis buku Islam and the Destiny of Man, menyatakan banyak di antara warga kulit putih merindukan agama ‘yang tidak berkompromi terlalu banyak dengan materialisme dan carut-marut kehidupan modern’.

Namun tak sedikit mereka yang menjadi Muslim melalui pintu “tali cinta”. Rumors yang beredar dan menjadi rahasia umum, menyebut Putri Diana sebelum tewas mengenaskan karena kecelakaan juga dikabarkan telah setuju untuk menjadi Muslim, setelah berhubungan dekat dengan anak miliarder Inggris, Mohamed Al-Fayed, bekas pemilik Harrods dan pemilik Fulham Football Club serta Hôtel Ritz Paris.

Kristiane Backer, mantan bintang MTV Europe, juga mengenal Islam dari kekasihnya, Imran Khan. Namun ia menjadi mualaf justru setelah hubungan mereka putus. Selain konsisten mempaktikkan tuntunan Islam, Backer juga menjadi gambaran wanita Muslim modern. Sehari-hari, ia tampil tanpa kerudung. Ia hanya mengenakan jilbab saat melaksanakan ibadah haji tahun 2006.

Selain musisi dan selebriti, beberapa pengusaha terkemuka juga menjadi mualaf. Di antaranya adalah The Earl of Yarborough, yang memiliki estate seluas 28 acre (setara 11331,22 hektare) di Lincolnshire. Ia memiliki nama Muslim Abdul Mateen.

Selain itu, ada juga Charles Annenberg Weingarten, direktur Annenberg Foundation di Amerika. ia merupakan putra miliarder Yahudi Walter H Annenberg. Charles Annenberg belakangan membuat kisah dokumenter perjalanan spiritualnya ke Timur Tengah dengan temannya yang adalah seorang Muslim, dan terinspirasi setelahnya. Ia menuliskan, “Beberapa mualaf di Barat adalah para bekas hippies dan aktivis antiperang serta antikapitalisme pada era 1960-1970-an.Di suburban Philadelphia, Bawa Muhaiyaddeen Fellowship menjadi satu Sufi Islamic Center dengan banyak menarik minat para aktivis dan Yahudi untuk bertukar keyakinan menjadi Muslim. Pesan yang disampaikan adalah tentang kedamaian hati, kesabaran, percaya dan memasrahkan semuanya kepada kemauan Yang Maha Segalanya.” Tak dijelaskan apakah dia kemudian menjadi Muslim setelah bergabung dengan organisasi itu, atau bahkan sebelumnya.

Islam juga menyebar di antara warga AS keturunan Amerika Latin. Professor Hjamil Marta­nez-Vazquez dari Texas Christian University mengklaim ada lebih dari 100 ribu di antara mereka yang memutuskan menjadi Muslim. Kini, banyak organisasi Muslim di antara mereka, di antaranya Los Angeles Latino Muslim Association. Umumnya mereka menganggap Islam penuh pesan kesetaraan, hal yang berlawanan dengan latar belakang mereka yang penuh penindasan.

Banyak di antara wanita Latin yang menikahi pria Muslim dengan alasan ini: beda dengan pria Latin yang umumnya mendominasi, pria Muslim lebih sederhana, berorientasi pada keluarga (family oriented), dan melindungi. Mereka juga anti-hura-hura, menjauhi minuman keras dan narkoba, tidak berselingkuh, dan jauh dari tindak kriminal.

Sekarang, dunia berharap pada kiprah para intelektual dan pesohor mualaf ini untuk membantu mengubah gambaran negatif tentang Muslim, terutama di media Barat. Di sisi lain, membantu mengurai radikalisme di kalangan anak-anak muda Muslim yang tak dipungkiri, tumbuh di banyak negara.

Jangan Pernah Merasa Miskin

Banyak orang ngeri mendengar kata miskin. Membayangkan saja pun tidak ingin. Dan setiap kali kata itu terucap, kesan umum yang terbayang adalah kesengsaraan, papa, compang-camping dan kesempitan hidup. Sebaliknya kata kaya membuat orang sumringah dan bergairah.Terlintas di dalam benak berbagai kesenangan hidup dan kemewahan. Hidup serba cukup dengan berbagai fasilitas dan kemudahan akses. Pendek kata, hidup benar-benar hidup.

