AudioKota PayakumbuhSafasindo NewsSumbar

Kritik Bahasa Penyiar, Radio Safasindo Telpon Kadis Kominfo Sumbar, Ada Apa?

2 Mins read

Kepala Dinas Kominfo Propinsi Sumatra Barat kritik bahasa penyiar radio yang menggunakan gaya atau istilah bahasa daerah lain, yang dibawakan saat menyiar. Sementara stasiun radionya berada di Sumatra Barat yang kental dengan bahasa minangnya. Terkait hal tersebut Kadis Kominfo dirinya merasa sedih, kenapa kita mempopulerkan bahasa orang lain ketimbang bahasa kita sendiri.

Terkait hal tersebut, Kadis Kominfo mengirimkan pesan singkat kepada beberapa pelaku dan penggiat media Radio, termasuk Radio Safasindo yang berada di Kota Payokumbuah.

Menyikapi hal itu, Radio Safasido melalui program Ganto Payokumbuah spesial hari Jumat bersama Keluarga Ijuih, mereka membahas terkait yang disampaikan oleh Kadis Kominfo Sumbar Jasman Rizal. Selain informasi daerah, Ganto Payokumbuah juga membahas berbagai topik yang terjadi didaerah lain, sesuai kondisinya.

Program Ganto Payokumbuah hadir hadir setiap harinya selama 2 jam, mulai dari jam 08 pagi hingga pukul 10, satu persatu diperbincangkanlah yang dikatakan oleh Kadis Kominfo, baik itu cara menyapa, tidak lagi menggunakan gaya bahasa daerah lain, seperti kataka kamu tidak menggunakan lu atau saya tidak menggunakan gue.

Pada Ganto Payokumbuah penyiar menggunakan bahasa daerah selama durasi 2 jam. Durasi 2 jam terasa begitu singkat, karna juga disuguhi dengan canda dan tawa oleh keluarga Ijuih, yang selalu berdebat, bertanya dan membantah jika tak sesuai.

Terkait topik yang diangkat yakni masalah bahasa penyiar, Timah selaku amak Ijuih meminta agar Abak Ijuih menghubungi Kadis Kominfo Sumbar, atau narasumber yang lain. Bagaimana komentar nya terkait penggunaan bahasa ini, setuju atau tidak mereka itu. Dengan demikian kita selaku penyiar radio, kedepan bisa melakukan perubahan dan memberikan contoh kepada masyarakat umum.

Usai penanyangan iklan komersil, Abak Ijuih menghubungi salah seorang budayawan Luak Limopuluah Habib atau Engku Syintal sapaan dimedia sosialnya. Habib sampaikan dirinya juga sayangkan gaya bahasa anak jaman sekarang ini, yang begitu bangganya mereka memakai dan menggunakan bahasa daerah lain, sementara bahasa daerahnya dilupakan.

Akibatnya, Habib jelaskan secara tidak langsung mereka dan kita dan generasi selanjutnya tidak lagi mengenal bahasa daerahnya. Bisa jadi nantik orang tidak tahu lagi apa itu, inyiak, etek,atuak,nenek dan yang lainnya. Karna sudah ditukar dengan ucapan atau sapaan yang lain. Untuk itu Habib berharap, peran serta kita semualah mulai dari rumah, media radio dan media lainnya untuk meluruskan bahasa ini kepada masyarakat. Baik nama daerah, tempat dan panggilan tau sapaan kepada orang.

Jelang menghubungi Habib sebelumnya Abak Ijuih menghubungi Kadis Kominfo Sumbar Jasman Rizal. Melalui telpon gemgamnya Jasman Rizal sampaikan, beberapa hari yang lalu dirinya sangat menyayangkan saat dirinya menyetel radio diatas mobilnya. Dari gaya bahasanya seolah-olah saya berada di Jakarta. Jasman Rizal jelaskan sementara saya berada di Kota Padang Sumatra Barat.

Tak puas dengan satu radio, Jasman menukar dengan radio yang lain, intinya mengetahui bagaimana dengan yang lainnya, bisa jadi yang pertama itu hanya kebetulan, namun setelah didengar beberapa radio, Jasman Rizal katakan hampir semuanya melakukan hal yang sama. Kesimpulan apa yang didengar pada radio pertama ternyata itu tidak kebetulan dan memang dibawa dengan gaya bahasa tersebut.

Menyikapi kejadian ini Jasman Rizal berharap, agar media termasuk media radio yang merupakan etalase dan miniatur dari bahasa itu sendiri yang akan dicontoh oleh banyak orang. Selanjutnya Jasman Rizal juga berharap agar pemilik radio untuk menyampaikan kepada penyiarnya untuk bertangguang jawab dan melakukan pembenaran dari bahasa itu sendiri.

Dari apa yang disampaikan oleh Kadis Kominfo Sumbar dan Budayawan Habib, keluarga Ijuih akan melakukan perubahan dalam menggunakan bahasa, baik waktu menyiar dan pergaulan kesehariannya, yang mungkin selama ini juga melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa. Keluarga Ijuih sepakat, mari kita budayakan bahasa daerah kita ketimbang bahasa daerah lain.

Berikut komentar Jasman Rizal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *