Bakti Anak ‘Sepanjang Jalan’, Bisakah ?

“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepenggalah”. Itu, salah sebuah pepatah yang sangat popular. Sementara, di masyarakat, pepatah kerapkali diposisikan sebagai semacam ‘kalimat suci’, yang tak terbantahkan. Benarkah?

Kisah berikut, bisa menjadi contoh bahwa pepatah di atas tak selalu benar. Pada 27/1/2006, seorang anak di China mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Di antara 9 peraih penghargaan itu, dia satu-satunya anak kecil dari 1,4 milyar penduduk China.

Apa prestasi Zhang Da (ZD)? Sejak 2001, saat berusia 10 tahun, ZD ditinggal pergi ibunya. Sang ibu tak tahan hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Sejak itu ZD hidup dengan seorang ayah yang sakit, yang tak bisa berjalan dan bekerja.

Kondisi tersebut memaksa si bocah mengambil tanggung-jawab. ZD bersekolah dan mencari makan untuk ayah dan dirinya. Juga, memikirkan obat-obat yang tak murah. Sungguh, dia masih terlalu kecil menjalankan tanggung-jawab yang berat itu. Tapi, yang membuat ZD berbeda, dia tak menyerah.

Ketika sadar bahwa hidup itu harus terus bergerak, diapun bertekad untuk memikul tanggung-jawab yang datang menyapanya lebih awal itu, yaitu meneruskan kehidupan sang ayah dan –tentu saja- dirinya sendiri.

ZD terus bersekolah. Dari rumah ke sekolah –dan sebaliknya-, ZD berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan itulah, ZD mulai memakan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang dia temui. Kadang juga dia menemukan sejenis jamur atau rumput, dan dia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu, dia tahu mana saja yang bisa dimakan.

Pulang sekolah, ZD bergabung dengan tukang batu. Dia belah batu-batu besar untuk memeroleh upah. Hasilnya, untuk membeli beras dan obat-obatan sang ayah. Hidup berat seperti itu dijalaninya selama 5 tahun. Badannya tetap sehat, segar, dan kuat.

Sejak berumur 10 tahun, ZD merawat ayahnya. Dia gendong ayahnya ke kamar mandi. Dia seka dan sekali-sekali memandikannya. Dia beli beras dan membuat bubur, juga untuk si ayah. Pendek kata, semua urusan ayahnya, dia kerjakan sepenuh tanggung-jawab dan kasih.

Obat mahal dan jauhnya tempat berobat membuat ZD berpikir untuk menemukan cara terbaik mengatasinya. Maka, sejak umur 10 tahun pula, dia mulai belajar tentang obat-obatan melalui buku bekas yang dia beli. ZD mencermati saat perawat menyuntik si ayah. Setelah dirasa mampu, dia beranikan diri menyuntik ayahnya sendiri. Itu, dikerjakannya sampai lima tahun kemudian. Di fragmen ini, ZD semakin tampak luar biasa.

Lalu, sampailah kisah ZD ke ‘atas’. ZD diputuskan pantas menerima penghargaan. Dia dinilai telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”.

Kini, lihatlah! ZD berada dalam suasana ‘resepsi’ penganugerahan penghargaan itu. Ketika itu, mata pejabat, pengusaha, artis, dan orang-orang terkenal yang hadir tertuju kepada ZD.

Sang pembawa acara (MC) bertanya, “ZD, sebut saja kamu mau apa. Misal, sekolah di mana? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah? Atau, apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu?”

“Jika saatnya nanti kuliah, mau kuliah di mana? Sebut saja. Pokoknya, apa yang kamu idam-idamkan, sebut saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Kecuali itu, saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi. Mereka bisa membantumu!”

ZD terdiam. MC-pun berkata lagi, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.”

Beberapa menit ZD masih diam. Lalu, dengan suara bergetar, ZD menjawab, “Saya mau ibu kembali. Ibu, kembalilah ke rumah. Saya bisa membantu ayah. Saya bisa mencari makan sendiri. Ibu, kembalilah!”

Semua yang hadir terkesima dan menitikkan air mata, terharu. Tak ada yang menyangka atas apa yang keluar dari lisannya itu. Mengapa ZD tidak meminta kemudahan pengobatan ayahnya? Mengapa dia tidak meminta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya? Mengapa dia tidak meminta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa dia tidak meminta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika dia membutuhkan, pasti semua akan membantunya? Demikian kira-kira pikiran yang ada di rata-rata orang yang hadir di acara itu. Kisah ini ditulis di situs Islamedia.

‘Jejak’ Kesan

Membaca kisah di atas, mungkin ada yang refleks berkata: “ZD, engkau anak yang sangat membanggakan orang tua manapun. Izinkan saya memeluk dan mencium keningmu, Nak!”

Mungkin pula ada yang berefleksi: “Andai saya dalam posisi persis ZD, masih berumur 10 tahun saat menjalani ujian itu, bisakah saya seteguh dan sesabar ZD? Atau, ujian seperti itu datang ketika usia saya sudah 30, 40, atau 50 tahun dan hidup saya cukup mapan. Bisakah saya habis-habisan merawat ayah persis seperti ZD merawat ayahnya?”

Boleh jadi, ada pula yang spontan berdoa: “Yaa Allah, beri ZD hidayah-Mu, agar pengabdiannya kepada sang ayah punya nilai amal shalih di Hadapan-Mu. Beri ZD hidayah-Mu, agar setelah dia tunjukkan baktinya kepada sang ayah, diapun bisa sempurnakan baktinya kepada sang ibu.

Alkisah, datang seseorang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: “Siapa yang berhak aku layani secara istimewa?” Jawab Nabi SAW, “Ibumu!” Lalu, ditanya lagi: “Kemudian, siapa?” Jawab Nabi SAW, “Ibumu!” Masih ditanya lagi: “Lalu, siapa lagi?” Jawab Nabi SAW, “Ibumu!” Lantas, “Berikutnya, siapa pula?” Jawab Nabi SAW,”Ayahmu!.” (HR Bukhari dan Muslim).

Al Quran mengatakan,  “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS Al-Ahqaaf [46]: 15).

Terakhir, bagaimana dengan kita? Kita yang sudah ratusan kali –bahkan mungkin lebih- membaca ayat dan hadits di atas?

Mari, jawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Mari berdoa: “Yaa Allah, beri kami kemudahan dalam berbakti kepada kedua ibu-bapak kami ‘sepanjang jalan’ dan bukan hanya ‘sepenggalah’.*

Antara Marah dan Murka

Salah satu ciri-ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan ghaizh (marah). Ini disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 134. Dalam tafsir Imam Qurthubi dijelaskan, ghoizh itu artinya hampir mirip dengan ghadhab (marah). Namun, secara rasa bahasa, ghadhab tidaklah sama persis dengan ghaizh. Ghadhab adalah marah yang diwujudkan dengan anggota tubuh seseorang. Orang yang marah dalam pengertian ghadhab, mulutnya akan mengeluarkan kata-kata keji, kadang-kadang tangannya ikut menampar, memukul, atau membanting barang-barang yang ada di sekitarnya, sementara kakinya juga ikut bertindak. Arti yang paling tepat untuk kata ghadhab dalam bahasa Indonesia adalah murka.

Adapun ghaizh adalah marah yang terjadi pada diri seseorang, namun kemarahan itu hanya bergolak di dalam hati dan tidak mewujud pada anggota tubuhnya. Paling-paling wajahnya sedikit memerah atau matanya berkilat. Sementara tangan, kaki, dan lidahnya tidak mengeluarkan tindakan keji dan merugikan orang lain. Arti yang paling tepat untuk kata ghaizh itu adalah marah.

Diceritakan dalam banyak hadis bahwa Rasulullah SAW kalau marah tidak pernah menampakkan wujud pada diri Beliau hal-hal yang menyakiti orang lain atau merendahkan harga diri sendiri. “Pernah suatu hari beberapa orang Yahudi lewat di depan rumah Nabi. Saat itu Nabi sedang bersama Aisyah ra. Orang Yahudi itu memberikan salam dengan ucapan: “Assaamualaik!”(mati kena racunlah kamu). Nabi menjawab: “Alaikum” (Atasmu juga). Serta-merta Aisyah menjawab: “Waalaikum saam wal la’nah” (kamu semua mati kena racun dan kena laknat). Saat itu Nabi menasihati Aisyah bahwa Allah menyukai kasih sayang pada tiap sesuatu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pada suatu hari, Maimun bin Mahran ra sedang duduk di rumahnya dan bersiap-siap untuk makan dengan para tamu. Tiba-tiba, budak wanitanya terpeleset dan wajah beliau tersiram kuah sup panas. Serta-merta beliau bangkit dan hendak memukul budaknya itu. Sang budak membaca ayat Alquran: “Orang bertakwa mampu menahan marah”. Maimun menjawab, “Ya, aku menahan marahku.” Kemudian, sang budak melanjutkan ayat tersebut: “Dan memaafkan kesalahan orang”. Maimun menjawab, “Aku memaafkanmu karena Allah.” Kemudian, budak itu menutup ayat tersebut: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. Maka, Maimun berkata, “Aku membebaskanmu karena Allah.”

Allah menegaskan, orang bertakwa itu adalah mereka yang mampu menahan marah. Sementara sekarang ini, banyak di antara manusia yang justru tidak mampu menahan kemurkaan. Dalam perjalanan ke kantor saja, di tengah kemacetan lalu lintas, mulut keluar kata-kata layaknya kebun binatang. Belum lagi tawuran yang merajalela dan sudah hampir menghinggapi seluruh lapisan masyarakat. Semua itu adalah wujud ketidakmampuan menahan murka.

Jika menahan murka yang merusak dan menyakiti orang lain saja belum mampu, bagaimana dapat menahan marah? Padahal, orang bertakwa tidak diminta menahan murka, tetapi justru diminta untuk menahan marah yang jauh lebih sulit melakukannya. Dengan demikian, tampaknya kedudukan kita masih jauh dari level orang bertakwa. Wallahu a’lam.

Kuasai, Jangan Cintai

Kuasai, jangan cintai. Demi kianlah semestinya umat Islam memperlakukan dunia dan seisinya. Sebab, Islam bukan ajaran yang bersifat dikotomi. Di ma na untuk meraih rida Tuhan harus bersikap antidunia dan melulu meng isi waktu dengan ibadah ritual semata.

Justru Islam mewajibkan seluruh umatnya untuk tampil ke gelanggang, mengatur dunia (menguasai) de ngan berpedoman dan berprinsip pada aturan main Tuhan (syariah). Seperti itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya.

Seperti kita ketahui dalam sejarah peradaban Islam, hampir semua sektor kehidupan dikuasai oleh umat Islam. Sebut saja sektor ekonomi, yang kini menjadi sektor utama dalam kehidupan kita. Beberapa saat setibanya di Kota Madinah, Abdurrahman bin Auf langsung menuju pasar dan berniaga di dalamnya.

Dalam beberapa tempo yang tidak begitu lama, Abdurrahman bin Auf telah menguasai pasar Madinah yang sebelumnya dikuasai oleh Yahudi. Artinya, dengan spirit iman, Abdurrahman bin Auf mampu menguasai sektor ekonomi yang dengan cara seperti itu, ia bisa berkontribusi harta dalam perjuangan jihad fisabilillah.

Akhirnya, Abdurrahman bin Auf menjadi saudagar yang sangat kaya pada zamannya. Sampai-sampai ia pernah berinfak kepada umat Islam sekitar tujuh ratus ekor unta beserta seluruh muatannya.

Namun, Abdurrahman bin Auf tidak sama dengan Tsa’la bah, yang jadi kufur karena dunia. Awalnya Tsa’labah hidup miskin, kemudian sukses dengan usaha ternak kambingnya, lalu menjadi angkuh dan sombong karena kekayaannya. Bahkan, ia berani menolak membayar zakat.

Beberapa abad sebelum Abdurrahman bin Auf, di zaman Nabi Musa hidup seorang saudagar yang sangat kaya raya, Qarun namanya. Kunci gudang harta kekayaannya saja memer lukan satu ekor unta untuk meng angkatnya.

Tetapi, Qarun bukan saudagar yang beriman, ia angkuh lagi sombong. Maka, ketika ia berbuat se perti itu dan menolak mengakui keberadaan Allah SWT yang Mahakaya, lalu mengklaim bahwa apa yang dimilikinya itu sebagai hasil murni kepandaiannya. Allah pun menenggelamkan Qarun ke dalam bumi beserta seluruh harta kekayaannya.

Dunia adalah sarana menuju akhirat. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi …” (QS 28: 77).

Jadi, Muslim yang baik adalah yang mampu menguasai dunia untuk agama dan akhiratnya. Bukan untuk diri dan keluarganya semata. Lihatlah bagaimana Rasulullah juga ahli dalam dunia bisnis dan niaga. Juga perhatikanlah bagaimana Sayidina Ali dalam perang, namun juga paling tekun dalam ibadah.

Perhatikan pula bagaimana para nabi yang lain juga ahli dalam bidang keduniaan. Nabi Daud ahli metalurgi, Nabi Nuh ahli perkapalan, Nabi Musa ahli peternakan, dan Nabi Isa ahli pengobatan serta Nabi Yusuf ahli perekonomian.

Semua ini menunjukkan bahwa umat Islam harus unggul di segala bidang dengan tetap menjadikan akhirat sebagai orientasi utama bukan dunia yang diutamakan, apalagi dikuasai untuk dicintai. Wallahu a’lam.

Sesungguhnya Surgaku Ada di Hatiku!

Di dalam Majalah Cahaya Nabawiy Edisi 98 Dzulqa`dah/September ini ada sebuah artikel menarik tentang”bencana alkohol”. Pada paragraph terakhir tulisan itu, ada satu kisah menarik tentang dua orang yang sama-sama sedang mengalami kesakitan di sebuah rumah sakit.

Kedua pasien baru saja menjalani operasi. Meski sama-sama dirawat, ada dua hal yang membedakan kedua pasien tersebut.

Bedanya pasien pertama berteriak-teriak histeris tidak karuan, mengeluarkan kata-kata umpatan, caci-maki sampai kedua tangan tangannya dan kakinya harus diikat.

Sementara pasien kedua, ia juga mengalami rasa sakit yang hampir sama. Ia juga berteriak-teriak dengan suara nyaring namun isi teriakannya adalah adzan. Dokter yang menulis kisah ini terheran-heran dengan dua perilaku kedua pasien yang sedang ia tangani. Satunya teriak kotor dan satunya lagi mengagungkan kebesaran Allah SWT.

