Doa Rasulullah agar Terhindar dari Empat Fitnah

Hidup ini adalah fitnah, penuh dengan ujian, hanya mereka yang Sabar meraih Hikmah (QS25:20).

Doa Rasulullah agar terhindar dari 4 fitnah dunia, “Ya Allah, hamba mohon perlindungan-Mu dari istri “tusyyibani”  yang banyak menuntut, dari anak yang mengundang “wabalan” bala bencana, dari harta yg menyebabkan “adzaaban” adzab neraka, dan dari sahabat “khooinan” hianat, kalau melihat kebaikanku, ia sembunyikan, tetapi kalau melihat keburukanku ia sebarkan”.

Menuju Hijrah Peradaban

SATU hal penting yang perlu diambil pelajaran dari peringatan tahun baru Hijriyah adalah, saatnya melakukan perubahan peradaban. Momentum ini selayaknya menjadi generator untuk melakukan perbaikan peradaban yang lebih baik, menutup peradaban jahiliyah menuju pola peradaban yang mencerahkan. Kita patut mengambil ibrah secara mendalam dari peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari kota Makkah menuju Madinah. Bahwa, hijrahnya Nabi SAW itu sesungguhnya Hijrah Peradaban. Bukan hijrah Nabi SAW secara fisik yang kita pelajari, tapi spirit apa yang bisa diambil dari peristiwa bersejarah tersebut.

Dalam konteks kajian peradaban Islam, setidaknya ada makna penting dari peristiwa bersejarah ini, yaitu Nabi SAW telah melakukan dua tahap hijrah; hijrah fikriyah dan madaniyah. Tahap ini dilakukan dalam rangka mengadabkan pemikiran dan perilaku manusia.

Rasulullah SAW telah mempersiapkan matang-matang jauh hari sejak di kota Makkah sebelum hijrah ke Madinah. Penguatan basic-faith terhadap para sahabat merupakan aktifitas esensial yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di Makkah. Sebab, basic-faith menentukan bentuk pola piker, cara pandang dan prilaku manusia. Dalam pandangan Ninian Smart, cara pandang atau basic pemikiran manusia melihat realitas dan kepercayaan befungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.

Maka, untuk membangun sebuah peradaban yang bermartabat langkah utama yang ditempuh pertama-pertama adalah melakukan hijrah fikriyah. Melakukan perubahan fundamental dari pola pikir badhawah (primitif) menjadi mode pemikiran yang hadharah (berperadaban). Dari hijrah fikriyah ini akan memantapkan hijrah madaniyah (hadlari).

Mengubah Pola Pikir Badhawah

Dalam teori Ibn Khaldun, di dalam suatu negara terdapat siklus dinamis, yaitu timbul dan tenggelam peradaban serta benturan antara pola pikir badhawah ( pola pikir primitif) dan pola pikir hadharah (pola pikir beradab). Pada mula terbentuk negara, ciri khas pola badhawah biasanya masih mendominasi.

Ciri pola ini misalnya keberanian penguasa untuk merampas milik orang lain. Pada tahap ini pemimpin cenderung memiliki sifat despotisme (lalim), monopoli kemewahan dan kemegahan dan berusaha menjauhkan kawan agar tidak direbut kekuasaannya.

Artinya, jika kedzaliman masih dominan pada masyarakat apalagi pada level penguasa, maka negara itu belum mencapai kematangan, masih pada tahap pencarian bentuk untuk membentuk peradaban kota. Maka, dengan perspektif teori Ibnu Khaldun tersebut, manakala negara kita masih didominasi pola berkuasa yang dzalim, korup, tidak beradab, dan masih banyaknya kerancuan berpikir, maka sebenarnya kita belum menegakkan sebuah negara yang benar-benar Negara modern beradab.

Pola berpikir badhawah ini dapat disebut the loss of adab (ketiadaan adab) dalam istilah Syed M.Naquib al-Attas. Kehilangan adab akan memicu kerancuan epistemologi, cara bertindak, munculnya segala bentuk sofisme dan berlakunya ketidakadilan baik di bidang sosial masyarakat, politik lebih-lebih ketidakadilan di bidang ilmu – sebagai faktor utama penggerak berpikir. Manakala konsep-konsep ilmu tidak ditempatkan secara tepat, maka akan merusak tatanan moral dan rusaknya bidang ilmu pengetahuan (corruption of knowledge). Untuk itu, cara berpikir yang badhawah itu harus diubah dengan meningkatkan tradisi ilmu dalam masyarakat.

Makanya, dalam peradaban Islam, tradisi ilmu merupakan substansi terpenting. Menurut Ibnu Khaldun, tanda tegaknya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan, baik sains maupun agama. Dalam perjalanannya, tradisi keilmuan selalu dikawal oleh konsep iman. Bagi seorang muslim, akidah Islam menjadi basis sebuah proses memperoleh pengetahuan.

Cara berpikir muslim beradab mestinya dihubungkan dengan konsepsi ketuhanan. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW menjunjukkan hal itu. “Bacalah dengan Nama Tuhanmu” (QS. Al-‘Alaq:1) memberi pelajaran bahwa mencari ilmu (bacalah) harus disertai konsepsi tentang keyakinan kepada Tuhan. Pembacaan tidak boleh parsial, lepas dari aturan dan ingatan kepada-Nya. Ini semua menunjukkan bahwa elemen-elemen dasar membangun peradaban itu adalah dengan pembentukan pola berpikir yang mendasar (hijrah fikriyah) kemudian pola ini dibangun dengan tradisi keilmuan yang dibimbing oleh akidah.

Jadi, untuk menuju pola Negara yang berperadaban, maka yang perlu diubah pertama kali adalah pola pikir masyarakat, ulama’, penegak hukum, dan para pejabatnya. Cara pandang terhadap sesuatu menjadi kata kunci. Pandangan-pandangannya unsur-unsur penegakan Negara mestinya adalah cara pandang Rabbaniyyah, dihubungkan dengan iman dan takwa kepada Allah SWT. Kenapa masih ada pejabat muslim yang korupsi? Karena cara pandang pejabat tersebut masih materialistik dan sekular, tidak Rabbani, meskipun muslim. Antar hati, pikiran dan perbuatan tidak sejalan. Pejabat yang beradab adalah pejabat yang hati, pikiran dan perbuatannya selalu dihubungkan dengan takwa kepada-Nya.

Menuju Pemikiran Hadhari

Pola masyarakat yang hadhari itu tidak sekedar ditandai dengan kemajuan variabel-variabel fisik kota, kemewahan, kemegahan, dan kesuburan tanah saja. Sebuah negara dinilai sebagai negara beradab jika telah berubah menjadi pola hadlarah. Yaitu pola yang masyarakatnya bermoral. Ibnu Khaldun mengatakan, kehancuran negara berkaitan dengan bobroknya moralitas penguasa dan masyarakat kota. Artinya, perkembangan negara dinilai dengan pertimbangan-pertimbangan moral dan agama.

Sejalan dengan itu, Sayyid Qutb juga mengatakan bahwa agama dan keyakinan adalah asas segala peradaban. Iman, menurut Sayyid Qutb adalah mashdaru al-hadharah (sumber peradaban). Iman yang juga elemen utama karakteristik konsep Islam secara prinsipil membentuk organisasi keilmuan yang didukung oleh taqwa, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan, menjaga dari keinginan hewani, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi berdasarkan petunjuak dan perintah-Nya.

Prinsip-prinsip Islam tersebut membentuk sebuah organisasi masyarakat Islam, yang disebut masyarakat madani – seperti halnya masyarakat yang dibentuk oleh Rasulullah SAW di kota Madinah. Bisa dikakatan di sini bahwa Islam itu tidak sekedar ritual agama, tapi Islam sejak awal merupakan peradaban.

Islam sebagai konsep din (agama) adalah hakikatnya mengandung misi sebagai peradaban. Sebab kata din sendiri memiliki keterkaitan secara linguistik dengan kata madinah dan madani/tamaddun. Keterkaitan derivatif ini juga memiliki hubungan konseptual. Islam sebagai satu-satunya agama berkonsep Din mengikuti pola atau bentuk yang menjadi acuan Allah SWT dalam memerintah yang merupakan peniruan dari sistem kosmik yang diwujudkan dalam kehidupan di dunia sebagai sistem sosial, budaya, politik dan elemen-eleman lainnya secara menyeruluh.

Kata din berasal dari akar kata dayana, yang memiliki beragam tapi terkait satu sama lain; yaitu bermakna berhutang, penyerahan diri, kuasa peradilan, dan kecenderungan alami mengikuti fitrah manusia yang beriman. Hakikat keadaan berhutang adalah wujud dan eksistensi manusia di dunia yang penuh kenikmatan fisikal dan spiritual. Mulanya, manusia itu dalam kerugian. Yakni lahir tanpa memiliki suatu apapun. ”Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” (QS.al-’Ashr: 2). Manusia beriman akan sadar bahwa segala sesuatu tentang dirinya, apa yang ada pada dirinya dan darinya sesungguhnya dimiliki oleh Sang Pencipta Yang Memiliki segala sesuatu.

Manusia yang beriman tidak sekedar merasa berhutang pada yang Maha Kuasa, tetapi kesadaran memiliki hutang diwujudkan dengan penyerahan diri (aslama). Dalam konsep Din, penyerahan tidak sekedar menyerahkan tanpa aturan. Konsep penyerahan diri barangkali umumnya dapat ditemukan di semua agama. Akan tetapi tidak semua agama menetapkan suatu penyerahan diri yang sesungghuhnya. Ada mekanisme teratur dalam melaksanakan penyerahan itu, yang tercermin dalam aturan syari’at.

Penyerahan diri menurut konsep Islam adalah penyerahan yang tulus dan menyeluruh menurut kehendak Allah dijalankan dengan sepenuh hati dengan ketaatan secara mutlak terhadap hukum yang diwahyukan oleh-Nya. Jadi syarat penyerahan diri itu adalah; kaffah tidak parsial, sesuai kehendak Allah bukan kehendak manusia, taat pada hukum sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an. Selain syarat ini, bukan konsep penyerahan diri secara Islam.

Inlah cara ’membayar hutang’. Ada mekanismenya. Mekanisme itu telah terlengkapi dengan acuan-acuan yang mengarahkan manusia menjadi manusia agung dan bebas. Bebas dari belenggu penjara nafsu. Makanya, kita mesti menyadari secara mutlak, bahwa kita tak memiliki apaun untuk membayar hutang kecuali dengan mekanisme yang telah terberi itu.

Diri manusia sendiri adalah hutang yang harus dikembalikan kepada Sang Pemilik. Mengembalikan hutang bermakna menjadikan dirinya dalam keadaan khidmat atau menghambakan diri kepada Allah. Konsep mengembalikan inilah yang telah wujud pada struktur konseptual istilah Din.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa dalam istilah din tersimpan suatu sistem kehidupan manusia yang terstruktur dengan baik. Oleh karena itulah, maka ketika din ini disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW dan dilaksanakan di suatu kota maka kota ini lantas disebut dengan Madinah (kota beragama/berperadaban). Kata madinah berasal dari kata yang sama dengan din, yaitu dayana. Kemudian kata ini membentuk kata baru yaitu madana, yang artinya membangun kota dan memajukan. Sehingga dari sinilah kemudian lahir kata tamaddun yang sering diterjemahkan dengan peradaban.

Dengan memotret peristiwa hijrah Rasulullah SAW dengan pemahaman bahwa Islam itu agama sekaligus peradaban ini, maka kita dapat mengambil pelajaran, bahwa yang terpenting kita lakukan saat ini adalah langkah pertama, yaitu melakukan hijrah fikriyah. Pola pikir badhawah (primitif) harus diberantas. Saat pola fikir kita menjadi hadhari maka, saat itulah kita berada di pintu masuk era madaniyah – tahap dimana, manusia memiliki peradaban yang bermartabat dan berkeadilan. Inilah esensi hijrah ruhiyah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Sandarkan pada Allah Semata, Titik!

TIADA keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.

Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, “Faalhamaha fujuraha wataqwaaha“.

“Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan”. Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.

Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.

Alkisah, ada seorang dosen ternama di Surabaya yang memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Saat itu, posisi karir sedang naik. Semua fasilitas dimilikinya. Jabatan, fasilitas dan kelebihan lainnya.

Tapi takdir menentukan lain. Allah memanggilnya di usia muda. Saat itu pula perubahan besar terjadi pada keluarganya. Sang istri terpaksa merangkap tanggungjawab. Menjadi ibu, sekaligus menjadi “ayah” untuk menafkahi ketiga anaknya. Sedang si anak mengalami “kekagetan” luar biasa. Dari awal yang dimanja fasilitas, kini, mereka semua harus memulainya dari nol. Sesuatu yang maha berat.

“Seolah hancur harapanku ketika orang yang menjadi sandaran hidupku telah tiada lagi, “ begitu ujar sang istri.

Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah, atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, “laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah. Jabatan diambil, tak masalah, karena jaminan dari Allah tidak tergantung jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.

Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ia hanya mengatakan, “Ya silahkan … buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada Allah, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah.”
Tak masalah jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan Allah karena kita dapat mempertanggungjawabkannya. Tidak apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi apa artinya jika Allah memberi penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.

Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Punya tabungan uang, mudah bagi Allah untuk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi Allah untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak bisa melakukan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.

Punya suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah membuat sang suami muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, lalu menggigitnya sehingga terjangkit demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate.

Otak cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.

Semakin kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kantor, maka hendaknya istri menitipkannya kepada Allah.

“Wahai Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya agar terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan ya Allah, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh.”

Insya Allah suami pergi bekerja di back up oleh doa sang istri, subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada Allah. “Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu”

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At Thalaq [65] : 3).

Yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. “Innallaaha ala kulli sai in kadir”.

Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak kecewa. Sebab yang kita gantungi, “Lahaula wala quwata illa billaah” (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain, itulah TAUHID.

Bermuhasabah, Sebelum Hari Penghisaban

ALKISAH, suatu hari Atha As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, “Ya, Atha sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”

Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, “Atha sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas.”

Tawaran itu dijawabnya, “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya, ketahuilah sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya.

“Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

Pelajaran penting dari kisah di atas adalah usaha seorang Atha` yang jeli melakukan introspeksi diri, menyadari kelemahan, dan kekurangannya. Seiring akan datangnya Tahun Baru Islam 1433 H, kita pun perlu melakukan evaluasi: sudah sejauh mana amal, ilmu, dan akhlak kita selama ini. Perasaan puas dengan apa yang telah kita kerjakan harus kita kubur dalam-dalam, sebab masih masih banyak ‘PR’ yang perlu dituntaskan.

Perputaran roda waktu meniscayakan bagi setiap manusia, lebih-lebih seorang mukmin untuk melakukan Muhasabah. Muhasabah bisa berarti melakukan introspeksi diri, evaluasi, atau koreksi atas kinerja selama ini.

Muhasabah merupakan solusi tepat untuk menyadari dan merenungi segala kebajikan maupun kebijakan bahkan kefasikan yang mungkin menyelimuti semasa hidup di tahun sebelumnya sehingga kita dapat mengukur sejauh mana keberhasilan dan kegagalan yang kita tunai.

Dalam al-Quran Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk bertakwa yang dirangkai dengan persiapan menyongsong hari akhir: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hasyr: 18)

Secara jelas, ayat ini menyuruh setiap mukmin untuk memperhatikan nasibnya di akhirat kelak. Bekal apa yang telah kita siapkan agar selamat di alam yang baru itu?

Imam Turmudzi meriwayatkan hadits yang berbunyi: “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt.” (HR. Imam Turmudzi)

Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Tuhan-nya.

Imam Turmudzi meriwayatkan ucapan Sayidina Umar bin Khaththab yaitu: “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari `aradh akbar (yaumul hisab). Hisab itu hanya akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.”

Sahabat Umar memahami benar urgensi dari muhasabah ini. Pada kalimat terakhir dari ungkapan di atas, beliau mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di hari akhir kelak. Beliau paham betul bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.

Oleh karena itu, ketika kita menyinggung muhasabah, maka di dalamnya ada tiga bentuk atau tiga fase muhasabah.