Dua keadaan di atas adalah lumrah dan manusiawi. Pada dasarnya manusia memiliki hasrat untuk hidup berkecukupan dan amat takut akan kekurangan apalagi kemiskinan. Tetapi, miskin sama sekali berbeda dengan merasa miskin. Sama halnya berbeda antara kaya dengan merasa kaya.

Ada orang berpenampilan sangat sederhana. Hidup serba bersahaja. Rumahnya benar-benar hanya sebatas fungsi primer; sebagai penghalang terik matahari, dari derasnya hujan dan dari derunya terpaan angin. Tetapi ia nyenyak tidurnya walau di atas kasur yang sudah menipis, lapuk dan dingin. Dan pagi-pagi buta sebelum ayam berkokok, ia sudah beraktivitas dengan kecipak air wudunya lalu berdiri mengucap syukur.

Pakaiannya sederhana, sebatas fungsi primernya saja; bersih, menutup aurat dan agar terlindung dari kemungkinan mudharat karena telanjang.

Makanannya juga bersahaja; hanya sebatas fungsi primernya dari mengganja lrasa lapar dan sekedar membuat tulang punggungnya tegak. Namun di balik itu, kekayaan batinnya tak terkira. Investasi ruhaninya tak pernah merugi. Tabungan kebajikannya selalu berbunga dan saham akhiratnya tak pernah anjlok. Ia berkawan baik dengan syukur dan qona’aah. Juga tak pernah ketinggalan dengan infaq dan sedekah.

Ada orang bernampilan perlente, necis dan glamour. Hidup seperti mesin waktu penghasil uang. Pergi gelap pulangnya juga gelap.

Rumahnya adalah prestise dan harga diri. Rancang bangun, arsitektur, interior dan perabot adalah ukuran kelasnya. Pagar halamannya, cukuplah untuk membeli lima rumah sederhana orang biasa. Begitu indah rumahnya, begitu empuk dipan dan hangat selimutnya, tetapi matanya sukar dipenjamkan wala sekejap. Terpaksalah ia menenggak pil tidur dan penenang hanya untuk kenikmatan pulas. Betapa mahal harga tidurnya setiap malam. Sampai tak menghiraukan lagi panggilan Shubuh dan mengucek mata di kala matahari telah tinggi.

Belum lagi baju dengan harga yang tidak rasional menurut ukuran orang kere. Tapi banyak pula dari baju-baju yang mahal itu, tidak sesuai fungsinya. Banyak bagian dari bajunya terbelah. Paha dan dadanya terbelah. Pusar dan punggungnya terbelah. Hingga sukarlah dibedakan antara baju dan bahan baju yang belum selesai ditautkan dengan jahitan.

Menunya asing di telinga dan sukar menyebutnya. Disajikan bak taman pengantin. Dihias rupa-rupa. Kadang dimakan tak habis. Hanya sekedar dicicip lalu berganti menu baru yang sama-sama asing dan sukar dilafalkan. Lapar bukanlah dorongan utama untuk makan. Tetapi sebagai bagian dari protokoler highclass; beginilah sesungguhnya makan dengan harga diri yang amat tinggi.

Semboyannya adalah Time is money. No money no honor.

Tetapi apa lacur, kekayaan materi itu tidak sanggup mengatasi kekosongan ruhaninya. Ruhaninya miskin di tengah tumpukkan kekayaan harta bendanya. Begitu miskinnya ia, sampai-sampai tidak mengerti apa itu sedekah, apa itu zakat dan bagaiamana harta itu harus dibelanjakan di jalan Tuhan.

Begitu banyak orang miskin tapi merasa begitu kaya batinnya. Mereka orang-orang bersahaja yang tidak pernah merasa sukar untuk memberi. Seolah mereka memiliki rizki yang tak terbatas dan tak pernah habis dibagikan. Seperti riwayat Abu Ya’la yang sampai kepada kita :

Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknyaharta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Ya’la).

Ada begitu banyak yang kaya dengan kasat mata, tetapi sebenarnya miskin dan selalu kekurangan. Karena kekurangannya ia enggan memberi. Tangannya tertutup rapat dari sedekah. Hatinya selalu menimbang rugi jika berderma. Seolah belum tiba saat baginya untuk berbagi. Ya, belum saatnya untuk orang lain. Masih untuk diri sendiri. Padahal malaikat selalu bersahut-sahutan di atas langit berdo’a. Katanya :

Tiap menjelang pagi hari dua malaikat turun. Yangsatu berdoa: “Ya Allah, karuniakanlah bagi orang yang menginfakkan hartanya tambahan peninggalan.” Malaikat yang satu lagi berdoa: “Ya Allah, timpakan kerusakan (kemusnahan) bagi harta yang ditahannya (dibakhilkannya).” (Mutafaq’alaih).

Jangan pernah merasa miskin. Sebab merasa miskin adalah jalan yang mengantarkan seseorang kepada kemiskinan yang ditakuti banyak orang.

Harta yang dizakati tidak akan susut (berkurang). (HR. Muslim)

Menjadilah kaya sekaya Abdurraham bin ‘Auf. Lalu ingat-ingat soal kekayaan seperti pesan nabi kepada ‘Amru :

Wahai ‘Amru, alangkah baiknya harta yang sholeh di tangan orang yang sholeh. (HR. Ahmad)

Allahu a’lam.

Depok, Ramadhan hari ke-3, Agustus 2010

Titip Pesan untuk Dai di Bulan Suci

Mobilisasi dakwah menemukan momentumnya di bulan Ramadhan. Berharap dai, tak hanya tampil sebagai hiburan. Tapi juga tampil membawa pesan substansial.

Sahabat,

Dalam bahasa Arab, ada satu terminologi yang disebut dengan al Qiwam. Artinya, sesuatu yang paling mendasar, sandaran utama atau pilar untuk sebuah bangunan besar. Misalnya, jika disebutkan al Qiwam ad Din, maka kurang lebih hal ini mengenai dasar-dasar, pilar utama kebenaran agama. Dan sepertinya, ini pula yang harus menjadi perhatian para dai yang mendapat tempat istimewa di bulan suci Ramadhan mendapat di tengah-tengah umat Islam.

Hampir seluruh media menampilkan ceramah. Televisi, radio, koran dan majalah. Talk show, tabligh akbar, mimbar-mimbar tarawih, sahur bersama atau sekadar pengisi waktu menjelang berbuka. Alangkah dahsyatnya jika kesempatan tersebut kita jadikan sebagai momentum untuk mobilisasi hal-hal yang mendasar tentang kebenaran Islam. Tidak hanyut dalam setting hiburan, tertawa tak tentu arah, dan akhirnya tidak memberikan bekas apapun pada umat Islam. Padahal, kesempatan sudah tersedia, tersebar luas on air seluruh nusantara, biaya satelit yang besar dan effort yang tidak ringan. Semestinya, tak boleh sia-sia.

Memilih tema-tema yang substansial, menjadi agenda yang sangat penting untuk disampaikan pada umat Islam. Secara sederhana, tugas seorang dai terangkum dalam ayat Allah, “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS al Baqarah: 151)

Dalam ayat di atas, Allah memberikan tugas kepada Rasulullah saw setidaknya lima perkara. Menyampaikan ayat-ayat-Nya, mensucikan umat-Nya, mengajarkan Kitab dan Hikmah, serta membukakan ilmu pengetahuan untuk umat Islam. Lima perkara itupula yang sepatutnya diwarisi oleh dai dan ustadz yang berdiri di depan umat.

Sahabat,

Tak ada yang lebih utama yang disampaikan oleh lisan dan ditelurkan oleh pikiran, kecuali membersihkan kembali Akidah dan meluruskan lagi Tauhid. Seorang ulama pernah mendefinisikan kandungan ayat-ayat Allah menjadi tiga komponen besar. Pertama, seluruh ayat Allah di dalam al Qur’an adalah penjelasan tentang diri-Nya, sifat-Nya, dan juga segala kebesaran-Nya. Kedua, tentang kabar dan berita, sejarah yang telah berlaku, sedang terjadi dan akan terwujud nanti. Berita tentang masa lalu, dan juga gambaran-gambaran masa depan. Tak hanya di dunia, tapi jauh melampaui kehidupan fana. Ketiga, tentang  seluruh perintah-Nya, baik yang bersifat larangan ataupun yang bernada seruan. Semua demi kebaikan kehidupan makhluk yang Dia ciptakan.

Ajakan Menuju Taubat

Tak ada yang lebih mulia yang dilakukan oleh para dai, melebihi ajakan bertaubat untuk umat. Mensucikan umat, harus menjadi agenda besar setiap dai dalam setiap kesempatan dan penyampaian. Para dai harus mampu melahirkan semangat taubat, dan juga peningkatan kualitas taubat di dalam diri umat. Para ulama membagi taubat ke dalam tiga kategori. Pertama, taubat untuk orang-orang awam. Sebuah proses taubat yang dimotivasi oleh ketakutan akan azab dan kekhawatiran pada ancaman-Nya. Kedua, taubat al khawwash. Taubat orang-orang khusus. Orang-orang yang melakukan taubat karena dorongan rasa malu pada Allah SWT atas rahmat yang demikian melimpah yang telah diterima hamba. Ketiga, taubat khawwash al khawwash. Taubat yang dilakukan oleh hamba-hamba istimewa. Sebuah proses taubat yang didorong oleh rasa cinta.

Mengajarkan Kitab & Hikmah

Para mufasir menerangkan, yang dimaksud al Kitab dalam surat al Baqarah: 151 adalah Al Qur’an, sedangkan al Hikmah diterjemahkan sebagai As Sunnah. Al Qur’an adalah kitab yang menerangkan segala sesuatu. Dan memang, manusia adalah makhluk yang diberi mandat untuk menerima dan mempelajari al Qur’an. Bukan ciptaan lain, bahkan gunung tak akan mampu. Jika saja al Qur’an ini diturunkan kepada gunung, maka akan tunduk terpecah belah. Mengajarkan kepada umat tentang sunnah-sunnah utama dari Rasulullah saw, juga jauh lebih mulia dari sekadar eksplorasi pemikiran. Dan semoga, dengan menyegarkan kembali ingatan umat pada al Qur’an serta as Sunnah membuat ibadah kita di bulan suci ini lebih berkah.

Mempelajari dan Mengamalkan Ilmu

Memotivasi umat untuk belajar dan segera mengamalkan ilmu yang dipelajari harus pula menjadi agenda utama para dai. Ibnu Taimiyah mengatakan, ilmu yang bermanfaat adalah salah satu tiang dan fondasi dari sebuah hikmah. “Ilmu yang terpuji telah ditunjukkan oleh al Qur’an dan Hadits adalah ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah. Para nabi tidak mewariskan dirham atau dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil ilmu tersebut, maka ia telah mengambil bagian yang berlimpah,” terang Ibnu Taimiyah.

Sahabat,

Ramadhan harus berarti percepatan dakwah dan akselerasi kebaikan. Tak boleh satu pun kesempatan disia-siakan, apalagi diaplikasikan dengan kesalahan. Meski demikian, setiap kita yang mengemban tugas dakwah harus pula menerapkan segala tatanan dan tuntunan dengan arif dan bijaksana. “Mudahkanlah, janganlah kalian persulit. Gembirakanlah, dan janganlah kalian membuat lari dan ketakutan,” demikian pesan Rasulullah saw. (HR Muslim)

Lebih dari segalanya, seorang dai harus mampu menjadi cermain bagi umatnya. Dan cermin tersebut bernama keteladanan. Menjadi teladan utama bagi umat adalah hal penting yang mampu mengubah melebihi kekuatan kata-kata.

Orang Mukmin yang beruntung adalah mereka yang menyeru kepada kebenaran dan melakukannya dengan penuh semangat dan kehati-hatian. Dai tak hanya berdakwah dengan lisan, tapi jauh lebih penting seorang dai memiliki kewajiban besar berdakwah dengan teladan. Karena dua perbuatan inilah yang dipuji oleh Allah sebagai derajat kebaikan. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushilat: 33)

Sahabat,

Di bulan ini, pintu-pintu surga menyeru pada kita untuk memasukinya. Dialog antara Rasulullah dengan sahabat Abu Bakar ra sungguh bisa menjadi motivasi yang luar biasa besar. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah menjelaskan bahwa surga memiliki delapan pintu untuk dimasuki. Siapa yang termasuk ahli shalat, maka pintu shalat akan memanggil dan menyambutnya. Barangsiapa termasuk ahli shadaqah, pintu shadaqah akan memanggil dan menyambutnya. Barangsiapa siapa termasuk ahli jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Dan barangsiapa termasuk ahli shaum, maka dia akan dipanggil dari pintu shaum.

“Tidak masalah bagi seseorang dari pintu mana dia akan dipanggil. Tapi apakah ada orang yang akan dipanggil oleh semua pintu, wahai Rasulullah?” tanya Abu Bakar.

“Ya, dan aku berharap engkau termasuk di antara mereka,” jawab Rasulullah.

Setiap dai dan penyeru kebaikan harus mampu memotivasi umatnya, bukan saja menuju satu pintu atau dipanggil oleh satu pintu. Para dai juga harus mampu menjadikan umatnya sebagai orang-orang yang termotivasi menjadi sosok yang dipanggil oleh banyak pintu di surga kelak.

Para dai tak boleh menyia-siakan kesempatan untuk mendorong umat menjadi para pemburu surga. Gunakan setiap detik di seluruh momentum yang ada untuk melahirkan hamba-hamba yang tak pernah letih mengejar ridha Ilahi. Pintu surga, sungguh sanggat luas. Lebar pintunya, terang Rasulullah, seperti jarak pengendara tercepat selama tiga hari. Sedangkan jarak satu pintu dengan pintu yang lain, seperti Makkah dan Bushra.

Sahabat,

Jangan hanya menjadi tontonan. Lupakan menghibur pendengar, penonton, pembaca atau audiens saat berceramah. Tugas para dai bukan untuk membuat mereka tertawa. Tugas para dai adalah menjadikan umat Islam sebagai manusia yang paripurna, insan kamil yang kelak dipuji Allah sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk dan beruntung.

Sungguh, shalat lebih baik daripada tidur, membaca lebih baik daripada melamun, berpikir dan berdzikir lebih baik daripada membiarkan pikiran melantur. Tak ada susah payah yang tak terganti berlipat ganda di bulan ini. Dan para dai, harus mampu menyajikan hikmah agar umat menjadi jauh lebih baik kondisinya.

Lisan dan pikiran para dai, harus mampu mendekatkan umat selangkah lagi lebih dekat pada Allah dan ajaran Islam yang lurus dan benar. Para dai harus dengan sangat keras berusaha untuk menjaga niat, demi kebaikan dan ridha Allah semata. Bukan demi popularitas, tuntutan ratting atau strategi hiburan yang hari ini begitu berkuasa menentukan. Karena, tentu kita tidak ingin tercatat sebagai orang dengan kata-kata yang sia-sia.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS an Nisa: 114)

Lidah tak bertulang, begitu mudah mengucapkan segala. Tanpa kesadaran yang kuat, lisan bisa jadi membawa kita pada akhir yang penuh penyesalan. Bahkan seorang dai, harus mampu mengendalikan lisan sendiri.

Sahabat,

Kearifan Seorang Dai. Kehatian-hatian adalah buah kecil dari kearifan seorang dai yang matang dan hanya memiliki keinginan mendewasakan umat. Seorang dai tak pernah membentuk pengikut. Seorang dai tak perlu sanjung puji. Seorang dai hanya bertujuan mengantarkan umat pada pemahaman yang lebih baik dan benar tentang kemuliaan Islam.