Karena penasaran, sang dokter akhirnya bertanya kepada pihak keluarga. Jawabannya, pasien yang teriak adzan adalah seorang juru azan (bilal) di mushalla yang ada di dekat rumahnya, di mana ia saban waktu mengumandangkan shalat dan mengajak masyarakat sekitar untuk datang ke mushalla untuk shalat berjama`ah.

Adapun pasien satunya, dilihat dari rekam medisnya ternyata ia seorang peminum minuman keras yang mengalami kecelakaan usai menenggak minuman yang memabukkan.

Pengalaman sang dokter seperti kisah di atas saya kaitkan dengan kisah lainnya sebagaimana ditulis oleh Alwi Alatas dalam bukunya yang berjudul “Whatever Your Problem, Smile:  (Apapun Masalahmu, Tersenyumlah).

Dalam buku ini,  Alwi mengemukakan sebuah penelitian yang dilakukan olen seorang ahli tentang “Kaitan Relijiusitas dan Keimanan Seseorang dengan Rasa Sakit.”

Penelitian dilakukan kepada orang yang taat beragama, biasa pergi ke tempat ibadah, dan dekat dengan Tuhannya, adapun objek penelitian selanjutnya dikenakan pada orang yang tidak taat beragama, bahkan tidak sedikit yang tidak percaya Tuhan alias atheis.
Bagaimana cara melakukan penelitian?

Peneliti memasang alat di kepala mereka yang taat beragama dan yang tidak taat saat mengalami rasa sakit. Kemudian, mereka diberi aliran listrik untuk menimbukan efek sakit. Akibatnya, mereka sama-sama merasakan rasa sakit dari aliran listrik. Lalu, mereka dikondisikan dengan foto-foto tokoh yang mereka idolakan selama ini.

Orang-orang yang relijius diberi foto bergambar tokoh relijius, dan orang yang tidak relijius diberi foto tokoh yang mereka kagumi.

Ternyata, meski keduanya menunjukkan aktivitas menahan rasa sakit yang sangat, namun keadaannya jauh berbeda. Tingkat rasa sakit orang-orang yang tak relijius dan atheis tetap dalam volume tinggi. Sementara, rasa sakit yang dialami oleh orang-orang yang relijius menurun.

Kata Alwi, penulis buku ini, rasa sakit dapat tetap tinggi atau menurun tergantung dengan kuat tidaknya iman seseorang.

“Keyakinan dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh seseorang,” tulisnya.
Dua kisah di atas memberikan pelajaran kepada kita.

Pertama, membiasakan hal-hal yang baik membuat kita terbiasa dalam situasi kebaikan pula. Dalam pepatah arab pernah kita dengar, “Man Syabba a`la Sya`in Saabba a`laihi (barangsiapa terbiasa melakukan sesuatu sejak dini, akan terbawa hingga dewasa).”

Kebiasaan memang belum belum tentu baik namun kebaikan, itu perlu kita biasakan.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap manusia akan mati lalu dibangkitkan sesuai keadaan semasa ia hidup.” Ketika kebiasaan baik kita lakoni saban hari, maka kesempatan untuk meraih husnul khatimah terbuka lebar bagi kita. Sebaliknya, kala keburukan yang kita budayakan, maka lawan khusnul khatimah yang akan kita raih.

Kedua, selayaknya kita menempatkan tokoh-tokoh yang mempunyai integritas pada hati kita.

Seyogianya kita berhati-hati sebelum mendudukkan seseorang sebagai idola dan pujaan hati.

Penelitian dalam kisah tersebut sedikit memberi bukti bahwa pengidolaan yang salah membuat diri menjadi tersiksa secara lahir, belum lagi hati kita yang tidak nyaman di kala musibah datang.

Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda, “Seseorang itu akan dibangkitkan bersama orang yang ia cintai.”

Ketika kita menumpahkan cinta pada sosok yang tidak kenal Allah, tidak bersembah sujud, memuji, bertasbih kepada-Nya, malah mendurhakai-Nya, maka siap-siaplah kita kelak dibangkitkan setelah mati bersama mereka.

Banyak sosok dengan kepribadian mengagumkan yang bisa kita idolakan.

Sederet tokoh terdahulu maupun sekarang, bisa kita jadikan sebagai teladan. Dan dari semua sosok tersebut, yang paling unggul dalam ketakwaan, kebaiakan, kedermawanan, kelembutan, adalah Nabi Muhammad SAW.

Dengan mengidolakan beliau, segala kehidupan akan menjadi mudah belaka.

Mengapa? Karena kita mencontoh pribadi yang telah tahan banting mengarungi kehidupan dunia yang penuh cobaan dan masalah. Beliau sigap mengemas kesulitan menjadi kemudahan. Dengan meniru dan mengidolakan beliau, dengan sendirinya kita akan berusaha meneladani jejak langkahnya dalam suka maupun duka.

Ketiga, pentingnya kedudukan iman dan yakin. Yakin adalah gambaran tentang kekuatan dan kekokohan iman, yang tidak mudah diombang-ambing oleh keraguan, dan gundah gulana.

Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam bukunya Risalatul Mu`awanah menyebut ada tiga perkara yang menjadi sebab keyakinan kita menjadi kuat dan kokoh.

Pertama, menjadikan hati dan telinga untuk aktif menyimak ayat-ayat Allah yang berisi petunjuk keagungan-Nya, kesempurnaan-Nya, dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Kedua, selalu melihat dan merenungi ciptaan Allah yang terbentang di hadapan seorang hamba. Mengamati bagaimana indah dan uniknya ciptaan Allah. Ketiga, beramal kebaiakan, secara lahir maupun batin, dengan penuh kesungguhan dan keseriusan.”

Dengan keyakinan yang kuat, kita tidak mudah berputus asa saat kesulitan datang menerpa. Justru kesulitan dapat kita jadikan sebagai kesempatan mencari karunia Ilahi seluas-luasnya.

Dengan keyakinan yang mantap pula, Ibnu Taimiyah berkata ketika ia dijebloskan ke penjara oleh rezim yang hidup di masanya, “Apa yang dapat dilakukan oleh musuhku! Sesungguhnya surgaku ada di hatiku. Ke manapun aku pergi dia selalu bersamaku. Apabila aku dipenjara maka itu adalah khalwatku (berduan-duaan) dengan Allah, apabila aku dibunuh maka syahadah (kesyahidan) bagiku, dan apabila aku diusir maka itu merupakan syiyahah (perjalanan di jalan Allah)

Rasulullah Menyuruh Kita Bersikap Ramah

Rasulullah SAW bersabda, “Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Thabrani dan Daruquthni, dari Jabir RA).

Hadis di atas kembali mengingatkan jati diri kemanusiaan kita agar selalu bersikap ramah dalam berinteraksi sosial di antara sesama. Suatu sikap yang dalam satu bulan terakhir ini menjadi pertanyaan kita semua, khususnya menyangkut sikap kita sebagai manusia untuk menghargai hak-hak kemanusiaan sesama.

Aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, (25/9) lalu merajalelanya korupsi di berbagai bidang dan pelbagai kerusuhan yang menjurus konflik SARA seperti kasus di Ambon beberapa waktu lalu, makin menguatkan bahwa kita mulai tidak ramah dengan nilai-nilai kemanusian dan kemajemukan. Kita mulai tidak acuh dan tak ramah dalam mengawal bumi pertiwi yang kita cinta ini.

Bila melihat hadis di atas, sangat jelas dan tegas bahwa objek yang dituju dari hadis tersebut adalah “orang beriman”. Jadi, sikap keramahan itu menjadi satu hal yang mutlak harus diintegrasikan dalam diri orang yang beriman. Artinya, kualitas keimanan seseorang itu salah satunya bisa diukur dari seberapa jauh ia sebagai seorang mukmin dalam kehidupan sosialnya itu melaksanakan “keramahan” kemanusiaannya (baca menghargai dan menghormati).

Praksisnya, bila orang beriman itu hidup dalam kemajemukan, maka ia bisa menghargai dan menerima segala perbedaan. Bila ia seorang pejabat, maka ia bisa menyuarakan dan amanah pada aspirasi rakyatnya. Dan bila ia seorang pemimpin, maka ia bisa menyalurkan segala energi kepemimpinannya untuk mewujudkan kemakmuran rakyatnya.

Implementasi wujud keramahan tersebut menjadi hal paling esensial, mengingat hakikat orang beriman itu tidak hanya pandai melafalkan sumpah tertentu, akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah wujud konkret tindakannya di masyarakat.  “Al-imanu tashdiiqun bil qalbi, wa ikrarun bil lisan, wa a’malun bil arkan” (orang beriman itu tidak hanya membenarkan dalam hati, dan mengikrarkan di lisan, tapi lebih dari itu adalah melaksanakan dalam bentuk perbuatan).

Dengan memperhatikan esensi orang beriman ini, maka  kalimat berikutnya dari hadis tersebut sangat kontekstual, bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Artinya, keberadaan kita sebagai manusia (dalam posisi apa pun) akan sangat ditentukan seberapa jauh kita bisa memberi manfaat bagi sekelilingnya. Kalau prinsip ini dijadikan pegangan utama, maka tentu tidak ada namanya anasir-anasir tindakan merendahkan kemanusiaan yang muncul di hati.

Tidak ada namanya “kezaliman struktural” manakala kita diberi amanah menjalankan kekuasaan. Tak ada namanya ketakutan akan turunnya pencitraan ketika kita senantiasa berpegang pada kebenaran. Semua tindakan akan tersubordinasikan untuk meraih tujuan hakiki orang beriman, yaitu rida Allah SWT. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah kepada kita semua untuk selalu berada pada garis kebenaran-Nya, sampai kita semua menghadap-Nya dengan husnul khatimah. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Mari perkuat Iman, Bukan Berbangga Jumlah!

SETIAP Setiap hari kita selalu dikepung oleh beragam berita, baik TV, internet, radio, majalah bahkan koran. Umumnya kita jadi ‘tidak karuan’ setelah membaca berita-berita itu. Pada saat yang sama berita-berita yang kita baca setiap harinya juga tidak berdampak signifikan terhadap produktivitas kita sehari-hari. Lebih-lebih terhadap peningkatan kualitas iman.

Apalagi berita yang dimuat media massa belakangan ini –baik dalam mapupun luar negeri– cenderung kurang obyektif, khususnya ketika mengabarkan hal-ihwal umat Islam.  Belum lagi program hiburan yang cenderung kurang etis.

Karena itu, adagium yang mengatakan bahwa kesalahan yang ditampilkan secara terus-menerus perlahan akan dianggap benar. Sedangkan kebenaran yang tidak pernah ditampilkan sudah pasti akan asing dan karena itu dianggap tidak benar, hari ini, bukanlah pepesan kosong.

Permainan opini di media berhasil menggiring manusia pada satu pemahaman dan gerakan yang seringkali justru tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kehidupan kita, baik sebagai warga negara, bangsa maupun sebagai seorang Muslim. Yang ada justru makin menambah rasa gundah.

Prioritas Hidup

Tujuan utama diciptakannya manusia tiada lain hanyalah beribadah kepada Allah SWT. Beribadah kepada Allah SWT tidak bisa dilakukan kecuali orang yang berilmu. Tetapi ilmu yang tidak menguatkan iman juga tidak akan mendorong seorang manusia untuk benar-benar beribadah kepada-Nya.

Siapa yang tidak mafhum, jika mayoritas pejabat dan penduduk negeri ini beragama Islam. Tetapi, siapa yang tidak tahu kalau ternyata negeri ini adalah negeri Muslim terbesar yang korupsi menjadi budaya sebagian besar pejabat dan rakyatnya yang tentu juga beragama Islam.

Fenomena tersebut cukup menjadi bukti bahwa kita semua berkewajiban menjaga diri dan keluarga tertular virus yang membinasakan itu. Korupsi yang membudaya tersebut disebabkan oleh kelirunya mereka dalam menentukan prioritas hidup.

Allah SWT menjelaskan dengan gamblang bahwa pertama dan utama yang harus diupayakan oleh setiap Muslim adalah senantiasa menumbuhkan keimanan dan menjaga kualitasnya. Sebab iman itulah pangkal keselamatan umat manusia. Dengan iman orang rajin menuntut ilmu, dengan iman orang berani berjihad, dengan iman orang bisa menjadi pemimpin adil, bijaksana, dan pemberani.

Tetapi, hal inilah yang ditinggalkan oleh sebagian besar umat Islam di negeri ini. Faktanya sederhana, hampir dapat dipastikan bahwa seluruh anggota DPR setiap harinya selalu membaca koran. Tidak cukup koran mereka lihat internet. Tetapi bisa dipastikan, sangat sedikit di antara mereka yang setiap harinya membaca al-Qur’an.

Adakah kira-kira anggota dewan kita menjadikan al-Quran sebagai acuan menyelesaikan masalah dan persoalan, selain data penunjang bersumber dari media? Boleh jadi masih belum.

Mayoritas umat Islam, termasuk generasi muda telah disibukkan oleh hal-hal yang kurang memberi faedah. Baik bagi kepentingan duniawi apalagi ukhrawinya. Tidak perlu dibantah lagi bahwa kebanyakan anak-anak muda kita membuka akun Facebook-nya seolah-olah telah menjadi kebutuhan hidup setelah sandang, pangan dan papan.

Namun mereka sangat jarang –bahkan mungkin– sangat berat untuk membaca dan mentadabburi al-Qur’an. Bahkan ada yang selama satu bulan  atau sampau satu tahun tak menyentuh kitab sucinya, kecuali bulan Ramadhan saja.

Jika hal ini terus terjadi dan menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat kita, tentu kita bisa memastikan, rujukan gaya hidup mereka sehari-hari bukanlah al-Quran.

Kondisi inilah yang menjadikan kita cenderung mudah tertipu oleh dunia yang pragmatis, sehingga bertindak tidak atas dasar keridoan Tuhan tetapi atas logika materialisme.

Padahal berupaya untuk bisa bertindak atas dasar iman, itulah prioritas hidup yang hakiki.

Kuatkan Iman

Adakah masalah yang tidak bisa diatasi dalam hidup ini? Tentu semua bisa diatasi. Al-Qur’an menjamin hal tersebut. Al-Qur’an adalah obat (penyakit apa saja yang dialami kehidupan manusia), rahmat, dan petunjuk bagi orang yang beriman (benar keimanannya).

Ternyata, apabila kita telusuri secara cermat, hal utama dan pertama yang harus dilakukan oleh setiap Muslim ialah memperkuat keimanannya kepada Allah SWT. Hal tersebut bisa kita saksikan salah satunya dengan cara memperhatikan riwayat para nabi dan rasul-Nya.