Pertama, muhasabah sebelum berbuat. Muhasabah pada keadaan pertama ini penting untuk dilakukan guna mengetahui apakah perbuatan yang hendak kita lakukan bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun diri orang lain. Berpikir jernih dan cerdas sebelum berbuat merupakan langkah seorang besar yang memiliki visi yang jauh ke depan. Ia bisa menimbang baik-buruk, positif-negatifnya suatu pekerjaan yang hendak ia lakoni.

Kedua, muhasabah saat melaksanakan sesuatu. Fase kedua yang perlu didaki oleh kita setelah bermuhasabah sebelum berbuat adalah melakukan introspeksi ulang di tengah perbuatan yang sedang kita jalani. Tujuannya tidak lain adalah mengontrol dan mengendalikan diri agar tidak menyimpang. Layaknya kita sebagai manusia, mungkin kita baik di awal, namun tak menjamin kita tetap berada di jalan yang semestinya manakala kita tengah dalam proses mengerjakan sesuatu. Hal ini dapat mencegah kemungkinan terjadinya penyimpangan pada saat melaksanakan sesuatu atau menghentikannya sama sekali.

Ketiga, muhasabah setelah melakukan suatu perbuatan. Pada fase ini, muhasabah berfungsi sebagai alat penemu kesalahan, kekurangan, dan kekhilafan yang terselip di dalam melakukan sesuatu. Tujuannya jelas, kesalahan yang terjadi tidak boleh terjadi pada masa mendatang.

Ketika kita selalu memperhatikan modal, memperhitungkan keuntungan dan kerugian, bertobat dikala melakukan kesalahan dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan, Insya Allah kita termasuk orang yang menghisab diri sebelum hari penghisaban, yaitu hari kiamat.

Sikap Rasulullah terhadap Orang Miskin

Suatu hari ada seseorang datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW yang sedang berkumpul dengan para sahabat. Melihat kehadiran pengemis itu, Rasulullah lantas bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?”

Dia menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasulullah lalu berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!”

Pengemis itu langsung bergegas pulang dan kembali dengan membawa cangkir. Rasulullah kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.”

Rasulullah lalu menawarkannya kepada sahabat yang lain. Seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah kemudian memberikan dua dirham itu kepada si pengemis. Rasul mengharapkan agar uang itu digunakan untuk membeli makanan buat keluarganya, dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. “Carilah kayu yang banyak dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu,” kata Rasulullah.

Dua minggu kemudian, pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW, tapi tidak untuk mengemis. Ia datang kepada Rasullah membawa uang 10 dirham hasil dari berjualan kayu. Rasulullah SAW kemudian menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya.

Rasulullah berkata, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha.”

Kisah ini menggambarkan sifat Rasulullah yang gemar membantu  orang yang tidak mampu. Bantuan tidak hanya berupa uang, tapi juga “kail” atau pekerjaan agar kelak orang yang tidak mampu itu bisa hidup mandiri.

Tidak dapat dimungkiri, jumlah pengemis dan pengangguran di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Alangkah indahnya, jika setiap orang mampu (secara ekonomi) di negeri ini mau meniru perilaku Rasulullah tersebut. Dengan memberi sedekah dan pekerjaan, setidaknya jumlah anak jalanan dan pengangguran bisa diminimalisasi.

Rasullullah memberikan contoh bahwa kesalehan spiritual belum dikatakan sempurna, sebelum dibarengi dengan kesalehan sosial (to be sensitive to the reality).

Dalam Alquran disebutkan bahwa orang yang bertakwa yaitu: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang (QS Ali Imran [3]: 134).

Saatnya kita berbagi dengan orang di sekeliling kita yang fakir dan miskin. Jika orang yang diberi kecukupan ekonomi di negeri ini mau peduli terhadap yang miskin, pasti perempuan Indonesia tidak akan berbondong-bondong menjadi tenaga kerja dan pembantu rumah tangga di negeri orang. Jika orang kaya di negeri ini mau membantu yang lemah dan fakir, tentu tidak banyak anak negeri ini yang putus sekolah. “Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran.”

Pahlawan untuk Diteladani, Bukan Hanya Dikagumi

HARI ini, sepuluh November, setiap tahunnya, didedikasikan untuk mengenang jasa para pahlawan di seluruh Indonesia atas perjuangan dan pengorbanan mereka dalam merebut kemerdekaan dari para kolonialis, dan juga untuk mereka yang telah berkontribusi dalam proses pembangunan pasca kemerdekaan.

Beragam acara dan seremoni dibuat, tapi jamaknya adalah upacara dan mengheningkan cipta dilanjutkan dengan tabur bunga saat ziarah ke makam-makam pahlawan. Namun, bagi tulang belulang yang berserakan di makam itu, apakah makna yang kita berikan kepada mereka?

Atau kah tak ada lagi perempuan di negeri ini yang mampu melahirkan orang-orang seperti mereka? Sama halnya dengan perempuan Arab yang tidak mampu lagi melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?

Ataukah tak lagi ada ibu yang mau, seperti kata Taufik Ismail di tahun 1966, “Merelakan kalian pergi berdemonstrasi, karena kalian pergi menyempurnakan, kemerdekaan negeri ini.” Ataukah, seperti kata Sayyid Quthub, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”

Kemiskinan Berkelanjutan

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa pada 2010 sekitar 31 juta jiwa penduduk masih dalam keadaan miskin (13.33 persen). Hal baiknya adalah jumlah ini menurun dibandingkan 2009 yang mencapai 32,5 juta jiwa (14,15 persen). Namun, hal buruknya justru terletak pada aspek fundamental, yaitu perbedaan indikator kemiskinan.

World Bank melansir bahwa seseorang dikatakan miskin ketika tidak sanggup memenuhi kebutuhan kalori standar untuk tubuhnya (2.000-2.500 kalori per hari), di mana jika dikonversi ke dalam dolar, dibutuhkan minimal satu dolar AS per hari atau 30 dolar AS per bulan (sekitar Rp 270 ribu).

Namun, BPS menggunakan indikator lebih rendah, yaitu Rp 211.726 per kapita per bulan. Belum lagi masalah perhitungan lain, di mana seseorang yang telah bekerja sudah tidak dianggap miskin. Padahal, bekerja bukan jaminan semua kebutuhannya terpenuhi.

Terlepas dari perbedaan indikator kemiskinan tersebut, satu hal yang pasti bahwa 32,5 juta jiwa dari total warga Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini adalah miskin. Padahal, dunia pun mengakui, negeri ini merupakan wilayah dengan potensi sumber daya alam yang melimpah. Dus, wajar sekali jika kita bertanya, tidak adakah korelasi positif-konstruktif antara keberlimpahan sumber daya alam dengan kesejahteraan rakyat negeri zamrud khatulistiwa ini?

Kemiskinan merupakan persoalan asasi yang multikompleks, tentu sangat mengganggu laju pembangunan negara ini pasca sentralisasi pemangunan berkepanjangan selama rezim orde baru plus pembangunan setengah hati oleh rezim reformasi, terutama selama kepemimpinan Pak Beye yang lebih mengutamakan penguatan citra diri sendiri.

Karenanya, urgently required (sangat dibutuhkan) pahlawan -dalam artian yang luas- untuk Indonesia kontemporer. Masih adakah mereka para pahlawan itu saat ini? Seperti apakah criteria utama mereka? Siapa yang bisa mereposisi Bung Tomo, Soekarno, Hatta, HAMKA, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Malahayati, dan sederetan pahlawan nasional lainnya?

Kriteria Utama Kepahlawanan

Dalam Mencari Pahlawan Indonesia (2004), M. Anis Matta menjelaskan secara gamblang dan panjang lebar tentang pelbagai karakteristik kepahlawanan yang harus dimiliki oleh seorang untuk menjadi pahlawan. Namun bagi penulis, paling tidak ada tujuh criteria utama kepahlawanan berikut ini.
Pertama, pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar walau berfisik kecil atau bahkah tidak sempurna (cacat). Karena itu pula mereka selalu muncul di saat-saat sulit atau sengaja (Allah) lahir (kan mereka) di tengah situasi sulit. Namun mereka bukanlah kiriman gratis dari langit.

Kedua, pahlawan sejati selalau merupakan seorang pemberani sejati. Pekerjaan/tantangan besar selalu membutuhkan keberanian yang sama besarnya sebab selalu ada resiko besar di dalamnya. Keberanian itu fitrah tertanam pada diri seseorang atau diperoleh melalui latihan. Namun keduanya selalu berpijak kuat pada keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat dan kerinduan yang menderu-deru untuk bertemuNya. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin.

Ketiga, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran paripurna. Keberanian merupakan aspek ekspansif dari kepahlawanan sementara kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa seorang pahlawan mampu membawa beban idealisme kepahlawanan. Kesabaran ibarat wanita yang melahirkan banyak sifat lainnya; santun, lembut, jujur, amanah, kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja dan yang paling penting adalah ketenangan.

Keempat, seseorang disebut pahlawan karena kebaikan dan kekuatannya jauh mengalahkan sisi keburukan dan kelemahannya. Tetapi kebaikan dan kekuatan itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kehidupan masyarakat. Itulah sebabnya tidak semua orang baik dan kuat menjadi pahlawan yang dikenang dalam memori kolektif /sejarah.

Nilai sosial setiap pahlawan itu berbanding lurus dengan kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan performance kepribadiannya. Dus, hadirnya pahlawan sejati yang tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri tetapi hidup dan mengorbankan semua yang dimilikinya bagi orang lain dan agamanya merupakan jawaban tuntas dari pertanyaan “Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan syariat (baca; hukum) dalam realitas kehidupan?”

Kelima, kompetisi. Pahlawan mukmin sejati tidak akan membuang energi mereka untuk memikirkan seperti apa dia akan ditempatkan dalam sejarah manusia.

Melainkan bagaimana meraih posisi terhormat di sisiNya, itulah cita-cita sejatinya. Itulah ambisi yang sebenarnya, ambisi yang disyariatkan, ambisi yang melahirkan semangat kompetisi yang tidak bertepi. Adapun indicator yang digunakan untuk menilai kompetisi itu adalah keterpaduan yang harmonis antara waktu (kecepatan), kualitas, kuantitas dan manfaat social dari tiap pekerjaan yang dilakukan.

Keenam, filosofi yang solid. Tindakan kepahlawanan selalu lahir dari pikiran kepahlawanan. Orang yang tidak mempunyai pikiran-pikiran besar tidak akan pernah terarahkan untuk melakukan tindakan-tindakan kepahlwanan. Filosofi membicarakan harapan, arti kehormatan, sumber motivasi, apa yang disukai dan atau dibenci, proses pemaknaan terhadap sesuatu, fungsi keterampilan kepribadian dan seterusnya.

Ketujuh, optimisme yang merupakan titik tengah antara idealisme yang tidak realistis dengan realism yang terlalu pragmatis. Pahlawan mukmin sejati percaya bahwa bekerja saja merupakan suatu kemenangan; atas rasa takut, sifat pengecut, cinta dunia dan atas diri sendiri. Adapun hasil, bahwa mereka gugur dalam proses pekerjaan itu atau masih sempat menikmatinya, semua itu diserahkan kepadaNya. Dari keyakinan seperti inilah lahir optimisme yang solid.

Akhirnya, perlu ditegaskan di sini bahwa semua kita –orang biasa- pada jamaknya bisa menjadi pahlawan untuk negeri ini. Orang-orang biasa yang melakukan pekerjaan besar itulah yang dibutuhkan di saat krisis. Bukan orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya.
Para pahlawan bukan untuk dikagumi, tapi untuk diteladani. Karena itu, makna-makna yang melatari tindakan mereka yang perlu dihadirkan ke dalam kesadaran kita. Di masa pembangunan ini, tuan hidup kembali, dan bara kagum menjadi api….. (Chairil Anwar)

Membangun Peradaban Tauhidi

Dalam bukunya Al-Madkhal ila Dirasah al-Madzahib al-Fiqhiyah, Prof. Dr. Ali Gomaa Muhammad menyatakan, “Peradaban Islam tidaklah mati, namun hanya tertidur saja. Sesuatu yang tidur pasti akan bangun kembali.” Pernyataan ini memberikan harapan besar kepada kita akan kebangkitan peradaban Islam. Akan tetapi kebangkitan peradaban itu tentu saja membutuhkan proses yang lama. Peradaban Islam seperti bagian dari sebuah roda yang selalu berputar. Jika dalam sejarahnya bagian roda itu sempat berada di bawah, maka suatu saat nanti ia akan kembali berada di atas.

Pembicaraan tentang peradaban memang tidak akan ada habisnya, terkhusus peradaban Islam. Topik peradaban secara umum selalu relevan untuk diperbincangkan di sepanjang zaman. Ini tidak lain karena manusia selalu bersinggungan dengan peradaban. Manusia adalah pelaku utama peradaban itu sendiri. Dan peradaban tanpa manusia tidak akan pernah ada. Begitu juga dengan topik peradaban Islam yang dianologikan seperti bagian dari roda yang berputar tadi, tidak akan pernah surut dari perbincangan manusia.

Peradaban manusia terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Perkembangan peradaban tersebut tidak saja terjadi dalam ranah fisiknya saja, namun juga terjadi dalam ranah substansi. Sebagai contoh, pemahaman akan istilah peradaban saja sampai mengalami fase-fase yang cukup signifikan. Terlebih lagi jika terjadi persinggungan antara peradaban satu dengan yang lainnya.

Seiring dengan perjalanan hidup manusia yang sudah begitu panjang di muka bumi ini, maka berbagai macam peradaban pun telah terbentuk. Banyak peradaban yang telah mewarnai kehidupan manusia. Setiap peradaban tentu saja memiliki konsep tersendiri yang nantinya akan membedakan peradaban tersebut dengan peradaban lainnya. Sama halnya dengan peradaban lain, peradaban Islam juga memiliki konsep yang menjadikannya tampil berbeda dengan peradaban-peradaban lainnya.

Konsep peradaban ini sangat dibutuhkan dalam upaya membangkitkan kembali peradaban Islam. Untuk itulah tulisan ini mencoba sedikit memaparkan konsep peradaban Islam, atau pandangan Islam terhadap peradaban itu sendiri.

Dilema Definisi Peradaban

Definisi peradaban memang selalu menjadi problem. Latar belakang pengetahuan yang berbeda, akan sangat mempengaruhi pendefinisian peradaban. Istilah peradaban biasanya digunakan oleh sarjana-sarjana di bidang sejarah, antropologi, dan beberapa bidang keilmuan sosial lainnya. Namun dalam disiplin ilmu yang berbeda-beda itu, ternyata definisi peradaban juga lahir berbeda-beda, tidak satu definisi.

Dalam bahasa Perancis, peradaban biasanya disebut dengan civilisation. Sedangkan dalam bahasa Jerman, peradaban disebut kultur. Istilah cultur dalam bahasa Prancis menunjukkan arti kebudayaan, sama halnya dengan bahasa Inggris yang menggunakan istilah culture. Jadi bahasa Prancis membedakan istilah civilisation yang menunjukkan peradaban, dengan cultur yang menunjukkan kebudayaan. Sedangkan dalam bahasa Melayu, peradaban disebut dengan tamadun.

Setidaknya “civilization” memiliki tiga tahapan perkembangan definisi. Makna aslinya dikenalkan pertama kali dalam bahasa Prancis oleh beberapa penulis, seperi Voltaire, pada abad ke-18 Masehi. Kemudian para penulis di abad ke-19 Masehi semakin memperluas istilah “civilization” untuk mengartikan pertumbuhan melalui waktu pengetahuan dan keterampilan yang mendorong manusia untuk mencapai perilaku yang beradab. Selanjutnya istilah “civilization” dibawa ke dalam bahasa Inggris, dan mengalami generalisasi ide atau definisi hingga lebih plural.

Nasr Muhammad Arif, dalam bukunya Al-Hadharah, Ats-Tsaqofah, Al-Madaniyah telah meneliti istilah “civilization” dari bahasa asalnya, yaitu bahasa Latin. Dalam bahasa Latin terdapat istilah civites yang artinya kota; civis yang artinya orang yang tinggal di kota; dan civilis yang artinya sipil. Dan istilah “civilization” baru diambil dari bahasa Latin tersebut pada abad ke-18 Masehi.