Kearifan adalah kunci yang mengantarkan seorang dai mampu mengantarkan pemahaman yang lurus dan penuh berkah. Pesan-pesan dakwah tak pernah akan sampai sasaran kecuali jika seorang dai dilengkapi tiga komponen dasar: ilmu, kearifan dan sifat sabar. Dan dakwah akan rusak, jika dai juga dihinggapi tiga perkara: bodoh, ceroboh dan gegabah.

Sikap arif dan sabar, adalah dua sikap yang pernah disebutkan Rasulullah sebagai sifat yang sangat dicintai oleh Allah. Suatu hari, beliau pernah berkata pada seorang sahabat bernama Asyaj, “Sesungguhnya di dalam jiwamu ada dua perkara yang disenangi Allah, yaitu sikap al Anat wa al Hilm.” (HR Abu Dawud)

Al Anat berarti penuh kesabaran, tidak tergesa-gesa, sehingga mampu melihat kemashlahatan. Sedangkan al Hilm adalah sifat arif, yang memiliki komponen kecerdasan akal dan kehati-hatian agar tidak menimbulkan akibat yang menyimpan potensi kemudharatan.

Sahabat,

Senantiasa Meluruskan Niat. Awal dari semua, pangkal dari segala adalah niat mulia yang harus senantiasa terjaga dalam diri seorang dai. “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niat dan apa yang didapatkan oleh setiap orang itu tergantung pada niatnya…,”demikian sabda Rasulullah. (HR Abu Dawud-An Nasa’i)

Mengikrarkan niat lurus, insya Allah adalah sesuatu yang selalu dilakukan seorang dai. Tapi menjaga niat tetap lurus di tengah jalan dan selama proses, tentu bukan hal mudah. Sebab, syetan tak akan pernah diam. Dari kanan dan kiri, dari depan dan belakang, panah-panah godaan selalu dilesatkan.

Sungguh rugi bagi para dai yang melakukan amalan-amalan akhirat, tapi di tengah jalan niat menjadi tergelincir untuk tujuan dunia. Riya’ dan keinginan pada kesenangan dunia, seringkali menyelisip dengan halus pada hati seorang dai. Tak terasa, begitu halusnya, seolah-olah wujud sebagai niat baik yang bertujuan mulia.

Muhammad bin Abdul Wahhab, yang sering disebut sebagai peletak dasar gerakan “Wahabi” membagi amalan dunia yang menyelisip pada amalan akhirat dalam empat kriteria. Pertama, seorang hamba yang melakukan amal-amal shalih tetapi tidak dengan tujuan balasan di akhirat. Dia menginginkan agar Allah menjaga dan menambah harta, keluarga dan kenikmatan yang dirasakannya. Mereka tidak mementingkan balasan surga dan dijauhkan dari neraka, mereka hanya berharap balasan dunia. Maka Allah mengabulkan permintaannya. Kedua, seorang hamba yang berbuat dengan riya’ pada seluruh amal shalihnya. Perbuatan ini, jauh lebih bahaya dari perbuatan yang pertama. Ketiga, seorang hamba yang melakukan amal shalih demi imbalan dunia. Seperti berhijrah demi dunia, berjihad demi ghanimah atau belajar untuk meraih ijazah. Keempat, seorang hamba yang ikhlas berbuat demi Allah dan kemuliaan Islam, tapi yang bersangkutan melakukan satu perbuatan kafir yang membuatnya keluar dari Islam.

Pada akhirnya, hanya kepada Allah semua hamba berserah diri, memohon ampun dan berharap kebaikan atas semua yang telah dilakukan. Mari semua memohon kepada Allah, agar senantiasa mencurahkan rahmat, memberikan tambahan ilmu dan pemahaman, melimpahkan taufiq dan hidayah, memberikan balasan yang terbaik dan menyelamatkan kita dari kehinaan dunia