Semua Nabi dan Rasul Allah menangan atas musuh-musuhnya bukan dengan persenjataan, kekuatan dana, dan banyaknya pasukan. Tetapi karena kualitas keimanannya. Sebab hanya dengan iman seorang Muslim akan mampu menjadi insan yang muttaqin.

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. 3: 123).

Bagaimana Allah menolong pasukan Muslim yang kecil dan tak bersenjata lengkap itu?

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُم مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَن يَشَاءُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لَّأُوْلِي الأَبْصَارِ

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur) Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS. 3 (Ali Imron): 13).

Logika manusia biasa (lebih-lebih yang tidak beriman) pasti mengatakan bahwa yang banyak jumlahnya, lengkap senjatanya pasti akan menang. Tetapi faktanya tidak. Perang Hunain membuktikan hal tersebut. Bahwa ternyata banyaknya pasukan, lengkapnya senjata sama sekali tidak menjamin sebuah kemenangan bisa diraih.

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. 9 (Attaubah): 25).

Tak sedikit ada penyakit dalam diri umat hari ini. DI mana mereka lebih suka berbangga-bangga jamaah dan jumlah. Meski sebenarnya, jumlah yang mereka bangga-banggakan itu tak pernah berarti bagi kemenangan Islam.

Karenanya, keimanan atau dengan bahasa lain, kualitas tauhid dan iman umat Islam, itu jauh lebih baik, dibanding jumlah yang banyak namun kualitasnya hanya seperti buih di lautan.

Jadi beriman itu penting dan mengimani apa yang diturunkan kepada rasulullah saw adalah perkara mendasar yang harus dijaga kualitasnya. Jika demikian mengapa kita tidak berusaha untuk selalu akrab dengan al-Qur’an?

Utamakan Sabar

Salah satu buah keimanan yang sangat istimewa ialah kesabaran.Nabi Muhammad berhasil membangun Madinah sebagai profil negara terbaik di dunia sepanjang masa karena kesabaran dan kesungguhan dalam menerapkan iman dalam kehidupan.

Sabar memang mudah diucapkan tetapi teramat berat untuk dilaksanakan. Namun bagi yang beriman, sabar adalah energi. Energi untuk tetap optimis, disiplin dan tekun dalam menjalani kehidupan dengan ketaatan penuh kepada Allah dan rasul-Nya.

Lihatlah perjalanan panjang Nabi Yusuf. Ia dilempar ke dalam sumur, kemudian difitnah hendak memperkosa istri tuannya, dan akhirnya dijebloskan ke dalam penjara. Semua ujian itu dihadapi dengan sabar tanpa kehilangan prinsip hidupnya, yakti tauhid.

Nabi Yusuf tidak pernah berusaha membalas perbuatan jahat saudara-saudaranya, kekejian istri tuan yang telah memfitnahnya. Bahkan Nabi Yusuf ikhlas berada dalam penjara, yang penting imannya terjaga.

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِي

Yusuf justru berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. 12 (Yusuf): 33).

Sekiranya logika Nabi Yusuf ini digunakan oleh presiden, para menteri, anggota DPR dan seluruh umat Islam di Indonesia, tentu akan adil makmurlah negeri ini.

Faktanya jelas, dengan bersabar di dalam penjara, dan konsisten mempertahankan keimanannya, Nabi Yusuf diangkat oleh Allah SWT menjadi perdana menteri yang berhasil menyelamatkan rakyat Mesir dari paceklik dan kelaparan selama 7 tahun lamanya.

Bahkan nama Nabi Yusuf diabadikan di dalam al-Qur’an. Apalagi kalau bukan karena Allah ridha kepada Nabi Yusuf selain karena kesabarannya?

Kesimpulannya, marilah kita senantiasa berupaya mempertajam kualitas iman kita dengan berlomba-lomba memperkuat iman dan menunjukkan keislaman kita, bukan berbangga pada jumlah.*

Demi Keamanan dan Kehormatan, Tutuplah Aurat

BEBERAPA waktu lalu, warga Jakarta dikejutkan oleh munculnya berita kasus pemerkosaan di sebuah angkutan umum. Peristiwa tersebut telah menyita perhatian publik, bahkan beberapa media memuatnya sebagai head line yang cukup menarik perhatian.

Silang pendapat pun tak terhindarkan. Masalah pemerkosaan bergeser pada masalah busana atau pakaian. Sebagian publik figur menilai bahwa memang sudah seharusnya kaum hawa menjaga diri dengan berpakaian syar’i. Namun sebagian yang lain bersikukuh untuk tetap menolak.

Aktivis perempuan pendukung rok mini misalnya, mereka menolak pihak yang menilai pakaian wanita sebagai pemicu tindak pemerkosaan.

“Jangan salahkan rok mini kami,” kilah mereka dalam demo yang mereka lakukan beberapa waktu lalu di bundaran HI, Jakarta.

Terlepas dari silang pendapat yang terjadi di masyarakat, sebagai seorang Muslimah sudah barang tentu kita ingin selamat dari bahaya dan tentunya ancaman siksa dari Allah SWT.

Tulisan ini, tentu tidak dimaksudkan membela para pemerkosa. Bagaimanapun, perilaku ini dilarang dan mendapat hukuman setimpal dalam Islam.

Namun, jauh akan lebih bermanfaat jika kaum Muslimah menjadikan kasus tersebut sebagai media introspeksi diri agar terhindar dari bahaya serupa. Pesan ini hanya untuk para Muslimah, bukan untuk yang beragama lain.

Sebagai ajaran universal, Islam sejak awal telah memberikan perhatian serius terhadap masalah busana. Seorang muslimah sungguh tidak dibolehkan (haram) membuka aurat mereka di depan umum atau terhadap laki-laki yang bukan muhrimnya. Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya;

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ (QS: Al-Ahzab: 59)

Ayat tentang hijab di atas, secara redaksional ditujukan kepada Nabi, namun demikian esensi dari ayat tersebut berlaku bagi seluruh wanita yang beragama Islam (Muslimah).
Ditinjau secara historis, perintah menutup aurat ini sama sekali tidak seperti anggapan aktivis liberal yang suka memutar balik esensi ajaran Islam. Juga tidak seperti tuduhan mereka yang menilai bahwa jilbab dimaksudkan untuk membatasi ruang gerak para wanita.

Akan tetapi perintah tersebut hadir lebih karena adanya upaya serius untuk melindungi jiwa raga muslimah dari beragam gangguan dan bahaya yang bisa merenggut kesucian atau kehormatannya.

Prof. Dr. Muhammad Chirzin, menegaskan dalam karyanya “Buku Pintar Asbabun Nuzul” bahwa perintah berjilbab pada para muslimah, pada hakikatnya lebih dikarenakan menjaga kesucian dan kehormatan mereka dari berbagai macam ancaman dan berbagai macam gangguan kejahatan. Sebagaimana kaum Muslimah di zaman Nabi yang selalu rentan diganggu oleh kaum munafik dan Yahudi.

Dalam sejarah, jilbab terbukti efektif melindungi kaum hawa dari berbagai macam gangguan dan kejahatan laki-laki tak berkahlak.

Kehormatan Muslimah

Sejak ayat ini turun, kaum hawa pada masa Rasulullah sepenuhnya terjaga kehormatannya. Pernah suatu ada seorang Muslimah diganggu oleh orang Yahudi, maka sesaat kemudian rasulullah saw pun mengintruksikan perang terhadap Bani Qainuqa, yang telah mengganggu keamanan dan kenyamanan wanita yang beriman.

Peristiwanya bermula ketika seorang Muslimah mendatangi kios emas di pasar Bani Qainuqa untuk suatu keperluan. Ketika tiba di kios, Muslimah itu melihat beberapa orang Yahudi. Sesaat kemudian, orang Yahudi itu mulai menggoda dan melecehkan Muslimah tadi. Bahkan Yahudi itu berani memaksanya untuk menampakkan wajahnya. Dan, Muslimah tadi menolak.

Sampai-sampai mereka berani melakukan sesuatu yang mempermalukan Muslimah itu. Secara diam-diam, tukang emas pemilik kios mengikatkan ujung kain Muslimah itu pada sebuah bangku atau pada bagian punggung pakainnya tanpa sepengetahuannya, hingga ketika Muslimah itu berdiri, tersingkaplah aurat wanita ini. Merekapun tertawa terbahak-bahak dan mencemooh. Seketika Muslimah itu berteriak sekeras-kerasnya dan meminta pertolongan.

Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah saw, maka saat itu juga perintah perang melawan Yahudi Bani Qainuqa menjadi satu keputusan tegas beliau.

Hal ini cukup menjadi bukti bahwa jilbab itu penting baik bagi keselamatan diri, maupun kehormatan agama Islam. Oleh karena itu, sebagai Muslimah, tidak sepatutnya mengenakan busana yang tidak diajarkan oleh Islam dan dicontohkan oleh istri-istri beliau.

Keuntungan Berjilbab

Sebagai orang beriman, menurut aurat (berjilbab, red) tentu suatu keharusan. Namun ajaran Islam tak pernah memerintahkan sesuatu yang tak jelas manfaat dan alasannya. Demikian pula halnya dengan larangan.

Menurut aurat bagi Muslimah adalah perintah Allah dan rasul-Nya. Jika demikian pasti ada manfaat besar di balik perintah tersebut. Baik manfaat cepat di dunia dan pasti manfaat yang lebih besar lagi kelak di akhirat.

Wanita yang berjilbab insya Allah akan terhindar dari gangguan dan kejahatan pria tidak berakhlak. Lebih mudah beraktivitas di luar rumah, khususnya bagi Muslimah yang memiliki bayi yang masih minum ASI. Dengan berjilbab tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena bayi dapat minum ASI tanpa sang ibu malu karena terbuka auratnya.

Jilbab juga melindungi rambut dan kulit kepala dari sengatan terik mentari tatkala berada di area terbuka. Bahkan kulit pun akan tetap terjaga keasliannya, karena tidak terkena debu dan panas.

Secara psikis, jilbab juga akan memberikan self control yang baik. Jadi wanita lebih terpelihara ucapan dan perilakunya, sehingga terhindar dari keburukan akhlak. Oleh karena itu, secara otomatis jika para pengguna jilbab mengerti hakikat dasar jilbab, tentu mereka akan sangat disegani dan dihormati oleh siapapun juga.

Oleh karena itu, hendaknya para Muslimah dimanapun berada untuk bersegera menunaikan perintah Allah dan rasul-Nya dalam hal berbusana. Jangan terprovokasi oleh sebuah ungkapan yang menyatakan, ”Lebih baik tidak berjilbab tapi baik daripada berjilbab tapi hatinya busuk.” Ungkapan tersebut adalah ungkapan yang tidak bertanggung jawab dan disampaikan orang yang mengerti agama secara baik.

Ingatlah,  hati yang baik adalah hati yang kaya akan nutrisi iman. Dan, tidak mungkin seorang Muslimah yang mengaku beriman akan mengabaikan perintah Allah dan rasul-Nya.

Allah memerintahkan wanita menutup aurat, semata-mata agar terjaga jiwa raganya.
Ancaman pembuka aurat

Bagi wanita yang mengaku beriman, tetapi masih bersikeras tidak mau menutup aurat,  sungguh ia telah merugi. Selain di dunia mereka hidup kurang terhormat, di akhirat mereka akan diminta pertanggungan jawab.

Rasulullah saw bersabda, “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian, namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Sungguh ironis, jika kelak mencium bau surga saja kita tidak bisa.

Hadits di atas menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya.

Maka dari itu, bersegeralah menurut aurat. Jangan sampai karena lalai terhadap cara berbusana, di akhirat pun, kita menjadi wanita yang mendapat azab keras dari Allah SWT. Na’udzubillahi min dzalik.

Antara “Postmodern” dan Aurat Wanita

PADA hari ahad (18/09/2011), anggota Perkumpulan Pembela Hak Perempuan mengadakan aksi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) untuk  memprotes pernyataan Gubernur DKI, Fauzie Bowo, tentang himbauan tidak memakain rok mini bagi perempuan.

Pernyataan Fauzie Bowo (Foke)  itu dilatarbelakangi terjadinya kasus pemerkosaan di angkot beberapa hari lalu. Ia menghimbau agar penumpang wanita tidak menggunakan pakaian mini saat berada di angkutan umum agar tidak mengundang reaksi negatif.

Pernyataan tersebut mengundang reaksi keras kaum liberal dan feminisme.  Aktivis pro feminisme meyakini bahwa pakaian minim adalah hak asasi perempuan.  Sehingga mereka tidak terima jika pakaian minim dikaitkan dengan penyebab pelecehan terhadap wanita

Ulil Abshar Abdallah, aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Indonesia di antara yang ikut mendukung aksi mereka. Menurutnya himbauan untuk menurutup aurat wanita merupkan cerminan pemikiran konservatif.

“Buat saya, memandang masalah pakaian melulu dari moral dress code (kode berpakaian) agama, itu terlalu sempit. Karena kemajuan masyarakat modern itu tercermin dalam keragaman cara berpakaian terutama di kalangan perempuan,” katanya. (hidayatullah.com 22/09).

Pernyataan-pernyataan Ulil dan aktivis Perkumpulan Pembela Hak Perempuan tersebut menunjukkan mereka penganut paham yang disebut “Postmodern”. Disebut  postmodern sebab filsafat postmodern dijadikan sebagai ‘akidah’-nya.

Prinsip Curiga

Islam model postmodern (posmo) ini diusung oleh pemikir Liberal asal Aljazair, Mohammed Arkoun. Penganutnya dapat disebut “Moslem Postmodernism”.  Ciri khas Islam model itu adalah; kesetaraan, humanis-sekular, dualisme, anti otoritas, hukum Islam relative, anti universalisme, menolak pengetahuan non-empiris dan pluralisme.

Model-model begitu sesungguhnya telah lama bercokol di Barat. Akan tetapi dalam dunia Islam, model Islam itu mencuat setelah muncul gerakan Liberalisasi di dunia Arab.

Islam model postmo ini dikenalkan oleh Mohammed Arkoun pada sekitar tahun tujuh puluhan. Arkoun termasuk pengagum berat filsafat postmodern. Dibanding dengan tokoh liberal lainnya, ia sangat gandrung dengan epistemologi  postmo.

Studi Islamnya dinamakan Islamologi Terapan (al-Islamiyyat al-Tathbiqiyyah). Dan ciri utamanya menggunakan metode dekonstruksi. Yakni  dekonstruksi teologi dan dekonstruksi syari’ah.

Dalam islamologi terapan, konsep totalitas dan universalime Islam dihapus. Hak dan batil dirobohkan. Tidak ada hukum yang pasti. ‘Syari’ahnya’ adalah humanisme. Hukum Tuhan didiskualifikasi. Humanisme-sekuler diangkat menjadi otoritas penentu nilai.

Asumsinya, ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an mengandung mitos, sebagaimana kitab Injil kaya dengan mitologi. Di samping itu, hukum-hukum fikih dan tafsir dinilai bias ideologis dan politis.

Maka dari itu, “postmodern” menolak kemapanan hukum. Semua hukum Islam seolah berkepentingan menindas kaum minoritas dan lemah.

Kecurigaan berlebihan kepada mayoritas dan kaum lelaki adalah ciri khas lainnya.

Perasaan itu bersumber dari epistemologi filsafat postmodern, yaitu dekonstruksi oposisi binner. Oposisi binner, mulanya terapan linguistik strukturalis, ditolak dengan alasan memelihara konsep totalitas dan keberpihakan kepada kaum mayoritas atau pihak yang dianggap kuat.

Beginilah jika epistemologi yang diterapkan salah alamat alias salah sasaran. Linguistik post-struktrualis oleh para filsuf mulanya diterapkan dalam bidang sastra dan seni.

Linguistik post-struktrualis itu lantas oleh para cendekiawan liberal diterapkan ke dalam agama. Akibatnya, agama layaknya fenomena bahasa. Tidak ada kaitan dengan hal-hal non-empiris. Berubah-ubah, seperti halnya ejaan bahasa yang bisa berubah.

Konsep oposisi binner tersebut dianggap menimbulkan pemikiran yang berpotensi untuk menguasai. Oleh sebab itu, semua harus dibongkar (didekonstruksi) oleh mereka.
Dalam urusan pakaian, misalnya, hukum pernikahan dan hal-hal terkait lainnya, kecurigaannya selalu dialamatkan kepada lelaki.

Jika aurat lelaki lebih terbuka kenapa wanita tidak terbukan seperti laki-laki, begitu istilah mereka. Jika lelaki bebas keluar kenapa wanita dibatasi harus didampingi mahram.

Logika-logika ini adalah sesungguhnya logika kaum postmodern. Di mana pandangan hidupnya sama sekali tidak terkait dengan Tuhan. Tuhan dalam pikiran manusia dalam bahasa John Hick adalah ‘the real phenomenon’, tidak absolut.

Muhammad Syahrour, pemikir Liberal Arab lainnya asal Suriah, adalah pengusung aliran postmo yang paling getol mendekonstruksi konsep aurat wanita. Bahkan dalam teori batas minimal (nadzariyyat hudud) mengatakan bahwa batas minimal aurat wanita yang wajib ditutup adalah payudara, ketiak dan dubur-qubul saja.

Karena teologi didiskualifikasi dalam fikih, dibuang dalam epistemologi, maka “postmodern” justru jatuh kepada eksklusivisme.

Eksklusivisme itu muncul karena perjalanan akidah postmodernisme selalu berdiri secara konfrontatif dengan akidah dan hukum Islam. Kemunculannya memang sangat mencurigai doktrin agama. Kecurigaan berlebihan ini menimbulkan reaksi radikal.

Maka, ketika para pengikut ‘madzhab’ postmodern ini membela diri, mereka selalu bertindak radikal atau mengeluarkan pernyataan yang menukik agama. Dalam demo menolak himbauan memakai pakaian sopan beberap waktu lalu, aktifis Perkumpulan Pembela Hak Perempuan justru menunjukkan pakaian-pakaian minim bahkan ada yang berlebihan minimnya. Meneriakkan yel-yel menyalahkan laki-laki.

Ulil pun bersuara, ia menyebut pihak yang membela aurat muslimah diksebut kaum konservatif. Mirip komentar pengusung Postmodern, Mohammad Arkoun, yang menyebut kaum ortodok  tradisionali untuk mereka yang mengusung kebenaran universal dan ketetapan hukum Islam.

Karena menolak kemapanan itu, sesungguhnya tidak ada kepastian yang diperjuangkan pengusung postmodernisme tersebut. Epistemologinya hanya mencapai tataran syakk dan spekulatif. Jika yang disebut itu liberal saat ini, maka sesungguhnya mereka bukan lagi penganut modernisme tapi postmodernisme.

Oleh sebab itu, bagaimana mungkin mengamalkan pengetahuan agama yang masih dalam tataran tidak pasti.  Akan tetapi pengusung Postmodernisme tidak mempersoalkan pengetahuan agama yang tidak pasti itu, baginya kehancuran agama bukan problem, sebab semangatnya adalah humanisme-sekular.

Adalah wajar jika Ulil dan para pembela rok mini tidak mempermasalahkan aurat. Sebatas minim apapun bagi mereka bukan problem sosial. Karena memang sudah mendiskualifikasi norma hukum dalam pandangan hidup mereka. Maka dari itu, problem sosial sesungguhnya dipicu oleh ‘madzhab’ postmodern ini, sebab mereka ini adalah kelompok-kelompok yang sesungguhnya  anti kemapanan.*

Segerakanlah Berbuat Baik

Islam memerintahkan pemeluknya untuk bersegera melakukan kebaikan karena ia akan memberikan rasa aman dan membuat hati tenang dan damai. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran [3]: 133). “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.” (al-Baqarah [2]: 148).

Agama Islam adalah agama gerak, agama kerja, dan agama aktif. Islam tidak menghendaki para pemeluknya menjadi umat yang lemah, rendah diri, dan menganggur. Dalam spirit Islam, kerja keras demikian terhormat, kerja cepat demikian diapresiasi, dan pasifisme demikian ditentang. Oleh karenanya, Rasulullah sering kali mengingatkan umatnya agar tidak menyia-nyiakan waktu luang yang sering kali tidak banyak disadari bahwa waktu sangat berharga.

Kekosongan yang tidak diisi kebaikan akan terisi oleh keburukan dan kesempatan yang tidak diambil akan segera lepas dari tangan. Allah memberi panduan agar setiap kita setelah usai menunaikan satu aktivitas, maka waktu yang kosong hendaknya diisi dengan aktivitas lain yang berdaya guna. “Maka, apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS al-Insyirah : 7).

Kemajuan dan kemunduran seseorang dan bahkan sebuah bangsa sangat tergantung pada kesigapan mereka dalam menyegerakan pekerjaan dan aktivitas-produktifnya. Semakin lamban mereka menyelesaikan masalah-masalahnya akan semakin lambat pula majunya, semakin cepat mereka mengelola aktivitasnya maka kemajuan akan segera di depan mata.

Pekerjaan yang bisa kita lakukan di pagi hari tidak selayaknya kita tunda hingga sore hari dan yang bisa kita tuntaskan di siang hari sangat naif bila kita berpikir untuk menyelesaikannya di malam hari. Jalankan aktivitas hari ini dengan sebaik-baiknya karena kita ditentukan oleh hasil kerja kita di hari ini. “Barang siapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaannya maka tidak akan dipercepat hartanya.” (HR Muslim).

Dalam hadis yang lain, perintah bersegera dalam kebaikan disampaikan Rasulullah SAW. “Bersegeralah kalian melakukan amal-amal saleh karena akan muncul berbagai fitnah yang menyerupai malam yang demikian gelap gulita. Di mana seseorang di pagi hari masih mukmin dan di sore hari menjadi kafir, menjadi mukmin di sore hari namun di pagi hari telah menjadi seorang kafir, dia tukar agamanya dengan dunia.” (HR Muslim dan Ahmad).

Mereka yang tidak memiliki aktivitas hanya akan menjadi penebar isu dan desas-desus yang tak bermamfaat. Ketahuilah bahwa saat paling berbahaya bagi akal manusia adalah saat dia ada dalam kekosongan dan kekosongan yang dibiarkan berlanjut akan membuat seseorang terjerat dalam kesedihan yang berkepanjangan. Karena sesungguhnya waktu kosong adalah pencuri yang cerdik dan culas. Maka, obatilah ia dengan kerja keras, kerja cepat, dan kerja ikhlas agar waktu kita berlimpah berkah dan rahmat. Kuburlah waktu kosong kita dengan kesibukan berkesinambungan. Jika Anda tidak bersegera, maka bersiap-siaplah untuk binasa.

Malam Hari Seperti Nabi

MALAM dan siang sudah biasa kita lalui. Mungkin di antara kita ada yang menganggapnya biasa-biasa saja. Padahal malam adalah momentum sangat berharga bagi mereka yang menginginkan keridaan Allah SWT.

Bagi seorang Muslim malam memiliki dua manfaat yang tak terpisahkan. Yaitu sebagai momentum untuk berisirahat sekaligus sebagai momentum yang sangat istimewa untuk melebur dosa dan meraih ampunan dari Allah SWT.

Sayang,  sebagian besar umat Islam mulai terbiasa dengan aktivitas begadang, khususnya generasi muda. Malam dihabiskan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, bahkan ada yang sampai lalai menjalankan sholat shubuh karena begadang semalaman.

Malam dan siang bagi mereka sama saja. Dua puluh empat jam digunakan untuk bersenang-senang, santai, dan bergembira ria. Hadirnya mentari kadang digunakan untuk tidur seharian, dan datangnya malam seringkali digunakan sekedar untuk menunggu pagi.

Padahal hidup ini bukanlah untuk foya-foya. Hadirnya siang dan malam dalam kehidupan ini Allah maksudkan agar kita menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur, mengisi waktu dengan jihad, menuntut ilmu, meningkatkan kualitas diri, beramal sholeh dan hal-hal lain yang mendatangkan rahmat dan keridoan-Nya.

Kini sudah saatnya kita menata diri, mengisi waktu dan memanfaatkan sisa umur kita untuk hidup lebih berarti, hidup penuh makna, dan hidup penuh kebahagiaan.

Satu di antara upaya yang mesti kita lakukan ialah mencontoh amalan Rasulullah saw ketika bertemu dengan malam. Dengan cara demikian, insya Allah hidup kita akan lebih punya makna.

Allah menjadikan malam agar manusia bisa beristirahat, memohon ampun dan mengingat-Nya dengan lebih baik lagi. Karena malam hari adalah waktu yang lebih hening dan lebih tepat untuk bertaqarrub kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, rasulullah saw tidak pernah tidur larut malam. Beliau bersegera untuk tidur begitu sholat Isya’ telah dilaksanakan.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan, “Sesungguhnya rasulullah saw membenci tidur sebelum isya’ dan membenci obrolan setelah isya’.” (Muttafaqun Alaih).

Syeikh Nashiruddin Al-Albani menjelaskan bahwa boleh seorang Muslim tidak segera tidur setelah sholat Isya’ dengan catatan yang diobrolkan adalah hal-hal yang positif, seperti mengulang-ulang pelajaran, menceritakan orang-orang sholeh, atau tentang akhlak mulia, bicara dengan tamu, dan lainnya. Demikian pula bila ada udzur atau keperluan mendadak yang bertepatan setelah sholat Isya’.

Namun demikian kegiatan atau obrolan setelah sholat Isya’ itu jangan sampai melalaikan kewajiban lainnya. Seperti pemuda yang begadang di malam hari untuk mengulang-ulang pelajarannya, atau mempersiapkan diri menempuh ujian sampai akhir malam kemudian tidur kecapaian, akhirnya ia tertinggal sholat shubuh (berjama’ah) maka begadang semacam ini tidak boleh.

Keadaan demikian diumpamakan seperti orang yang hendak membangun istana tetapi pada saat yang sama tanpa disadari dirinya telah menghancurkan kota. Akan sangat baik jika segera tidur setelah sholat isya, dan segera bangun dini hari, sholat shubuh, kemudian belajar.

Sebagaimana sabda rasulullah saw, “Umatku diberkati ketika mereka berpagi-pagi.”
Mengapa rasulullah saw mengajarkan umatnya agar segera tidur setelah sholat Isya’?
Beliau ingin umatnya bangun di tengah malam mendirikan sholat tahajjud sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Dikisahkan dalam sebuah hadits, di tengah malam Rasulullah saw khusyuk dalam menjalankan sholat tahajjud hingga bengkak kedua telapak kakinya.

“Sesungguhnya dahulu Nabi benar-benar bangun untuk sholat hingga bengkak kedua telapak kakinya. Maka dikatakan kepada beliau; “Telah diampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Beliaupun berkata; “Tidak pantaskah aku menjadi seorang hamba yang pandai bersyukur?.” (HR Bukhari).

Tengah malam adalah momen terindah dan terdekat manusia dengan Allah SWT berkomunikasi. Dan sholat tahajjud adalah momentum yang sangat pas untuk kita mendapat ampunan Allah SWT dan meminta apapun dari Nya. Maka bangunlah untuk mendirikan sholat tahajjud lalu beristighfar kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.

Bahkan siapa yang mampu dan sungguh-sungguh mengisi malam harinya dengan taqarrub kepada Allah niscaya dia telah mencapai derajat taqwa yang telah Allah janjikan surga baginya.

Allah memberi janji dan keutamaan pada orang-orang yang bangun malam untuk bersujud dan menangis di hadapanNya.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa ada di dalam syurga dan dekat dengan air yang mengalir. Sambil mengambil apa yang diberi oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum ini di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” ( Surah az-Zariat ayat 15-18).

Sungguh sangat luar biasa manfaat malam bagi seorang Muslim. Waktu yang akan melebur dosa dan mengundang berkah-Nya di pagi hari. Pantas dahulu para sahabat nabi berusaha membangun budaya intropeksi diri di tengah malam dengan memperbanyak istighfar.

Dalam salah satu atsar Sayyidina Ali ra menyatakan, “Aku heran dengan orang yang binasa padahal bersamanya ada penyelamat?” Ali pun ditanya, “Apakah penyelamat itu?” Ali menjawab, “Beristighfar.” Ketahuilah, lanjut Ali, “Allah tidak memberikan ilham kepada seorang hamba untuk beristighfar, jika memang, Dia ingin menyiksanya.”

Masihkah kita relakan malam berlalu hanya unutk melihat sinetron hingga larut malam atau sekedar duduk sambil tertawa bersama teman-teman sekedar untuk menanti siaran langsung sepak bola? Padahal tiada yang kita dapat selain lelah dan makin enggan untuk beribadah.

Mulai sekarang mari kita hidupkan malam-malam kita dengan aktivitas yang telah dicontohkan Nabi kita.  Walahu a’lam.