Sarjana Barat sendiri berbeda-beda dalam mendefinisikan istilah “civilization”. Sebagai contoh dalam bukunya The Philosophy of Civilization, Albert Schweitzer menjelaskan bahwa peradaban adalah kemajuan spiritual dan materi pada setiap individu maupun kelompok. Schweitzer juga menjelaskan bahwa peradaban harus dapat menciptakan kondisi yang menguntungkan semua orang dalam hidupnya. Tujuan peradaban adalah kesempurnaan spiritual dan moral individu.

Berbeda dengan Schweitzer yang menekankan peradaban pada pencapaian moral dan spiritual, Will Durant mengartikan peradaban sebagai sistem sosial yang membantu manusia untuk meningkatkan produksi kebudayaannya. Menurut Durant, peradaban terdiri dari empat unsur: sumber daya ekonomi, sistem politik, tradisi moral, serta ilmu dan kesenian.

Edward Burnett Tylor mengartikan peradaban sebagai adalah suatu kesatuan kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, adab, hukum adat, dan setiap kecakapan serta kebiasaan seseorang sebagai anggota masyarakat. Namun, sebagian orang menganggap definisi yang digariskan Tylor ini adalah untuk definisi kebudayaan. Dari definisi Tylor ini, akhirnya terjadi kerancuan dalam perbedaan antara peradaban dengan kebudayaan. Terkadang keduanya dimaknai sama.

Sedangkan Samuel Huntington memandang peradaban sebagai entitas budaya. Peradaban terdiri dari unsur-unsur yang kompleks, seperti bahasa, agama, sejarah, adat, lembaga, atau indentifikasi diri secara subjektif. Dalam pandangan Huntington ini, jika sekelompok manusia yang besar di suatu wilayah memiliki kesamaan seperti bahasa, agama dan adat, maka bisa disebut sebagai peradaban. Contohnya adalah Amerika dan Eropa yang sering disebut sebagai peradaban Barat.

Banyak lagi pendapat sarjana-sarjana Barat lainnya yang memberikan definisi terhadap peradaban. Definisi peradaban atau “civilization” dalam dunia pemikiran Barat mengalami perkembangan yang sangat pesat. Ada yang menjadikan makna “civilization” sebagai sinonim dari kata “culture”, seperti Tylor tadi. Ada juga yang mempersempit definisi “civilization” hanya sebagai kemajuan materi. Ada juga yang memperluas definisinya menjadi kemajuan yang menyeluruh, melingkupi semua aspek kehidupan. Ada juga yang mempersempitnya lagi menjadi kemajuan individu saja. Ada juga yang memperluasnya sebagai kemajuan individu dan kelompok. Dan berbagai perkembangan definisi lainnya.

Selanjutnya istilah “civilization” ini mengalami persinggungan dengan bahasa Arab. Pada awal abad ke-19, kata “civilization” diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan istilah التمدن. Rifa’ah Ath-Thahthawi dalam bukunya Manahij al-Albab al-Mashriyah menggunakan istilah “tamaddun” untuk menunjukkan istilah “civilization” yang dipakai di Eropa. Ath-Thahthawi menyebutkan, tamaddun mengandung dua unsur asli: secara makna seperti akhlak dan adab, dan secara materi.

Kata “tamaddun” terus digunakan untuk menunjukkan “civilization” sampai kemudian berubah menjadi kata المدنية. Istilah “madaniyah” ini dipakai selama abad ke-19 dan abad ke-20. Pada tahun 1936, istilah “madaniyah” diartikan sebagai sebuah keadaan sosial budaya yang ditandai dengan kemajuan relatif dalam bidang kesenian, ilmu pengetahuan, manajemen pemerintahan. Lalu pada tahun 1957, istilah “madaniyah” digunakan untuk menunjukkan fenomena kemajuan fisik atau materi dalam kehidupan masyarakat.

Lalu pada pertengahan abad ke-20, kamus-kamus bahasa Arab mulai menerjemahkan kata “civilization” dengan arti حضارة. Dan pada masa ini hampir disepakati bahwa kata “hadharah” berarti sekumpulan fenomena sosial yang memiliki karakter fisik, ilmu, seni teknik yang ada dalam masyarakat, dan merupakan fase kemajuan dalam perkembangan manusia.

Sebenarnya kata “حضارة” sudah dipakai oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya. Namun kata “hadharah” di sini belum dipakai untuk menunjukkan sebuah peradaban yang memiliki definisi kompleks seperti di atas. Kata “hadharah” digunakan Ibnu Khaldun untuk menunjukkan lawan dari pola hidup yang berpindah-pindah, atau yang disebut dengan البداوة. Sedangkan untuk menunjukkan sebuah peradaban, Ibnu Khaldun menggunakan istilah “umran”.

Dr. Muhammad Imarah dalam bukunya Al-Islam wa At-Ta’addudiyah mengatakan bahwa istilah “umran” dalam turats kita yang dulu itu adalah istilah “hadharah” dalam turats kita yang baru. Selanjutnya Dr. Imarah mendefinisikan peradaban sebagai kumpulan dari tamadun dan budaya, serta akumulasi dari perkotaan yang di dalamnya terdapat realitas fisik dan jiwa manusia yang dapat memberikan kemajuan pada manusia itu sendiri.

Pendapat-pendapat dari pemikir Muslim tentang definisi hadharah memang juga terdapat keragaman. Bahkan pendefinisian yang berkembang dalam pemikiran Islam atau dalam terminologi bahasa Arab bisa dikatakan sedikit rumit jika dibandingkan dengan terminologi bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris hanya terdapat dua istilah yang berkembang, yaitu civilization dan culture. Sedangkan dalam bahasa Arab, terdapat tiga istilah yang berkembang untuk menunjukkan peradaban dan kebudayaan, yaitu tsaqafah, hadharah, dan madaniah.

Secara singkat bisa disimpulkan sebagai berikut: Pertama, siapa yang menerjemahkan istilah culture sebagai tsaqafah, maka berarti menerjemahkan civilization sebagai hadharah. Kedua, siapa yang menerjemahkan culture sebagai hadharah, maka ia menerjemahkan civilization sebagai madaniyah. Bagi pendapat pertama, berarti ia telah menjadikan tsaqafah sebagai elemen intelektual dalam kehidupan manusia, dan hadharah sebagai elemen fisik atau materinya. Sedangkan pendapat kedua telah menjadikan hadharah sebagai elemen intelektual dan madaniyah sebagai elemen fisik atau materinya.

Sementara itu dalam bahasa Indonesia, istilah “peradaban” sering kali digunakan untuk menunjukkan civilization atau hadharah. Kata “peradaban” berasal dari kata “adab”, yang artinya kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, atau akhlak. Ketika kata “adab” ini mendapat imbuhan per- dan -an menjadi “peradaban”, maka diartikan sebagai: Pertama, kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin. Kedua, hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa.

Dari sekian banyak pendapat dan perkembangan-perkembangan definisi tadi, setidaknya kita dapat mengambil garis lurus untuk dapat menggambarkan istilah “peradaban”. Garis lurus tersebut yaitu kemajuan, moral, intelektual dan fisik atau materi. Karena dalam definisinya yang berkembang, peradaban sering kali dikaitkan dengan ketiga unsur tersebut.

Peradaban dalam Islam

Dalam terminologi bahasa Arab, kata hadharah berasal dari kata حضر yang artinya شهد من الحضور, atau berlawanan dengan kata ghaib. Dalam Al-Qur’an, kita juga akan menemukan kata hadhara bermakna syahada. Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 180 ( إذا حضر أحدكم الموت ), dalam surat An-Nisa ayat 8 ( وإذا حضر القِسمَةَ أُولُوا القُربى ), dalam surat Al-Baqarah ayat 185 ( فمن شهد منكم الشهر فليصمه ). Dalam kandungan ketiga ayat tadi, makna hadhara berarti syahada.

Prof. Dr. Nasr Muhammad Arif menjelaskan bahwa kata syahadah dalam Al-Qur’an mengandung empat artian. Keempat artian inilah yang sebenarnya membangun istilah hadharah dalam Islam. Keempat artian ini tidak dapat berdiri sendiri dalam menyokong konsep peradaban Islam, namun semuanya saling melengkapi. Keempat artian tersebut adalah sebagai berikut: 1) Syahadah dalam artian tauhid kepada Allah. Artian ini mengandung kesaksian manusia terhadap keesaan Allah. Makna ini adalah sebagai akidah umat Islam. Di bawah makna ini manusia harus tunduk dengan segala aturan Allah; 2) Syahadah dalam artian perkataan (kesaksian) yang benar dan jalan untuk menuju keadilan. Atau bisa juga berarti kesaksian yang didasarkan dengan ilmu. Dengan demikian ini merupakan jalan untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan; 3) Syahadah dalam artian pengorbanan di jalan Allah; 4) Syahadah dalam artian kewajiban atau tugas untuk umat. Ini senada dengan kandungan Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah ayat 143 ( وكذلك جَعَلنكم أُمّة وسطا لتكونوا شُهداء على الناس و يكون الرسول عليكم شهيدا ).

Arti syahadah di sini mencakup dua dimensi, dunia dan akhirat. Oleh karena itulah, konsep peradaban dalam Islam tidak bisa dikotomi antara dua dimensi ini. Peradaban dalam Islam memiliki pola yang bersifat keduniawian seperti kemajuan, inovasi, pembangunan, kesenian dan lain sebagainya. Dan di samping itu juga memiliki pola yang sifatnya keakhiratan seperti keyakinan, nilai-nilai, pemikiran, tingkah laku atau akhlak dan lain sebagainya. Kedua pola ini tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. Jadi, pengistilahan peradaban akan tidak sempurna jika salah satu pola ini tidak ada.

Menurut Malik bin Nabi, di saat peradaban Barat terlalu memfokuskan perhatian mereka kepada kemajuan materi dan pemikiran, maka peradaban Islam menjadikan akidah tauhid sebagai fokus utama peradabannya. Malik bin Nabi mendampingkan definisi peradaban Islam dengan unsur-unsur utama yang membentuknya. Di antara unsur-unsur pembentuk itu adalah manusia, waktu dan tanah. Unsur manusia adalah unsur pembentuk terbesar dalam sebuah peradaban, termasuk peradaban Islam. Dalam hal ini tentunya kualitas manusia atau individu akan menentukan kualitas peradaban yang dibangunnya.

Dalam setiap individu Muslim yang berperan sebagai unsur utama dalam peradaban, sudah semestinya tertanam konsep tauhid yang menjadi fokus utama peradaban Islam tadi. Jadi, peradaban Islam adalah peradaban yang memiliki konsep tauhidi, yang meniadakan dikotomi antara fisik dan ruhani, atau dunia dan akhirat. Sedangkan asal mula konsep tauhid ini adalah keimanan kepada Allah. Maka, sebenarnya peradaban Islam tidak hanya dibangun oleh unsur manusia saja, namun yang paling penting adalah unsur yang ada di dalam diri manusia itu sendiri, yaitu keimanan. Dengan demikian, peradaban Islam tidak dapat dipisahkan dari unsur Tuhan.

Epistemologi dan Sumber Peradaban Islam

Dalam epistemologi Islam, sumber pengetahuan utama adalah Allah, atau yang dalam hal ini adalah wahyu. Pengetahuan yang bersumber dari Allah tersebut dapat diperoleh melalui indera yang sehat, berita yang benar berdasarkan otoritas, akal sehat dan hati. Indera yang sehat ini mencakup indera luar dan indera dalam. Akal sehat pada dasarnya berfungsi untuk mengolah apa yang diterima oleh indera tadi. Apa yang diterima oleh indera akan dinilai oleh akal sehat sesuai dengan tingkat kelogisannya. Namun sebenarnya fungsi akal tidak sebatas sampai di situ saja. Akal sendiri sejatinya adalah substansi spiritual yang inheran dengan organ spiritual yang biasa kita sebut dengan hati, yang mana berfungsi sebagai penerima pengetahuan intuitif. Jadi, pada intinya akal dan intuisi selalu berhubungan dan tidak ada dikotomi antara keduanya.

Meski terjadi perbedaan dalam cara memperoleh pengetahuan, namun pada dasarnya semuanya pengetahuan itu berasal dari satu sumber, yaitu Allah. Dalam hal ini Al-Qur’an telah menjelaskan: “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” (QS. Al-Baqarah: 31).

Sumber pengetahuan yang berasal dari Allah tadi ditransfer kepada manusia dalam bentuk wahyu. Dalam Islam, wahyu Allah tertuang di dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasul. Kedua sumber ini yang selanjutnya menjadi landasan utama dalam epistemologi Islam sekaligus peradaban Islam. Kedua sumber ini banyak menginspirasikan lahirnya ilmu-ilmu. Sebagai contoh, Allah berfirman: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 1-5).

Dr. Abdul Halim Uwais menyebutkan bahwa peradaban Islam memiliki tiga sumber utama, yaitu: Al-Qur’an, Sunnah dan Akidah Islam.

Dari asas di atas, terlihat bahwa dalam peradaban Islam tidak ada jurang pemisah antara manusia yang menjadi unsur pembangun peradaban dengan Tuhan sebagai sumber peradabannya. Sumber peradaban Islam sejalan dengan sumber pengetahuan yang dibahas dalam epistemologi Islam. Selanjutnya, sumber ini juga menjadi cikal bakal terbentuknya pandangan hidup Islam. Dari sini jugalah bermula segala kemajuan peradaban Islam yang ditandai dengan berkembang pesatnya tradisi keilmuan.

Worldview dan Asas Peradaban Islam

Berkembangnya peradaban Islam sampai selanjutnya mencapai puncak kejayaan ditandai dengan lahirnya ilmu-ilmu dalam Islam. Lahirnya ilmu dalam Islam itu tidak serta merta ada sebelum didahului oleh tradisi keilmuan yang kuat. Tradisi keilmuan ini bisa berkembang lantaran dilandasi oleh worldview Islam yang mengakar pada setiap individu pelaku intelektual. Dengan demikian tradisi keilmuan tidak lantas menggerogoti ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

Terbentuknya worldview Islam ini tidak dapat terpisahkan dari kandungan Al-Qur’an dan Sunnah yang menjadi landasan utamanya. Turunnya wahyu yang dalam hal ini Al-Qur’an dan Sunnah serta lahirnya worldview Islam, menjadi bagian utama sebab lahirnya ilmu dalam Islam. Dengan kelahiran ilmu dan perkembangannya ini, selanjutnya menandai kegemilangan peradaban Islam.

Konsep worldview Islam dibangun atas pendekatan tauhidi, tanpa adanya dikotomi. Ini sejalan dengan asas yang membangun peradaban Islam itu sendiri, seperti yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Ahmad Fuad Basha. Menurutnya, asas bangunan peradaban Islam adalah tidak adanya dikotomi antara agama dengan kehidupan. Begitu juga kemajuan dalam peradaban Islam, tidak ada dikotomi antara kemajuan maknawi seperti akhlak, abad dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari agama dan syariat Islam itu sendiri, dengan kemajuan fisik atau materi seperti halnya fasilitas-fasilitas yang dapat mempermudah kehidupan manusia.

Prof. Dr. Ahmad Fuad Basha menggariskan asas pembangun peradaban Islam itu sebagai berikut:

1.        Bangunan individu Muslim. Individu ini menjadi asas pertama dalam membangun peradaban Islam. Ini akan dapat tercapai jika adanya keseimbangan di antara sisi materi dan ruhani dalam diri setiap individu Muslim. Dari setiap individu inilah nantinya terlahir sebuah pola kehidupan yang seimbang pula antara materi dan ruhani. Sebagai contoh, setiap Muslim berkewajiban untuk selalu menyuruh kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyerukan kepada kebajikan, menyuruh(berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

2.        Bangunan komunitas yang seimbang. Bangunan individu yang memiliki keseimbangan antara materi dan ruhani tadi selanjutnya menjadi cikal bakal komunitas yang juga seimbang. Dalam hubungannya yang seimbang antara individu dengan komunitas ini, akan terdapat berbagai macam hak dan kewajiban. Dan dari korelasi keduanya ini juga akan melahirkan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan manusia. Mengenai komunitas yang seimbang ini, Al-Qur’an telah menjelaskan: “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman: 7-9).

3.        Menempatkan ilmu dalam posisi yang spesial dan penerapannya dalam perbuatan yang bermanfaat. Ilmu yang dianjurkan oleh agama Islam adalah ilmu yang komprehensif, mencakup ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum atau materi. Namun terdapat syarat yang menjadikan dianjurkannya pendalaman ilmu-ilmu tersebut, yaitu syarat manfaat. Standar yang digunakan dalam manfaat ini adalah kemaslahatan umat dan untuk menegakkan agama Islam.

4.        Penanaman nilai-nilai kemajuan peradaban. Salah satu yang terpenting dalam bangunan peradaban Islam adalah penetapan sistem nilai-nilai yang mempengaruhi kehidupan manusia serta tingkah lakunya. Dalam hal ini, sangat jelas sekali fungsi agama dalam kehidupan manusia. Dalam agama Islam, firman Allah dan Sunnah Rasul menjadi pegangan utama untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan, sesuatu yang boleh dan haram, dan lain sebagainya.

Dari keempat asas yang membangun peradaban Islam tadi, semuanya tidak terlepas dari konsep worldview Islam yang melalui pendekatan tauhidi. Peradaban Islam memang tidak dapat dipisahkan dari konsep tauhid yang ada dalam Islam itu sendiri. Konsep tauhid ini merupakan cara pandang yang utuh yang tanpa dikotomi dalam memandang sesuatu. Worldview itu tertanam pada setiap individu Muslim. Yang selanjutnya dari setiap individu tersebut membentuk komunitas. Dan dari situlah sebenarnya peradaban Islam itu bisa terbangun dan menjadikannya berbeda dengan peradaban-peradaban lainnya. Jadi, peradaban Islam memiliki kaitan yang sangat erat dengan worldview Islam itu sendiri.

Kesimpulan

Peradaban Islam sekarang ini memang masih tertidur. Aromanya sedikit tertutupi oleh gemerlapnya peradaban Barat. Peradaban Barat saat ini terlihat begitu gagah dengan kemajuan materi yang mereka capai. Kemajuan yang dicapai Barat tersebut tidak lepas dari pesatnya perkembangan kegiatan ilmiah yang tertuang dalam penelitian-penelitiannya. Sementara umat Islam masih belum menemukan geliat dahsyat gerakan ilmiahnya kembali seperti halnya yang dirasakan oleh Ibnu Khaldun, Ibnu Rusy, Ibnu Sina dan ulama-ulama lainnya yang menandai puncak kegemilangan peradaban Islam.

Namun seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Ali Gomaa Muhammad, peradaban Islam yang tertidur itu pasti akan bangun lagi dari tidurnya. Sekarang perlahan-lahan geliat untuk membangkitkan peradaban Islam yang tertidur itu mulai muncul. Salah satu gerakan yang terlihat jelas adalah proyek islamisasi pengetahuan. Karena gerakan keilmuan yang pesat merupakan cikal bakal kemajuan peradaban.

Islamisasi pengetahuan muncul di tengah persinggungan peradaban Islam dan Barat yang semakin intens. Persinggungan antar peradaban memang tidak dapat dihindari. Sudah menjadi hukum alam peradaban yang terbelakang akan melek melihat peradaban yang maju. Akulturasi peradaban pun bisa saja terjadi. Di tengah akulturasi tersebut itulah sangat dibutuhkan sekali bangunan konsep peradaban yang kuat, agar dapat melakukan proses filterasi, bukan adopsi yang membabi buta. Begitu juga dengan islamisasi pengetahuan. Proyek ini akan dapat berjalan dengan lancar jika di bawahnya dibangung konsep peradaban Islam yang kokoh. Wallahu’alam.*

Kurban adalah Perintah Allah

“Qurban” adalah perintah Allah (QS108:2), sunnah nabi Ibrahim dan nabi Muhammad,  bukti cinta kepada Allah, “kalian tidak akan mendapatkan nilai kebaikan sempurna sampai kalian memberikan terbaik dari yg kalian cintai”(QS3:92), semakin dekat dengan Allah (QS9:99), saat tetesan darah qurban pertama maka seluruh dosa yang berqurban Allah ampuni, demikian sabda Rasulullah.

Jadi qurban adalah kebutuhan kita semua akan ridho, rahmat dan ampunan-NYA, sahabatku.

Mengutamakan Ibu Kita

INILAH penuturan Abu Hurairah r.a. Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasul Allah, siapakah yang lebih berhak aku berbakti kepadanya dengan baik?”

Rasulullah berkata, “Ibumu.”

Dia berkata, “Lalu siapa lagi?”

“Ibumu,” kata Rasulullah.

Dia berkata, “Kemudian siapa?”

Rasulullah menjawab, “Ibumu.”

Dia berkata, “Lantas siapa lagi?”

Rasulullah Saw menjawab, “Ayahmu” (H.r. Bukhari dan Muslim).

Ada pelajaran dari hadis ini. Seorang ibu memiliki keutamaan untuk kita taati dan kita limpahi kebajikan, tiga kali lebih besar daripada seorang bapak. Tidak ada yang lebih utama untuk kita penuhi panggilannya, kita dengar nasihatnya dan kita limpahi perbuatan baik di dunia ini kecuali ibu. Bahkan andaikata ibu yang melahirkan kita belum beriman kepada Allah, maka kita tetap harus berbuat kepadanya.

Keharusan untuk berbuat baik kepada ibu yang melahirkan kita, betapapun ia belum beriman kepada Allah misalnya, bukan karena mengikuti nilai kepatutan yang ada di masyarakat. Bukan. Tetapi sebagai wujud ketaatan kita kepada Allah ‘Ázza wa Jalla, karena tidaklah kewajiban berbuat baik itu datang melainkan dari Allah Yang Maha Menciptakan. Ini bukan berarti mengharuskan kita taat kepada apa pun yang diperintahkan oleh orangtua kita, dalam hal ini ibu, melainkan berbuat baik dan menjaga diri dari perkataan yang menyakitkan hati. Apalagi jika lebih dari itu.

Sesungguhnya ketaatan kepada manusia itu hanyalah dalam perkara-perkara yang membawa ketaatan kepada Allah, atau dalam perkara yang tidak menyalahi perintah dan larangan-Nya. Begitu seorang ibu menyuruh kita berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka kita tidak boleh menaati perintahnya dalam perkara tersebut. Itu pun tetap harus dengan cara yang baik. Larangan untuk mentaati perintah yang melanggar aturan Allah tetap harus berjalan seiring dengan kewajiban berbuat baik kepada orangtua, khususnya ibu. Artinya, kita tidak berkata kasar, tidak membentak, tidak berbuat yang menyakitkan hati dan kalau sekiranya perlu menyampaikan penolakan, haruslah dengan perkataan yang mulia.

Seberapa jauh kita harus berbuat baik kepadanya? Sejauh yang kita sanggup. Sesungguhnya, betapa pun kita telah berusaha untuk membalas sedikit saja dari kebaikan ibu yang membesarkan kita tanpa meminta balasan, tak akan dapat menebus kemuliaannya sedikit pun. Setiap kali kita bernafas, maka dalam setiap hembusan nafas itu ada kasih-sayang, kemuliaan dan keutamaan ibu yang mengaliri darah dan hidup kita.

Tidaklah kita bisa berdiri dengan tegak, bernafas dengan baik dan memiliki jiwa yang kokoh, kecuali karena tulusnya cinta ibu kita. Kalaupun terkadang harus ada airmata yang jatuh saat mengasuh kita di waktu kecil, itu bukan karena ia tidak ikhlas mengasuh.

Tidak. Tetapi airmata itu kadang jatuh justru untuk mempertahankan keikhlasan, agar penatnya berjaga di waktu malam tidak membuatnya merutuki kita dengan keluh kesah panjang.

Sesungguhnya, satu malam kasih-sayang seorang ibu kepada kita, tak akan pernah sanggup kita tebus dengan hadiah yang paling indah. Sebab, tidaklah mereka berjaga, kecuali dengan murninya kasih sayang, tulusnya cinta dan pada saat yang sama sentuhan jiwa untuk membangkitkan jiwa kita. Andaikata seorang bapak menyayangi anaknya dengan turut berjaga semalaman atau bahkan lebih dari itu, niscaya tak akan sanggup menyamai satu malam saja kasih-sayang seorang ibu yang dengan tulus mendidik kita.

Saat-saat kecil, khususnya ketika bayi inilah yang membutuhkan cinta tanpa syarat. Karenanya, nilai doa kita untuk mereka terutama terkait dengan derajat kasih sayang dan pengasuhan mereka di waktu kecil.

“Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan limpahilah mereka kasih sayang sebagaimana mereka dulu mentarbiyahku di waktu kecil.”


Siapkan Diri Sebelum Mati

DUNIA ini adalah desain kematian yang sempurna bagi manusia. Tempat rekayasa kematian yang sangat dramatis. Kok bisa? Sebab semua ruang yang ada di dunia ini diciptakan Tuhan sebagai tempat untuk mengakhiri kehidupan seseorang. Rumah yang kita buat, tempat kita mati nantinya. Rumah sakit, tempat berkumpulnya orang-orang yang sakit dan meninggal.

Semua keinginan keduniaan kita pun desain kematian. Mobil yang kita beli bisa menjadi alat rekayasa kematian sadis untuk kematian diri kita dan orang lain, ketika terjadi kecelakaan dahsyat yang tak disangka-sangka datangnya.

Hobi makan kita, jika tak terpola, bisa menjadi desain kematian dramatis. Rekayasa kematiannya lewat penyakit. Karena kebanyakan penyakit datang dari kerakusan mengkonsumsi makanan-makanan yang tak sehat, termasuk makan yang terlalu berlebihan. Jika ada yang suka bermain wanita dan narkoba, dapat mengantarkan kematian lewat AIDS.

Hal-hal sederhana pun bisa menjadi desain kematian, misalnya jatuh di kamar mandi, atau memanjat genteng memperbaiki antena TV, jatuh dan meninggal. Demikian pula kematian bisa menjemput sedang bermain sepak bola, menonton TV, kuliah, dan memberi ceramah. Yang pasti kita tak bisa bersembunyi dari kematian.

Allah berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُواْ هَـذِهِ مِنْ عِندِ اللّهِ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُواْ هَـذِهِ مِنْ عِندِكَ قُلْ كُلًّ مِّنْ عِندِ اللّهِ فَمَا لِهَـؤُلاء الْقَوْمِ لاَ يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثاً

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh… “(An-Nisa (4): 78).

Perlahan tapi pasti dunia ini sejatinya mengantarkan kita pada kematian. Namun banyak manusia tak sadar, malah mereka ingin hidup seribu tahun lagi. Jika kematian pasti akan datang, pantaskah dunia ini menjadi tempat kita bersenang-senang dan melupakan kehidupan akhirat sebagai tempat akhir yang abadi dan kekal. Jika mati itu pasti, masihkah waktu yang kita miliki di dunia ini disia-siakan untuk menumpuk kenistaan, mengobarkan hedonis, dan memamerkan kesombongan.

Jika kematian datang, tak ada yang bisa menolaknya. Tidak ada yang bisa digadai untuk menawar. Harta, istri, anak, dan jabatan tak bisa ditukar oleh kematian. Yang kita bawa dalam kematian, bukan isi dunia yang kita dimiliki. Harta, anak, istri, usaha, dan kekuasaan akan ditinggalkan. Istri, suami, dan anak, akan bersedih dengan kepergian kita, tetapi tangisannya tak bisa berbuat apa-apa. Manusia hanya membawa amal ketika kematian datang menjemput.

Kedatangannya tidak dapat dimundurkan, atau dimajukan. Semua terserah dan rahasia Allah:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS: Al Anbiya: 35)

Kehidupan dunia ini seperti titik-titik waktu yang kita rapatkan hingga membentuk garis-garis kematian. Seperti layar monitor jantung di rumah sakit, jika masih hidup titik-titik garisnya masih melompat riang. Namun ketika detak jantung berhenti, maka akan membentuk garis lurus (linear) yang menandakan kematian telah menjemput. Hubungan seseorang dengan dunia ini hanya seperti garis linear. Garis lurus yang berujung pada kematian. Sepanjang apa pun kita menorehkan garis kesuksesan dunia, namun akhirnya akan berakhir pada garis kematian.

Dalam riwayat sebuah hadits, Abu Hurairah bercerita bahwa nabi Muhammad saw pernah mengajaknya dan berkata: “Mari kutunjukan kepadamu tentang kenyataan dunia ini.” Aku pun mempersilakannya. Beliau membawaku pada suatu tempat sampah di luar Madinah. Di sana, aku melihat tengkorak dan tulang belulang manusia terbenam dalam sampah, bersama kotoran yang berserakan di mana-mana. Sambil memanggilku, Nabi berkata: “Inilah tengkorak-tengkorak manusia yang berisi otak yang tamak. Orang-orang yang hidup seperti kebanyakan kalian selama ini, menyadarkan harapan mereka pada kehidupan duniawia. Tengkorak-tengkorak ini tergeletak tanpa kulit, dan setelah beberapa hari nanti akan menjadi tanah. Dulu, mereka berusaha keras untuk makan masakan lezat, tapi kini hanya dipenuhi sampah. Keadaan mereka saat ini sangat mengerikan bagi siapa saja yang melihatnya. Melihat mereka yang dulunya menyukai aroma makanan, membuat kamu benci padanya. Kotoran yang ada di sekeliling mereka adalah pengganti baju-baju gemerlap yang pernah mereka kenakan. Sekarang mereka dalam kekuasaan angin yang terbang sesukanya. Inilah tulang-belulang binatang yang pernah menempati manusia sombong. Siapa pun akan meneteskan airmata pada akhir perjalanan yang tragis seperti ini.” Abu Hurairah pun menangis tersedu-sedu.

Dalam hadist lain, Nabi juga bersabda: “Dunia ini dalam penampilannya tampak manis dan menyenangkan. Tuhan menciptakan manusia sebagai khalifahnya, sehingga mampu menilai perilakunya sendiri. Ketika orang-orang Yahudi pengikut Nabi Musa berkuasa, wanita, emas, dan baju-baju indah menjadi kelemahan mereka.” Apa kita juga telah terjangkiti oleh penyakit seperti orang Yahudi itu?

Percuma saja kita melarikan diri dari kematian, karena tak akan mampu. Karena setiap makhluk pasti merasakan kematian. Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S. Ali-`Imran(3): 185).

Kini saya dan Anda telah paham bahwa semua di dunia ini akan berakhir. Masa bayi akan berakhir dengan memasuki usia anak-anak. Usia bermain anak-anak pun akan berakhir dengan memasuki usia remaja. Masa remaja yang indah akan segera berakhir dengan datangnya usia dewasa. Masa tua akan datang sebagai akhir dari usia dewasa seseorang. Masa tua pun akan berakhir dengan kematian.

Waktu, ruang, dan tempat memiliki akhir masing-masing dan dalam dimensi yang berbeda-beda. Waktu pagi akan berakhir di siang hari. Ketika sore merambat, siang pun berakhir. Bulan Ddesember menjadi akhir dari perjalanan waktu selama satu tahun. Ruang-ruang kosong diri yang kita isi, dipenuhi dengan ilmu, pengamalan dan pengalaman, pun akan berakhir. Tempat-tempat yang kita ingin datangi, bahkan kita beli sampai berakhir menjadi milik kita, akan sayang seribu sayang. Sebab dalam bentangan waktu yang panjang, banyak yang kadang tak memberi akhir yang bahagia buat kita.

Jika dunia dan seisinya memiliki akhir, mengapa manusia semangat sekali untuk mengejarnya. Sampai-sampai nafas terakhirnya pun dipakai untuk berlari menyongsong dunia. Harta akan musnah, jabatan akan habis di purna waktu, kecantikan akan luluh di senja usia. Semua akan berakhir dengan ketiadaan. Kehidupan ini akan berakhir dengan takdir kematian. Tapi mengapa dengan angkuh engkau katakan “akan hidup seribu tahun lagi”.

Jika kematian datang sebagai akhir dari kehidupan, maka akhirat datang sebagai akhir dari sebuah kehidupan yang kekal dan abadi. Akhiratlah yang pantas menjadi tempat tujuan terakhir, karena dia adalah akhir yang abadi untuk kehidupan. Akhirat adalah ruang terakhir yang harus kita isi, karena dia berisi kenikmatan, kebahagian, dan anugrah terbesar yang tak akan pernah habis dinikmati, tak akan pernah punah meskipun dijamah terus menerus, tak akan pernah usang oleh waktu.

Masalahnya, bekal apa yang akan kita bawa ke sana nanti? Dan apakah kita semua merasa yakin memiliki bekal cukup untuk itu?