AudioKota PayakumbuhSafasindo News

Pencegahan Kekerasan Pada Perempuan dan Anak Melalui Peran Tigo Sajarangan

2 Mins read

Bundo Kanduang merupakan organisasi yang mendukung para Ibu di Minangkabau dalam memberdayakan adat yang selaras dengan agama untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Organisasi ini memfasilitasi para Bundo Kanduang dengan memberikan pelatihan serta bimbingan teknis sebagai bekal dalam menjalankan peran di Rumah Adat.

Maraknya kasus kekerasan perempuan dan anak, membuat organisasi ini berusaha memberikan bimbingan kepada para Bundo Kanduang. Hal ini dilakukan agar para perempuan dan anak terlindungi dari berbagai kekerasan maupun hal yang dapat mencelakakan mereka.

Dalam falsafah minangkabau ada sebutan “Tigo Tungku Sajarangan”, yang menerangkan bentuk kepemimpinan dalam minangkabau, dalam hal ini terdiri dari penghulu, alim ulama, cadiak pandai. Mereka memiliki peranan tersendiri dan tentunya memiliki tujuan yang sesuai dengan filosofi Minangkabau yaitu“Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Hal tersebut disampaikan oleh Bundo Zulmainis selaku ketua Bundo Kanduang Kabupaten Lima Puluh Kota saat jadi pembicara dalam program talk show di Radio Safasindo yang beralamat di jalan Hamka no.14 Kaniang Bukik Kecamatan Payakumbuh Utara Kota Payakumbuh, senin 22 Agustus 2022.

Acara tersebut terselenggara kerja sama dengan DP2KBP3A Kabupaten Limapuluh Kota dengan Radio Safasindo FM.

Zulmainis mengatakan bahwa perlunya penerapan “Kato Nan Ampek” dalam kehidupan sehari-hari anak perempuan minang selain melestarikan budaya, tentunya menjadi aturan yang harus diterapkan.

Yang mana “Kato Nan Ampek” ini terdiri dari kato mandaki, kato manurun, kato malereang, kato mandata. Selain itu, ada hal yang perlu diperhatikan oleh para perempuan Minangkabau, yaitu “Sumbang nan Duo Baleh” yang mana berisikan tentang aturan-aturan yang harus ditaati oleh perempuan Minangkabau seperti, sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang bajalan, sumbang bakato, sumbang caliak, sumbang makan, sumbang pakai, sumbang karajo, sumbang batanyo, sumbang jawek, sumbang bagaua, sumbang kurenah.” kata perempuan yang juga pensiunan pns di DP2KBP3A dimasanya masih BKKBN.

Penerapan aturan tersebut, lanjutnya, perlu peran dari setiap penghulu, alim ulama, cadiak pandai, mamak, maupun bundo kanduang, agar perempuan dan anak di minangkabau terjaga dari kekerasan yang ada. Mamak dan penghulu bisa memberikan contoh bagi para kemenakan agar mereka bisa bersikap layaknya perempuan Minang.

Bundo Zulmainis berharap bahwa setiap tokoh di Minang terus memberikan pengajaran kepada para kemenakan agar terhindar dari kekerasan yang sering terjadi. Menjadikan perempuan minang yang beretika, dengan adanya penerapan Kato Nan Ampek dan mengetahui Sumbang Nan Duo Baleh tadi.

Bundo Zulmainis juga berharap pejabat di nagari atau diatasnya untuk bisa memberikan pelatihan tentang IT pada perempuan minang dan khususnya perempuan minang di Kabupaten Limapuluh Kota, selain mereka melek tekhnologi juga bisa mengontrol anak-anak mereka dalam pemakaian gadget harap bundo Zulmainis.

Berikut komentar Bundo Zulmainis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *